Haji Bersama Orang Malaysia

Haji Bersama Orang Malaysia

Pada saat sekarang ini, sebagian rakyat Indonesia merasa resah, sedih, dan bahkan sakit hati terhadap perlakuan Malaysia yang dianggap mengganggu perasaan yang paling dalam. Saya katakan sebagian, karena  tidak semua rakyat Indonesia mengikuti berita-berita tersebut. Bagi mereka yang tinggal di daerah-daerah yang belum terjamah oleh aliran listrik, sehingga belum terdapat televisi, atau tidak membaca koran, maka tidak akan tahu bahwa bangsanya diperlakukan tidak wajar.

  Selain itu, sekalipun mendengar berita dan mengetahui adanya perlakuan yang tidak wajar tersebut, ada pula sebagian  merasa takut atau setidaknya khawatir, kalau hubungan antara kedua negara ini semakin memburuk. Kekhawatiran itu disebabkan oleh kepentingannya masing-masing. Misalnya,  para pekerja di Malaysia, —- yang menurut informasi,  berjumlah hingga 2 juta dan tidak kurang dari 13 ribu pemuda Indonesia yang belajar di negeri itu, memerlukan  rasa aman.   Namun,  bagi warga Indonesia yang tidak memiliki kepentingan terhadap negeri itu, ——mendengar perlakuan Malaysia yang sedemikian menyakitkan hati tersebut, akan  menunggu komando, kapan perlakuan yang tidak baik itu  segera dibalas. Yang ada pada pikiran dan perasaan  mereka  ini, bahwa  harga diri bangsa harus dijaga, dibela, dan dipertahankan. Tidak boleh seorang pun, dan apalagi negara  dibiarkan  mengganggu kehormatan bangsa.   Sikap-sikap yang beraneka ragam  tersebut, semuanya  harus dijaga dan  dihargai. Bagi mereka yang berkepentingan terhadap kehidupan dan  keselamatannya, maupun mereka yang merasa tersinggung dan sakit hati atas dasar  kecintaan terhadap bangsa dan negerinya harus dijaga. Semua itu adalah resiko dari jumlah penduduk besar,  sehingga  memiliki aneka ragam kepentingan.   Menjaga kepentingan yang beraneka ragam seperti itu menjadikan pemimpin bangsa  tidak mudah dalam mengambil sikap. Sebagai seorang kepala negara  harus pandai berkalkulasi.  Terakhir, sikap  yang seharusnya diambil, adalah yang berhasil memenuhi kepentingan   semua pihak. Pada saat seperti ini, kepala negara  tidak  berada pada pilihan antara  menang atau kalah, benar atau salah, melainkan bagaimana agar semua telindungi.   Pemerintah selain berkewajiban menjaga harkat dan martabat bangsa dan negara, juga  bertanggung jawab melindungi seluruh warganya.  Dalam melindungi seluruh warganya itu, maka  ia dituntut untuk bersikap arif dan atau bijaksana. Nasib mereka yang berjumlah 2 juta  pekerja dan juga 13 pemuda yang sedang belajar di Malaysia, tidak boleh diabaikan.  Mereka  harus mendapatkan perlindungan. Belum lagi,  pertimbangan-pertimbangan sosial politik lainnya, misalnya tekait dengan keinginan  melakukan peran,  menjaga kedamaian dunia yang sudah menjadi tekatnya  sejak lama.     Tampaknya pertimbangan-pertimbangan itulah kiranya yang menjadikan Pidato Presiden dalam menyikapi  perilaku Malaysia akhir-akhir ini, —–oleh sementara warga masyarakat,  dianggap kurang jelas dan tegas,  sehingga mengecewakan. Tetapi semua itu bisa dipahami, manakala beban atau tuntutan kepadanya sedemikian luas, baik terkait  pikologis-ekonomis, sosial politik,  maupun lainnya, termasuk  masa depan bangsa secara keseluruhan. Pilihan-pilihan itu sedemikian banyak dan rumit, masing-masing   tidak ada yang sepi dari resiko.   Tentu dari sekian banyak pertimbangan itu, masih ada pertimbangan lain yang bersifat sederhana tetapi  penting . Yaitu misalnya, bagi mereka yang sebentar lagi menunaikan ibadah haji ——-bangsa Indonesia dan Malaysia, akan bertemu di tanah suci. Mereka akan bersama-sama thawwaf mengelilingi ka’bah, sai’, wukuf, melempar jumrah di Mina, dan juga bersama-sama shalat berjamaáh, baik tatkala di Makkah maupun di masjid Nabawi. Jenis ibadah ini sarat dengan pesan mulia, yaitu bahwa  persatuan dan persaudaraan  di antara umat Islam, agar  selalu dijaga sebaik-baiknya.        Biasanya semua orang yang sedang berada di tanah suci, akan melakukan jenis ibadah yang sama. Di tanah  suci itu mereka tidak boleh saling merendahkan, menghina, dan apalagi saling menyakiti. Jika larangan itu dilakukan, ——sekalipun sudah menguras tenaga dan biaya yang tidak sedikit, maka ibadahnya akan sia-sia. Tidak akan diraih haji mabrur.   Semua hal yang dilakukan orang,  tatkala berhaji di tanah suci, ialah mendapatkan haji mabrur dan  ridha dari Allah swt. Tujuan itu  akan berhasil diraih manakala jamaáh itu, ——dari manapun asalnya,  berhati sabar, ikhlas dan saling menjaga sillaturrahiem.  Oleh karena itu, semogalah krisis hubungan dua negara bertetangga ini segera selesai, hingga tatkala sebentar lagi, mereka  bersama-sama thawaf, sai, wukuf dan melempar jumrah,  merasa aman dan bisa saling tersenyum. Wallahu a’lam.  

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *