DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM

DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM

 

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah pendidikan agama islam untuk kimia

Yang diampu oleh Bapak Moch Wahib Dariyadi, M.Pd.

 

Disusun Oleh :

Kelompok 7 Offering A

Fatma Ustadzah                                        (170331614059)

Nur Ifadah Lailiyah                                   (170331614009)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

Maret 2018

BAB I

PEMBAHASAN

 

  1. Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Islam

Ilmu berasal dari kata Arab “ilm”, yaitu masdar dari kata ‘alimayang artinya “tahu”. Menurut bahasa, ilmu ialah pengetahuan. Pengetahuan dibagi menjadi dua macam. Pertama, pengetahuan yang biasanya disebut knowledge, yaitu pengetahuan umum tentang hal yang biasa sehari-hari. Kedua, pengetahuan yang ilmiah, yang lazim disebut ilmu pengetahuan, atau singkatan ilmu saja. Dalam bahasa Inggris ilmu pengetahuan disebut dengan science(sains) dan dalam bahasa Belanda disebut dengan wetenschap (Ashari, 1979:43).

Al-Attas berpendapat bahwa ilmu tidak dapat didefinisikan secara ketat, ia hanya dapat dijelaskan dan penjelasan ini hanya lebih mengacu kepada sifat-sifat dasar pengetahuan tersebut. Pengetahuan yang dimiliki manusia adalah tafsiran terhadap pengetahuan dari Allah. Menurut Al-Attas, dilihat dari sumber hakiki pengetahuan tersebut, maka pengetahuan adalah kedatangan makna suatu objek kedalam jiwa, (Al-Attas, 1980:42). Maka islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, bahkan Allah SWT sendiri melalui Al-quran bersabda, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang beriman di antara mu dan orang-orang yang diberi Ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Al-Mujadillah : 11).

Pentingnya ilmu pengetahuan bagi umat manusia, dipandang dari sudut ibadah sangat tinggi nilai pahalanya. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di waktu pagi (menjelang petang) kemudian mempelajari suatu ayat dari kitab Allah yaitu Al-Quran, maka pahalamya lebih baik dari ibadah satu tahun”. Hal denada di temukan di hadis lain yang artinya barangsiapa yang pergi menuntut ilmu, maka ia termasuk golongan fisabilillah (orang-orang yang menegakkan agama Allah) hingga sampai ia pulang kembali.

Demikian pentingnya ilmu pengetahuan, sehingga Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu sebagai bekal dirinya, baik dalam menjalani hidup dam memenuhi segala keperluan hidupnya. Sebagai sabda Rasulullah yang artinya “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim”. Nabi Muhammad SAW, mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu tanpa batas waktu: “Tuntutlah ilmu dari lahir hingga ke liang lahat”. Dengan demikian jelas bahwa islam menghargai ilmu pengetahuan yang merupakan kewajiban umat manusia.

  1. Urgensi Ilmu dalam Islam

Di dalam Al-quran, kata ilmu dengan beragai bentuknya terulang sebanyak 845 kali. Kata ilmu digunakan dalam arti poreses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan (Shihab, 1996:432). Dalam sebuah hadist disebutkan tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam islam. وَمُسْلِمَةٍمُسْلِمٍكُلِّعَلَىفَرِيْضَةٌالْعِلْمِطَلَبُArtinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr).

Urgensi ilmu pengetahuan dalam islam juga tercermin dari hadist Nabi muhammad yang artinya “Dari Anab bin Malik r.a berkata Rosulullah SAW bersabda: barang siapa yang menuntut ilmu maka dia dianggap berjihad di jalan Allah sampai dia pulang” (HR. Tirmidzi). Ulama-ulama islam klasik sangat menghayati perintah al-quran untuk menuntut ilmu sepanjang hayat. Imam syafi’I menyatakan bahwa siapa yang ingin mendapatkan dunia maka harus memiliki ilmu, barang siapa yang menginginkan akhirat dia harus memiliki ilmu, dan barang siapa yang ingin memiliki keduanya harus memiliki ilmu.

  1. Integritas Ilmu, Iman, dan Amal

Dalam pandangan islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi kedalam suatu sistem yang disebut dinul islam. Di dalamnya terkandung tiga unsur pokok, yaitu akidah, syari’ah dan akhlak, dengan kata lain Iman, Ilmu dan Amal. Sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran yang artinya: “Tidakkah kamu perhatikan Allah telah membuat perumpamaan kalimat yg baik (Dinul Islam) seperti sebatang pohon yang baik,akarnya kokoh (menghujam ke bumi) dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu mengeluarkan buahnya setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan–perumpamaan itu agar manusia selalu ingat” ( QS : 14 ;24-25).

Ayat diatas mengindentikkan bahwaImanadalah akar, Ilmuadalah pohon yg mengeluarkan dahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan Amalibarat buah dari pohon itu identik dengan teknologi dan seni. Ipteks dikembangkan diatas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal saleh bukan kerusakan alam.

Dalam ajaran islam iman, ilmu dan amal merupakan suatu kesatuhan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya. Perbuatan baik orang islam tidak bernilai ibadah apabila tidak didasari iman dan taqwa. Sama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi manusia dan lingkungannya bila tidak dikembangkan atas dasar iman.

Dengan demikian dalama ajaran islam tidak kenal pertentangan antara iman, ilmu pengetahuan (dan teknologi) dan amal saleh. Iman dan ibadah adalah wahyu dari Allah, sedangkan ilmu pengetahuan bersumber dari Allah yang diperoleh manusia melalui penelitian terhadap alam semesta ciptaan Allah.

  1. Kedudukan dan Tanggung Jawab Ilmuwan
  2. Keutamaan Orang Berilmu

Orang berilmu adalah orang yang sangat mulia dalam pandangan islam, dan mendapat tempat yang sangat terhormat. Allah memberikan kedudukan yang tinggi pada orang berilmu.

Peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan seseorang sangat besar, dengan ilmu pengetahuan, derajat manusia akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Allah SWT berfirman:

(آل عمران: 18) الْحَكِيمُالْعَزِيزُهُوَإِلَّاإِلَهَلَابِالْقِسْطِقَائِمًاالْعِلْمِوَأُولُووَالْمَلَائِكَةُهُوَإِلَّاإِلَهَلَاأَنَّهُاللهُشَهِدَArtinya: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(QS. Ali Imran: 18). Dalam ayat ini dijelaskan bahwa yang menyatakan bahwa tiada yang berhak disembah selain Allah adalah dzat Allah sendiri, lalu para malaikat dan para ahli ilmu. Diletakkannya para ahli ilmu pada urutan ke-3 adalah sebuah pengakuan Allah SWT, atas kemualian dan keutamaan para mereka. Dalam ayat lain Allah berfirman:

(المجادلة: 11) يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:  “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ibnu ‘Abbas ketika menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa derajat para ahli ilmu dan orang mukmin yang lain sejauh 700 derajat. Satu derajat sejauh perjalanan 500 tahun.

Dalam berbagai hadist, Rosulullah SAW juga menyatakan keutamaan orang-orang berilmu. Hadist-hadist tersebut diantaranya “Akan ditimbang nanti pada hari kiamat, tinta yang dipakai menulis para ulam dan para pahlawan yang ati syahid membela agama” (H.R Ibnu Abdil Bar).

  1. Tanggung Jawab Ilmuwan

Dikarenakan orang yang berilmu baik itu ulama, ilmuwan maupun ahli sains memiliki keistimewaan, oleh karena itu mereka memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab secara vertikal (kepada Allah) maupun secara horizontal (kepada sesama makhluk). Sesuai dengan penjelasan dalam hadis riwayat Ibnu Majah dimana dalam hadis tersebut dijelaskan “Janganlah kamu menuntut ilmu dikarenakan hanya untuk   membanggakan diri dihadapan ulama’, mendebat orang bodoh, dan menyombongkan diri didepan majlis. Karena siapa yang melakukannya hendaknya ia berhati-hati dengan api neraka”. Diantara tanggung jawab orang berilmu yang sebaiknya dijalankan adalah :

1)    Menyampaikan Amanat Allah

Menjadi guru dan mengamalkan ilmu adalah salah satu kewajiban oleh seseorang yang berilmu, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 51. Selain itu, dalam hadis nabi yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dan Abu Ummah, dijelaskan keutamaan para pengajar, dimana dalam hadis itu dijelaskan keutamaan orang yang mengajar adalah, seluruh makhluk Allah akan memberikan doa untuknya.

Dalam Islam orang yeng berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya sungguh merupakan orang yang tercela, oleh karena itu sebagai orang yang berilmu sebaiknya kita menyempatkan untuk mengamalkan ilmu kita dengan berbuat sebaik mungkin dan tidak lupa juga mengajarkan ilmu yang kita punya kepada orang lain.

2)    Memelihara Lingkungan (Alam Semesta)

Al-Quran menyuruh manusia untuk meneliti alam semesta agar mengetahui tanda-tanda kekuasaan Allah dan rahasia yang terkandung di dalamnya demi kepentingan manusia Sendiri. Sesuai dengan firma Allah dalam surat Luqman ayat 29 dimana dijelaskan “ Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam kedalam siang, dan memasukkan siang kedalam malam, dan dia tundukan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Islam tidak mengingkari adanya kebebasan untuk menggunakan ilmu, dengan syarat dalam penggunaan ilmu tersebut tidak ada aturan yang dilanggar dari ketentuan Allah. Serta tidak digunakan untuk mengeksploitasi sumber daya alam secara sembarangan dan mengakibatkan kerusakan.

 

  1. Kebudayaan dan Peradaban Islam di Masa Silam

Kebudayaan merupakan padanan dari kata “al-tsaqafah”. Dalam bahasa indonesia kebudayaan berarti hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Selain itu menurut KBBI budaya berarti keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah laku.

Sedangkan peradaban berasal dari bahasa arab “al-adab”. Secara umum, kata adab diartikan dengan seluruh aktivitas manusia yang bersumber dari perilaku yang terpuji. Dan menurut KBBI kata beradaban memiliki arti kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin.

  1. Faktor-Faktor Penyebab Kemajuan dan Kemunduran
  2. Sebab-Sebab Kemajuan Islam

Kemajuan islam menurut Badri Yatim (2014:35) dimulai pada tahun 650-1000 M. Masa ini adalah masa 3 kekhalifaan yaitu Khalifah Rasyidah, Khilafah Bani Umayyah, dan Khilafah Bani Abbasiyah. Puncaknya adalah pada zaman Bani Abbas, dimana baghdad menjadi pusat dari pemerintahan dinasti Abbasiyah menjadi rujukan dan sentral ilmu pengetahuan di seluruh penjuru dunia.

Menurut Badri faktor yang menyebabkan islam maju dalam mas itu adalah:

  • Masyarakat Arab pada saat itu memiliki budaya menulis. Budaya ini terinspirasi oleh al-Quran sebagai sebuah mukjizat yang berbentuk teks bahasa. Karena itu umat muslim banyak menulis tafsir dan hadits Nabi.
  • Penerjemah filsafat dan logika Yunani mempengaruhi pola pikir ilmuwan Arab untuk berfikir sistematis. Dangan cara inilah peradaban Islam mengalami pasang naik yang ditandai oleh pencapaian yang gemilang di bidang filsafat, sains, tegnologi, arsitektur, seni, dan lain-lain.
  1. Sebab-Sebab Kemunduran Umat Islam

Setelah mencapai puncak keemasannya peradaban Islam mulai mengalami kemunduran sejak terjadinya penyerbuan tentara Mongolia ke Baghdad yang dipimpin oleh Jengis Khan dan Hulagu Khan pada pertengahan abad 13.

Baghdad dibumi hanguskan. Dan segala hal yang berkaitan dengan keilmuwan dihancurkan, baik itu pusat pembelajaran, perpustakaan beserta bukunya yang dibuang kelaut, para ilmuwan dibunuh, dan berbagai pembantaian yang dilakukan kepada penduduk. Namun menurut sejarah keruntuhan Islam disebabkan oleh dua hal, yakni politik dan islam. Berikut penjelasannya :

  • Secara politik, antara putra mahkota telah terjadi berbagai konflik yang melibatkan kekuatan militer dan pemerintah local tidak mampu mengatasi berbagai pemberontakan hingga kehilangan otoritas.
  • Sementara secara moral, para penguasa kehilanan kredibilitas karena berperilaku nista dan meninggalkan ajaran Islam. Mereka menjadi penguasa serakah pemuja harta dan kekuasaan.
  1. Kontribusi Ilmuwan Muslim Klasik dalam Kemajuan Barat Modern

Pada masa kejayaan Islam, masyarakat Arab Islam menjadi rujukan bagi perkembangan keilmuwan dunia. Para ilmuwan dari seluruh dunia berkumpul di Andalusia hanya untuk mempelajari tentang ilmu pengetahuan dan budaya Arab Islam, yang kemudian dikembangkan dan disebar-luaskan di negara mereka. Pada saat itu banyak sekali ilmuwan Islam yang menjadi pelopor berbagai perkembangan ilmu dari berbagai bidang, diantaranya adalah :

  1. Jabir bin Hayyan (720M-813M)

Ilmuwan yang dikenal dengan nama al-Azdi ini berasal dari kabilah Azad di Yaman ini adalah ilmuwan yang mengusulkan penerjemahan buku-buku Yunani dan Konstantinopel pada masa Khalifah Harun al-Rosyid, beliau juga ahli kimia yang menemukan banyak alat kimia, seperti : alat kimia dari logam dan kaca, pemaduan antara asam hidroklori dengan asam netrik, cara memurnikan logam, menjaga bersi tidak berkarat, serta pembuatan tinta pengganti tinta emas dari campuran emas dan sulfat besi.

  1. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780M-847M)

Ilmuwan Isalam paling terkenal pada zamannya, karena beliau adalah ahli Matematik yang menemukan atau menggagas aljabar. Selain itu, beliau juga ahli dalam bidang trigonometri , ilmu falak, dan ilmu geografi, dan penemuan paling terkenalnya yaitu mengarang buku Algoritma yang menjadi rujukan berbagai bidang, serta buku “ al-jabar wa al-muqabalah”sebagai dasar ilmu aljabar saat ini.

  1. Al-Kindi (876 M)

Al- Kindi adalah ilmuwan besar paling unggul diantara semua ilmuwan, hampir 230 buku menjadi karyanya selama hidup, bahkan hingga saat ini karyanya masih menjadi rujukan bagi ilmu moderen, diantaranya adalah : dalam bidang astronomi kedudukan bumi dengan planet, yang berdampak pada pasang surut air laut. Dalam bidang ilmu alam dan fisika, beliau mengatakan bahwa warna biru dalam laut adalah pantulan dari cahay lain berupa penguapan air dan butir debu yang bergantung di udara.

Selain itu berbagai kitab telah dikarang oleh Al-Kindi diataranya dalam bidang : teknik mesin, kimia industri, kimi, kimia logam, matematika, geometri, kedokteran, filsafat, farmasi, dan yang mengejutkan adalah dalam bidang musik.

  1. Ibnu Sina (370H – 1037M)

Ibnu Sina bapak kedokteran yang memiliki nama barat Avicenna yang memiliki prestasi sangat banyak dalam bidang kedokteran, diantaranya adalah : penemu cara menyuntikkan obat dibawah kulit, menciptakan alat bantu pernapasan dari emas dan perak yang dimasukkan kedalam kerongkongan,menemukan cacing Ancylostoma, menemukan cacing Filaria penyebab penyakit gajah dan pengobatan penyakit antrak.

  1. Tsabit bin Qurah (836M)

Seorang ahli penerjemah yang mengusasi 4 bahasa, yakni bahasa Arab, Suryani, Yunani, dan Ibrani. Banyak mengarang buku dalam bidang astronomi, matematika, filsafah, dan geografi. Az-Zarkali menyatakan bahwa Tsabit menulis 150 buku dalam berbagai disiplin ilmu.

Selain toko diatas, sebenarnya masih banyak sekali ilmuwan muslim yang memiliki peranan dalam ilmu pengetahuan Barat pada masa modern diantaranya : Abu Bakar Ar-Razi, Al-Battani, Abu Al-Qassum Al-Zahrawi, Ibnu rusyd, dll.

 

  1. Kemajuan IPTEK Sebagai Tantangan Umat Islam Masa Kini
  2. Pandangan Islam Terhadap Kemajuan IPTEK

Islam memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini disebebabkan ilmu merupakan hal yang penting bagi manusia, sesuai yang yang ditunjukkan Allah SWT dimasa awal terbentuknya manusia, dimana nabi Adam adalah makhluk Allah yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan makhluk Allah lainnya. Selain itu wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang pertama kali adalah tuntutan untuk menuntut ilmu. Tidak hanya sampai disitu, didalam al-quran banyak sekali ayat yang menunjukan atau menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya dengan baik, memikirkan alam disekitarnya, dan menggunakan akalnya untuk berpikir.

  1. Merajut Asa Kebangkitan Umat Islam di Bidang IPTEK

Islam adalah agama samawi yang terakhir yang secara potensial memiliki kemampuan untuk menjadi rujukan khazanah ilmu pengetahuan. Meski umat islam mengalami penurunan dalam berbagai aspek kehidupan , namun benih kebangkitan telah ada, berikut ini aspek yang mempengaruhi kebangkitan Islam :

  1. Aspek Internal

Dalam aspek internal, umat Islam sebenaranya memiliki banyak sekali potensi untuk maju, namun kelemahan yang di miliki umat Islam juga lumayan banyak yaitu seringnya perseteruan dalam perbedaan fiqih furu’iyyah(tidak asasi) yang tidak perlu diperdebatkan seperti penggunaan qunut dalam sholat subuh. Seharusnya umat Islam menghayati makna Al-Qur’an dan hadits serta harus memiliki kepercayaan diri yang baik untuk menggunakan seluruh potensinya untuk bangkit.

 

 

  1. Aspek Eksternal

Umat Islam sebaiknya tidak menutup diri dari tradisi dan ilmu yang datang dari umat non muslim. Karena sesungguhnya akal mereka yang non muslim merupakan anugerah dari Allah. Kemajuan dunia Barat adalah sumber umat islam untuk maju dari keterpurukan. Jadi dengan menerima ilmu baru serta tetap berpegang teguh pada Al-Quran maka umat islam bisa kembali bangkit. Puncak kemajuan islam dahulu karena menggabungkan tradisi islam yang bersumber dari Al-Qur’an dengan khazanah ilmu pengetahuan dari Persia, Yunani, dan india.

 

  1. Jejak Perdaban Islam dalam Kebudayaan Indonesia
  2. Kerajaan Islam

Di Indonesia kerjaan Islam yang pertama kali berdiri adalah kerajaan Samudra pasai di pesisir timur laut Aceh pada pertengahan abad ke 13 M, yang menerima Islam dari para pedagang, kemudian pasai meluaskan Islam melalui kerajaan Aceh besar, hingga akhirnya pada kepemimpinan Sultan Iskandar Musa (1608-1637 M) Islam mulai menyebar di Aceh, tanah Gayo, dan Minangkabau.

Diwilayah Jawa, kerajaan Islam Demak adalah kerajaan yang mulai berkembang ketika Majapahit mengalami penurunan. Dibawah pimpinan Sunan Ampel Denta dan Wali Songo. Raden Patah merupakan raja Demak yang pertama.

Selain itu masih ada kerajaan lain dalam perkembangan Islam yang terus mengalami perkembangan. Di Jawa setelah kerajaan demak runtuh dilanjutkan oleh kerajaan Pajang di Kartasura, kerajaan mataram islam di Yogyakarta, kesultanan Cirebon, dan Banten. Di Kalimatan berdiri kerajaan Banjar yang bertempat di Kalimantan Selatan dan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Selain itu berdiri pula kerajaan-kerajaan di Maluku, Sulawesi (Gowa-Talo, Wajo, Soppeng, dan Luwu).

  1. Wujud Peradaban Islam di Indonesia

Wujud dari peradaban islam dibagi menjadi tiga yaitu : (1) Birokrasi keagamaan, di semua kerajaan islam penasihat raja adalah ulama; (2) Ulama dan karya-karyanya, ulama islam  pertama yang terkenal di Indonesia adalah Hamzah Fansuri dengan kitab Asraru al-Arifin fi Bayan Ila Suluk wa al-Tauhid, berasal dari Fansur (Barus) Sumatera Utara, Syamsuddin Al-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri (Aceh), dan Abdurrauf Singkel; (3) Arsitek bangunan, yang tertuang dalam arsitektur masjid-masjid di Indonesia.

Masjid agung di berbagi kota di Indonesia merupakan peradaban Islam di Nusantara. Banyak  masjid yang tersebar di Nusantara, di antaranya: Masjid kuno Demak di Demak, Sendang Duwur Agung keseuhan di Aceh, dan Masjid Ampel di Surabaya. Bentuk-bentuk masjid di Nusantara mangingatkan pada seni bangunan candi yang menyerupai bangunan meru vada zaman Indonesia-Hindu. Ukiran-ukiran pada mimbar, hiasan lengkung pola kalamakara, mihrab, bentuk beberapa mastaka dan memolo menunjukkan hubungan erat perlambang meru, kekayon gunungan tempat dewa-dewa yang dikenal dalam cerita agama Hindu. Beberapa ukiran ada masjid kuno menunjukkan pola yang diambil dari tumbuhan-tumbuhan yang miripdengan pola ukiran pada candi prambanan dan beberapa candi lainnya. Misalnya ukiran pada masjid kuno di Mantinga, Sendang Duwur.

Dari hasil pengamatan peradaban islam di Indonesia terlihat jelas dengan adanya akulturasi budaya islam dan budaya lokal yang melekat pada bentuk-bentuk kebudayaan. Islam masuk ke Indonesia secara damai dengan cara menanamkan ajaran islam pada esensi batin dari sebuah peradaban tanpa merusak budaya yang telah mengakar di masyarakat. Dakwah islam di Indonesia seperti halnya menggantikan kebiasaan minum arak dengan kebiasaan minum teh  dengan tetap menggunakan gelas yang sama. Dalam proses minum ini, sebenarnya yang haram bukan pemakaian gelasnya, akan tetapi yang haram adalah arak yang ada dalam gelas. Hal ini secara langsung juga menjadi bukti bahwa islam itu bisa hidup di manapun dan kapapun.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tim Dosen PAI UM, Pendidikan Islam Transformatif Menuju Pengembangan Pribadi Berkarakter, Malang: Gunung Samudera, 2013

Ali Muhammad .2013. Makalah keutamaan menuntut ilmu. (Online). http://mutakhorij-assunniyyah.blogspot.co.id/2013/03/makalah-keutamaan-menuntut-ilmu.html. diakses 12 Februari 2018

 

 

DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *