Eksistansi Tuhan dan Fitrah Manusia untuk Beragama

Eksistansi Tuhan dan Fitrah Manusia untuk Beragama

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pembicaraan tentang Tuhan merupakan pembicaraan yang menyedot pemikiran manusia sejak jaman dahulu kala. Manusia senantiasa bertanya tentang siapa di balik adanya alam semesta ini. Apakah alam smesta ini terjadi dengan sendirinya ataukah ada kekuatan lain yang mengatur alam semesta ini. Bertitik-tolak dari keinginan manusia untuk mengetahui keberadaan alam semesta ini,maka manusia mencoba mengkajinya sesuai dengan kemampuan akal yang dimilikinya. Hasil dari kajian-kajian yang dilakukan, manusia sejak jaman primitive sudah mempercayai adanya kekuatan lain diluar diri manusia yang disebut dengan Tuhan.

Namun, kepercayaan kepada adanya tuhan berbeda-beda. Hal ini disebabkan

karena perbedaan tingkat kemampuan akal manusia. Menurut Ibnu Thufail yang menulis kisah novel Hayy bin Yaqdzan mengatakan bahwa manusia dengan akalnya mampu mempercayai adanya Tuhan.

Mengingat kepercayaan terhadap Tuhan berbeda-beda, lantas apakah semua Tuhan yang dipercaya oleh manusia merupakan Tuhan yang Haq (benar), dan bagaimana cara mengetahui Tuhan yang benar tersebut? Tulisan ini akan menjelaskan tentang Tuhan yang benar dalam perspektif Islam, dan menguji Tuhan-Tuhan yang ada dalam kepercayaan manusia di luar islam.

    1. RUMUSAN MASALAH

      1. Apa Pengertian Tauhid ?

      2. Bagaimana Eksistansi Tuhan dan Fitrah Manusia untuk Beragama ?

      3. Apa Tauhid dan Esensi Ajaran Islam ?

      4. Apa Krakteristik Akidah Islam ?

      5. Apa Faktor-Faktor Manusia Membutuhkan Agama ?

      6. Bagaimana Perbandingan Agama Islam dengan Agama Lain ?

    1. TUJUAN PENULISAN MAKALAH

      1. Untuk menjelaskan pengertian Tauhid

      2. Untuk menjelaskan bagaimana eksistensi Tuhan dan fitrah manusia untuk beragama

      3. Untuk menjelaskan tentang tauhid dan esensi ajaran islam

      4. Untuk menjelaskan karakteristik akidah islam

      5. Untuk menjelaskan factor manusia membutuhkan agama

      6. Untuk menjelaskan bagaimana perbandingan islam dengan agama lain

    1. MANFAAT PENULISAN MAKALAH

      1. Bagi Penulis

Manfat bagi penulis, untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai Agama Islam khususnya Konsep Ketuhanan dalam Islam dalam kaitanya untuk memahami kebutuhan dan fitrah manusia untuk beriman kepada Allah SWT.

1.4.2 Bagi Pembaca

Manfaat bagi pembaca, untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai Agama Islam khususnya yang berkaitan tentang Konsep Ketuhanan dalam Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tauhid

Tauhid adalah sikap dasar seorang muslim yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang berhak disembah dan dipatuhi segara perintah dan larangan-Nya. Tauhid juga menjadikan seorang muslim hanya menjadikan Allah Swt sebagai tujuan. Secara harfiyah, tauhid artinya “satu”, yakni Tuhan yang satu, tiada Tuhan selain-Nya (keesaan Allah). Tauhid terangkum dalam kalimat tahlil, yakni Laa Ilaaha Illaallaah (tiada Tuhan selain Allah). Tauhid menjadi inti ajaran agama para nabi dan rasul, sejak Nabi Adam a.s. hingga Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir, tidak ada lagi nabi/rasul setelahnya.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS. An-Nahl: 36).

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (QS Al Anbiyaa’ : 25).

Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS At Taubah: 31)

Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS Az Zumar: 2-3).

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus” (QS Al Bayyinah: 5).

Tauhid adalah penopang utama yang memberikan semangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Orang yang bertauhid akan beramal untuk dan hanya karena Allah semata.

2.2 Eksistansi Tuhan dan Fitrah Manusia untuk Beragama

Sepanjang sejarahnya, manusia telah menunjukkan rasa ketundukan dan kepasrahan pada sesuatu yang diluar jangkauannya. Aktualisasi ketundukan itu terkihat didalam berbagai macam ritus, yang berbeda-beda menurut tingkat perkembangan intelektual dan cultural sesorang atau masyarakat. A.J. Heschel menyatakan bahwa memahami eksistensi Tuhan merupakan pencarian rumit yang tidak pernah final. Terlepas dari semua itu, fenomena diatas menjelaskan perihal fitrah manusia untuk beragama (Sunarso, 2009:3).

Fitrah beragama, atau yang dipopulerkan oleh ahli syaraf California University, V.S. Ramachandra sebagai God-Spot, merupakan suara Tuhan yang terekam di dalam jiwa manusia. Menurut Ibn Taimiyah, fitrah beragama disebut dengan Fitrah Munazzalah ( Fitrah yang diturunkan) yang berfungsi menguatkan Fitrah Majbula yang sudah ada di dalam diri manusia secara alamiah (Sunarso,2009:2-3). Oleh karena itu seruan untuk beragama selalu dikaitkan denhan fitrah penciptaan manusia seperti dapat dicermati dalam Q.S. Luqman:30 berikut ini:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah itulah yang batil; dan sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”

Pengertian ini menunjukkan bahwa agama merupakan kelanjutan dari nature manusia sendiri,yang merupakan wujud nyata dari kecenderungan alamiahnya untuk mencari kebaikan dan kebenaran. Dengan demikian, nilai agama dengan nilai kemanusiaan, atau sebaliknya terhadap nilai ketuhanan yang sempurna akan menghasilkan penghayatan terhadap nilai kemanusiaan (Madjid,1997).

Lebih jauh, kehidupan manusia di muka bumi ini selalu dihadapkan pada beragam persoalan. Dengan potensi lahiriah dan batiniahnya, manusia senantiasa berupaya untuk mengatasinya, meski ia seringkali dibenturkan pada realitas keterbatasan. Keterbatasan dan ketidakpuasan manusia inilah yang pada akhirnya melahirkan tuntutan dan kebutuhan terhadap kekuatan metafisika di luar dirinya. Ia lantas melakukan aktivitas mencari, membanding, dan menyimpulkan kekuatan-kekuatan yang mengitarinya, yang diasumsikannya sebagai “Tuhan”, yang diharapkan dapat menemukan dan meringankan problem hidupnya. Contoh paling jelas untuk kasus pencarian Tuhan yang secara fitrah memamg dibutuhkan oleh manusia adalah pengembaraan teologis Nabi Ibrahim AS.

Nabi Ibrahim AS terlahir di Ur Kaldea, dibagian barat daya Mesopotamia, pada abad ke-19 sebelum masehi. Pada waktu itu masyarakat Kaldea telah memiliki kepercyaan,ritus dan mitos yang diwariskan secara turun temurun. Untuk menghormati tuhan-tuhanya, orang Kaldea membuat patung-patung untuk disembah. Penyembahan berhala telah mapan ketika Nabi Ibrahim AS masih muda belia.

Dengan berpikir secara kritis, Nabi Ibrahim AS berpendapat bahwa berhala-berhala sesembahan kaumnya itu adalah benda mati yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan bahaya bagi dirinya, terlebih orang lain. Nabi Ibrahim begitu risau dan gelisah dengan tradisi asosiantik dan politeistik dari kaumnya itu, ia berusaha mencari Tuhan melalui fenomena alam yang terbentang dihadapannya: bintang,bulan, dan matahari seperti yang dikisahkan dalam Q,S al-An’am:76-78.

Ketika upaya-upaya penemuan Tuhan secara empiris, logis, dan kritis yang dilakukannya belum berhasil, Nabi Ibrahim AS lantang berjuang untuk menemukan-Nya secara intuitif ( batiniah). Ia kemudian berpasrah diri kepada Tuhan dengan menyatakan:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Mungkin muncul pertanyaan: bagaimana Nabi Ibrahim AS berpasrah diri kepada Tuhan, paahal ia belum berhasil mengidentifikasi siapa sesungguhnya Tuhan alam semesta ini? Manusia maski dilahirkan dari pasangan suami-istri ateis dan dibesarkan dilingkungan masyarakat yang tidak mengenal Tuhan,lahir di muka bumi denagn membawa fitrah kesucian dan keimanan. Pasalnya setiap insane saat masih dialam arwah telah memberikan kesaksian primordial dihadapan Allah SWT untuk selalu mentauhidkan dan memahaesakan-Nya.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”.

Kembali kepada hakikat Tuhan yang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, al-qur’an secara tegas menjelaskannya dalam Q.S. al-ikhlas:1-4. Ketika orang0orang kafir Quraisy bertanya kepada Nabi SAW, “wahai Muhammad, terangkanlah kepada kami tentang Tuhanmu! Siapakah Dia? Apakah dari emas, perak, berlian atau permata!” Allah SWT menjawab:

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤﴾

katakanlah bahwa Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang berantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Q.S al Ikhlas:1-4)

2.3 Tauhid dan Esensi dari Ajaran Islam

Tauhid diambil dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan, yang berarti “mengesakan”. Satu asal kata dengan kata wahid yang berarti “satu” atau kata ahad yang berarti “esa”. Dalam ajaran islam, tauhid berarti keyakinan akan keesaan Allah. Kalimat tauhid adalah la ilaha illa Allah, yang berarti “tiada Tuhan selain Allah”, seperti dinyatakan dalam Q.S al-Baqarah:163 berikut:

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Tauhid merupakan inti dari seluruh tata nilai dan norma islam. Karenanya Islam dikenal sebagai agama tauhid, yakni agama yang mengesakan Allah. Bahkan gerakan-gerakan pemurnian Islam dikenal dengan nama gerakan muwahhidin.

Dalam perkembangannya, tauhid telah menjelma menjadi salah satu cabang ilmu dalam islam. Ilmu tauhid merupakan disiplin ilmu yang mengkaji dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan keimanan, trutama yang menyangkut keesaan Allah.

Begitu pentingnya doktrin tauhid ini, Nabi Muhammad SAW selalu menyampaikan dan menekankan kepada semua orang,suku dan bangsa tanpa terkecuali. Lebih jauh, posisi strategis doktrin tauhid dalam ajaran islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, dakwah Rasulullah SAW pada periode Makkah dititik-beratkan pada usaha pembinaan tauhid, khususnya bagi mereka yang baru memeluk agama islam. Kedua, dalam ibadah mahdhah(ritual khusus), dktrin tauhid tercermin dalam pelaksanaanya yang hanya ditunjukkan secara langsung kepada Allah SWT tanpa perantara. Berbeda halnya dengan ibadah ghair mahdhah (ritual umum), masih ada ruang bagi keragaman cara dan teknis beribadah sejauh hanya mengarahkan peribadatannya itu kepada Allah semata.

Setiap perbuatan yang bertentangan dengan visi dan esensi tauhid divonis sbagai syirik. Syirik ialah menyekutukan Allah SWT dengan melakukan sesuatu yang seharusnya hanya ditunjukan kepada-Nya. Seperti menjadikan Tuhan selain Allah; menyembah,mentaati,meminta pertolongan kepada selain Allah atau melakukan perbuatan lain yang seharusnya hanya ditunjukan kepada Allah.

Itulah yang dinamakan syirik akbar, yang mengakibatkan amal kebaikannya tidak diterima dan sia-sia. Karena syarat utama agar amal ibadah itu dinilai dan diterima ialah kemurnian peruntukannya hanya bagi Allah SWT.

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Siapa yang mengharap berjumpa dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun dalam peribadatan”

Tidak kalah berbahaya adalah syirik asghar (kecil). Pelakunya terancam meninggal dalam keadaan kufur, jika Allah tidak mengampuninya dan elama ia tidak bertaubad kepada-Nya. Berikut beberapa perilaku yang masuk kategori syirik asghar:

  • Bersumpah atas nama selain Allah

Diantara syirik asghar adalah bersumpah dengan nama selain Allah, seperti bersumpah atas nama nabi, kakbah, wali, tanah air,nenek moyang dll. Semua itu termasuk syirik. Bersumpah adalah pengangungan sesuatu yang atas namanya seseorang bersumpah. Padahal yang harus diagungkan dan disucikan hanya Allah SWT.

  • Berkorban untuk selain Allah

Mempersembahkan kurban atau menyembelih hewan bukan karena Allah SWT adalah termasuk perbuatan syirik. Telah menjadi kebiasaan kaum musyrikin disetiap bangsa melakukan penyembelihan kurban sebagai sarana pendekatan diri kepada tuhan-tuhan dan berhala-berhala mereka.

  • Sihir

Sihir ialah semacam cara penipuan dan pengelabuan yang dilakukan dengan cara memantera, menjampi dan lainnya. Perbuatan ini termasuk syirik yang dilarang islam. Karena didalamnya mengandung makna meminta pertolonngan kepada selain Allah, yakni jin dan setan. Perbuatan sihir adalah haram. Orang yang mempercayai sihir dan daang ke tukang sihir untuk melakukan penyihiran, ia turut berdosa bersama si tukang sihir.

  • Ramalan

Salah satu bentuk sihir adalah ramalan. Yang dimaksudkan dengan ramalan adalah asumsi mengetahui dan melihat rahasia-rahasia masa depan berupa kejadin umum atau khusus ataupun nasib seseorang, melalui perbintangan dan sebagainnya.

2.4 Karakteristik Akidah Islam

Agama islam, sebagai system ajaran yang sempurna (al-din al-kamil), memiliki sederet keunggulan dan kekhasan, antara lain:

2.3.1 Agama Fitrah

Agama Islam diturunkan oleh Allah untuk kepentingan dan kebahagiaan manusia. Siapa pun yang mengamalkan Islam dengan penuh ketaatan, kepasrahan, dan ketulusan, niscaya akan menemukan kedamaian dan memperoeh kemuliaan. Tidak sedikitpun ajaran Islam yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak pula membebani dan memberatkan manusia. Bahkan jika diperhatikan, semua hokum yang disyariatkan oleh Allah justru menopang kebutuhan dasar manusia.

Hal itu dibuktikan dengan substansi maqasaid al-syari’ah yang bertujuan untuk menjaga agama,jiwa, keturunan, harta, dan akal. Allah SWT memerintahkan manusia untuk mengamalkan ajaran-Nya demi kesejahteraan manusia itu sendiri agar hidup bahagia di dunia dan akhirat, bukan sebaliknya untuk meberi beban berat.

2.3.2. Bersifat Universal

Perjumpaan ajaran Islam dengan tradisi dan budaya sekitarnya, tidaklah dilakukan dengan cara konfrontasi melainkan dengan jalan akomodasi kreatif. Penetahuan yang dikembangkan dalam ajaran Islam pun merupakan serapan dari warisan intelektual peradaban sebelumnya. Kemudian peradaban itu disajikan kembali menjadi warisan dunia yang memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.

2.3.3. Melanjutkan Tradisi Tauhid

Tauhid merupakan urat nadi dan tujuan utama agama Islam. Dengan tauhid, manusia dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Sebagaimana doa yan tertuang dalam Q.S. Al-Baqarah:201.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Konsep Islam sebagai agama tauhid merupakan mata rantai ajaran sepanjang sejarah manusia dari para nabi dan rasul. Mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Daud, Musa, dan Isa samapai Muhammad SAW.

2.3.4. Menyempurnakan Agama yang Terdahulu

Sebelum Islam datang, telah ada banyak agama di dunia ini, baik agama yan masuk kategori samawi( agama langit) maupun ardhi (agama bumi). Diantara agama-agama itu adalah agama bangsa Kildean (Mesopotamia), agama bangsa mesir, hindu dan budha ( india), Zoroastr atau Masuji (persia Iran), Tao (Tiongkok), Shinto (jepang), masrani (palestina), dan Yahudi (Israel). Namun agama-agama tersebuut memiliki berbagai keterbatasan.

Pertama, agama-agama sebelum Islam hanya diperuntukan bagi umat tertentu. Misalnya agama Yahudi dan nasrani hanya diperuntukkan bagi bani israil seperti dalam Mathius 15:24, “maka jawab Yesus. Katanya: tiadalah aku disuruh kepada yang lain, hanya kepada segala domba yang tersesa diantara Bani Israil.

Kedua, ajaran-ajaran Tuhan yang terdapat dalam agama sebelum Islam sudah dipalsukan oleh para tokoh pemuka agama-agama itu. Misalnya, Taurat (Perjanjian Lama) dan Injil (Perjanjian Baru), saat ini tidak ada yang asli.

2.3.5. Mendorong Kemajuan

Kemajuan peradaban manusia akan terwujud apabila manusia mampu memanfaatkan potensi akalnya dengan baik. Misi tauhid adalah membebaskan manusia dari penjara mitos,tahayul, dan penghambaan kepada ciptaan Allah yang hakikatnya lebih rendah martabatnya. Alam dengan segala isinya diciptakan untuk dimanfaatkan,bukan untuk disakralkan. Ini merupakan paradigma yang sangat revolusioner dalam sejarah umat manusia.

Banyak sekali ayat al-Qur’an yang menentang manusia untuk menggunakan akal pikirannya. Islam mengajarkan bahwa hukuk-hukum Allah dalam kehidupan ini ada dua macam, yaitu yang tertuis (qauliyah) dan yang tidak tertulis (kauniyah). Sunnah qauliyah adalah hokum yan diwahyukan kepada para nabi. Sedangkan sunnah kauniyah ketentuan yang tidak diwahyukan, seperti suhu udara, tata surya, panas matahari, iklim, derajat panas air, hokum titik cair baja,a gravitasi dan sebagainnya. Hal itu dimaksudkan agar manusia melakukan penelitian dan memikirkan betapa dahsyat ciptaan-Nya.

2.5 Faktor-Faktor Manusia Memerlukan Agama

Dr. Yusuf Al-Qaradhawy dalam bukunya “Madkhal li-Ma’rifatil Islam”-Pengantar KajianIslam- menyebutkan paling tidak ada lima faktor yang menyebabkan manusia butuh terhadap agama, lima faktor itu bisa dijabarkan sebagai berikut:

1. Kebutuhan akal terhadap pengetahuan mengenai hakikat eksistensi terbesar.

Betapapun cerdasnya manusia, jika hanya dengan akalnya ia tak akan bisa menjawab dengan pasti pertanyaan: darimana ia berasal?, kemanakah ia setelah mejalani hidup ini? dan untuk apa ia hidup?. Banyak filosof dan pemikir yang mencoba mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan ini, namun tak ada jawaban pasti yang dapat mereka berikan. Karenanya tak mengherankan jika jawaban- jawaban itu berbeda-beda satu dengan yang lain. Ini terjadi karena jawaban- jawaban yang mereka berikan hnya didasarkan pada asumsi-asumsi dan prasangka. Jawaban pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, hanya bisa didapatkan melui agama dan itu pun tidak semua agama. Sebab pada hakikatnya jawaban pasti itu adalah berasal dari Tuhan yang menciptakan manusia dan jagat raya ini. Dan saat ini hanya Islamlah yang mempunyai sumber autentik firman Tuhan, yaitu Al-Qur’an. Selain Al-Qur’an semua sudah tercampur denganperkataan manusia, bahkan ada yang murni hasil karya manusia namun dianggapfirmanTuhan.

2.Kebutuhan fitrah manusia

Bukti yang paling jelas menunjukkan bahwa secara fitrah manusia butuh terhadap agama adalah kenyataan bahwa semua bangsa mengenal kepercayaan terhadap dzat yang dianggap agung. Baik itu bangsa yang primitif maupun yang berperadaban, yang di barat maupun yang di timur, yang kuno maupun yang modern. Sedangkan orang-orang yang mengaku tidak percaya terhadap Tuhan, itu sebenarnya adalah hanya sebuah pelarian dari rasa kecewa terhadap agama yang mereka lihat. Padahal yang salah adalah ajaran agama itu dan sama sekali itutidak membuktikan bahwa Tuhan tidak ada.

Tentang kebutuhan fitri terhadap agama ini Allah berfirman :

فأقم وجهك للدين حنيفا , فطرت الله التى فطر النا س عـليها

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”.(Qs.Ar-Rum:30)

3. Kebutuhan manusia terhadap kesehatan jiwa dan kekuatan rohani

Kehidupan manusia tak selamanya mulus tanpa kerikil dan batu sandungan. Ada saat-saat gembira, bahagia, damai dan tentram namun juga ada saat dimana ia sedih, gundah, menderita dan tertimpa musibah. Disaat jiwa sedang dalam kondisi lemah seperti itulah semakin terasa ia membutuhkan kekuatan yang bisa mengembalikan rasa bahagia, tentram dan damai yang hilang. Atau paling tidak ia bisa menghadapi semua itu dengan jiwa yang besar, ketabahan dankesadaran. Keyakinan dan keimanan terhadap agamalah sumber kekuatan itu. Sebab hanya agamalah yang mengajarkan tentang kepercayaan terhadap takdir, tawakkal, kesabaran, pahala dan siksa. Dengan kepercayaan terhadap takdir ia bisa dengan mudah menerima kenyataan. Dengan tawakkal ia tidak akan terlalu kecewa jika ternyata jerih payahnya tak sesuai dengan harapan. Dan dengan kepercayaan terhadap pahala dan siksa ia akan bisa segera bangkit kembali tatkala didzalimi orang lain. Dengan kepercayaan semacam itulah jiwa akan menjadi sehat dan rohani akan menjadi kuat.

Tentang kaitan antara agama dan kesehatan jiwa ini Dr. Karl Bang memberikan kesaksian: “Setiap pasien yang berkonsultasi padaku semenjak tiga puluh tahun yang lalu yang berasal dari seluruh penjuru dunia, ternyata sesungguhnya penyebab sakit mereka adalah kurangnya keimanan dan goyahnya akidah mereka. Sementara mereka tidak akan mendapatkan kesembuhan kecua lisetelah mereka mengembalikan keimanan mereka”.

4. Kebutuhan masyarakat terhadap motivasi dan disiplin akhlak.

Hukum dan peraturan jelas tidak bisa menjamin bahwa anggota sebuah masyarakat akan bisa melaksanakan kebaikan, menunaikan kewajiban dan meninggalkan larangan. Sebab hukum dan peraturan itu tidak bisa menciptakan motivasi dan menumbuhkan kedisiplinan. Karena memanipulasi hukum adalah suatu hal yang mungkin terjadi dan mencurangi peraturan adalah bukan hal sulit untuk dilakukan.

Hukum dan peraturan hanyalah sebuah perwujudan dari pengawasan eksternal, dan itu tidak cukup sampai di situ. Masyarakat membutuhkan motivasi internal yang kita kenal dengan hati nurani. Dengan membina hati nurani inilah seorang manusia akan termotivasi untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan dengan sukarela walaupun tanpa ada pengawasan dari manusia dan tekanan dari hukum dan peraturan.

Peran pembinaan terhadap hati nurani inilah yang tak dapat dilakukan selain oleh agama. Apalagi agama juga mengajarkan adanya “pengawasan melekat” oleh Tuhan terhadap seluruh perbuatan manusia. Motivasi hati nurani dan “pengawasan melekat” seperti inilah yang bisa menjamin suburnya nilai-nilai kebaikan dan akhlak mulia dalam masyarakat.Marilah kita simak kata-kata Voltair berikut ini:

Mengapa kalian meragukan eksistensi Tuhan, padahal kalau bukan karena Tuhanniscaya istriku telah mengkhianatiku (berbuat serong) dan pembantuku telahmencuri hartaku”.

5. Kebutuhan masyarakat kepada solidaritas dan soliditas.

Agama sesungguhnya memiliki peran yang sangat besar urgensinya dalam mempererat hubungan antara manusia satu sama lain, dalam status mereka semua sebagai hamba milik satu Tuhan (Allah) yang talah menciptakan mereka dan dalam status mereka semua sebagai anak dari satu bapak (Adam) yang telah menurunkan mereka, terlebih lagi dengan persaudaraan akidah dan ikatan iman yang dibangun oleh agama diantara mereka.

Bahkan ikatan akidah dan keimanan ini mampu melampaui batas-batas bangsa, suku, warna kulit, jenis kelamin dan melebihi ikatan darah dan kekerabatan. Maka tidak mengherankan jika kita menemukan mereka mencintai yang lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, rela mengorbankan nyawa demi saudaranya dan berlinang air mata karena penderitaan saudaranya di negeri lain meskipun dipisahkan jarak beribu-ribu kilo meter. Dengan cinta dan pengorbanan semacam itulah sebuah masyarakat menjadi solid dan kokoh dalam menjalankan agama.

Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa di muka bumi ini sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Melalui kesempurnaannya itu manusia bisa berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik. Di sisi lain, manusia meyakini bahwa dia memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia jika manusia mempercayai adanya Sang Maha Pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan di muka bumi. Dalam kehidupannya, manusia tidak bisa meninggalkan unsur Ketuhanan. Manusia selalu ingin mencari sesuatu yang sempurna. Dan sesuatu yang sempurna tersebut adalah Tuhan. Hal itu merupakan fitrah manusia yang diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Tuhannya.

Demikian kiranya hajat manusia terhadap agama,sebagai pembawaan nalurinya sebagai manusia, meskipun karena desakan – desakan sosial bisa jadi naluri ini menjadi termarjinalkan dari kebutuhan manusia disamping kebutuhan – kebutuhannya yang bersifat materi.

2.6 Perbandingan Agama Islam dengan Agama yang Lain

2.4.1. Yahudi

Yahudi adalah agama tertua diantara agama-agama Semitik (Ibrahimiah). Agama ini telah hidup hampir 4000 tahun dalam peride-periode yang ditandai oleh perubahan, baik yang evolusioner maupun revolusioner. meskipun penyebar sebenarnya agama Yahudi adalah Nabi Musa AS, orang Yahudi ortodoks memandang bahwa agama mereka itu bermula dari Nabii Ibrahim AS, nenek moyang mereka. Ibrahim AS adlah Bapak Monoteisme, karena ia adalah pioneer tradisi monoteistik yang diikuti oleh keturunannya dan banyak bangsa di dunia ini.

Tradisi monoteistik yang diperjuangkan Ibrahim AS dan keturunannya (Ishaq AS, Ya’qub, AS dan seterusnnya) mendapat tantangan dari kepercayaan kafir dan syirik. Suku-suku bangsa lain tetap menyembah Tuhan-Tuhan mereka sendiri. Suku-suku bangsa Kanaan menpunyai Baal-Baal, orang mesir mempunyai Ra, Orisis,dan amon. Agama Israil pada masa iu dirusak oleh kepercayaan animism,penyembahan nene moyang, sishir, dan kepercayaan terhadap Tuhan-Tuhan jelmaan.

Dalam situasi krisis social dan keagamaan itu, lahirlah seorang bayi Israil di Mesir diberi nama Musa. Bayai yang selamat dar pembunuhan yang diperintah oleh Fir’aun itu kelak menjadi pemimpin besar Yahudi yang berjuang membebaskan mereka dari kekejaman Fir’aun.

Doktrin paling esensial dan system kepercayaan yang dianut dan diperjuangkan Nabi Musa AS adalah monoteisme. Baginya Tuhan adalah satu, tidak ada Tuhan selain Dia. Namun sepeninggal Nabi Musa AS, takhayul dan pemujaan berhala semakin meningkat dari tahunn ke tahun.temasuk didalamnya konsep ‘Uzair sebagai anak Allah’. Fenomena-fenomena ini direkam Al-Quran melalui ayat berikut:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ

“orang-orang Yahudi berkata: “ Uzair itu putera Allah….

2.4.2. Kristen

Secara kronologis, Kristen muncul setelah Yahudi dan sebelum Islam. Pertumbuhan Kristen dapat dipandang sebagai perkembangan suatu sekte Yahudi yang menjadi sebuah agama dunia. Asal-usul Kristen tidak mungkin dipahami tanpa menempatkan agama dan kebudayaan Yunani sebagai latar belakang.

Istilah “Kristen” atau “Kristenitas” berasal dari kata Yunani Christos sebagai terjemahan istilah Ibrani Mesias, yang digunakan orang Yahudi untuk menunjuk penyelamat agung mereka. Kemudian istilah meisas digunakan untuk menyebut Yesus dar Nasaret. Karena Yesus berasal dari Nasaret Palestina,maka ia digelari Masrani dan agama yang dibawanya disebut agama nasrani.

Agama ini berkembang dari kehidupan dan karta Yesus dar nasaret. Yesus Kristus bukan hanya tokoh sentral dalam Kristen, tetapi juga pusat dari keselruhan bangunannya. A memilih 12 murid, yang kemudian disebut sebagai “al-Hawariyyun” untuk menjalankan tugas dakwahnya. Namun dipihak lain timbul rasa permusuhan dari beberapa kalangan umat Yahudi yang berujung pada penyaliban Yesus di pinggiran kota Yerussalem.

Terkait dengan peristiwa penyaliban ini, Islam menyangkal bahwa Yesus telah meninggal di tiang salib. Menurut al-Qur’an, murid Yesus yang berkhianat (Yudas) itulah yang disalib setelah wajahnya diserupakan oeh Allah dengan wajah Yesus.

وَّقَوۡلِهِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِيۡحَ عِيۡسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ رَسُوۡلَ اللّٰهِ​ ۚ وَمَا قَتَلُوۡهُ وَمَا صَلَبُوۡهُ وَلٰـكِنۡ شُبِّهَ لَهُمۡ​ ؕ وَاِنَّ الَّذِيۡنَ اخۡتَلَـفُوۡا فِيۡهِ لَفِىۡ شَكٍّ مِّنۡهُ​ ؕ مَا لَهُمۡ بِهٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ​ ۚ وَمَا قَتَلُوۡهُ يَقِيۡنًا ۢ بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيۡهِ​ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيۡزًا حَكِيۡمًا

“Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah “, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa ke sisi-Nya. Sungguh Allah Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana.”

Kristen memang agama monoteistik, tetapi konsep keesaaan Tuhan tidak begitu ditekankan oleh Kristen. Oleh karena itu, konsep tentang kesaaan Tuhan bukan unsur dominan dalam Krsten. Krisen lebih mementingkan doktrin Trinita daripada ajaran Tauhid.

2.4.3. Islam, Agama Lama yang Baru

Meskipun Ialam dibawa Muhammad SAW sebagai nabi terakhir atau (Penutup Nabi-Nabi) agama ini tidak memandang dirinya sebagai agama baru, tetapi sebagai agama tertua. Memang jika dilihat dari perjalanan sejarah agama-agama Semitik atau Ibrahimiah, Islam adalah agama tertua yang telah ada sejak Nabi Adam AS.

Islam memandang Yahudi dan Kristen bukan sebagai agama-agama lain, tetapi sebagai dirinya sendiri sejauh bersumber dari wahyu-wahyu Allah SWT kepada nabi-nabi kedua agama itu. Islam mengakui Tuha Yahudi dan Kristen sebagai Tuhannya sendiri dan mengakui Nabi-nabinya sendiri. Islam mengakui bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen mempunyai komunitas-komunitas agama yang memiliki kitab-kitab suci yang diwahyukan dan menyebut mereka Ahli Kitab.

Secara teologis, Islam lebih dekat dengan Yahudi daripada Kristen, sebagaimana Yahudi, Islam sangat menekankan keesaan Tuhan dan hubungan langsung mausia dengan Tuhan.kemodernan Islam akan tampak jika dibandingkan denagn penekanan Yahudi dan Kristen pada konsep Tuhan dan manusia. Yahudi memberikan penekanan pada konsep bahwa Tuhan adalah Sumber hokum dan hakim bangsa-Nya, sementara manusia lebih dipandang sebagai kolektivitas dan masyarakat sebagai individu-individu. Sesuai dengan penekanan ini, Yahudi memberikan penekanan pada aspek kemasyarakatan, hokum, dan keadilan. Kristen memberikan penekanan pada konsep bahwa Tuhan adalah “sumber kasih” yang mencintai hamba dan putera-Nya.

Islam memadukan kedua sikap ini ke dalam suatu keutuhan sintesis yang tunggal. Tuhan, menurut islam adalah Maha Kuasa, Sang Penghukum, dan Maha Pemaaf dan lain-lain. Dengan demikian, Islam memulihkan kembali keseimbangan sempurna antara monoteisme murni yang diwahyukan kepada Nabi Ibrahim AS (Bleeker:1985)

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kehidupan manusia di muka bumi ini selalu dihadapkan pada beragam persoalan. Dengan potensi lahiriah dan batiniahnya, manusia senantiasa berupaya untuk mengatasinya, meski ia seringkali dibenturkan pada realitas keterbatasan. Keterbatasan dan ketidakpuasan manusia inilah yang pada akhirnya melahirkan tuntutan dan kebutuhan terhadap kekuatan metafisika di luar dirinya. Ia lantas melakukan aktivitas mencari, membanding, dan menyimpulkan kekuatan-kekuatan yang mengitarinya, yang diasumsikannya sebagai “Tuhan”, yang diharapkan dapat menemukan dan meringankan problem hidupnya.

Agama Islam diturunkan oleh Allah untuk kepentingan dan kebahagiaan manusia. Siapa pun yang mengamalkan Islam dengan penuh ketaatan, kepasrahan, dan ketulusan, niscaya akan menemukan kedamaian dan memperoeh kemuliaan. Tidak sedikitpun ajaran Islam yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tidak pula membebani dan memberatkan manusia. Bahkan jika diperhatikan, semua hukum yang disyariatkan oleh Allah justru menopang kebutuhan dasar manusia.

3.2. Saran

Semoga makalah ini dapat menjadi referensi bagi semua pihak untuk dapat lebih mengembangkan ilmu pendidikan agama Islam dan dapat pula mengerti dan paham akan konsep ketuhanan dalam Islam dan lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

3.3. Daftar Pustaka

Tim Dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Negeri Malang.2014. Pendidikan Islam Transformatif. Malang: Dream Litera.

www. bunglong11.blogspot.com/2011/10/konsep-ketuhanan-dalam-islam.html

www.erlapramana.blogspot.com/2011/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html

www.studiislam.wordpress.com/2010/05/22/

http://assalaam.or.id/id/kebutuhan-manusia-terhadap-agama/

http://www.risalahislam.com/2013/10/pengertian-tauhid.html

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *