ṠAQAFAH DALAM BUKU AJAR BAHASA ARAB

ṠAQAFAH DALAM BUKU AJAR BAHASA ARAB

Dr. H. Uril Bahruddin, MA

Dalam sebuah ungkapan disebutkan bahwa bahasa itu ada wadah budaya, karena memang bahasa itu adalah media yang paling tepat untuk melestarikan budaya, mengantarkan budaya dari satu masa ke masa yang lain dan dari satu generasi ke generasi yang lain. Budaya tidak bisa dilepaskan dari bahasa, begitu pula sebaliknya bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya. Barang siapa yang ingin menghidupkan atau melestarikan suatu budaya, maka media utamanya adalah menghidupkan bahasanya.
Karena itulah, orang-orang Yahudi ketika mau membangun komunitas mereka dan menghidupkan kembali budaya mereka, jalan yang mereka tempuh adalah menghidupkan kembali bahasa Ibrani dan mewajibkan kepada siapa saja yang tinggal di komunitas tersebut untuk menggunakan bahasa tersebut. Meskipun dalam prakteknya mereka mengalami banyak kesulitan karena kosa kata bahasa Ibrani telah banyak yang hilang. Mereka terpaksa harus minta bantuan kepada bahasa Arab karena memiliki kedekatan dan rumpun yang sama yaitu sama-sama sebagai bahasa smit. Dengan menggandeng bahasa Arab, mereka membuat bahasa bahasa Ibrani baru yang berbeda dengan bahasa kitab Taurat.
Setiap bahasa memiliki budaya, sehingga bahasa suatu komunitas adalah cermin dari budaya komunitas tersebut. Baik bahasa maupun budaya adalah merupakan bagian dari fenomena sosial yang memiliki karakter perubahan. Karena itulah, bahasa Arab dan budayanya juga mengalamai perubahan. Perubahan yang paling fenomenal yang terjadi pada bahasa Arab adalah ketika bahasa itu dipilih oleh Allah sebagai bahasa kitab suci al Quran. Dengan hadirnya al Quran yang merupakan firman Allah, maka banyak sekali unsur kosa kata, struktur kalimat dan semantiknya yang mengalami perubahan menjadi lebih indah dan sempurna. Sehingga bahasa Arab pada akhirnya dapat dikatakan sebagai bahasa agama Islam dan al Quran.
Demikian halnya pada budaya yang dibawa oleh bahasa Arab. Ketika bahasa Arab telah berubah menjadi bahasa agama Islam, maka secara otomatis budayanya juga mengalami perubahan menjadi budaya Islam.
Berangkat dari eratnya hubungan antara bahasa Arab dan budaya Islamnya, maka mempelajari bahasa Arab harus juga diikuti dengan mempelajari budayanya. Belajar bahasa Arab yang tidak disertai dengan belajar budaya Islam tidak akan dapat mengantarkan kepada hakekat dari pembelajaran bahasa Arab itu sendiri dan bahasa Arab yang dipelajari akan terasa kering. Kemungkinan dapat berkomunikasi dengan penutur asli bahasa Arab akan terkendala karena budaya Islam yang menjadi ruh bahasa Arab tidak dipelajari.
Melihat pentingnya budaya Islam dalam belajar bahasa Arab, maka buku ajar yang menjadi acuan dalam belajar bahasa Arab harus memuat konten budaya Islam. Para penulis buku ajar bahasa Arab harus menyadari akan hal ini. Apabila kita melihat berbagai buku ajar bahasa Arab di lapangan seperti buku al ‘Arabiyah lin Nasyiīn atau al ‘Arabiyah baina Yadaika, maka akan kita dapati buku-buku tersebut sarat dengan budaya Islam. Tema-tema yang disajikan misalnya terkait dengan masalah ibadah dan sosial kemayarakatan yang tercermin dari budaya Islam.
Bukan hanya buku ajar bahasa Arab yang ditulis oleh orang Islam, buku ajar seperti al ‘Arabiyah al Mu’aṣirah yang ditulis oleh orang non muslim sekalipun terpaksa harus memuat budaya Islam juga, karena mereka sangat memahami bahwa konten budaya Islam tidak boleh dipisahkan dari pembelajaran bahasa Arab. Maka tidak heran kalau penulis buku al ‘Arabiyah al Mu’aṣirah juga harus mengangkat tema-tema tentang syari’at Islam, kota-kota suci umat Islam dan semacamnya. Dengan demikian, buku itu menjadi layak untuk dipelajari karena telah memperhatikan dan memenuhi syarat konten budaya di dalamnya.
Mengajarkan konten budaya Islam dalam pelajaran bahasa Arab sama pentingnya dengan mengajarkan ketrampilan berbahasa, bahkan ketrampilan berbahasa tidak akan sukses dipelajari kecuali jika budaya Islam juga dipelajarinya. Di sisi lain, bagi orang Islam yang belajar bahasa Arab, konten budaya Islam ini sangat dibutuhkan oleh mereka karena akan bermanfaat juga untuk menguatkan komitmen mereka kepada Islam. Sehingga dengan mengajarkan bahasa Arab, secara tidak langsung juga menjadi sarana untuk dakwah dan menyampiakan kebaikan kepada semua orang. Wallahu A’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *