IMAN, ISLAM, DAN IHSAN : TIGAPILAR PEMBENTUK KARAKTER UNGGUL

IMAN, ISLAM, DAN IHSAN : TIGAPILAR PEMBENTUK KARAKTER UNGGUL

BAB III

IMAN, ISLAM, DAN IHSAN : TIGAPILAR PEMBENTUK KARAKTER UNGGUL

  1. Pengertian iman, islam, dan ihsan
  2. Pengertian iman

Iman dapat diartikan percaya dan kepercayaan. Secara istilah iman adalah mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati, dan mlaksanakan dengan segala anggota badan. Tanda-tanda pembenaran iman yang teguh ialah mengerjakan sluruh aktifitas yang diekhendaki oleh pengakuan jiwa itu.Berkaitan dengan islam, iman berarti sikap mental seorang muslim yang mempercayai enam rukun iman, menerima hal itu sebagai kebenaran yang tidak diragukan, dan berperilaku serta berkata-kata sesuai dengan hal tersebut.Rukun iman merupakan bagian pokok dari ajaran ajaran islam. Kerangka iman yang mendsarai keimanan seorang muslim dalam ajaran islam berjumlah enam yaitu rukun iman itu.

  1. Pengertian islam

Islam adalah nama agama wahyu yang diturunkan Allah swt kepada rasul-rasulNya yang berisi wahyu Allah untuk dismapaikan kepada manusia. Agama islam berisi aturan-aturan Allah yang mengtur hubungan manusi dengan Allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam dan dibawa sejak nabi adam a.s dampai Nabi Muhammad SAW. Agma islam yang dturnkan Allah kepada semua nabi mengajarka aqidah yang sama, yaitu tauhid atau mengesakan Allah swt. Perbedaannya terletak pada syariatnya yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kecerdasan umat pada waktu itu.

Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad adalah wahyu Allah terakhir yang diturunkan kepada manusia. Karena itu agama ini sudah sempurna. Agama islam yang diturnkan kepada nabi-nabi sbelum nabi Muhammad SAW tidak selngkap wahyu yang diturnkan kepda nabi Muhammad SAW, tetapi disesuaikan dengan tingkat kemempuan manusia pada waktu itu. Oleh karenanya wahyu yang turun pada saat itu bersifat local untuk satu atau dua suku bangsa saja, misalnya wahyu yang turun kepada nabi Isa a.s untuk bani Israel dan sebagainya.

  1. Pengertian ihsan

Ihsan berate apabila seseorang beribadah kepada Allah seola-olah ia melihat Nya. Jika ia tidak mampu melihat Nya maka ia ahrus yakin bahwa Allah melihat perbuatnnya. Sebagaimana dalam hadis berikut :

قَالَفَأَخْبِرْنِىعَنِالإِحْسَانِ. قَالَ« أَنْتَعْبُدَاللَّهَكَأَنَّكَتَرَاهُفَإِنْلَمْتَكُنْتَرَاهُفَإِنَّهُيَرَاكَ»

“’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim 102).[3]

 

 

  1. Proses Terbentuknya Iman dan Upaya Meningkatkannya

Iman terbentuk dalam diri manusia diawali dari fitrah tauhid (menyembah Allah) yang Allah tanamkan dalam diri manusia sejak ia masih dalam rahim ibunya dan akan tumbuh dalam diri manusia jika lingkungan keluarga/sosialnya adalah islam. Daam kondisi semacam inilah Allah kemudian menurnkan hidayah kepada dia untuk beriman.

  1. Fitrah ilahi

Hati sangat brperan dalam mewujudkan iman dlam diri seseorng. Dalam dangkalnya, tebal tipisnya, teguh tidknya iman sangat bergantung pada hati manusia yang sifatnya berubah-ubah. Meskipun begitu, Allah sesungguhnya telah memberikan potensi pada setiap manusi untuk bertuhan dan mengabdi hanya kepada Allah, potensi ini disemaikan Allah kedalam jiwa manusia sejak masih berada di alam azali.

Dalam Q.S al-A’raf : 172 diterangkan :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

  1. Hidayah

Diantara semua sebab terbentuknya iman, hidayah adalah sebab utama, karena sesorang tidak dapat membuat orang lain briman tanpa hidayah dari Allah swt. Hidayah merupakan kehendak Allah semata. Menurut Muhammad Abduh, hidayah adlah petunjuk halus yang membawa atau menyampaikan kepada apa yang dituju  atau diingini. Petunjuk akal diberikan kepada semua manusia secra umum, demikian pula hidayah agama yang bersifat umum. Allah menurnkan agama Nya kepada manusia agar dianut oleh mereka berdasarkan ikhtiar mereka sendri. Setiap manusia diberi kebebasan memilih agama islam sebagai agamnya, sebagaimana difirmankan Allah dalam Q.S.Al-Kahfi :29:

لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚوَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ ۚبِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءَتْ مُرْتَفَقًا

  1. Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

 

 

Karena diberi kebebasan itulah, kemungkinan bagi setiap manusia untuk menjadi muslim adalah lima puluh persen, apalagi amnesia yang ditakdirkan lahir dan tumbuh di lingkungan nono muslim. Peluang dia untuk menjadi muslim sangat tipis. Oleh sebab itu, diperlukan hidayah lain dari Allah yang disebut hidayah taufiq. Dengan hidayah taufiq, Allah lansgung member petunjuk kepada hambaNya sehingga dia selalu berjalan di atas jalan yang lurus. Denga petunjuk ini, dimungkinkan orng yang lahir dalam keluarga non muslim mnjadi ebriman kepada Allah. Bahkan orang yang sudah muslim pun selalu memerlukan hidayah ini agar tetap selmat dalam perjalanan hidupnya. Hidayah ini yang selalu diminta oleh setiap muslim dalam shalatnya.

 

  1. Ikhtiar insani

Setiap muslim hendaknya mengetahui cara-cara meningkatkan iman, dan berupaya mempraktekannya, teruatam saat imannya sedang turun.

  1. Penciptaan lingkungan yang kondusif

Lingkungan dalam konteks pendidikan memeiliki kekuatan yang luar biasa dalam memebentuk keyakinan dan pandangan hidup seseorang. Manusi yang dididik di lingkungan keluarga dan masyarakat islam, maka fitraj tauhidnya akan tumbuh dan berkembang, sehingga jadilah ia seorang muslim, dan sebaliknya. Meskipun begitu, hal diatas tidak berlaku bial Allah mempunyai kehendak lain. Tatkala Allah menurunkan hidayah pada orang tersebut, mka apapun dan bagaimanapun lingkunganya, ia pasti menjadi seorang muslim. Nmun, karena hidyah merupaan rahasia Allah, maka setiap muslim berkewajiban menyediakan lignkungan yang kondusif demi tumbuh dan berkembangnya fitrah tauhid.

  1. Dzikir, Tafakkur, dan Tadabbur

Orang yang beriman adalah orang yang hatinya selalu dekat dengan Allah yaitu dengan mengingat Allah SWT melalui zikir. Berzikir dapat kita lakukan pula dengan merenung (tadabbur) dan memikirkn (tafakkur) ciptaan Allah, memikirkan proses kejadia alam dan segala peristiwa yang terjadi di dlamnya. Dalam Al-quran, Allah SWT menceritakan proses pencarian Nabi Ibrahim AS dalam menemukan Tuhan melalui perenungan terhadap alam sehingg beliau sampai pada taraf keimanan yang mantap.

  1. Ingat Mati

Salah satu cara untuk mengingat amti adalah bertakziyah kepada orang mati. Dalam takziyah, seorang muslim dituntut untuk mendoakan orang yang mati, menggembirakannya, dan mengurus orang yang mati. Cara lain adalah dengan ziarah kubur, karena dengan melaksankan aktifitas ini seseorang menjadi sadar bahwa cepat atau lambat diapun akan mati sperti orang yang ada di dalam kubur, yang hanya ditemani oleh amalnya di dunia. Bila tidak sempat berziarah, maka saat lewat di kuburan, seorang muslim dianjurkan untuk mengucapkan salam kepaa ahli kubur muslim yang telah mendahului mereka.

  1. Ibadah : Manifestasi Iman, Islam, dan Ihsan
  2. Hakikat dan manfaat ibadah
  3. Hakikat ibadah

Ibadah adalah bentuk penghambaan diri kepada Allah yang bukan hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan tuhan (hablun minallah)tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya (hablun minannas), bahkan juga hubungan manusia dengan semua makhluk.As-Siddieqy mengartikan ibadah sebagai” nama yang meliputi segala kegiatan yang disukai dan diridhoi oelh allah, abik berupa perkataan atau perbuatan, secara terang-terangan ataupun tersembunyi.” Al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya Ibadah ialah : suatu pengertian yang mengumpulkan kesempurnaan cinta, tunduk, dan takut kepada Allah”, takut karena kalau pengabdiannya kepada Allah yang didadasarkan cinta yang sempurna kepadaNya itu ditolak dan diterima oleh Nya.

  1. Manfaat ibadah

Ibadah sebagai puupk yang dapat menumbuhsuburkan beinh iman. Seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam Q.S Al-Hijr:99 berikut :

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).

Diantara fungsi pokok ibadah bagi manusia ialah :

  1. Menjaga keselamatan akidah
  2. Menjaga agar hubungan antara mnusia dengan Tuhan itu brjalan baik dan abadi. Terjaganya hubungan ini mendatangkan ketenangan pada orang yang melakukan ibadah. Sebagaimana diterangkan dlam Q.S. Al-Fath :4:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

  1. Mendispilinkan sikap dan perilaku agar etis dan religious. Sikap etis didiasarkan pada paradigm social, sedang sikap religious didasarkan pada paradigm agama.

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan :

  1. Bagaimana pandangan islam tentang istighosah? (Airin)
  2. Apakah “slametan” termasuk bid’ah? (Dany Tri)
  3. Bagaimana menurut kelompok Anda tentang kegiatan NU? (Widya)

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *