CARA PENYUSUNAN KITAB-KITAB HADIST

CARA PENYUSUNAN KITAB-KITAB HADIST

Dalam penyusunan kitab-kitab hadits para ulama menempuh cara-cara antara lain :

1. Penyusunan berdasarkan bab-bab fiqhiyah, mengumpulkan hadits-hadits yang berhubungan dengan shalat umpamanya dalam “Babush-shalah”,hadits-hadits yang berhubungan dengan masalah wudhu dalam “Babul-wudhu” dan sebagainya. Cara ini terbagi dua macam :
a. Dengan mengkhususkan hadits-hadits yang shahih saja, seperti yang ditempuh oleh Imam Bukhari dan Muslim.
b. Dengan tidak mengkhususkan hadits-hadits yang shahih ( asal tidak munkar ), seperti yang ditempuh oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, dan sebagainya.

2. Penyusunan berdasarkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya. Cara ini terbagi dua macam :
a. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan abjad.
b. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan nama qabilah. Mereka dahulukan Banu Hasyim, kemudian qabilah yang terdekat dengan Rasulullah.
c. Dengan menyusun nama-nama sahabat berdasarkan kronologik masuknya Islam. Mereka didahulukan sahabat-sahabat yang termasuk “Assabiqunal awwalun” kemudian “Ahlul Badr”, kemudian “Ahlul Hudaibiyah”, kemudian yang turut hijrah dan seterusnya.
d. Dengan menyusun sebagaimana ketiga dan dibagi-bagi berdasarkan awamir, nawahi, ikhbar, ibadat, dan af’alun nabi. Seperti yang ditempuh oleh Ibnu Hibban dalam shahehnya.

3. Penyusunan berdasarkan abjad-abjad huruf dari awal matan hadits, seperti yang ditempuh oleh Abu Mansur Abdailani dalam “Musnadul Firdausi” dan oleh as-Suyuti dalam “Jamiush-Shagir”.

KITAB-KITAB HADIST PADA ABAD ke I H

1. Ash-Shahifah oleh Imam Ali bin Abi Thalib.
2. Ash-Shadiqah oleh Imam Abdullah bin Amr bin ‘Ash.
3. Daftar oleh Imam Muhammad bin Muslim ( 50 – 124 H ).
4. Kutub oleh Imam Abu Bakar bin Hazmin.

Keempat-empatnya tidak sampai ke tangan kita, jadi hanya berdasarkan keterangan sejarah saja yang dapat dipertanggung-jawabkan.

KITAB-KITAB HADIST PADA ABAD ke-2 H

1. Al-Musnad oleh Imam Abu Hanifah an-Nu’man ( wafat 150 H ).
2. Al-Muwaththa oleh Imam Malik Anas ( 93 – 179 H ).
3. Al-Musnad oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi’I ( 150 – 204 H ).
4. Mukhtaliful Hadits oleh Muhammad bin Idris asy-Syafi’I ( 150 – 204 H ).
5. Al-Musnad oleh Imam Ali Ridha al-Katsin ( 148 – 203 H ).
6. Al-Jami’ oleh Abdulrazaq al-Hamam ash Shan’ani ( wafat 311 H ).
7. Mushannaf oleh Imam Syu’bah bin Jajaj ( 80 – 180 H ).
8. Mushannaf oleh Imam Laits bin Sa’ud ( 94 – 175 H ).
9. Mushannaf oleh Imam Sufyan bin ‘Uyaina ( 107 – 190 H ).
10.as-Sunnah oleh Imam Abdurrahman bin ‘Amr al-Auza’i ( wafat 157 H ).
11.as-Sunnah oleh Imam Abd bin Zubair b. Isa al-Asadi.

Seluruh kitab-kitab hadits yang ada pada abad ini tidak sampai kepada kita kecuali 5 buah saja yaitu nomor 1 sampai dengan 5.

KITAB-KITAB HADIST PADA ABAD ke-3 H.

1. Ash-Shahih oleh Imam Muh bin Ismail al-Bukhari ( 194 – 256 H ).
2. Ash-Shahih oleh Imam Muslim al-Hajjaj ( 204 – 261 H ).
3. As-Sunan oleh Imam Abu Isa at-Tirmidzi ( 209 – 279 H ).
4. As-Sunan oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’at ( 202 – 275 H ).
5. As-Sunan oleh Imam Ahmad b.Sya’ab an-Nasai ( 215 – 303 H ).
6. As-Sunan oleh Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abdurrahman ad Damiri ( 181 – 255 H ).
7. As-Sunan oleh Imam Muhammad bin Yazid bin Majah Ibnu Majah ( 209 – 273 H ).
8. Al-Musnad oleh Imam Ahmad bin Hambal ( 164 – 241 H).
9. Al-Muntaqa al-Ahkam oleh Imam Abd Hamid bin Jarud ( wafat 307 H ).
10. Al-Mushannaf oleh Imam Ibn. Abi Syaibah ( wafat 235 H ).
11. Al-Kitab oleh Muhammad Sa’id bin Manshur ( wafat 227 H ).
12. Al-Mushannaf oleh Imam Muhammad Sa’id bin Manshur ( wafat 227 H ).
13. Tandzibul Afsar oleh Imam Muhammad bin Jarir at-Thobari ( wafat 310 H ).
14. Al-Musnadul Kabir oleh Imam Baqi bin Makhlad al-Qurthubi ( wafat 276 H ).
15. Al-Musnad oleh Imam Ishak bin Rawahaih ( wafat 237 H ).
16. Al-Musnad oleh Imam ‘Ubaidillah bin Musa ( wafat 213 H ).
17. Al-Musnad oleh Abdibni ibn Humaid ( wafat 249 H ).
18. Al-Musnad oleh Imam Abu Ya’la ( wafat 307 H ).
19. Al-Musnad oleh Imam Ibn. Abi Usamah al-Harits ibn Muhammad at-Tamimi ( 282 H ).
20. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi ‘Ashim Ahmad bin Amr asy-Syaibani ( wafat 287 H ).
21. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Abi’amrin Muhammad bin Yahya Aladani ( wafat 243 H ).
22. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin al-Askari ( wafat 282 H ).
23. Al-Musnad oleh Imam bin Ahmad bin Syu’aib an-Nasai ( wafat 303 H ).
24. Al-Musnad oleh Imam Ibrahim bin Ismail at-Tusi al-Anbari ( wafat 280 H ).
25. Al-Musnad oleh Imam Musaddad bin Musarhadin ( wafat 228 ).
Dan masih banyak sekali kitab-kitab musnad yang ditulis oleh para ulama abad ini.

KITAB-KITAB HADIST PADA ABAD ke-4 H.

1. Al-Mu’jam Kabir, ash-Shagir dan al-Ausath oleh Imam Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani ( wafat 360 H ).
2. As-Sunan oleh Imam Darulkutni ( wafat 385 H ).
3. Ash-Shahih oleh Imam Abu Hatim Muhammad bin Habban ( wafat 354 H ).
4. Ash-Shahih oleh Imam Abu ‘Awanah Ya’qub bin Ishaq ( wafat 316 H ).
5. Ash-Shahih oleh Imam Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq ( wafat 311 H ).
6. Al-Muntaqa oleh Imam Ibnu Saqni Sa’id bin’Usman al-Baghdadi ( wafat 353 H ).
7. Al-Muntaqa oleh Imam Qasim bin Asbagh ( wafat 340 H ).
8. Al-Mushannaf oleh Imam Thahawi ( wafat 321 H ).
9. Al-Musnad oleh Imam Ibnu Jami Muhammad bin Ahmad ( wafat 402 H ).
10.Al-Musnad oleh Imam Muhammad bin Ishaq ( wafat 313 H ).
11.Al-Musnad oleh Imam Hawarizni ( wafat 425 H ).
12.Al-Musnad oleh Imam Ibnu Natsir ar-Razi ( wafat 385 H ).
13.Al-Mustadrak ‘ala-Shahihaini oleh Imam Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim an-Naisaburi ( 321 – 405 H ).

TINGKATAN KITAB HADIST.

Menurut penyelidikan para ulama ahli hadits secara garis besar tingkatan kitab-kitab hadits tersebut bisa dibagi sebagai berikut :
1. Kitab Hadits ash-Shahih yaitu kitab-kitab hadits yang telah diusahakan para penulisnya untuk hanya menghimpun hadits-hadits yang shahih saja.
Seperti yang dijelaskan dalam Sohih Bukhori Kitab al Libas oleh Ibn Umar R.A. tentang penyelisihan/pengingkaran nabi Muhammad SAW atas perilaku musryikin yakni diperintahkannya untuk mencukur kumis dan membiarkan tumbuh pada jenggot. Dan seperti yang dituliskan dalam sahih Muslim Kitab at-Toharoh oleh Ibn Umar tentang perintah nabi Muhammad SAW untuk mencukur kumis dan membiarkan jenggot. Kedua hadist di atas adalah hadist yang sahih, tiada keraguan di dalamnya. Kitab-kitab yang lain ikut memperkuat apa yang telah menjadi tulisan dua imam hadist di atas, seperti halnya yang di tuliskan oleh imam Nasai dalam sunannya Kitab at-Toharoh dari Zaid Bin Arqom bahwasanya nabi Muhammad SAW bersabda “Barang siapa yang tidak mencukur kumisnya maka dia bukanlah ummatku”. Adapun ketentuan kumis seperti yang telah dijelaskan dalam benyak hadist adalah hanya boleh dipelihara oleh seorang muslim sebesar satu siwak kecil.

2. Kitab-kitab Sunan yaitu kitab-kitab hadits yang tidak sampai kepada derajat munkar. Walaupun mereka memasukkan juga hadits-hadits yang dha’if ( yang tidak sampai kepada munkar ). Dan sebagian mereka menjelaskan kedha’ifannya.
Sebagai contoh yang sangat nampak adalah tentang mengusap wajah setelah berdoa, disampaikan dalam Riwayat Ibnu Majah No. 1181 & 3866 yang mana derajad hadist ini adalah sangat Dloif/lemah karena dalam sanadnya ada rowi yang bernama SHALIH BIN HASSAN AN-NADLARY dimana para ahli hadist melemahkannya, seperti yang dikatakan oleh para imam dibawah ini;
• Kata Imam Bukhari : Munkarul Hadits (orang yang diingkari hadits/riwayatnya).
• Kata Imam Abu Hatim : Munkarul Hadits, Dlo’if.
• Kata Imam Ahmad bin Hambal : Tidak ada apa-apanya (maksudnya : lemah).
• Kata Imam Nasa’i : Matruk (orang yang ditinggalkan haditsnya).
• Kata Imam Ibnu Ma’in : Dia itu Dlo’if.
• Imam Abu Dawud telah pula melemahkannya.

Imam Abu Dawud juga meriwayatkan dari jalur Ibnu Abbas, tapi di sanadnya ada seorang rawi yang tidak disebut namanya (dalam istilah ilmu hadits disebut rawi MUBHAM). sedang Imam Abu Dawud sendiri telah berkata : “Hadits inipun telah diriwayatkan selain dari jalur ini, dari Muhammad bin Ka’ab al-Quradziy (tapi) SEMUANYA LEMAH. Dan ini jalan yang semisalnya, dan ia (hadits Ibnu Abbas) juga lemah”. (Baca : Sunan Abi Dawud No. 1485).
Dan juga ada yang dijelaskan dalam Imam Abu Dawud No. 1492 tentang mengusap wajah setelah berdoa, akan tetapi hadist-hadist inipun diketahui sebagai hadist yang lemah karena dalam sanad-sanadnya terdapat rowi;
• IBNU LAHI’AH, seorang rawi yang lemah.
• HAFSH BIN HASYIM BIN ‘UTBAH BIN ABI WAQQASH, rawi yang tidak diketahui/dikenal (majhul).
Kemudian dalam sunan yang dituliskan oleh imam Tirmidzi yang dalam sanadnya terdapat seorang rowi yang bernama HAMMAD BIN ISA AL-JUHANY, dimana ia telah dilemahkan oleh;
• Dia ini telah dilemahkan oleh Imam-imam : Abu Dawud, Abu Hatim dan Daruquthni.
• Imam Al-Hakim dan Nasa’i telah berkata : Ia telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij dan Ja’far Ash-Shadiq hadits-hadits palsu.
Adapun hadist-hadist yang menyapaikan tata cara berdoa dari nabi Muhammad SAW hanya dengan mengangkat tangan saja (dan tidak mengusap wajah setelahnya) adalah cukup banyak, dan bahkan hadist-hadist tersebut dapat mencapai derajad Mutawattir karena disampaikan oleh sejumlah sahabat seperti yang tertulis dibawah ini;

1. Oleh Abu Humaid (Riwayat Bukhari & Muslim).
2. Oleh Abdullah bin Amr bin Ash (Riwayat Bukhari & Muslim).
3. Oleh Anas bin Malik (Riwayat Bukhari) tentang Nabi berdo’a di waktu perang Khaibar dengan mengangkat kedua tangannya.
4. Oleh Abu Musa Al-Asy’ari (Riwayat Bukhari dan lain-lain).
5. Oleh Ibnu Umar (Riwayat Bukhari).
6. Oleh Aisyah (Riwayat Muslim).
7. Oleh Abu Hurairah (Riwayat Bukhari).
8. Oleh Sa’ad bin Abi Waqqash (Riwayat Abu Dawud).

Dan lain-lain lagi shahabat yang meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berdo’a dengan mengangkat kedua tangannya di berbagai tempat. Semua riwayat di atas (yaitu : tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a mengangkat kedua tangannya) adalah merupakan FI’IL (perbuatan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun yang merupakan QAUL (perkataan/sabda) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada di-riwayatkan oleh Malik bin Yasar (sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) dalam Abu Dawud No. 1486), atau seperti apa yang disampaikan oleh sahabat Muhammad SAW sekaligus saudara sepupu nabi Muhammad SAW yang bernama Ibn Abbas dalam Abu Dawud No. 1486.
Kedliofan hadist-hadist yang ditulis dalam kitab sunan yang telah saya tuliskan di atas adalah kedloifan yang tidak mencapai derajad kemunkaran hadist karena telah terbukti seperti apa yang telah dituliskan dalam “Fiqhu asSunnah” bahwa memang tidak satupun hadist yang menerangkan mengusap wajah setelah berdoa tidak dalam derajad dloif (seluruhnya dloif) akan tetapi jika hadist-hadist dloif tentang mengusap wajah setelah berdoa itu dikumpulkan maka akhirnya bisa mencapai derajad hadist hasan (karena banyaknya hadist-hadist itu).

3. Kitab-kitab Musnad yaitu kitab-kitab hadits yang jumlahnya sangat banyak sekali. Para penghimpunnya memasukkan hadits-hadits tersebut tanpa penyaringan yang seksama dan teliti. Oleh karena itu didalamnya bercampur-baur diantara hadits-hadits yang shahih, yang dha’if dan yang lebih rendah lagi. Adapun kitab-kitab lain adalah disejajarkan dengan al-Musnad ini.
Diantara kitab-kitab hadits yang ada, maka Shahih Bukhari-lah kitab hadits yang terbaik dan menjadi sumber kedua setelah al-Qur’an, dan kemudian menyusul Shahih Muslim. Ada para ulama hadits yang meneliti kitab Muslim lebih baik daripada Bukhari, tetapi ternyata kurang dapat dipertanggungjawabkan, walaupun dalam cara penyusunan hadits-hadits, kitab Muslim lebih baik daripada Bukhari, sedang syarat-syarat hadits yang digunakan Bukhari ternyata tetap lebih ketat dan lebih teliti daripada apa yang ditempuh Muslim. Seperti tentang syarat yang diharuskan Bukhari berupa keharusan kenal baik antara seorang penerima dan penyampai hadits, dimana bagi Muslim hanya cukup dengan muttashil ( bersambung ) saja.

KITAB-KITAB SHAHIH SELAIN BUKHORI DAN MUSLIM.

Ada beberapa ulama yang telah berusaha menghimpun hadits-hadits shahih sebagaimana yang ditempuh oleh Bukhari dan Muslim, akan tetapi menurut penyelidikan ahli-ahli hadits, ternyata kitab-kitab mereka tidak sampai kepada tingkat kualitas kitab-kitab Bukhari dan Muslim.

Para ulama yang menyusun Kitab Shahih tersebut ialah :

1. Ibnu Huzaimah dalam kitab ash-Shahih.
2. Abu ‘Awanah dalam kitab ash-Shahih.
3. Ibnu Hibban dalam kitab at-Taqsim Walarba.
4. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak.
5. Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa.
6. Ibnu Abdil Wahid al-Maqdisi dalam kitabnya al-Mukhtarah.

Menurut sebagian besar para ulama hadits, diantara kitab-kitab hadits ada 7 ( tujuh ) kitab hadits yang dinilai terbaik yaitu :

1. Ash-Shahih Bukhari.
2. Ash-Shahih Muslim.
3. Ash-Sunan Abu-Dawud.
4. As-Sunan Nasai.
5. As-Sunan Tirmidzi.
6. As-Sunan Ibnu Majah.
7. Al-Musnad Imam Ahmad.

Semoga Allah melimpahkan rohmat dan barokahnya kepada kita semua, tetap terus dalam menuntut ilmu yang bisa menjadikan kita semakin mengerti apa yang telah menjadi sunnah dan tingkah laku nabi Muhammad SAW, mengerti ilmu yang menjadi petunjuk islam yang mendapat jaminan kebenaran dari Allah SWT dan Rosululloh SAW.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *