Beberapa Catatan Dari Pertemuan Dengan Kepala MAN se Jawa Timur

Pada tanggal, 5 Oktober 2010 yang lalu saya bertemu dengan Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) seluruh Jawa Timur  di UIN Maliki Malang. Pertemuan itu dilaksanakan dalam  acara halal bi halal  di lingkungan Kepala MAN. Namun, agar memiliki nilai lebih,  pertemuan itu diisi dengan  ceramah terkait dengan pengembangan pendidikan madrasah ke depan.

  Saya diminta untuk mengisi acara tersebut. Karena itu agar lebih memberikan nilai lebih lagi, saya usulkan agar pertemuan itu mengambil tempat di UIN Maliki Malang.  Usul tersebut  ternyata diterima, maka pertemuan diselenggarakan di kampus. Sejak lama, saya berharap agar lembaga pendidikan di lingkungan Kementerian Agama selalu ada kontak atau silaturrahmi. Sehingga, dengan pertemuan itu,  sebagian harapan tersebut telah terpenuhi.   Dari pertemuan itu, saya mendapatkan  beberapa catatan  yang terkait  dengan pendidikan di madrasah, yang kiranya  sangat berharga sebagai  bahan  pengembangan pendidikan Islam ke depan. Beberapa catatan itu mestinya juga ditangkap dan dipahami  oleh pengambil keputusan, yaitu terutama para pejabat Kementerian agama.   Di antara beberapa catatan penting itu, antara lain adalah  sebagai berikut. Pertama, saya melihat bahwa pada umumnya Kepala Madrasah Aliyah Negeri  memiliki semangat dan kemauan yang amat tinggi untuk memajukan madrasahnya.  Saya melihat, mereka ingin mengejar  prestasi, jika mungkin melebihi  jenis lembaga pendidikan lainnya yang setara, semisal  SMA atau SMK.   Selama ini sebenarnya, beberapa MAN di Jawa Timur telah menunjukkan prestasi itu.  Bahkan semangat itu tidak saja dimiliki oleh Kepala Madrasah, melainkan juga oleh para guru dan para siswanya.  Selama ini telah banyak lulusan MAN  telah berhasil diterima masuk PTN terkemuka, seperti ITB, UGM, Unair, dan sebagainya, selain ke perguruan tinggi agama Islam negeri, seperti UIN, IAIN,  dan STAIN.   Kedua, kesan yang saya tangkap  bahwa belum semua  Kepala MAN  mengikuti perkembangan perguruan tinggi Islam negeri, semisal UIN.  Mereka mengira bahwa perguruan tinggi Islam  masih seperti dulu. Akibatnya,  di antara mereka baru  menganggap dirinya hebat, jika para siswanya berhasil diterima di perguruan tinggi negeri umum, apapun jenis perguruan tinggi umum itu. Mereka menganggap bahwa,  apapun yang bernama pendidikan umum selalu maju.  Sealiknya,  jika  para lulusannya  hanya bisa diterima di  PTAIN, masih dianggap biasa.   Pandangan seperti itu menunjukkan bahwa,  masih ada rasa tidak percaya diri di kalangan lembaga pendidikan Islam. Anehnya, rasa rendah diri itu   dimiliki oleh  hampir semua pejabat di lingkungan kementerian agama, baik pusat maupun daerah. Sekalipun mereka adalah para pengelola, penanggung jawab,  dan sekaligus  pecinta lembaga pendidikan Islam, ternyata masih belum percaya  terhadap institusinya. Lembaga pendidikan yang dikelola sendiri dianggap lebih rendah dibanding  lembaga pendidikan lainnya.   Pandangan seperti itu sebenarnya adalah keliru dan sangat tidak menguntungkan. Sikap seperti itu menunjuikkan bahwa di kalangan pengelola madrasah,  belum berhasil menangkap nilai lebih dari institusi pendidikan yang dikelolanya sendiri.  Mestinya, boleh saja orang luar mengatakan bahwa madrasah masih belum maju bila dibandingkan dengan sekolah umum. Akan tetapi, siapa saja yang diberi amanah bertanggung jawab terhadap kemajuan madrasah tidak boleh ikut-ikut merendahkannya.   Mestinya dipahami,  bahwa madrasah adalah konsep pendidikan yang memang berbeda dari jenis lembaga pendidikan lainnya, sehingga tidak mudah  dibandingkan. Selama ini yang dibandingkan hanya prestasi mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. Padahal madrasah memiliki kelebihan,  yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan pada umumnya.     Sikap-sikap yang berkembang seperti tersebut,  sebenarnya sangat tidak menguntungkan bagi keberadaan madrasah  secara keseluruhan. Akibatnya, pada madrasah tertanam sikap rendah diri yang berlebihan. Sehingga, sebutan   madrasah dianggap sebagai simbul kerendahan dan ketertinggalan. Padahal, hakekatnya tidak seperti itu. Madrasah memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan selainnya. Di antara keunggulan itu misalnya, adalah pada pendidikan karakter, yang saat ini banyak orang pada merasakan betapa pentingnya.   Madrasah telah lama merasakan hal itu dan selama ini telah menjalankannya.   Ketiga, ternyata di  madrasah juga belum ditemukan format keilmuan  yang bersifat integrative, yaitu yang menggabungkan antara sumber-sumber ilmu berupa  al Qurán dab hadits nabi dengan sumber-sumber dari hasil observasi, eksperimentasi dan penalaran logis.  Madrasah yang disebut sebagai sekolah umum yang berciri khas agama, hingga kini ciri yang dimaksudkan itu, belum sedemikian tampak jelas. Apa yang disebut ciri itu baru bersifat tambahan. Artinya, di madrasah terdapat tambahan pelajaran agama lebih banyak jumlahnya.       Manakala Islam sudah dilihat sebagai ciri khas pendidikan itu, maka pelajaran biologi, fisika, kimia, sosiologi dan sejenisnya harus  dianggap sebagai bagian dari menunaikan ajaran Islam. Sebab  al Qurán memerintahkan  agar  umatnya mempelajari  bagaimana  unta diciptakan, langit  ditinggikan, bumi dihamparkan,  gunung ditegakkan,  dan seterusnya.   Akan tetapi pada kenyataannya, baru disebut sebagai pelajaran Islam  manakala  menyangkut pelajaran  fiqh, tauhid, akhlak dan tassawuf saja.   Berangkat dari kenyataan ini, maka ternyata membangun pendidikan Islam yang berparadigma Islam, untuk semua tingkatan tidak mudah dilakukan. Oleh karena itu tugas para ahli pendidikan Islam masih cukup panjang. Mereka dituntut agar suatu ketika   menemukan konsep yang  jelas, bahwa keilmuan yang dikembangkan pada lembaga pendidikan Islam, ——termasuk di MAN,  seharusnya  mendasarkan pada dua jenis sumber, yaitu ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah.  Konsep itu sebenarnya sudah dipahami,  tetapi rumusan secara riil dan jelas,  ternyata masih harus ditunggu. Oleh karena itu, kerjasama dengan semua pihak untuk merumuskan  kosep dimaksud   masih  selalu diperlukan. Wallahu a’lam. 

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Beberapa Catatan Dari Pertemuan Dengan Kepala MAN se Jawa Timur | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *