AL-TAFAHUM AL-TSAQAFI: Pentingnya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Arab

AL-TAFAHUM AL-TSAQAFI: Pentingnya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Arab

AL-TAFAHUM AL-TSAQAFI:

Pentingnya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Arab

 

 

Khoirul Adib[1]

 

 

التلخيص: اللغة عنصر أساسي من عناصر الثقافة، فنحن نعبر عن الثقافة باللغة ولا يمكننا أن نتحدث باللغة بمعزل عن الثقافة. فاللغة وعاء الثقافة وهي الوسيلة الأولى في التعبير عن الثقافة. ومن هنا تظهر لنا العلاقة بين الثقافة واللغة. أما علاقة الثقافة بتعليم اللغة للأجانب فإن فهم ثقافة المجتمع تعد جزءا أساسيا من تعلم اللغة، ولذلك قيل، إن دارس اللغة الأجنبية لابد له – إذا كان يرغب في إتقانها جيدا- من أن يتعرف على حضارة المجتمع الذي يتكلم أفراده تلك اللغة تعرفا كافيا يعصمه من الوقوع في زلل بالغ الخطورة. وذلك ما سمى بالتفاهم الثقافي.  ومن ثم فإن تعلم لغة أجنبية هو تعلم حضارة أصحاب تلك اللغة.

الكلمات الرئيسة: التفاهم الثقافي، التعليم، اللغة العربية.

 

 

Sepanjang sejarah, pertemuan antara Timur dan Barat lebih berbentuk persaingan, konflik, dan perang daripada saling mengerti, bersahabat, dan kerja sama. Bagi kebanyakana orang Timur, “Barat” selalu dihubungkan dengan kapitalisme, teknologi, dan imperialisme. Bagi orang Barat, “Timur” selalu dikaitkan dengan kelebihan penduduk, kemiskinan, keterbelakangan dan keterikatan pada masa lampau. Pada kedua belah pihak ada prasangka, ketidaktahuan, dan salah informasi. Dan lalu, sebagaimana dunia makin menjadi sempit karena kemajuan komunikasi, ditambah lagi adanya usaha saling memperhatikan yang lebih besar, kontak antara Timur dan Barat mulai berkembang.

Tetapi perkembangan ini tidak selalu memuaskan. Masih ada banyak ketidaktahuan dalam masalah kebudayaan, nilai-nilai, dan psikologinya. Semua ini menimbulkan banyak perselisihan, misalnya dalam masalah ras dan agama. Kesukaran timbul ketika manusia berusaha mengerti dan menghargai yang asing, bagaimana mengatasi konflik-konflik yang ada, berinteraksi dengan lingkungannya, mengekspresikan nilai-nilainya (Anh, 1984:1). Dalam konteks ini bahasa memiliki peran penting sebagai media saling memahami antar budaya yang satu dengan budaya lain. antar bangsa yang satu dengan bangsa yang lain.

Kajian tentang aspek-aspek sosio-kultural bahasa biasanya dikaitkan dengan sub-bidang ilmu kebahasaan yang disebut sosiolinguistik yang bersama dengan psikolinguistik oleh Boey (Raharjo, 2002) disebut sebagai linguistik plus. Disebut linguistik plus karena ilmu barudalam bidang kebahasaan ini, sesuai dengan namanya, merupakan perpaduan dari dua disiplin ilmu yag berbeda objek kajiannya, yaitu sosiologi yang objeknya adalah masyarakat, dan linguistik yang objeknya adalah bahasa.

Kajian tentang bahasa tidak pernah tuntas tanpa masyarakat penuturnya. Ada hubungan yang erat antara perilaku berbahasa dengan perilaku sosial penuturnya. Dengan demikian aspek-aspek sosial budaya bahasa menjadi sangat penting, baik bagi pembelajar bahasa, maupun pengajar bahasa agar proses belajar mengajar berlangsung dengan efektif dan tingkat penguasaan atau kompetensi bahasa sasaran yang dicapai akan sesuai dengan standar bahasa yang dipakai oleh native spiker (penutur aslinya).  Bahasa sebagai suatu sistem komunikasi adalah bagian atau subsistem dari sistem kebudayaan, malah bagian paling esensial dari kebudayaan. Bahasa terlihat dalam semua aspek kebudayaan, paling sedikit mempunyai nama atau istilah bagi unsur-unsur dari senua aspek kebudayaan itu (Nababan, 1991). Yang lebih penting adalah kebudayaan manusia tidak akan dapat terjadi tanpa bahasa; bahasalah faktor yang memungkinkan terbentuknya kebudayaan.

 

Budaya dan Bahasa

Dari sudut pandang lain bisa dilihat, hubungan antara bahasa dan kebudayaan adalah bahwa bahasa, sebagai sistem komunikasi, baru mempunyai makna apabila kebudayaan yang menjadi wadahnya. Sedemikian eratnya hubungan antara bahasa dan kebudayaan sebagai wadahnya, sehingga seringkali seseorang menemui kesulitan dalam menerjemahkan kata-kata atau ungkapan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Sebagai contoh, kata village dalam bahasa Inggris tidaklah sama dengan “desa” dalam bahasa Indonesia, sebab konsep village dalam kebudayaan Inggris/Amerika jauh berbeda dengan konsep “desa” dalam konteks kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu ungkapan yang pernah dilontarkan oleh penulis asing dalam menyebut kotaJakarta sebagai big village, akan tidak kontekstual sekali atau bahkan kehilangan makna yang sebenarnya apabila diterjemahkan dengan “desa yang besar” (Basri, 1991). Orang Indonesai yang ingin mengucapkan kata “tidak masuk akal” atau “tidak logis” dalam bahasa Arab seharusnya tahu bahwa kata tersebut bukan diterjemahkan menjadi “la yadhulul ‘aql” ((لايدخل العقل, tetapi yang tepat adalah dengan kata “ghairu ma’kul”  (غير معقول)untuk bahasa Arab Fusha atau “musy ma’ul    (مش معقول) untuk bahasa Arab ‘Amiyahnya.

Contoh lain akibat misunderstunding budaya dalam bahasa Arab adalah penggunaan yang salah kaprah beberapa istilah atau kosa kata Arab yang dipakai oleh orang Indonesia. Sudah lazim di masyarakat kita, terutama dari keluarga santri,  putra-putrinya meggunakan kata sapaan “abah” untuk memanggil bapak/ayah, dan menggunakan kata “umik” untuk menyapa ibu. Padahal penggunaan dua kata sapaan tersebut dalam setting budaya aslinya di Arab tidaklah demikian. Kata “abah” yang tulisan aslinya adalah abahu  (أباه) atau abaha  (أباها) (kemudian huruf akhir diwaqafkan untuk kepentingan komunikatif, lalu menjadi terdengar abah saja) sesungguhnya itu adalah sapaan yang dipakai seorang ibu untuk menyapa (dalam bahasa Jawa, mbasakne) suaminya. Sebab kosa kata abahu artinya adalah “bapaknya Fulan” dan abaha artinya “bapaknya Fulanah”. Ini seperti yang sering kita dengar dalam bahasa Jawa, kalau seorang ibu memanggil suaminya dengan sapaan “bapake arek-arek”.

Demikian pula kata “umik” yang tulisan aslinya adalah umika  (امّك) atau umiki  (امّك)  (kemudian diwaqafkan huruf akhirnya menjadi “umik”) adalah kata sapaan yang biasa dipakai seorang suami memanggil (mbasakne-red) kepada istrinya. Sebagaimana kita ketahui, umika atau umiki maknanya adalah ibumu. Disinilah letak salah kaprah yang sudah mengakar kuat dalam tradisi keluarga-keluarga muslim/santri di masyarakat kita. Adapun sapaan dalam bahasa Arab yang tepat, yang seharusnya dipakai oleh seorang anak dan lazim digunakan di Arab untuk memanggil ayahnya adalah abuyya  (أبوي) atau abi  (أبي), sedangkan untuk memanggil ibu adalah dengan umi  ( أمي) bukan umik. Contoh salah kaprah lain adalah penggunaan kata “kalimat” dalam bahasa Indonesia. Kata tersebut dipungut dari bahasa Arab “kalimatun” yang arti asalnya adalah “kata”. Sedangkan di sini “kalimat” diartikan sebagai susunan dari kata-kata (atau termasuk satu kata) yang mempunyai makna. Dan masih banyak contoh-contoh lain serupa yang memerlukan pengkajian lebih luas lagi.

 

Dangerous words (al-kalimat al-khathirah)

Setiap bahasa memiliki kata-kata yang dianggap tabu untuk diucapkan penuturnya. Claire (Raharjo, 2002) menyebutnya sebagai “dangerous words” atau “al-kalimat al-khathirah”, yakni kata-kata memalukan bagi penutur maupun pendengarnya. Kata-kata tersebut biasanya yang berhubungan dengan anggota badan tetentu, fungsi anggota badan, kata-kata yang berhubungan dengan hubungan badan suami-istri, kegiatan di toilet, binatang dan juga yang berhubungan dengan agama.  Kata-kata seperti fuck, bloody, bitch dalam bahasa Inggris, atau hayawan, kalb, humar, khusy, dug-dug, kusummak dalam bahasa Arab, maupun jangkrik, goblok, matamu, dan sebagainya dalam bahasa Jawa adalah sedikit contoh dari kata-kata tabu.

Bagi pembelajar bahasa, kata-kata tersebut penting untuk diketahui, bukan untuk dipergunakan. Karena kata-kata tersebut tidak mungkin diajarkan di kelas, maka pembelajar bahasa bisa mempelajarinya lewat buku tentang slang atau bertanya kepada penutur aslinya. Ekstrimnya tingkat ketabuan suatu kata tertentu menyebabkan timbulnya keengganan (sungkan) untuk memakai kata-kata tersebut. Maka akhirnya kata-kata tabu yang tingkat tabunya sangat ekstrim biasanya hanya digunakan untuk momen-momen tertentu saja, seperti waktu amarah yang memuncak, mencaci-maki maupun saat mengumpat. Para pembelajar bahasa asing, seperti bahasa Arab misalnya, harus mengetahui kata-kata yang dikategorikan dalam kata-kata atau ungkapan-ungkapan tabu ini, sebab jika tidak, bisa jadi mereka yang tidak paham setting budaya Arab dan makna ungkapan tersebut,  justru mengamini , karenadisangka kalau mereka sedang di do’akan oleh orang Arab, padahal sebenarnya mereka sedang dicaci-maki atau diumpat.  

 

Pentingya Al-Tafahum Al-Tsaqafi (cross-culture understanding)

Adalah suatu hal yang wajar apabila pembelajar bahasa asing berbuat suatu kesalahan dalam berbahasa. Making mistakes is natural for the foreign language learners. Namun demikian, agar pembelajar tidak terus hanyut dalam kesalahan, seorang pengajar (calon pengajar) harus paham budaya dan berusaha meminimalisir kesalahan yang mereka perbuat. Pengalaman sering menunjukkan bahwa meskipun orang menguasai struktur-struktur bahasa asing tetapi tidak menguasai ucapan, diksi, dan gaya bahasa yang baik sebagaimana dipakai penutur aslinya maka ia tidak akan dapat mengadakan komunikasi dengan baik pula.

Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini, bahwa hanya dengan merubah tinggi rendahnya suara yang merupakan khas ucapan bahasa Cina (Hardjono, 1988), sudah dapat merubah arti kata. Demikian pula yang terjadi pada bahasa-bahasa lain, termasuk bahasa Arab, bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Orang Arab ketika mengatakan “khair, insya allah,  (خير، إن شاء الله) (bagus, Isya Allah) ini tidak serta-merta berarti dia memuji atas sebuah kebaikan, namun bisa juga bermaksud sebaliknya, tinggal melihat konteksnya. Demikian pula dalam bahasa Jawa, seorang ibu yang mengucapkan kata-kata “apik nduk” kepada anak gadisnya, tidak selalu bermaksud memberi pujian atas prilaku baik putrinya, tetapi bisa jadi malah yang sebaliknya. Lagi-lagi tinggal melihat konteksnya.  Jadi, kalau faktor-faktor di luar bahasa (non linguistik) tersebut tidak dikuasai apalagi tidak diperhatikan dalam mempelajari bahasa asing, maka jelas akan timbul berbagai masalah.

Untuk meminimalisir tingkat kesalahpahaman dalam berbahasa asing (termasuk bahasa Arab), maka dalam proses pembelajarannya para pengajar bahasa dan sastra asing hendaknya tetap memperhatikan dua hal, pertama memperhatikan materi yang hendak diajarkan, dan kedua bagaimana mengajarkannya (Rahardjo, 2002). Kata kunci yang kerap ditawarkan para linguis adalah bahwa materi bahasa asing termasuk bahasa Arab hendaknya mengedepankan keotentikan (authentic). Materi pelajaran yang disajikan hendaknya didesain sedemikian rupa sehingga merupakan replika otentik suasana berbahasa yang sesungguhnya.

Dengan menyadari kompleksitas peristiwa komunikasi, maka materi yang diajarkan sepatutnya mempertimbangkan keotentikannya sebagai suatu peristiwa komunikasi, materi diajarkan daloam konteks sosial-budayanya, sehingga pembelajar bahasa asing (Arab) dapat mempraktekkan secara otentik pula (sesuai dengan aslinya). Memperkaya input otentik tentang penggunaan bahasa sasaran dalam setting budaya aslinya akan sangat membantu pencapaian dalam proses pembelajaran bahasa dan sastra asing. Untuk kepentingan ini, menurut Al-Fauzan (2002) mutlak dibutuhkan pengajar-pengajar bahasa asing yang memiliki kom,petensi memadai, tidak saja memiliki kompetensi kebahasaan (Al-Kifayah Al-Lughawiyyah), tetapi pada saat yang sama yang bersangkutan juga memiliki kompetensi komunikasi (Al-Kifayah Al-Ittishaliyyah) serta kompetensi kultur bahasa sasaran (Al-Kifayah Al-Tsaqafiyyah).

 

 

Simpulan

Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa tidak cukup jika kita mempelajari bahasa/sastra asing hanya memperolehsejumlah perbendaharaan kata yang baru atau membiasakan diri dengan sistem aturan-aturan tata bahasa, bila kita tidak belajar berfikir dalam bahasa baru itu. Lebih-lebih kalau yang mempelajari bahasa asing itu sudah dewasa (mahasiswa), sebab orang dewasa tidak lagi dalam kondisi mental seperti seorang anak yang untuk pertama kalinya mendekati konsepsi dunia obyektifnya dalam usia ia belajar berbicara. Bagi orang dewasa, dunia obyektifnya sudah mempunyai bentuk yang mapan, pasti, persepsi, intuisi, konsepsi telah menjadi satu dengan istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan dalam bahasa ibunya.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut ialah memasuki jiwa bahasa yang dipelajari. Ini dapat dicapai-idealnya- kalau kita hidup di negara itu sendiri, membaur dan bergaul di tengah-tengah komunitas orang-orang penutur asli dan melihat atau mengalami sendiri kebudayaan mereka. Karena hal ini sering tidak dapat dilakukan –karena cost nya yang terlalu tinggi- maka jalan lain ialah dengan mempelajari unsur-unsur kebudayaan bersamaan dengan mempelajari bahasa asing. Kita harus mempunyai perasaan seakan-akan kita mendekati dunia baru, suatu dunia yang mempunyai ciri-ciri khas yang akan menolong kita memahami jiwa mereka.

Pengetahuan tentang kebudayaan bangsa yang bersangkutan akan menolong kita dalam memahami dengan benar ungkapan-ungkapan dan buah pikiran yang terkandung di dalamnya. Pengetahuan mengenai gejala-gejala yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan serta proses-proses perkembangannya yang hanya dapat diajarkan dalam aspek kebudayaan, akan menunjang tercapainya tujuan pengajaran bahasa/sastra asing yang lebih komprehensip, mencakup segala aspek dan fungsinya. Bagi kita –pembelajar bahasa asing- tidak akan terbuka jalan langsung untuk memasuki dunia berpikir dan kehidupan suatu bangsa, kalau dalam mempelajari kosa kata, ungkapan-ungkapan, struktur-struktur, diksi maupun intonasi bahasa tersebut tidak dihubungkan dengan pengetahuan mengenai kultur/budaya bangsa yang bersangkutan.

Alasan lain mengapa aspek budaya penting diajarkan jika mempelajari bahasa asing ialah karena fungsinya: 1). Fungsi cross cultural communication, yang berarti bahwa tujuan belajar bahasa asing ialah memperoleh kemampuan atau kompetensi berbahasa asing sebagai alat komunikasi dengan menangkap dan mengungkapkan diri secara lisan da tertulis melalui sistem, istilah-istilah dan ungkapan-ungkapan yang merupakan ciri khas bahasa yang dipelajari, 2). Fungsi cross cultural understanding, yang berarti bahwa antar bangsa yang bahasanya kita pelajari akan terjalin saling pengertian yang dapat dibangkitkan jika mendapat pengetahuan memadai tentang kebudayaannya yang dihubungkan dengan sejarah, sosial-ekonominya, kekuasaan politiknya, dan lain-lain aspek kehidupan masyarakatnya. Alhasil, dari saling pengertian ini akan berkembang sikap saling menghargai dan akan terwujud solidaritas antar bangsa  

 

 

Daftar Rujukan

 

Al-Fauzan, Abdurrahman Ibrahim, dkk. 2002. Al-‘Arabiyyatu Baina Yadaika. Saudi Arabia: Mu’assasatu Al-Waqaf Al-Islami.

Anh, To Thi. 1984. Nilai Budaya Timur dan Barat. Jakarta: PT. Gramedia.

Basri. 1991. Aspek Budaya dalam Belajar Mengajar Bahasa Asing. Majalah Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. Nomor 25 Th X Januari – April 1992.

Hardjono, Sartinah. 1988. Prinsip-prinsip Pengajaran Bahasa dan Sastra.Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Rahardjo, Mudjia. 2002. Relung-relung Bahasa: Bahasa dalam Wacana Politik Indoesia Kontemporer. Yogyakarta: Aditya Media



[1] Khoirul Adib adalah Dosen di Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *