DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM

DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM

DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM

MAKALAH

untuk memenuhi tugas matakuliah

Pendidikan Agama Islam

yang dibina oleh Bapak Wahib Dariyadi

oleh :

Shita Kurnia Ramadhani 140413603767

Siti Sifaul Maulidiyah 140413606832

Widya Retma Rahayu 140413602041

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN MANAJEMEN

PROGRAM STUDI S1 MANAJEMEN

Oktober 2014

Widya Retma Rahayu
Siti Sifaul Maulidiyah
Shita Kurnia Ramadhani

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar 4

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah…………………………………………………………… 5

Tujuan……………………………………………………………………………………….. 6

Permasalahan………………………………………………………………………………. 6

BAB II PEMBAHASAN

Ilmu pengetahuan dalam perspektif islam……………………………………….. 7

Kebudayaan dan peradaban Islam di masa silam……………………………… 10

Kemajuan IPTEK sebagai Tantangan Umat Islam Masa Kini…………………………………………………………………………………………….. 13

BAB IV PENUTUP

Kesimpulan………………………………………………………………………………… 18

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………….. 19

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa , karena rahmat dan kasih sayangNya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Pendidikan Agama Islam ini. Makalah yang berjudul ‘DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN PERADABAN ISLAM’ ini kami susun sebagai pelengkap tugas pendidikan agama islam ini yang bertujuan untuk menambah wawasan bagi pembacanya maupun pihak yang terkait di dalamnya serta dapat memberikan motivasi agar memiliki kepribadian yang lebih baik di masa yang akan mendatang.

Saya menyadari banyak kekurangan dan hambatan dalam penyusunan makalah ini. oleh karena itu saya sangat membutuhkan saran dan kritik agar dimasa yang akan datang dapat menyempurnakan makalah ini atau dapat menjadikannya lebih baik lagi dari sekarang. Terimakasih atas perhatiannya, mudah-mudahan makalah ini memberikan manfaat serta pengetahuan bagi pembacanya.

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Sebuah masyarakat adalah himpunan dari individu yang membentuk suatu kelompok sosial budaya. Pengalaman individu tak dipungkiri merupakan sebuah interaksi yang dilakukan dalam masyarakat. Interaksi ini menghasilkan kebudayaan sebagai ciri dari masyarakat tersebut. Tidak ada masyarakat di dunia ini yang tidak memiliki budaya karena manusia adalah makhluk sosial. Arti kebudayaan sendiri adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia dan segala keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu (Koentjaraningrat). Kebudayaan itu melekat pada diri manusia, artinya manusia yang menciptakan kebudayaan sejak dulu hingga sekarang.

Dalam hal ini, ajaran-ajaran Islam yang diyakini oleh umat islam mengandung peran yang sangat penting didalam mengembangkan kebudayaan islam. Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak agama Hindu dan Budha. Indonesia kembali mengalami proses akulturasi yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan islam Indonesia. Bentuk kebudayaan dari hasil akulturasi tersebut tidak hanya bersifat kebendaan atau material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia.

Allah mengangkat Rasul dari jenis manusia, karena yang akan menjadi sasaran bimbingannya adalah umat manusia. Misinya yaitu memberikan bimbingan kepada umat manusia agar dalam mengembangkan kebudayaan tidak melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan. Sebagaimana sabdanya yang berisi, “Sesungguhnya aku diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak”.

Dengan adanya akal budi manusia yang membuat manusia tersebut mampu menghasilkan kebudayaan yang cenderung membuat perilaku manusia lebih baik dan lebih maju. Dengan kebudayaan tersebut manusia memperoleh banyak kemudahan dan kesenangan hidup. Akal budi pun mampu menciptakan dan melahirkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seluruh kebudayaan yang dihasilkan oleh akal budi manusia yang akhirnya dapat dikelola untuk menuju peradaban yang modern.

Dengan majunya peradaban manusia maka pola pikir manusia akan berkembang. Hal ini dikaitkan dengan kebudayaan islam, maka manusia merupakan suatu fungsi yang digunakan untuk meneruskan kebudayaan islam di masa lalu untuk menjalankan peradaban modern. Kebudayaan Islam digunakan sebagai pedoman agar manusia tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif dan manusia dapat memahami betapa pentingnya mempelajari tentang kebudayaan islam agar kita sebagai umat islam dapat tahu betul bagaimana sebenarnya kebudayaan islam yang sesungguhnya serta apa saja perkembangan-perkembangan yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang makin pesat. Dan pada makalah ini kami akan membahas tentang Dinamika Kebudayaan dan Peradaban Islam.

TUJUAN

  • Agar manusia tidak terjerumus pada hal hal negatif.
  • Agar manusia dapat mengetahui perkembangan islam pada masa lalu.
  • Agar manusia dapat menyeimbangkan antara ilmu, iman, dan amal.

 

PERMASALAHAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Dinamika Kebudayaan Dan Peradaban Islam

Ilmu Pengetahuan Dalam Perspektif Islam

Ilmu berasal dari kata arab ‘ilm’ yaitu masdar dari kata ‘alima’ yang artinya ‘tahu’. Sedangkan menurut bahasa , ilmu ialah pengetahuan. pengetahuan dibagi menjadi dua macam. pertama, pengetahuan biasa yang disebut knowledge yaitu pengetahuan umum tentang hal sehari-hari. kedua, pengetahuan yang ilmiah yang lazim disebut ilmu pengetahuan sedangkan dalam bahasa inggris disebut dengan science (sains) dan dalam bahasa belanda dipadankan dengan wetenschap.

Secara istilah, ilmu atau pengetahuan (sains) adalah usaha pemahaman manusia yang disususn dalam suatu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian, dan hukum-hukum tentang hal-ihwal yang diselidiki (alam, manusia, dan agama) sejauh dapat dijangkau oleh daya pemikiran manusia dan dibantu panca indera, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset, dan eksperimental. dari definisi diatas dapat diketahui bahwa ilmu adalah pengetahuan yang memiliki label ilmiah atau pengetahuan yang dirumuskan dan dikajikembangkan dengan metode ilmiah. berbeda dengan konsep barat yang membatasi ilmu pada yang ilmiah (sistematik, rasional, empiris, dan bersifat kumulatif) ,Sedangkan islam memandang bahwa baik ilmu sains maupun pengetahuan knowledge, keduanya bersumber dari allah. Dia-lah allah yang mengajarkan pada manusia (dan selain manusia) ilmu dan pengetahuan (Q.S. Al-baqarah:32 dan Q,S Al-alaq :5) allah menurunkan wahyu (al qur’an dan hadist) dan menyediakan alam semesta sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. agar manusia dapat memperoleh ilmu dan pengetahuan dari dus sumber ini, maka allah memberikan panca indra, akal, dan hati kepada manusia sebagai sarana mencari ilmu dan pengetahuan.

  1. Urgensi Ilmu Dalam Islam

Didalam Al-qur’an kata ilmu dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 854 kali. kata itu digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan. terkait dengan ilmu, Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa memikirkan apa yang ada dibumi, sebab berfikir merupakan awal memperoleh ilmu pengetahuan. dalam al-qur’an Allah SWT menyebutkan derivasi (bentukan) dari kata fakkara dan tafakkara yang artinya berfikir sebanyak 19 kali. dalam sebuah hadist disebutkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan dalam islam :

Dari sahabat Anas R.a. berkata: Rosulullah SAW bersabda: menutut ilmu itu wajib bagi setiap orang islam (H.R. IBNU Majah).

Islam menganggap ilmu pengetahuan sangat penting bagi manusia. ilmu adalah manifestasi dari nalar yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. jika manusia tidak memiliki ilmu, dia tidak ada bedanya dengan binatang, islam bahkan menyebutkan bahwa tidak mungkin seseorang bisa beriman dengan menjauhi perintah allah kecuali memiliki ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman :

‘’Sesungguhnya yang takut kepada allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama’’ (Q.S Fathir:28)

  1. Integrasi Ilmu, Iman, dan Amal

Garnadi Prawirosudirdjo , dalam bukunya Integrasi Ilmu Dan iman (1975), mengatakan bahwa di inggris dan kebanyakan negara barat, segala aktivitas keagamaan dan kesenian mencerminkan peradaban sains. dalam peradaban sains manusia lebih mempercayakan dirinya pada sains dan teknologi. manusia meyakini bahwa sains dapat memecahkan segala persoalan kehidupan manusia.

Dalam ajaran islam, iman, ilmu dan amal merupakan satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. perbuatan baik orang islam tidak bernilai ibadah apabila ilmu pengetahuan dan teknologi tidak bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatanbagi manusia dan lingkungannya bila tidak dikembangkan atas dasar iman. dengan demikian dalam ajaran islam tidak dikenal pertentangan antara iman, ilmu pengetahuan (dan teknologi) serta amal saleh. iman dan ibadah adalah wahyu dari allah sedangkan ilmu pengetahuan bersumber dari allah yang diperoleh manusia melalui penelitian terhadap alam semesta ciptaan allah. apabila ilmu pengetahuan bertentangan dengan iman, maka ilmu tersebut perlu dikaji ulang, sangat mungkin saat itu akal belum mampu menjangkau hakikat kebenaran.

  1. Kedudukan dan tanggungjawab ilmuwan
  • Keutamaan Orang Berilmu

Orang berilmu adalah orang yang sangat mulia dalam pandangan islam, dan mendapat tempat yang sangat terhormat.

Allah memberikan kedudukan yang tinggi pada orang berilmu. penggalan Q.S. Al-mujadalah:11 menyatakan:

‘’Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat’’ (Q.S. Al-mujahidah:11)

  • Tanggung jawab Ilmuwan

Orang berilmu, baik ia disebut ilmuwan, ulama, ataupun saintis (ahli sains) adalah orang yang istimewa karena keahlian yang ia miliki. keistimewaan ini menimbulkan konsekwensi tugas dan tanggung jawab, baik secara vertikal (kepada allah) maupun secara horizontal (kepada sesama makhluk). karena orang berilmu adalah orang yang istimewa, maka ia memiliki tanggung jawab tertentu, baik sebagai hamba allah maupun sebagai warga masyarakat . diantara tanggung jawab ilmuwan adalah sebagai berikut :

  1. Menyampaikan amanat allah (menjadi guru)

Kewajiban seorang muslim tidak saja menerima atau menuntut ilmu, tetapi juga mengamalkan ilmunyadalam kehidupan dan menyampaikan amanat allah kepada sesama manusia, Allah berfirman dalam Q.S. Al-An’am:51)

‘’Berilah peringatan dengan wahyu itu kepada mereka yang takut akan dihimpunkan kepada tuhannya’’

Demikian pula dengan sabdanya, Nabi muhammad SAW mengatakan :

‘’Barang siapa mengetahui suatu ilmu, kemudian ia menyembunyikannya, maka allah akan menjeratnya pada hari kiamat dengan tali dari api neraka’’ (H.R. al-turmudzi,Abu dawud, dan ibnu hiban)

Berdasarkan ayat dan hadist diatas dapat diambil pengertian bahwa tanggung jawab ilmuwan bukan sekedar menjadi tugas kemanusiaan semata , akan tetapi pelaksanaan dari janji manusia kepada allah (Q.S. al-imran:187) karena itu orang yang sadar akan tanggung jawabnya dalam tugas menyampaikan amanat allah (mengajar) akan selalu mendapat perlindungan dari Allah dan dicintai manusia, bahkan juga makhluk lain.

  1. Memelihara Lingkungan

Al-qur’an menyuruh manusia untuk meneliti alam semesta agar mengetahui tanda-tanda kekuasaan allah dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya demi kepentingan manusia sendiri.

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam, dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. Luqman:29).

Islam tidak mengingkari adanya kebebasan manusia untuk menggunakan ilmunya, dengan syarat bahwa di dalam penggunaan itu tidak melanggar ketentuan-ketentuan Allah. Ilmu seyogyanya tidak dijadikan sebagai alat untuk mengeksploitasi sesama manusia, atau mengeksploitasi sumber daya alam secara serampangan yang mengakibatkan kerusakan.

Sebaliknya, eksploitasi alam oleh manusia demi kelanjutan hidup manusia harus diiringi dengan upaya menjaga kelestariannya. Sebab itu adalah salah satu tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Terlebih lagi bila terjadi kerusakan alam, sesungguhnya yang rugi adalah manusia sendiri.

Kebudayaan Dan Peradaban Islam Di Masa Silam

Kebudayaan merupakan padanan dari kata “al-tsaqafah”. Dalam bahasa Indonesia kebudayaan berarti hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Menuruk KBBI, budaya berarti keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Sedangkan peradaban merupakan serapan dari bahasa Arab “al-adab”. Dalam bahasa Indonesia, kata peradaban memiliki arti kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin (KBBI).

Effat al-Sharqawi (dalam Yatim,2004:1), membedakan kebudayaan dan peradaban. Menurutnya, kebudayaan merupakan bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat, sedangkan peradaban lebih berkaitan dengan wujud kemajuan mekanis dan teknologis.

Ditinjau dari sumbernya, kebudayaan Islam adalah seluruh aktifitas manusia yang secara inspiratif bersumber dari al-Quran dan hadist Nabi Muhammad SAW. Kebudayaan Islam adalah perwujudan dari akhlak yang berasal dari al-Quran. Sedangkan wujud dari seluruh aktifitas budaya Islami yang kongkrit dan dapat diindera oleh manusia adalah bentuk peradaban Islam.

  1. Faktor – Faktor Penyebab Kemajuan dan Kemunduran
  1. Sebab-sebab kemajuan umat Islam.

Menurut Badri Yatim (2014:35), periodisasi masa kemajuan Islam berlangsung antara tahun 650-1000 M. Masa ini adalah masa 3 kekhalifahan: Khilafah Rasyidah, Khilafah Bani Umayyah, dan Khilafah Bani Abbas. Puncak kejayaan Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Pada masa ini, Baghdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah menjadi rujukan dan sentral ilmu pengetahuan di seluruh penjuru dunia.

Kemajuan ini menurut Huda (2007: 36) dipengaruhi oleh dua tradisi yang sama-sama menghantarkan masyarakat Arab pada sebuah budaya yang maju dan progresif. Pertama, masyarakat Arab pada saat itu mulai memiliki budaya menulis. Budaya itu terinspirasi oleh al-Qur’an, sebuah mu’jizat yang berbentuk teks bahasa. Dengan turunnya al-Qur’an, umat muslim banyak menulis tafsir dan hadis Nabi. Kedua, penerjemahan filsafat dan logika Yunani mempengaruhi pola pikir ilmuwan Arab untuk berfikir secara sistematis.

Salah satu keunikan peradaban Islam adalah sifat adaptif dan terbuka dalam menyerap dan mengadopsi unsur-unsur peradaban besar dunia.

  1. Sebab-sebab kemunduran umat Islam.

Setelah mencapai puncak keemasan, peradaban Islam kemudian mengalami masa kemunduran. Penyerbuan tentara Mongolia ke Baghdad yang dipimpin Jengis Khan dan Hulagu Khan pada pertengahan abad ke-13 memastikan keruntuhan peradaban Islam. Pasukan Mongolisa membumihanguskan Baghdad beserta isi dan penghuninya. Pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan perpustakaan dihancurkan. Buku-buku dan warisan intelektual dibakar dan dibuang ke laut. Para sarjana dan ulama dibunuh. Penduduk di bantai. Khalifah al-Mu’tashim ikut terbunuh dalam penyerbuan tersebut. Menurut analisis para sejarawan, keruntuhan peradaban Islam disebabkan, setidaknya oleh dua hal yaitu politik dan moral.

Secara politik, telah terjadi friksi dan konflik di antara putra mahkota, yang melibatkan kekuatan militer untuk saling berebut kekuasaan.

Secara moral, para penguasa kehilangan kredibilitas, karena berperilaku nista dan meninggalkan ajaran Islam. Mereka menjadi penguasa serakah, pemuja harta, tahta, dan wanita.

  1. Kontribusi Ilmuwan Muslim Klasik dalam Kemajuan Barat Modern

Pada masa kejayaan Islam, masyarakat Arab Islam benar-benar menjadi rujukan bagi perkembangan keilmuan dunia. Para pecinta ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru Eropa Barat seperti Itali, Perancis, Swiss, Jerman, dan kepulauan Inggris berdatangan ke Andalusia. Mereka datang untuk mendalami ilmu pengetahuan dan budaya Arab Islam untuk mendalami ilmu pengetahuan dan budaya Arab Islam untuk kemudian menyebarkannya ke berbagai penjuru di Eropa.

Pada saat itu, banyak sekali ilmuan muslim yang menjadi pelopor perkembangan ilmu penegetahuan di banyak bidang seperti matematika, geometri, astronomi, fisika, kimia, kedokteran, IPA, farmasi, georafi, pelayaran, bahasa, sastra, dan lain sebagainya. Jaudah (2007) mengklasifikasi ada 147 ilmuan terkemuka dalam sejarah Islam. Diantara mereka adalah :

  1. Jabir bin Hayyan

Nama lengkapnya Abu Musa Jabir bin Hayyan bin Abdullah al-Azdi. Dia dipanggil al-Azdi karena berasal dari kabilah Azad di Yaman. Jabir lahir di Thus, Iran tahun 110 H (720 M) dan wafat di tempat kelahirannya pada tahun 197 H (813). Jabir adalah ilmuwan yang mengusulkan diterjemahkannya buku-buku ilmiah Yunani dan Konstantinopel kepada khalifah Harun al-Rasyid. Jabir adalah seorang ahli kimia, diantara temuannya adalah:

  • Penemuan alat-alat kimia dari logam dan kaca.

  • Penaduan antara asam hidroklorik (senyawa garam) dengan asam netrik.

  • Menemukan cara yang efektif untuk memurnikan logam dan menjaga besi dari karat.

  • Merumuskan cara pembuatan tinta dari sulfat besi yang dicampur emas untuk menggantikan tinta cairan emas.

  1. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi

Al-Khawarizmi lahir di Khawarizmi (Uzbekistan) pada tahun 164 H (780 M) dan meninggal di Baghdad pada tahun 232 H (847 M). Dia adalah seorang ilmuwan muslim ahli matematika dan dasar-dasar ilmu al-Jabar. Selain itu, ia ahli di bidang trigonometri, ilmu falak, dan ilmu geografi. Diantara prestasi al-Khawarizmi adalah:

  • Di bidang matematika al-Khawarizmi mengutip angka-angka India dan mengarang buku Algoritma yang menjadi rujukan para ilmuwan, bisnisman, dan insinyur.

  • Al-Khawarizmi merupakan ilmuwan yang menggagas aljabar dan memisahkannya dari ilmu hitung. Dia mengarang buku berjudul “al-Jabar wa al-Muqabalah” sebagai dasar pembentukan ilmu ini.

  1. Al-Kindi

Nama lengkapnya Abu Yusuf Ya’kub al-Kindi. Dia lahir di Kufah, dan menurut al-Khalili wafat pada tahun 260 H (876). Al-Kindi memiliki pemikiran besar yang mungkin mengungguli para ilmuwan besar lainnya. Dr. Abdul Halim Muntashir menyatakan bahwa karya al-Kindi mencapai 230 buku. Berikut ini sebagian karyanya yang menjadi dasar keilmuan modern.

  • Dalam bidang astronomi, dia menyatakan dampak posisi planet pada keadaan di bumi, seperti pasang surutnya air laut.

  • Dalam bidang ilmu alam dan fisika, al-Kindi menyatakan bahwa warna biru langit bukanlah warna asli dari langit, melainkan pantulan dari cahaya lain berupa penguapan air dan butir butir debu yang bergantung di udara.

  • Selain itu, al-Kindi juga banyak mengarang kitab dalam bidang teknik mesin, kimia industri, kimia, kimia logam, matematika, geometri, kedokteran, filsafat, farmasi, dan di bidang musik.

  1. Ibnu Sina

Nama lengkapnya Abu Ali al-Husin bin Abdullah Ibn Sina. Ilmuwan Eropa menyebut namanya dengan Avicenna. Ia lahir di Avazna di dekat Bukhara (Uzbekistan, Persia) pada tahun 428 H (1037 M). Ibnu Sina ahli dalam bidang filsafat dan terutama kedokteran. Diantara prestasinya adalah :

  • Ia adalah ilmuwan yang pertama kali menemukan cara pengobatan dengan menyuntikkan obat di bawah kulit.

  • Menciptakan alat bantu pernafasan dari emas dan perak yang dimasukkan ke kerongkongan.

  • Ia sangat ahli di bidang kedokteran, misalnya ia menemukan adanya cacing Ancylostoma, cacing filaria penyebab penyakit gajah, pengobatan penyakit antrak (malignan anthrax).

  1. Tsabit bin Qurah

Nama lengkapnya Abu al-Hasan bin MarwanTsabit bin Qurah al-Harrani. Dia dilahirkan di Harran pada tahun 221 H (836 H). Tsabit adalah seorang penerjemah yang menguasai bahasa Arab, Suryani, Yunani, dan Ibrani. Tsabit banyak mengarang buku dalam bidang astronomi, matematika, filsafat, dan geografi. Az-Zarkali menyatakan bahwa Tsabit menulis 150 buku dalam berbagai disiplin ilmu.

 

C. Kemajuan IPTEK Sebagai Tantangan Umat Islam Masa Kini

1. Pandangan Islam Terhadap Kemajuan IPTEK

Islam memberikan perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan fungsi ilmu pengetahuan yang sangat penting bagi manusia. Sejak pertama kali manusia diciptakan, Allah SWT telah menunjukkan kelebihan Adam AS sebagai manusia pertama dibanding dengan makhluk Allah lain tentang kemampuannya menguasai ilmu pengetahuan. Ini dibuktikan dengan Adam AS yang dapat menyebutkan berbagai nama benda-benda secara lengkap, sedangkan malaikat tidak mampu melakukannya.

Bahkan wahyu pertama kali yang diturunkan kepada Muhammad SAW juga berisi perintah mencari ilmu (iqra’ = membaca). Padahal, Nabi Muhammad SAW hidup di lingkungan yang minim atau bahkan tidak menghargai kebudayaan baca tulis, sehingga beliau pun dikatakan sebagai ummi, atau artinya tidak bisa membaca dan menulis. Disamping itu, dalam Al-Quran terdapat banyak ayat dalam bentuk yang bervariasi menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya dengan baik, meimikirkan alam disekitarnya, mengingat dan menyebut penciptanya yaitu Allah SWT.

Sejarah Islam juga menyebutkan bahwa saat umat Islam meraih kemenangan dalam perang Bader (perang pertama antar umat islam dan orang kafir), umat islam mendapat banyak tawanan. Uniknya, tawanan tersebut bisa bebas bila mereka mengajarkan baca tulis pada umat Islam. Sebuah kebijakan yang sungguh tidak lazim bagi masyarakat Arab saat itu.

2. Merajut Asa Kebangkitan Umat Islam di Bidang IPTEK

Islam sebagai agama samawi terakhir secara potensial memiliki kemampuan untuk menjadi rujukan seluruh khazanah ilmu pengetahuan. Meski saat ini umat islam mengalami penurunan dalam berbagai aspek kehidupan, benih-benih potensi kebangkitan islam sebetulnya telah ada, namun belum terorganisasi. Kebangkitan umat islam dpat ditumbuhkembangkan dengan mempertimbangkan aspek internal dan eksternal.

  • Aspek internal

Semangat bangkit dari keterpurukan umat islam bisa dimulai dari potensi internal yang dimiliki oleh umat islam. Umat islam sebenarnya secara individual memiliki potensi besar untuk maju, namun secara kolektif umat islam masih memiliki beberapa kekurangan. Diantara kelemahan tersebut, umat islam masih sering berseteru dalam hal perbedaan fiqh furu’iyah (tidak asasi) yang tidak perlu diperdebatkan, misalnya penggunaan qunut dalam sholat subuh. Harusnya energi umat islam dikerahkan untuk mangkaji ayat-ayat al-Qur’an dan ayat-ayat kauniyah berupa fenomena alam semesta demi mengembangkan ilmu pengetahuan.

Umat islam harus memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk bisa bangkit dari keterpurukan dengan seluruh potensi yang dimilikinya. Potensi-potensi ini didasarkan pada pemahaman yang mendalam terhadap al-Qur’an dan Hadis Nabi. Penghayatan makna al-Qur’an yang dalam akan menginspirasi umat islam untuk bisa bangkit dan maju dengan penuh semangat.

  • Aspek Eksternal

Umat islam seharusnya tidak menutup diri dari tradisi dan ilmu yang datang dari non-muslim. Karena akal yang dimiliki oleh mereka yang non-muslim pun pada hakekatnya adalah ciptaan dan anugerah dari Allah yang Esa. Sikap antipati terhadap tradisi Barat dan non-muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadikan umat islam semakin jauh tertinggal dari kemajuan. Umat islam layak belajar dari sejarah kemajuan pemerintah Abbasiyah yang memiliki prestasi puncak kemajuan peradaban islam karena menggabungkan tradisi islam yang bersumber dari al-Qur’an dengan Khazanah Ilmu Pengetahuan dari Persia dan Yunani.

Al-Qur’an adalah panduan, inspirasi dan moralitas yang akan menghindarkan umat islam dari perilaku yang tidak terpuji dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sedangkan, kemajuan barat modern adalah sumber umat islam untuk majudari keterpurukan. Jadi langkah yang hatus diambil umat islam untuk bangkit dari keterpurukan adalah dengan mempelajari seluruh prestasi barat modern untuk akhirnya bisa bersaing dengan mereka. Spirit kemajuan islam ini harus berjalan beriringan dengan moralitas al-Qur’an supaya umat islam tidak terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan agama islam.

Penyikapan terhadap Perkembangan IPTEK

Setiap manusia diberikan hidayah dari Allah swt berupa “alat” untuk mencapai dan membuka kebenaran. Hidayah tersebut adalah (1) indera, untuk menangkap kebenaran fisik, (2) naluri, untuk mempertahankan hidup dan kelangsungan hidup manusia secara probadi maupun sosial, (3) pikiran dan atau kemampuan rasional yang mampu mengembangkan kemampuan tiga jenis pengetahuan akali (pengetahuan biasa, ilmiah dan filsafi). Akal juga merupakan penghantar untuk menuju kebenaran tertinggi, (4) imajinasi, daya khayal yang mampu menghasilkan kreativitas dan menyempurnakan pengetahuannya, (5) hati nurani, suatu kemampuan manusia untuk dapat menangkap kebenaran tingkah laku manusia sebagai makhluk yang harus bermoral.

Dalam menghadapi perkembangan budaya manusia dengan perkembangan IPTEK yang sangat pesat, dirasakan perlunya mencari keterkaitan antara sistem nilai dan norma-norma Islam dengan perkembangan tersebut. Menurut Mehdi Ghulsyani (1995), dalam menghadapi perkembangan IPTEK ilmuwan muslim dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok; (1) Kelompok yang menganggap IPTEK moderen bersifat netral dan berusaha melegitimasi hasil-hasil IPTEK moderen dengan mencari ayat-ayat Al-Quran yang sesuai; (2) Kelompok yang bekerja dengan IPTEK moderen, tetapi berusaha juga mempelajari sejarah dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yang tidak islami, (3) Kelompok yang percaya adanya IPTEK Islam dan berusaha membangunnya. Untuk kelompok ketiga ini memunculkan nama Al-Faruqi yang mengintrodusir istilah “islamisasi ilmu pengetahuan”. Dalam konsep Islam pada dasarnya tidak ada pemisahan yang tegas antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Sebab pada dasarnya ilmu pengetahuan yang dikembangkan manusia merupakan “jalan” untuk menemukan kebenaran Allah itu sendiri. Sehingga IPTEK menurut Islam haruslah bermakna ibadah. Yang dikembangkan dalam budaya Islam adalah bentuk-bentuk IPTEK yang mampu mengantarkan manusia meningkatkan derajat spiritialitas, martabat manusia secara alamiah. Bukan IPTEK yang merusak alam semesta, bahkan membawa manusia ketingkat yang lebih rendah martabatnya.

Dari uraian di atas “hakekat” penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari yang islami adalah memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah swt. Kebenaran IPTEK menurut Islam adalah sebanding dengan kemanfaatannya IPTEK itu sendiri. IPTEK akan bermanfaat apabila (1) mendekatkan pada kebenaran Allah dan bukan menjauhkannya, (2) dapat membantu umat merealisasikan tujuan-tujuannya (yang baik), (3) dapat memberikan pedoman bagi sesama, (4) dapat menyelesaikan persoalan umat. Dalam konsep Islam sesuatu hal dapat dikatakan mengandung kebenaran apabila ia mengandung manfaat dalam arti luas.

 

D. Jejak Peradaban Islam Dalam Kebudayaan Indonesia

1. Kerajaan-kerajaan Islam

Kerajaan islam yang pertama kali berdiri di Nusantara adalah kerajaan Samudra Pasai di pesisir pantai timur laut Aceh pada pertengahan abad ke-13 masehi. Daerah ini sudah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7 dan ke-8 masehi. Pendiri kerajaan ini adalah Malik al-Saleh yang meninggal pada tahun 696 H/1279 Masehi. Malik al-Saleh masuk islam berkat pertemuannya dengan Syaikh Ismail, seorang utusan Syarif Makah.

Selanjutnya adalah Kerajaan Aceh yang terletak di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Kerajaan Aceh Besar. Aceh menerima islam dari Samudera Pasai yang kini menjadi bagian wilayah Aceh (H.J. de Graff (dalam Yatim, 2004;2009)). Raja pertama yang memerintah kerajaan Aceh adalah Ali Mughayat Syah. Puncak kejayaan Aceh terjadi saat dipimpin Sultan Iskandar Muda (1608-1637). Mulai dari Aceh, tanah Gayo dan Minangkabau semua dimasuki oleh islam.

Di wilayah Jawa terdapat kerajaan islam Demak. Perkembangan kerajaan ini bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi raja Majapahit. Di bawah pimpinan Sunan Ampel Denta, Wali Songo sepakat untuk mengangkat Raden Patah menjadi raja Demak yang pertama. Pada masa Sultan Trenggono (memerintah tahun 1524-1546 masehi), sultan Demak yang ketiga, Islam dikembangkan ke seluruh tanah Jawa hingga ke Kalimantan Selatan.

Selain ketiga kerajaan tersebut, perkembangan Islam terus mengalami perkembangan. Di Jawa setelah Demak runtuh dilanjutkan oleh kerajaan Pajang di Kartasura, kerajaan Mataram Islam di Yogyakarta, kesultanan Cirebon, dan Banten. Di Kalimantan berdiri kerajaan Banjar yang bertenpat di Kalimantan Selatan dan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Selain itu berdiri pula kerajaan-kerajaan di Maluku, Sulawesi (Gowa-Tallo, Wajo, Sopeng, dan Luwu).

2. Wujud Peradaban Islam di Indonesia

Wujud dari peradaban islam di Indonesia bisa dibagi menjadi tiga yaitu:

  • Birokrasi keagamaan
  • Ulama dan karya-karyanya

Ulama muslim yang terkenal pertama kali adalah Hamzah Fansuri, seorang tokoh sufi pertama yang mengarang kitab Asraru al-Arifin fi Bayan Ila Suluk wa al-Tauhid, berasal dari fansur (Barus), Sumatera Utara.

Masjid Agung di berbagai kota di Indonesia merupakan ikon peradaban Islam di Nusantara. Contohnya : Masjid Kuno Demak, Sendang Duwur Agung kasepuhan di Cirebon, Masjid Agung Banten, Masjid Baiturrahman dan lain sebagainya. Menurut Yatim (2004:305), bentuk-bentuk masjid mengingatkan kita pada bentuk seni bangunan candi, menyerupai bangunan meru pada zaman Indonesia-Hindu. Ukiran pada mimbar, hiasan lengkung pada kalamakara, mihrab, bentuk beberapa mastaka dan memlo menunjukkan hubungan erat perlambang meru, kekayonan gunungan tempat dewa-dewa yang dikenal dalam cerita agama Hindu.

Dari hasil pengamatan terhadap peradaban Islam di Indonesia, terlihat jelas adanya akulturasi budaya islam dan budaya lokal yang melekat pada bentuk kebudayaan. Islam masuk ke Indonesia secara damai dengan cara menanamkan ajaran Islam pada esensi batin dari sebuah peradaban tanpa merusak budaya yang telah mengakar di masyarakat. Dengan hal ini membuktikan bahwa islam dapat hidup di manapun dan kapanpun.

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Masuknya Islam ke Indonesia memberikan kemajuan dan kecerdasan bagi bangsa Indonesia. Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (proses bercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Dan juga islam membawa pengaruh di beberapa bidang seperti IPTEK.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Malang).2014. Pendidikan Islam Transformatif (membentuk Pribadi Berkarakter). Malang: Penerbit Dream Litera.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *