EKSPANSI WILAYAH (Peradaban Kejayaan Islam di Timur pada Masa Bani Umayyah)

EKSPANSI WILAYAH (Peradaban Kejayaan Islam di Timur pada Masa Bani Umayyah)

EKSPANSI WILAYAH
(Peradaban Kejayaan Islam di Timur pada Masa Bani Umayyah)

Makalah ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Maharaat Lughawiyah

Dosen Pengampu:
Dr. H. M Hadi Masruri, Lc, MA

Oleh:
Betric Feriandika
18720028

MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PASCA SARJANA
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2018

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses penyebaran ajaran Islam berjalan melalui serangkaian proses yang sangat panjang. Salah satu faktor berkembangnya Islam diantaranya dengan perluasan (ekspansi) wilayah islam sehingga Islam tersebar ke berbagai pelosok dunia. Sejarah mencatat bahwasanya perluasan wilayah atau ekspansi Islam terjadi dalam dua gelombang. Ekspansi gelombang pertama dimulai pada masa Nabi Muhammad saw, yang kemudian diteruskan oleh para sahabat Khulafaur Rasyidin. Sepeninggalnya Nabi saw pada tanggal 8 Juni 632 M, ekspansi pada masa Khulafaur Rasyidin sudah meliputi berbagai wilayah di semenanjung Arab, Suria (Syiria), Irak, sebagian Persia bahkan Mesir. Pada periode ini (632-661M) hampir seluruh Jazirah Arab dapat ditaklukkan di bawah kekuasaan Islam, dan pada periode ini pula ekspansi ke luar Jazirah Arab baru dimulai.
Adapun ekspansi gelombang kedua, dilakukan pada masa Dinasti Umayyah (661-750 M) setelah berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebagai pendiri sekaligus khalifah pertama dinasti ini, melanjutkan ekspansi Islam ke luar Jazirah Arab yang sempat terhenti selama bertahun-tahun pada akhir kekuasaan khalifah Utsman bin Affan hingga tumbangnya kekuasaan khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian Bani Umayyah kelak akan melanjutkan ekspansi ini ke wilayah-wilayah berikutnya, dan wilayah yang telah dikuasai Islam ini menjadi batu loncatan bagi ekspansi Umayyah.
Bani Umayyah sebagai dinasti yang melanjutkan kepemimpinan umat Islam disebut-sebut sebagai dinasti yang berhasil mengembangkan sayap-sayap Islam dan menancapkan panji-panji Islam ke berbagai daerah, termasuk ke daerah Eropa di bagian barat. Selama masa pemerintahan Dinasti Umayyah, imperium Islam berhasil memperluas wilayah sampai batas-batas terjauh. Perluasan ini hampir tak tertandingi sejak periode klasik. Berdasarkan hal tersebut, maka makalah ini lebih menitikberatkan pada ekspansi wilayah peradaban Kejayaan Islam masa Bani Umayyah.

B. Rumusan Masalah
Dari paparan singkat latar belakang masalah di atas, dapat ditarik dua rumusan masalah, yaitu:
1. Apa kronologis adanya ekspansi wilayah di masa Bani Umayyah ?
2. Bagaimana proses ekspansi wilayah di masa Bani Umayyah?
3. Apa faktor-faktor yang melatarbelakangi kesuksesan ekspansi wilayah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui kronologis yang melatarbelakangi terjadinya ekspansi wilayah pada masa Bani Umayyah.
2. Untuk mengetahui proses ekspansi wilayah pada masa Bani Umayyah
3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi kesuksesan ekspansi wilayah pada masa Bani Umayyah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kronologis Ekspansi Wilayah Bani Umayyah
Ekspansi wilayah pada masa Bani Umayyah tidak lepas dari ekspansi periode sebelumnya yaitu masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Sebagaimana disinggung pada latar belakang masalah di atas, bahwa proses ekspansi Islam terbagi kepada dua gelombang. Ekspansi gelombang pertama, dimulai pada masa Nabi SAW yang kemudian diteruskan oleh khalifah Abu Bakar Shiddiq. Setelah Abu Bakar wafat pada tahun 13 H karena sakit, ekspansi tetap dilanjutkan oleh khalifah berikutnya, yakni Umar bin Khattab. Pada masa khalifah Umar ini gelombang ekspansi pertama lebih mendapat perhatian. Wilayah demi wilayah di luar jazirah dapat ditaklukkan. Kota Damaskus jatuh di tahun 635 M dari tangan kekuasaan Bizantium. Kemudian dengan menggunakan kota Suriah sebagai basis pangkalan militer, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah pimpinan Amr bin al-Ash dan Irak di bawah pimpinan Sa’ad bin abi Waqqash.
Di masa gelombang ekspansi pertama ini, al-Qadisiyah, sebuah kota yang terletak dekat al-Hirah di Irak, dapat dikuasai oleh imperium Islam pada tahun 637M. Dari kota itulah, ekspansi Islam berlanjut ke al-Madain (Ctesiphon), hingga ibu kota Persia ini dapat dikuasai. Karena al-Madain telah jatuh ke tangan pasukan Islam, Raja Sasan Yazdagrid III akhirnya menyelamatkan diri ke sebelah Utara.[7] Pada tahun 641 M, kota Mosul yang notabene masih dalam wilayah Irak juga dapat diduduki.
Dengan adanya gelombang ekspansi pertama ini, kekuasaan Islam di bawah Khalifah Umartelah meliputi Semananjung Arabia, Palestina, Syiria, Irak, Persia, dan Mesir.
Pada zaman Utsman bin Affan (644-656M) Tripoli, Ciprus dan beberapa daerah lain dikuasai, namun gelombang ekspansi pertama berhenti sampai di sini. Ketika Utsman bin Affan menghadapi turbulensi politik di dalam negeri sehingga akhirnya ia terbunuh pada tahun 656 M. Ali bin Abi Thalib pun naik ke tampuk kekuasaan sebagai khalifah keempat. Namun, suhu politik di pusat kekuasaan Islam semakin tinggi sehingga terjadi beberapa pemberontakan. Akan tetapi, hal itu menguras kekuatan militer Islam sehingga akhirnya gelombang pertama ekspansi ke luar jazirah Arab pun berhenti.
Dari latar belakang kronologis di atas, berikut ini sebab yang paling pokok mengapa perlunya ekspansi wilayah pada masa Bani Umayyah:
1. Islamisasi, yaitu proses penyebaran agama Islam dan kekuasaan wilayah Islam
2. Arabisasi, yaitu pengembangan peradaban yang bericiri Arab
Dengan demikian, gelombang ekspansi kedua ini dilanjutkan oleh Dinasti Umayyah yang akan dibahas selanjutnya.

B. Ekspansi Wilayah di Masa Bani Umayyah
Bani Umayyah mengambil nama keturunan dari Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf. Dari nama Umayyah tersebut, maka dinasti itu disebut Bani Umayah yang selama pemerintahannya telah terjadi pergantian sebanyak 14 orang khalifah sebagai berikut :
1. Muawiyah bin Abi Sufyan 41-60H/661-679M
2. Yazid I bin Muawiyah 60-64H/679-683M
3. Muawiyah II bin Yazid 64H/683
4. Marwan I bin Hakam 64-65H/683-684M
5. Abdul Malik bin Marwan 65-86H/685-705M
6. Al-Walid I bin Abdul Malik 86-96H/705-714H
7. Sulaiman bin abdul Malik 96-99H/714-717M
8. Umar II bin Abdul Aziz 99-101H/717-719M
9. Yazid II bin Abdul Malik 101-105H/719-723M
10. Hisyam bin Abdul Malik 105-125H/723-742M
11. Al-Walid II bin Yazid II 125-126H/742-743M
12. Yazid bin Walid bin Malik 126H/743M
13. Ibrahim bin Al-Walid II 126-127H/743-744M
14. Marwan II bin Muhammad 127-132H/744-750M
Para sejarahwan umumnya sependapat bahwa para khalifah terbesar dari daulah Bani Umayyah ialah Muawiyah bin Abi Sufyan, Abdul Malik bin Marwan, Al-Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik.
Muawiyah sebagai pendiri sekaligus khalifah pertama Bani Umayyah, ia dinobatkan sebagai khalifah di Iliya’ (Yerussalem) tahun 40H/660M. Dengan penobatannya itu, ia merubah kota Damaskus menjadi ibu kota kekuasaan Islam yang sebelumnya ada di Madinah. Meskipun telah resmi dinobatkan sebagai khalifah, Muawiyah memiliki kekuasaan yang terbatas karena beberapa wilayah tidak mengakui kekhalifaannya. Seiring berjalannya waktu, Muawiyah berhasil meredam perlawanan dari kaum yang menolaknya. Pemerintah Muawiyah ini tidak hanya ditandai dengan terciptanya konsolidasi internal, tetapi juga perluasan (ekspansi) wilayah Islam.
Ekspansi Bani Umayyah dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan merupakan lanjutan dari ekspansi yang dilakukan oleh para pemimpin Islam sebelumnya. Menurut Prof. Ahmad Syalabi , penaklukan militer di zaman Umayyah mencakup 3 front penting sebagai berikut :
1. Front pertempuran melawan bangsa Romawi di Asia Kecil. Di masa pemerintahan Bani Umayyah, pertempuran di front ini telah meluas sampai kepada pengepungan terhadap kota Konstantinopel dan penyerangan terhadap beberapa pulau di sekitar Laut Tengah.
2. Front Afrika Utara. Front ini meluas sampai ke pantai Atlantik dan kemudian menyeberangi selat Jabal Thariq (Gibraltar) sampai ke Spanyol (Andalusia).
3. Front Timur. Front ini meluas mulai dari Irak menuju timur yang kemudian terbagi kepada dua cabang, yang satu menuju ke utara, ke daerah-daerah di seberang sungai Jihun, serta yang kedua menuju ke selatan, meliputi daerah Sind, wilayah India di bagian Barat.

1. Pertempuran Pasukan Muslim melawan Imperium Romawi di Asia Kecil dan sekitar Konstantinopel
Tidak diragukan lagi bahwa front ini menjadi front ekspansi terpenting bagi Dinasti Umayyah, di mana kota Damaskus dijadikan sebagai ibu kota Daulah Islamiyyah. Secara geografis, kota Damaskus berdekatan pada batas-batas kota Bizantium, yang mana saat itu Muawiyah menjadi gubernur Suriah sejak masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Sejak saat itu, ia merasa bertanggungjawab atas keamanan dan ketentraman penduduk Suriah. Maka tak heran, jika (Muawiyah) berkewajiban untuk mempertahankan wilayahnya sekaligus menghalau para musuh agar menjauh darinya.
Selama terjadinya fitnah sebelum eranya Muawiyah, yang mana mencakup beberapa tahun terakhir masa kekhalifahan Utsman bin Affan dan juga kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, berbuah positif bagi bangsa Romawi, yang kemudian mereka mendapatkan kembali sebagian wilayah dari Armenia yang sebelumnya telah ditaklukkan tentara Islam. Ketika Muawiyah melihat kesiapan tentara Romawi untuk menyerang,—masih pada saat terjadinya fitnah yang menyebabkan terbunuhnya Utsman— Muawiyah terpaksa sebelum menghadapi tentaranya Ali bin Abi Thalib, ia melakukan gencatan senjata dengan Kerajaan Romawi dan sekutunya dari Jarajimah, dengan syarat membayar upeti demi menjamin keselamatan negaranya.
Selanjutnya, ketika fitnah tersebut menghilang, Muawiyah lalu bergegas untuk lebih meningkatkan kekuatan pertahanan tentaranya. Sehingga jumlah angkatan lautnya mencapai 1700 buah perahu yang dilengkapi dengan senjata dan keahlian individual para tentaranya. Ia lalu melancarkan serangan ke bagian timur Laut Mediterania (Mediterranean Sea), sehingga berhasil merebut kota Rhodes (53 H) dan Crete (54 H), sebagaimana mereka telah menyerang pulau Sicilia dan pulau kecil bernama Arwad, dekat Konstantinopel, selanjutnya pulau Cyprus yang telah Muawiyah taklukkan pada masa khalifah Utsman. Adapun pimpinan pasukan yang berperan dalam penyerbuan tersebut adalah Janadah bin Abi Umayyah.
Setelah Muawiyah dan pasukannya berhasil menguasai daratan di Konstantinopel, mereka pun bergegas menuju wilayah perairan dengan maksud untuk menaklukkannya juga. Muawiyah lalu mempersiapkan sekitar 100 buah kapal perang yang memuat berbagai senjata lengkap dengan pasukannya, tujuannya adalah untuk mengepung sebuah kota dekat dengan Konstantinopel. Kemudian, pasukan Muslimin pun berlayar menuju laut Marmarah (Sea of Marmara) dengan mendapatkan banyak kemenangan yang gemilang. Pada ekspansi kali ini, pasukan Muslimin dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah, yang juga didampingi oleh beberapa pejuang muslim lainnya, seperti: Abu Ayyub al-Anshari, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar dan Ibnu Abbas. Peperangan ini terjadi selama hampir 7 tahun yang mengakibatkan terbunuhnya sahabat Abu Ayyub al-Anshari, jenazahnya lalu dimakamkan di sekitar dinding pertahanan kota Konstantinopel.
Selanjutnya, pasukan Muslimin mengalami masa-masa kemunduran pada akhir masa kekhalifahan Muawiyah atau permulaan dari kekhalifahan Yazid bin Muawiyyah. Kemunduran ekspansi pada masa ini terjadi akibat tersebarnya fitnah dan serangan dari dalam yang menyebabkan terbunuhnya khalifah Muawiyyah. Kemunduran itu berlanjut sampai masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan. Bangsa Romawi pun menyadari hal itu dan tidak menyianyiakan kesempatan tersebut. Mereka kemudian melakukan serangan hingga berhasil menguasai sebagian besar wilayah taklukkan pasukan Muslimin. Di antara kota-kota yang berpindah ke tangan mereka, yaitu: Armenia, Suriah, ‘Asqalan, Lebanon dan Acre. Demi menjaga keselamatan jiwa, kaum Muslimin terpaksa harus membayar upeti kepada mereka. Melihat kondisi tersebut, khalifah Abdul Malik lalu melakukan konsiliasi dengan Kaisar Romawi, bahwa setiap hari Jum’at ia akan memberikan uang 1000 dinar kepada kekaisaran Romawi, sebagai ganti dari penarikan upeti terhadap umat Muslimin.
Ketika stabilitas perpolitikan di wilayah kekhalifahan Islam kembali normal, khalifah Abdul Malik kembali melakukan serangan balasan terhadap kekaisaran Romawi, sehingga ia berhasil mengambil kembali beberapa wilayah yang pernah ditaklukkan pasukan Romawi, semisal kota Armenia. Pada tahun 84H, khalifah Abdul Malik mengirim pasukan ke Romawi di bawah komando Abdullah bin Abdul Malik dan berhasil menaklukkan kota Mashishah.
Kemudian masuk pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik yang dikenal dengan ‘ahd al-zafr al-wasi’ (era kemenangan yang gemilang). Akan tetapi, pada masa Walid wilayah Romawi kurang mendapat perhatian hingga tidak mengalami perluasan sedikitpun. Namun di sisi lain, Walid beserta pasukannya berencana untuk menaklukkan kota-kota yang berada di wilayah Asia Kecil, dan berhasil mendobrak benteng-benteng pertahanan musuh. Seiring waktu, khalifah Walid pun meninggal dunia sebelum sempat mengirim pasukannya ke Romawi, karena lebih sibuk untuk menaklukkan wilayah-wilayah lain.
Setelah kematian Walid, tampuk kekhalifahan diteruskan oleh Sulaiman bin Abdul Malik yang melakukan penyerangan ke wilayah kekaisaran Bizantium. Kemudian, serangan secara besar-besaran di darat dan perairan pun dilakukan di bawah komando Maslamah bin Abdul Malik. Berbagai kemenangan pun berhasil diraihnya sampai kemudian melakukan pengepungan kembali atas Konstantinopel. Namun pengepungan tersebut tidak membuahkan hasil, hingga Konstantinopel gagal untuk ditaklukkan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 717 M. Akhirnya pada tahun 1543 H, pasukan Muslimin berhasil menaklukkan ibu kota Bizantium tersebut di bawah pimpinan Muhammad al-Fatih.

2. Peperangan Pasukan Muslimin di Wilayah Afrika Utara dan Andalusia
a) Afrika Utara
Wilayah pesisir Afrika Utara adalah wilayah yang tunduk di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi, yang mana diperintah oleh bangsa Romania. Di samping wilayah pesisir itu, wilayah Kekasisaran Romawi mencakup hutan belantara dan persawahan di bagian selatan sampai ke negara Sudan.
Sebagaimana sejarah mencatat, bahwa ekspansi Islam pada masa khalifah Utsman membentang sampai ke Burqah dan Tripoli. Sebenarnya, tujuan utama dari penaklukkan kota Burqah dan Tripoli adalah untuk menguasai Mesir. Bangsa Romawipun mulai memperbarui benteng-benteng pertahanan mereka di pesisir laut dan mengirim bala tentara untuk berjaga-jaga. Penyerangan ini dibebankan oleh khalifah Utsman kepada Muawiyah. Dalam hal ini, Muawiyyah mempercayakan kepada Uqbah bin Nafi al-Fahri yang tinggal di Burqah pasca ditaklukkan pasukan Islam. Uqbah bin Nafi ini sangat berjasa dalam mengajak kaum Barbar untuk memeluk Islam.[22]
Ahmad Syalabi menyatakan, bahwa ekspansi Islam di bawah Dinasti Umayyah ini mendapatkan perlawanan sengit, yang mana berlangsung sekitar 60 tahun sejak takluknya kota Burqah sampai tunduknya bangsa Romawi pada tahun 83 H. Pada masa peperangan di wilayah Afrika Utara dan Maroko, Muawiyah bin Abi Sufyan mengganti gubernur Mesir saat itu, Muawiyah bin Khudaiz, dengan Maslamah bin Makhlad al-Anshari pada tahun 50 H. Menurut al-Thabari, peran Maslamah sangat penting dalam mempersatukan antara wilayah Maroko, Mesir, Burqah, Afrika dan Tripoli. Akan tetapi, pada masa kekhalifahan Yazid bin Muawiyah tampuk kepemimpinan Mesir diserahkankan kepada Uqbah bin Nafi, yang mana ia berhasil menguasai Samudera Atlantik.
Kesadaran politik Dinasti Umayyah kembali muncul pada masa Abdul Malik, yang mana ia mengirim pasukan dengan jumlah besar di bawah panglima Hassan bin Nu’man. Pasukan tersebut berhasil menaklukkan tentara Romawi dan mengusir mereka keluar dari Afrika Utara. Selanjutnya, Musa bin Nushair pun didaulat untuk menggantikan Hassan bin Nu’man sebagai gubernur Afrika Utara dan Maroko. Pengangkatan tersebut terjadi pada akhir kekhalifahan Abdul Malik atau permulaan kekhalifahan Walid. Pada masa kepemimpinannya, Musa bin Nushair berhasil menaklukkan kota Tangier yang sebelumnya belum pernah ditaklukkan, lalu kota Sabtah yang terletak di pesisir pantai Afrika. Kota Sabtah merupakan pengikut dari kerajaan Ghotic.
b) Andalusia
Andalusia (kawasan Spanyol dan Portugis sekarang) mulai ditaklukan oleh umat Islam pada masa khalifah al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M), di mana tentara Islam sebelumnya telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayyah. Proses penaklukan ini dimulai dengan kemenangan pertama yang dicapai Thariq bin Ziyad dengan cara membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Kemudian pasukan Islam di bawah pimpinan Musa bin Nushair juga berhasil menaklukkan Sidonia, Karmona, Seville dan Merida, serta mengalahkan kerajaan Gothic, Theodomir di Orihuela, yang kemudian ia bergabung dengan Thariq di Toledo. Keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol termasuk bagian utaranya, mulai dari Zaragoza sampai Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya dilanjutkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, tahun 99 H/ 717 M, di mana sasarannya ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan Pirenia dan Perancis Selatan. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada al-Samah, tetapi usahanya itu gagal sehingga ia terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi. Dengan pasukannya, ia menyerang kota Bordeaux, Poitiers dan dari sini ia mencoba menyerang kota Tours. Pertempuran ini dikenal dengan nama Pertempuran Tours. Di kota inilah al-Ghafiqi ditahan oleh Charles Martel. Ia pun meninggal, sehingga penyerangan ke Perancis gagal dan tentara muslim ditarik mundur kembali ke Spanyol.
Pada masa penaklukkan Spanyol oleh pasukan Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Gothic bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, terlebih kepada penganut agama lain seperti Yahudi. Penganut agama Yahudi yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol, dipaksa untuk dibaptis menurut agama Kristen. Adapun yang tidak bersedia, disiksa dan dibunuh
Buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan keagamaan tersebut terutama disebabkan oleh keadaan politik yang kacau. Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderic, Raja Gothic terakhir yang dikalahkan pasukan Muslimin. Awal kehancuran kerajaan Visigoth adalah ketika Roderic memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo. Sementara Witiza, yang saat itu menjadi penguasa wilayah Toledo diberhentikan begitu saja. Keadaan ini memancing amarah dari Oppas dan Achila, kakak dan anak Witiza. Keduanya kemudian bangkit menghimpun kekuatan untuk menjatuhkan Roderic. Mereka pergi ke Afrika Utara dan bergabung dengan kaum Muslimin. Sementara itu terjadi pula konflik antara Raja Roderick dengan Ratu Julian, mantan penguasa wilayah Septah. Julian juga bergabung dengan kaum muslimin di Afrika Utara dan mendukung usaha umat Islam untuk menguasai Spanyol. Julian bahkan memberikan pinjaman empat buah kapal yang dipakai oleh Tharif, Thariq dan Musa.
Hal yang menguntungkan tentara Islam lainnya adalah bahwa tentara Roderic yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu, orang Yahudi yang selama ini tertekan juga mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan kepada pasukan Muslimin. Sewaktu penaklukan itu, para pemimpin penaklukan tersebut terdiri dari tokoh-tokoh yang kuat dan mempunyai tentara yang kompak serta penuh percaya diri. Yang tak kalah pentingnya adalah ajaran Islam yang ditunjukkan para tentara Islam, yaitu: toleransi, persaudaraan dan tolong menolong. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum Muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

3. Peperangan Pasukan Muslimin di Transoxiana dan Sungai Sind
a) Transoxiana
Negara Transoxiana (ma wara’a al-nahr) adalah negara yang terletak di antara Sungai Jihun dan Sungai Syr-Darya. Di antara kerajaan yang pernah berjaya di wilayah ini adalah:
1) Kerajaan Tukhristan, di samping Sungai Jihun dan ibu kotanya adalah Balkh.
2) Kerajaan Shafaniyan, sebelah utara Sungai Jihun dan ibu kotanya, Schumann.
3) Kerajaan Shind, dari Sungai Jihun sampai Sungai Sihun dan ibu kotanya adalah Samarkand, dengan Bukhara sebagai salah satu kota pentingnya.
4) Kerajaan Farghanah, di sebelah Sungai Sihun dan ibu kotanya adalah Kasyan.
5) Kerajaan Khawarizm, di dataran paling atas Sungai Sihun dan ibu kotanya adalah Jurjaniyah.
6) Kerajaan Asyrusinah, sebelah timur kerajaan Farghanah, dll.
Peperangan melawan negara-negara ini dimulai sejak masa khalifah Muawiyah di bawah panglima perang Qais ibn al-Haitsam yang ketika itu menjabat sebagai gubernur Khurasan. Diceritakan bahwa penduduk Badghis, Hirrah dan Balkh, telah merusak suasana perdamaian dengan saling berperang. Qais pun pergi ke Balkh untuk menghancurkan kuil mereka, hingga penduduk Balkh pun meminta perdamaian, dan itu disetujui oleh Qais. Saat penduduk Badghis dan Hirrah tahu apa yang terjadi kepada penduduk Balkh, kedua kota tersebut akhirnya meminta perdamaian lebih dulu sebelum diserang dengan syarat-syarat tertentu.
Selanjutnya, Muawiyah mengutus Ziyad bin Abihi menuju Irak, yang kemudian digantikan oleh anaknya, Ubaidullah. Di bawah pimpinan Ubaidullah, serangan pasukan Muslimin sampai ke Bukhara dan Samarkand. Serangan pasukan Muslimin pun berhenti di sini disebabkan oleh banyaknya pemberontakan di dunia Islam. Saat itu, wilayah Irak dan Khurasan telah disandarkan kepada Hajjaj bin Yusuf. Hajjaj pun lalu mempersiapkan para pemimpin untuk menyerang kota-kota ini, di antaranya: Mahlab bin Abi Shafrah, Yazid bin Mahlab (anaknya Mahlab), al-Mufadhal (saudara Hajjaj), dan Qutaibah.
Peperangan yang dipimpin Qutaibah terjadi pada permulaan masa khalifah Walid bin Abdul Malik sampai masa khalifah Sulaiman. Di bawah kepemimpinan Qutaibah inilah pasukan Muslimin berhasil menguasai kota-kota yang berada di wilayah Nahrain (dua Sungai: Sungai Jihun dan Sungai Syr-Darya). Qutaibah tidak hanya menaklukkan kota-kota tersebut, namun juga mengajak penduduknya memeluk Islam dan meninggalkan dari menyembah berhala.
Setelah berakhir peperangan di Nahrain yang berdekatan dengan China, Qutaibah pun berencana untuk menaklukkan negara tersebut. Kalau bukan karena kematian Walid dan munculnya perselisihan antara Sulaiman dengan Qutaibah, mungkin sejarah Islam di China akan berubah. Al-Thabari menceritakan bahwa Qutaibah mengirim surat kepada raja Negara China yang berisikan 3 pilihan: masuk Islam, membayar Jizyah atau berperang. Pada awalnya, sang raja menolaknya. Namun setelah tahu akan kebesaran dan kekuatan pasukan yang dibawa Qutaibah, sang raja memberikan hadiah kepada Qutaibah beberapa wilayah. Jikalau pada saat itu kekhalifahan tidak dipimpin oleh Sulaiman, maka ia akan terus menyerang Negara China. Selain beberapa tokoh penting yang telah disebutkan sebelumnya, ada dua orang tokoh lagi, yaitu Asad bin Abdullah dan Nashr bin Sayyar, keduanya menjabat sebagai gubernur Khurasan pada masa Hisyam bin Abdul Malik. Keduanya dikenal telah banyak melakukan penyerbuan di Negara ini.
b) Wilayah Sind
Negara Sind adalah negara yang dikelilingi oleh Sungai Sindus, memanjang dari arah barat mulai dari Iran sampai gunung Himalaya di sebelah timur laut, berbatasan dengan benua Amerika di sebelah selatan. Negara Sind merupakan bagian dari Negara India sebelum penaklukkan Islam. Adapun Negara India terdiri dari beberapa kerajaan, baik yang kuat maupun yang lemah. Namun, masing-masing kerajaan memiliki kewajiban dalam menghalau serangan dari luar, khususnya dari Iran, Turki, China yang dekat dengan benua Amerika. Sejak penaklukkan pasukan Muslimin terhadap Persia, mereka lalu melanjutkan ekspansi menuju Khurasan sampai ke negeri Sind.
C. Faktor-faktor Kesuksesan Ekspansi Wilayah
Di antara faktor-faktor yang melatarbelakangi ekspansi Islam ke luar Jazirah Arabia demikian cepat dan sukses adalah sebagai berikut :
1. Ajaran Islam untuk selalu berdakwah. Hal tersebut banyak diungkapkan dalam al-Qur’an dan hadits, bahwa mereka akan mendapatkan pahala melimpah.
2. Ajaran Islam untuk berjihad di ajalan Allah. Dengan tujuan berjihad dalam membela agama Allah, para pasukan Islam menjadi tidak takut akan mati karena jika matipun mereka mati dengan syahid.
3. Negara-negara yang menjadi target ekspansi Islam telah mengalami kelemahan, hingga memudahkan pasukan Islam untuk mengalahkan mereka.
4. Kebijakan Kerajaan Bizantium yang memaksakan aliran keagamaan membuat rakyat merasa kehilangan kemerdekaan untuk beragama.
5. Rakyat dibebani dengan pajak yang tinggi guna menutupi anggaran perang Kerajaan Bizantium dengan Kerajaan Per¬sia.
6. Kondisi rakyat yang tertindas memudahkan Islam untuk diterima sebagai agama dan penguasa alternatif yang diharapkan mampu membebaskan mereka.
7. Tradisi bangsa Arab yang gemar berperang yang lalu dijadikan mata pencaharian.
8. Islam tidak memaksakan agama kepada siapapun.
9. Tidak ada sikap fanatisme baik di kalangan pejabat tinggi Negara maupun di antara masyarakatnya.
10. Sistem kemiliteran pasukan Islam sudah semakin lengkap dan maju, terlebih orang-orang Barbar banyak yang masuk Islam.
11. Antara satu khalifah dengan khalifah lain tidak ada perselisihan yang menyebabkan terjadinya kudeta kekuasaan.
12. Bantuan militer dari luar Islam yang mana mereka memiliki tujuan yang sama untuk menaklukkan suatu Negara.
13. Harta hasil peperangan (ghanimah) digunakan untuk kepentingan pasukan Muslimin dan melengkapi persenjataan.

BAB III
PENUTUP

Bani Umayyah merupakan dinasti yang sarat dengan berbagai kemajuan di berbagai bidangnya tanpa menafikan adanya kekurangan yang dimiliki, termasuk bidang perpolitikan luar negeri, seperti ekspansi, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan. Adapun pada masa Bani Umayyah ini, kegiatan ekspansi didasarkan pada kewajiban agama untuk mendakwahkan ajaran Ilahi ke seluruh penjuru dunia.
A. Kesimpulan
1. Kronologis Ekspansi wilayah pada masa Bani Umayyah tidak lepas dari ekspansi periode sebelumnya yaitu masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Penyebab dan alasan yang paling menonjol dari ekspansi wilayah ini adalah Islamisai (penyebaran agama dan kekuasaan Islam) dan Arabisasi (Pengembangan peradaban yang berciri Arab)
2. Secara umum, penaklukan pemerintahan Bani Umayah meliputi tiga wilayah:
a. Melawan pasukan Romawi di Asia Kecil. Penaklukan ini sampai dengan pengepungan Konstatinopel dan beberapa kepulauan di Laut Tengah.
b. Wilayah Afrika Utara. Penaklukan ini sampai ke Samudra Atlantik dan menyeberang ke Gunung Thariq hingga ke Spanyol.
c. Wilayah Timur. Penaklukan ini sampai ke sebelah timur Irak, kemudian meluas ke wilayah Turkistan di utara, serta ke wilayah Sindh di bagian selatan.
3. Di antara faktor-faktor yang melatarbelakangi ekspansi Islam ke luar Jazirah Arabia demikian cepat dan sukses adalah sebagai berikut:
a. Ajaran Islam untuk selalu berdakwah. Hal tersebut banyak diungkapkan dalam al-Qur’an dan hadits, bahwa mereka akan mendapatkan pahala melimpah.
b. Ajaran Islam untuk berjihad di ajalan Allah. Dengan tujuan berjihad dalam membela agama Allah, para pasukan Islam menjadi tidak takut akan mati karena jika matipun mereka mati dengan syahid.
c. Negara-negara yang menjadi target ekspansi Islam telah mengalami kelemahan, hingga memudahkan pasukan Islam untuk mengalahkan mereka.
d. Kebijakan Kerajaan Bizantium yang memaksakan aliran keagamaan membuat rakyat merasa kehilangan kemerdekaan untuk beragama.
e. Kondisi rakyat yang tertindas memudahkan Islam untuk diterima sebagai agama dan penguasa alternatif yang diharapkan mampu membebaskan mereka.
f. Tradisi bangsa Arab yang gemar berperang yang lalu dijadikan mata pencaharian.
g. Harta hasil peperangan (ghanimah) digunakan untuk kepentingan pasukan Muslimin dan melengkapi persenjataan.

DAFTAR PUSTAKA

Al’Isy, Yusuf. Dinasti Umawiyah. Jakarta: Pustaka AlKautsar, 2007.
Amin, Samsul Munir. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah, 2018.
Nasution, Harun. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press, 2001.
Subchi, Imam. Sejarah Kebudayaan Islam. Semarang: PT/Karya Toha Putra, 2015.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Syalabi, Ahmad. Mausu’at al-Tarikh al-Islami wa al-Hadlarah al-Islamiyyah, Jilid 2. Kairo: Maktabah al-Nahdlah al-Mishriyyah, 1984.
Syalabi, Ahmad. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1993.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: Rajawali pers, 2014.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *