Dialog Informal Dengan Para Pendeta

Dialog Informal Dengan Para Pendeta

Dalam kunjungan ke STAKN Palangkaray, Kalimantan Tengah, saya berkenalan dengan Pendeta Dr.Jan S. Aritonga dan Pendeta Dr. Tomy Binti. Pendeta Dr.Jan S.Aritonga adalah Ketua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, sedang Pendeta Dr.Tomy Binti adalah Ketua Sekolah Tinggi Teologi Banjarmasin. Kami bertiga kebetulan diundang untuk ceramah di di hadapan sivitas akademika STAKN Palangkeraya. Selama di Palangkaraya, kami diinapkan di hotel yang sama, dan kebetulan masing-masing dipilihkan di kamar hotel yang berdekatan. Kesempatan yang baik itu menjadikan bertiga mudah bertemu, baik di lobby hotel, di perjalanan menuju tempat acara, maupun pada waktu makan bersama. Sekalipun baru kali pertama saya mengenal mereka, terasa akrab, sehingga dapat berbincang tentang apa saja yang menarik bagi semua. Di antara berbagai hal yang dibicarakan itu ada beberapa hal yang bersifat umum dan sering saya mendengarnya, tetapi ada juga hal yang saya rasakan baru dan menarik. Bahan perbincangan yang lazim dan umum adalah tentang kerukunan antar umat beragama. Para pendeta sama juga dengan para ulama’, sangat mendambakan kehidupan yang damai antar umat beragama. Mereka gelisah jika terjadi sesuatu yang menyinggung perasaan bagi umat agama lain. Pendeta Dr.Jan S. Aritonga juga mengaku sedih, jika ada orang Kristiani ikut-ikutan memberikan penafsiran, merujuk atau pikirannya mengacu pada ayat-ayat al Qurán. Apalagi penafsiran yang diberikan berbeda dengan pemahaman tokoh Islam sendiri. Dia mengatakan bahwa apa yang dilakukan orang Kristen dengan cara ikut-ikut memberikan tafsiran terhadap ayat al Qurán akan sangat menganggu perasaan orang muslim. Ia berpandangan bahwa, orang kristiani tidak memiliki kompetensi apa-apa dalam menerjemahkan kitab suci kaum muslimin. Selebihnya, apa yang dilakukan oleh mereka justru bisa diduga ada niat terselubung untuk mencari-cari kelemahan pihak lain. Atas dasar pandangan itu, dia sangat tidak menyetujui orang Kristen melakukan hal itu. Saya menilai bahwa apa yang menjadi sikapnya itu datang dari hatinya yang tulus, sebab ternyata apa yang dibicarakan itu juga ditulis dalam bukunya yang berjudul Perjumpaan Kristen Dan Islam di Indonesia. Selain itu dia juga tidak menyenangi jika umat kriten selalu mengakui benar sendiri, sombong terhadap kaum muslimin, dan bahkan licik. Hal itu semua dikatakan olehnya jauh dari ajaran kristiani. Namun sebaliknya, para Pendeta itu juga tidak menyukai jika mendengar kata-kata bahwa kaum nasrani disebut sebagai kaum minoritas di negeri ini. Kata minoritas menurutnya tidak perlu disebut-sebut. Sebab penyebutan kata itu, selain tidak mengenakkan, juga akan melahirkan semangat memperbanyak jumlah pemeluk agama ini, agar suatu ketika tidak disebut minoritas lagi. Perasaan lain yang dirasakan kurang mengenakkan bagi kaum kristiani adalah tatkala pengeras suara masjid atau musholla terlalu keras sehingga dirasakan mengganggu. Hal yang tidak saya duga, ternyata para pendeta mengaku senang dan bahkan merasa dapat menikmati suara adzan dan pujian di masjid atau mushala, —-sekalipun dengan pengeras suara, jika disuarakan dengan pelan dan indah. Sayangnya, kata mereka, kalimat-kalimat indah itu tidak disuarakan dengan sewajarnya, seolah-olah yang diutamakan adalah kerasnya suara itu, dengan mengabaikan keindahannya. Seusai berdialog informal sepanjang bertemu itu ——di lobby hotel, pada saat makan, dan atau di sepanjang perjalanan, saya merenung panjang, bahwa bukankah semestinya masing-masing umat beragama tidak saling mengganggu. Bukankah sesungguhnya ajaran agama hadir di muka bumi melalui rasulnya, justru menyerukan dan sekaligus membimbing agar sesama umat manusia hidup rukun, damai, saling kasih mengasihi. Sebaliknya, tidak saling mengganggu, atau menyusahkan, apalagi merugikan bagi yang lain. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *