Al Qur’an Memerintahkan agar Mempelajari Alam

Al Qur’an Memerintahkan agar Mempelajari Alam

 Sewaktu saya masih kecil,  belajar di madrasah diniyah,  saya selalu mendapatkan penjelasan bahwa pelajaran berhitung, ilmu bumi, ilmu hewan dan lain-lain, dalam agama tidak diperintahkan untuk dipelajari. Yang seharusnya dipelajari oleh seorang santri adalah Bahasa Arab, fiqh, tauhid, akhlak dan sejenisnya. Ditambahkan bahwa pelajaran berhitung  dan lain-lain itu,  tidak masuk  sebagai bekal untuk menjawab pertanyaan di alam kubur.

   Guru madrasah diniyah menjelaskan perbedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu umum memang penting sebagai bekal hidup di dunia, sedangkan ilmu agama sangat diperlukan untuk bekal kehidupan  di akherat.  Hidup di dunia, menurut penjelasan guru ngaji,  hanya sebentar sedangkan hidup di akherat akan kekal selama-lamanya. Juga dipertegas bahwa rugi di dunia tidak mengapa, tetapi jangan sampai merugi di akherat.  Kebanyakan anak pedesaan,   seperti saya, di pagi hari belajar di sekolah rakyat atau sekarang disebut sekolah dasar, sedangkan pada sore hari belajar di madrasah diniyah.  Di sekolah  belajar untuk mencari bekal hidup di dunia, sedangkan sore hari belajar untuk mendapatkan bekal di akherat. Pembedaan seperti itu  mempertegas pemisahan  antara ilmu umum dan ilmu agama, guru ilmu umum dan guru agama. Belajar ilmu umum  disebut sekolah, sedangkan belajar ilmu agama disebut dengan mengaji di madrasah diniyah.  Semula masyarakat pedesaan  terbelah menjadi dua, ada yang lebih mementingkan ilmu agama, tetapi ada  pula yang lebih mementingkan ilmu umum.  Sementara orang tua akan memarahi anaknya, jika mereka tidak masuk diniyah dan tidak diapa-apakan kalau tidak masuk sekolah. Begitu pula sebaliknya, ada yang membiarkan anaknya tidak mengaji, asalkan sudah belajar di sekolah umum.  Keadaan seperti itu pada perkembangan selanjutnya, ternyata berubah.  Ilmu agama dan ilmu umum,  keduanya dianggap sama-sama penting.        Rupanya  pemahaman masyarakat terhadap  ajaran Islam,  diperoleh dari  tahap demi tahap, berproses, dan  tidak sekaligus.  Tahap-tahap  itu kadang berjalan begitu lama. Ajaran  Islam yang semula hanya dianggap terkait dengan persoalan ibadah ritual, maka lama kelamaan dirasakan sedemikian luas. Disadari bahwa  ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah bersifat universal, menyangkut berbagai aspek, dari  urusan ibadah ritual, hingga perintah mengembangkan ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi,sosial, hukum,  dan lain-lain.  Proses pemahaman Islam yang luas dan utuh  itu masih senantiasa berjalan, termasuk dalam memahami kelembagaannya. Dulu para kyai, di pesantrennya  hanya mengajarkan kitab kuning, yang selanjutnya dikenal  sebagai pesantren salaf.  Pesantren tersebut semakin  lama semakin berkembang, dan akhirnya menjadi pesantren  modern dengan  menambahkan pelajaran umum. Di pesantren kemudian juga dibuka madrasah dengan kurikulum modern. Lebih dari itu, di pesantren juga dibuka sekolah umum dan   ketrampilan. Bahkan juga didirikan   perguruan tinggi umum, dengan membuka  fakultas teknik, fakultas pertanian, ilmu kesehatan dan lain-lain.  Perubahan pandangan secara mendasar tersebut   juga terjadi  di perguruan tinggi agama Islam yang dikelola oleh pemerintah sekalipun.  Perguruan tinggi Islam yang semula hanya berupa sekolah tinggi agama Islam,  kemudian  diubah dan dinegerikan menjadi Institut Agama Islam Negeri atau IAIN.  Dalam perkembangan terakhir, IAIN  berubah lagi bentuknya menjadi universitas, atau UIN.  Setelah menjadi UIN, maka  diajarkan  ilmu umum dan sekaligus ilmu agama secara terintegratif.  Akhirnya  berkembang wacara, bahwa ilmu dalam Islam  tidak  selayaknya  dipisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum.   Perubahan pandangan di kalangan perguruan tinggi  itupun  ternyata juga bertahap, dan tidak semua pihak  bisa mengikuti  secara serentak.  Ada saja orang yang masih belum sepaham bahwa ilmu umum  dan agama harus dilihat sebagai satu kesatuan. Bahkan perubahan bentuk dari IAIN atau STAIN  menjadi UIN, masih ada yang mengkhawatirkan, ilmu agama menjadi terdesak,  dan akhirnya  mati oleh karena dikalahkan ilmu-ilmu umum.   Proses perkembangan itu sudah melalui waktu yang lama. Akan tetapi ternyata, masih  saja ada  warga IAIN yang belum ikhlas jika institusinya berubah menjadi UIN. Sebagai akibatnya, ada sementara kyai di pedesaan, membedakan  perguruan  tinggi  Islam menjadi dua, yaitu perguruan tinggi salafiyah dan  perguruan tinggi  kholafiyah.  IAIN oleh kyai dimaksud,  disebut  sebagai perguruan tinggi salaf, sementara UIN disebut sebagai perguruan tinggi kholaf.  Hal itu sama  dengan pesantren, ada pesantren salaf dan ada pula pesantren kholaf.   Sekalipun ajaran Islam sudah sempurna, ayat-ayat al Qur’an sudah ditulis secara lengkap dan sempurna, dan demikian pula hadits nabi,  tetapi sebagaimana dikemukakan di muka, pemahaman ummat terhadap kitab suci dan sejarah kehidupan nabi  tidak terjadi  sekaligus. Pemahaman itu diperoleh secara bertahap, dari waktu ke waktu, semakin lama-semakin sempurna.  Tahap demi tahap itu akhirnya sampai pada   kesadaran bahwa  al Qur’an  berisi ajaran yang  luas dan bahkan universal.   Ajaran Islam yang bersumber  al Qur’an dan Sunnah Nabi,  sejalan dengan perkembangan pemikiran para pemeluknya, semakin dipahami,  tidak saja berisi tentang  tuntutan kegiatan ritual, tetapi juga merupakan sumber ilmu yang amat luas, menyangkut semua aspek kehidupan.  Sekalipun kitab suci  itu, dalam hal-hal tertentu,  berisi ajaran  yang bersifat  garis besar, tetapi  sangat sempurna. Al Qur’an memerintahkan kepada ummatnya untuk membaca alam semesta, menggali ilmu pengetahuan, selalu meningkatkan kualitas hidup, menjalankan ritual, dan agar selalu bekerja atas dasar pengetahuan dan kemampuan yang tinggi.   Keluasaan isi al Qur’an, di antaranya dapat dipahami dari  konsep yang sedemikian indah, yaitu ulul al baab. Sebutan  ulul al baab ditujukan pada  orang  selalu berdzikir dan  memikirkan  tentang penciptaan langit dan bumi.  Atas dasar konsep tersebut maka  ternyata, al Qur’an tidak saja mengajarkan berdzikir, tetapi   juga memerintahkan manusia agar mempelajari penciptaan langit dan bumi. Dalam ilmu modern, alam semesta, atau langit dan bumi serta seisinya, dikemas menjadi ilmu fisika, biologi, kimia, psikologi, sosiologi, sejarah, antropologi, humaniora,  dan berbagai cabangnya. Wallahu a’lam.     

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *