Beberapa Model dan Langkah-langkah Penerapan Metode Active

Beberapa   Model   dan   Langkah-langkah    Penerapan   Metode   Active

Beberapa   Model   dan   Langkah-langkah    Penerapan   Metode   Active

Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Di bawah ini adalah beberapa strategi pembelajaran aktif (Active Learning Strategy) untuk pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dicocokkan dengan karakteristik Pendidikan Agama Islam, peserta didik, guru dan media atau alat peraga, yaitu:
 

1.   Pembelajaran Terbimbing (Guideed Teaching)

Dalam  teknik  ini,  guru  menanyakan  satu  atau  lebih  pertanyaan untuk membuka pengetahuan mata pelajaran atau mendapatkan hipotesis atau kesimpulan mereka atau kemudiaan memilahnya ke dalam kategori- kategori. Metode pembelajaran terbimbing merupakan suatu perubahan “cantik” dari ceramah secara langsung dan memungkinkan  anda mempelajari apa yang telah diketahui dan dipahami para peserta didik sebelum membuat poin-poin pengajaran. Metode ini sangat berguna ketika mengajarkan konsep-konsep abstrak.
Posedur

a.   Tentukan sebuah pertanyaan atau sebuah pernyataan yang membuka pemikiran dan pengetahuan  yang dimiliki peserta didik. Pergunakan pertanyaan-pertanyaan     yang     mempunyai     beberapa     kemungkinan jawaban, seperti “Bagaimana anda menjelaskan tentang kesabaran?”
b.   Biarkan   peserta   didik   beberapa   saat   dengan   berpasangan   atau bersebelahan kelompok untuk mempertimbangkan respon-respon mereka.
c.   Gabungkan kembali seluruh kelas dan catatlah gagasan peserta didik.

Jika mungkin, pilihlah respon-respon mereka ke dalam daftar terpisah yang  berkaitan  dengan  kategori-kategori  atau  konsep  yang  berbeda yang anda coba untuk diajarkan. Dalam pertanyaan, contoh tersebut, anda mungkin mencatat ide-ide seperti “Kemampuan membangun kembali suatu mesin” di bawah kategori kecerdasan kinestetik jasad.
 

d.   Sampaikan   poin-poin   pembelajaran   yang  ingin   anda   sampaikan.

Suruhlah  peserta  didik  menggambarkan  bagaimana  respon  mereka cocok dengan poin-poin  ini. Catatlah ide-ide yang menambah  poin- poin pembelajaran dari materi yang anda ajarkan.
Variasi

a.   Jangan  memilah  respon-respon  peserta  didik  ke dalam  daftar-daftar terpisah. Tetapi buatlah satu daftar berkelanjutan dan mintalah mereka mengkategorikan ide-ide mereka sendiri pertama sebelum anda membandingkannya dengan konsep-konsep yang telah anda miliki.
b.   Mulailah  pelajaran  itu tanpa  menyampaikan  berbagai  kategori  yang ada dalam pikiran anda. Lihatlah para peserta didik dan anda bersama- sama   dapat   memilah   ide-ide   ke   dalam   kategori-kategori   yang berguna.35
2.   Tukar Pemikiran atau Pendapat (Exchanging Viewpoint)

Kegiatan   ini  dapat   digunakan   untuk   merangsang   keterlibatan segera  dalam  materi  pelajaran  anda.  Strategi  ini  juga  memperingatkan peserta  didik agar menjadi  pendengar  yang hati-hati  dan membuka  diri mereka sendiri terhadap berbagai macam sudut pandang.
Prosedur
a.   Berilah  lebel  nama  kepada  tiap  siswa.  Perintahkan   siswa  untuk menuliskan nama mereka pada label dan mengenakannya

35 Mel Silberman, Op Cit. hlm. 110-111
 

b.   Perintahkan siswa untuk berpasangan dan memperkenalkan diri pada orang lain. Lalu, mintalah pasangan-pasangan untuk tukar menukar respon mereka terhadap sebuah pertanyaan atau statemen yang profokatif, menantang, mengundang untuk diteliti, dan meminta opini mereka mengenai sebuah isu mengenai pelajaran yang anda ajarkan.
1)  Sebuah  contoh  dari sebuah  pertanyaan  adalah:  “Batas-batas  apa yang seharusnya ada pada orang shalat?”
2)  Sebuah  contoh  dari  sebuah  statemen  adalah  “Al-Qur’an  adalah

sebuah kitab suci”

c.   Sebutlah  “waktu”  dan  arahkan  peserta  didik  untuk  tukar  menukar kartu nama dengan patner mereka kemudian lanjutkan untuk mencari peserta didik yang lain. Maintalah peserta didik sebagai ganti memperkenalkan diri, berbagai pandangan tentang orang yang merupakan  patnmer  lalunya  (orang  yang  daftar  namanya  sedang merela pakai).
d.   Selanjutnya,  mintalah  peserta  didik  menaruh  dafttar  nama  lagi  dan mencari   yang   lain   untuk   diajak   bicara,   dengan   hanya   berbagi mengenai   pandangan   orang-orang   yang   daftar   namanya   sedang mereka pakai.
e.   Lanjutkan proses itu sampai kebanyakan peserta didik telah bertemu.

Kemudian  beritahukan  kepada  masing-masing  peserta  didik  untuk mendapatkan kembali kartu namanya sendiri.
 

Variasi

a.   Gunakan  proses pertukaran  kartu nama ini sebagai sebuah pemecah kebekuan sosial (social icebreaker) dengan mengajarkan peserta didik berbagi  lebih  pada  latar  belakang  mereka  sendiri  dari  pada  sudut pandang tentang pertanyaan atau statemen yang menantang untuk dijawab.
b.   Hilangkan sebuah penukaran kartu nama, tetapi mintalah peserta didik melanjutkan untuk mencari orang-orang baru, setiap saat dengan mendengarkan   opini   mereka   tentang   berbagai   pertanyaan   atau statemen yang diberikan oleh anda.36
3.   Belajar Melalui Jigso (Jigsaw Learning)

Jigsaw Learning merupakan sebuah teknik dipakai secara luas memiliki   kesamaan   dengan   teknik   “pertukaran   dari   kelompok   ke kelompok” (group-to group-exchanging) dengan suatu perbedaan penting: setiap peserta  didik mengajarkan  sesuatu.  Ini adalah alternatif  menarik, ketika  ada  materi  yang  dipelajari  dapat  disingkat  atau  “dipotong”  dan disaat tidak ada bagian yang harus diajarkan sebelum yang lain-lain.
Setiap peserta didik mempelajari sesuatu yang dikombinasi dengan materi  yang  telah  dipelajari  oleh  peserta  didik  lain,  buatlah  sebuah
kumpulan pengetahuan yang bertalian atau keahlian.

36 Mel Silberman, Op Cit. hlm. 89-90
 

Prosedur

a.   Pilihlah  materi  belajar  yang  dapat  dipisah  menjadi  bagian-bagian.

Sebuah bagian dapat disingkat seperti sebuah kalimat atau beberapa halaman.
Contoh di antaranya:

1)  Sebuah berita memiliki banyak maksud

2)  Bagian-bagian ilmu pengetahuan eksperimental

3)  Sebuah teks yang mempunyai bagian yang berbeda

4)  Daftar definisi

5)  Sekelompok  majalah  yang  memuat  artikel  panjang  atau  jenis bacaan lain yang materinya pendek
b.   Hitunglah jumlah bagian dan jumlah peserta didik. Dengan satu cara yang pantas, bagikan tugas yang berbeda. Contoh: bayangkan sebuah kelas  terdiri  dari 12 peserta  didik.  Anggaplah  anda dapat membagi materi pelajaran dalam tiga bagian, kemudian anda dapat membentuk kwartet,   berikan  tugas  setiap  kelompok   bagiaan  1,2,3.  Mintalah kwartet atau “kelompok belajar” membaca, mendiskusikan dan mempelajari materi yang ditugaskan kepada mereka.
c.   Setelah selesai, bentuklah kelompak Jigsaw Learning setiap kelompok ada seorang wakil dari masing-masing kelompok dalam kelas. Seperti dalam contoh: setiap anggota masing-masing kwaetet menghitung 1, 2,
3 dan 4. Kemudian bentuklah kelompok peserta didik Jigsaw Learning

dengan jumlah sama hasilnya akan terdapat 4 kelompok yang terdiri
 

dari 3 (trio) orang. Dalam setiap trio akan ada seorang peserta yang mempelajari bagian 1, seorang untuk bagian 2 dan seorang lagi bagian
3.

Penjelasan Semua Kelompok

Kelompok Belajar

Kelompok Belajar Kolaboratif

1     1     1     1

2     2     2     2

3     3     3     3

d.   Mintalah anggota kelompok “Jigsaw” untuk mengajarkan materi yang

telah dipelajari kepada orang lain.
 

e.   Kumpulkan  kembali  peserta  didik  ke  kelas  besar  untuk  memberi ulasan dan sisakan pertanyaan guna memastikan pemahaman yang tepat.37
Variasi

a.   Berikan     tugas     baru,     seperti     menjawab     pertanyaan     kelompok tergantung akumulasi pengetahuan anggota kelompok jigsaw.
b.   Berikan   tanggung   jawab   kepada   peserta   didik   yang   lain   guna mempelajari kecakapan dari pada informasi kognitif. Mintalah peserta didik ,mengajari peserta lain kecakapan yang telah mereka pelajari.
4.   Perdebatan Aktif (Active Debate)

Satu perdebatan dapat menjadi sebuah metode berharga untuk mengembangkan pemikiran dan refleksi, khususnya jika peserta didik diharapkan mengambil posisi yang bertentangan dengan pendapatnya. Ini adalah   sebuah   strategi   untuk   suatu   perdebatan   yang   secara   aktif melibatkan  setiap  peserta  didik  dalam  kelas  bukan  hanya  orang-orang yang berdebat.
Prosedur

a. Kembangkan suatu pertanyaan yang berkaitan dengan sebuah isu kontroversial yang berkaitan dengan mata pelajaran anda.
b.   Bagilah kelas menjadi dua tim debat. Tugaskan (secara acak) posisi

“pro” pada satu kelompok dan posisi “kontra” pada kelompok yang

lain.

37 Mel Silberman, Op Cit. hlm. 160-162
 

c.   Selanjutnya,  buatlah dua atau empat sub-kelompok-sub-kelompok  di dalam masing-masing  tim debat itu. Dalam sebuah kelas dengan 24 peserta didik, misalnya, mungkin anda buat tiga kelompok pro dan tiga kelompok kontra, masing-masing berisi empat anggota. Mintalah tiap- tiap  sub-kelompok  mengembangkan  argumen-argumen  untuk  posisi yang ditentukannya, atau berikan sebuah daftar argumen yang lengkap yang  mungkin   mereka   diskusikan   dan  pilih.  Pada  akhir  diskusi mereka, suruhlah sub-kelompok tersebut memilih seorang juru bicara.
d. Aturlah dua sampai empat kursi (tergantung pada jumlah sub-sub kelompok yang dibuat sisi/bagian)  untuk para juru bicara kelompok pro dan menghadap mereka, jumlah kursi yang sama untuk para juru bicara   kelompok   kontra.   Tempatkan   peserta   didik   yang  lain  di
belakang tim debat mereka. Untuk awal, susunan akan nampak seperti

 
ini: x x x
x
 

x x x
Pro     Kontra     x
 

 
x     Pro x     Pro x
x x
 
Kontra     x Kontra     x x
x x
 

Mulailah “perdebatan” dengan menyuruh para juru bicara itu menyampaikan   pandangan-pandangan   mereka.   Mengaculah   pada proses ini sebagai “argumen-argumen pembuka”.
e.  Setelah setiap orang telah mendengar argumen-argumen pembuka, hentikan perdebatan itu dan gabunglah kembali sub-sub kelompok semula.  Mintalah  sub-sub kelompok  itu membuat  strategi bagaimna mengkuenter argumen-argumen pembuka tersebut dari sisi yang berlawanan. Juga, suruhlah masing-masing sub kelompok memilih seorang  juru bicara, lebih disenangi seorang yang baru.
f.     Mulailah “perdebatan” itu. Suruhlah juru-juru bicara itu, ditempatkan berhadapan satu sama lain, memberikan “kuenter argumen”. Ketika perdebatan berlanjut (pastikan untuk menukar antara dua sisi tersebut), doronglah  peserta  didik  lainnya  mencatat  juru-juru  debat  mereka dengan berbagai argumen atau bantahan yang disarankan. Juga, doronglah mereka meenyambut  dengan applause terhadap argumen- argumen dari para wakil tim debat mereka.
g.   Ketika anda berfikir bahwa sudah cukup, akhiri perdebatan tersebut.

Sebagai ganti menyatakan pemenangnya, gabungkan kembali seluruh kelas tersebut dengan lingkaran penuh, pastikan memadukan kelas tersebut dengan menyuruh peserta didik duduk bersebelahan  dengan orang-orang  yang  ada  dalam  kelompok  yang  berlawanan.  Buatlah suatu  diskusi  seluruh  kelas  tentang  apa  yang  telah  dipelajari  oleh peserta  didik  tentang  persoalan  dari  pengalaman  debat  itu.  Juga,
 

mintalah peserta didik mengidentifikasikan apa yang mereka pikirkan merupakan     argumen-argumen     terbaik   yang   dibuat   oleh   kedua kelompok debat tersebut.
Variasi

a.   Tambahkan  satu  atau  lebih  kursi-kursi  kosong  pada  tim-tim  debat tersebut. Ijinkan para peserta didik menempati kursi-kursi kosong ini kemanapun mereka inginkan untuk ikut berdebat.
b.   Mulailah kegiatan itu segera dengan argumen-argumen pembuka dari perdebatan itu. Lanjutkan dengan sebuah perdebatan konvensional, namun dengan sering memutar para juru debat.38

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *