Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Hikmah Dari Berbuka Puasa Bersama Sopir Taksi

0

Beberapa hari yang lalu, saya ke Jakarta menghadiri undangan rapat dinas di kementerian Agama. Selesai dari kegiatan itu, untuk menuju ke airport mau pulang, —–sebagaimana biasa, saya naik taksi. Jalan-jalan di Jakarta ketika itu macet, karena saatnya orang-orang pulang kantor. Sopir taksi yang saya tumpangi sudah berusaha mencarikan jalan yang sekiranya lancar, tetapi di mana-mana tidak ada yang sepi. Akibatnya, rencana semula berbuka puasa di airport, terpaksa hanya berbuka dengan berbagi minum air putih dengan sopir di dalam taksi.

Semula saya tidak menyangka, sopir taksi juga berpuasa. Namun ternyata dalam perjalanan, dengan alat komunikasi yang dimiliki, ia menanyakan kepada temannya, tentang waktu berbuka puasa. Dari jauh ia mendapatkan informasi, bahwa saat itu sudah masuk waktu membatalkan puasa. Mendengar pembicaraan itu, saya menyakini bahwa sopir taksi ini berpuasa. Karena itu segera saya berikan air putih, yang baru saya beli dari seorang penjual di jalan yang sedang macet. Selama di perjalanan, saya bercakap-cakap dengannya tentang banyak hal agar tidak terasa terlalu lama di kendaraan. Namun ketika itu, saya tidak sedikitpun menanyakan, apakah ia puasa atau tidak. Saya tidak ingin mengganggu perasaan sopir taksi, jika misalnya ia harus menjawab tidak berpuasa. Tetapi secara tidak sengaja, saya tahu, ia juga berpuasa. Setelah berbuka puasa dengan minum air putih, ia menceritakan tentang pengalaman hidupnya selama di Jakarta yang tidak kurang dari 30 tahun dengan berbagai suka dan dukanya. Statusnya sebagai sopir taksi, ia jalani sejak tiga tahun lalu, yang sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan percetakan. Sebenarnya, bekerja di perusahaan percetakan, ia sudah merasa enak, karena telah dijalani selama puluhan tahun. Tetapi pekerjaan itu harus ditinggalkan, karena perusahaan tersebut bangkrut dan harus tutup. Cerita itu menarik bagi saya, sehingga saya menanyakan sebab-sebab, mengapa perusahaan besar tersebut sampai bangkrut. Rupanya ia juga tahu persis tentang kehidupan perusahaan di mana ia bertahun-tahun bekerja di situ. Ia katakan bahwa awal kemerosotan perusahaan itu setelah ditinggal mati oleh pemiliknya yang kemudian kepemimpinan perusahaan digantikan oleh anaknya. Rupanya anaknya yang mewarisi perusahaan tersebut, sekalipun oleh orang tuanya sudah dipersiapkan sejak lama, ternyata belum bisa meniru ayahnya, sehingga gagal. Padahal, ia oleh ayahnya pernah dikirim sekolah ke luar negeri dalam waktu lama untuk mempelajari tentang manajemen perusahaan percetakan. Strategi itu, semula dianggap cukup dan tepat. Namun pada kenyataannya, sejak perusahaan dipimpin oleh anaknya itu, bukannya maju, tetapi malah surut. Beberapa kantor dan bahkan peralatannya dijual. Itulah kemudian yang menjadikan para pegawainya harus berhenti. Sopir taksi tersebut rupanya juga telah belajar banyak dari peristiwa itu. Ia menjadi tahu bahwa dalam kehidupan ini tidak cukup dijalani dengan ilmu, tetapi seorang seharusnya juga memiliki pengalaman dan kearifan. Ia menambahkan bahwa memimpin perusahaan tidak cukup hanya berbekalkan ilmu dan gelar yang didapat dari luar negeri. Selain itu, pelajaran penting lainnya yang didapat dari majikannya ialah bahwa, kebahagiaan itu tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan harta yang melimpah, tetapi juga bagaimana harta itu harus disikapi secara benar. Menurut hitungan logika matematis, seorang yang sudah berbekal ilmu modern dari luar negeri serta warisan yang melimpah, mestinya hidupnya tidak akan kekurangan. Akan tetapi pada kenyataannya, pewaris perusahaan dengan harta yang melimpah tersebut masih bisa bangkrut, dan bahkan semua harta yang diwarisi dari orang tuanya habis dijual. Melihat kenyataan itu, mantan pegawai percetakan tersebut merasa masih untung. Sekalipun kemudian, ia hanya sebagai sopi taksi, tetapi dua di antara ke empat anaknya sudah lulus dari sekolah, bekerja dan berkeluarga. Anak nomor tiga, sekalipun baru lulus juga langsung memperoleh pekerjaan. Hanya anaknya terakhir yang masih kuliah dan tinggal bersamanya. Dari pembicaraan itu, saya perhatikan sopir taksi tersebut ingin mengungkapkan rasa syukurnya terhadap hidupnya yang selama ini dijalani. Seakan-akan ia ingin mengatakan bahwa sekalipun ia hanya sebagai seorang pegawai, yang gajinya hanya cukup untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari, ternyata berhasil mengantarkan anak-anaknya hingga dewasa dan mandiri. Menurut hitungan akal sehat, anak sopir taksi yang kelak hidupnya susah, apalagi dibading anak mantan majikannya. Tetapi ternyata, dunia berbalik. Justru anak mantan majikannya yang kurang beruntung, warisan yang sekian besar, habis tidak tersisa. Sedangkan anak sopir taksi, ——-mantan pegawainya, semuanya hidup sukses. Dalam pembicaraan itu, mantan karyawan percetakan yang sejak tiga tahun lalu mejadi sopir taksi, merasakan kebahagiaan. Selama ini, ia merasa bahwa dirinya telah menemukan keberuntungan hidup. Secara ekonomis hidupnya memang hanya pas-pasan, tetapi secara batin ia puas, telah berhasil mengantarkan putra-putrinya menjadi dewasa. Hidup ini menurut pandangannya, yang penting harus dijalani dengan sabar, ikhlas dan tawakkal. Rizki sekalipun kecil, yang terpenting adalah baik dan halal, cukup untuk meenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sebagai bekal beribadah, termasuk untuk menjalani puasa seperti ini. Memang, seringkali orang salah paham. Menganggap bahwa kehidupan orang klas bawah, seperti buruh atau sopir taksi, selalu kekurangan hingga merasa menderita. Padahal, bahwa sebenarnya di di kalangan orang kecil pun terdapat kebahagiaan dan juga perasaan sukses. Sebaliknya, mereka yang dikatakan sukses dan bergelimang dengan harta kekayaan yang melimpah, ternyata juga tidak sepi dari penderitaan yang mendalam. Buruh percetakan yang sekarang menjadi sopir taksi, ternyata lebih merasa sukses dibanding majikannya. Apalagi, ia juga memahami tentang arti kehidupan, bahwa apapun harus disyukuri. Akhirnya, dari berbuka bersama sopir taksi dengan air putih pun, di Bulan Puasa ini, saya mendapatkan hikmah yang sangat berharga. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Leave A Reply

Your email address will not be published.