IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH

Pendidikan Agama Islam

yang dibimbing oleh Moch Wahib Dariyadi, M.Pd

OLEH :

TALITHA ISLAMEY AJINING TYAS (140413600037)

WELLA PUSPITA NOVIANI (140413600036)

YUSNIA IRA PRAMISDHA (100413606000)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS EKONOMI

JURUSAN MANAJEMEN

PROGRAM STUDY S1 MANAJEMEN

SEPTEMBER 2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat serta hidayatNya sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah dengan judul “Iman, Islam, dan Ihsan”. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.

Dalam makalah ini tentunya tak lepas dari bantuan banyak pihak, oleh karena itu ucapan terimakasih untuk Bapak Moch Wahib Dariyadi, M.Pd yang telah membimbing kami dalam proses belajar dan terimakasih pula untuk rekan-rekan yang telah membangtu menyelesaikan makalah ini.

Seperti kata pepatah, “Tak ada gading yang tak retak” maka demikian pula lah adanya makalah ini, penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran yang membangun penulis butuhkan demi sempurnanya makalah ini. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Malang, September 2014

  1. Pengertian Iman, Islam, dan Ihsan.
  1. Pengertian Iman

Pengertian Iman dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar (gerund) dari fi’il madli (verb) amana, yang berarti percaya (yakin). Iman juga dapat diartikan dengan percaya dan kepercayaan. Percaya, menggambarkan tentang sikap mental atau jiwa dari seseorang yang mempercayai atau meyakini, sedangkan kepercayaan: menunjuk pada sesuatu yang dipercayai.

Pengertian iman menurut istilah adalah mengucapkan dengan lisan (iqrar lisany), membenarkan dengan hati (tashdiq qalby), dan melaksanakan dengan segala anggota badan (‘amal rukny). Pembenaran dalam iman berarti tashdiq (pembenaran) yang teguh, disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tandanya ialah mengerjakan seluruh aktifitas yang dikehendaki oleh pengakuan jiwa itu.

Jika dikaitkan dengan Islam, iman berarti sikap mental seorang Muslim yang mempercayai pokok-pokok kepercayaan yang enam (rukun iman), menerima hal itu sebagai kebenaran yang tidak diragukan, dan berperilaku serta berkata-kata sesuai dengan hal tersebut.

Rukun iman merupakan bagian dari agama Islam yang di atasnya dibina ajaran-ajaran Islam. Kerangka iman yang mendasari keimanan seorang Muslim dalam ajaran Islam berjumlah enam.

  1. Pengertian Islam

Kata Islam menurut bahasa berasal dari kata “aslama” yang berarti patuh, tunduk, berserah diri. Agama Islam berisi aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Islam dalam pengertian ini adalah agama yang dibawa oleh para Rasul Allah sejak nabi Adam a.s sampai Nabi Muhammad SAW. Sehingga kita dianjurkan memahami Islam dari sisi manusia sebagai yang sejak dalam kandungan sudah menyatakan kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhan, sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam surat :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,
(QS: Al-A’raf Ayat: 172)

Agama Islam yang diturunkan Allah kepada semua nabi mengajarkan aqidah yang sama, yaitu tauhid atau mengesakan Allah SWT. Adapun perbedaan ajaran di anatara wahyu yang diterima oleh nabi-nabi Allah tersebut terletak pada syariatnya yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan kecerdasan umat pada waktu itu.

Islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad adalah wahyu Allah terakhir yang diturunkan kepada manusia. Karena itu agama ini sudah sangat sempurna dan senantiasa sesuai dengan tingkat perkembangan manusia sejak masa diturunkannya empat belas abad yang lalu hingga akhir peradaban manusia yang ditutup dengan hari kiamat.

Agama Islam yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW tidak selengkap wahyu yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, tetapi disesuaikan dengan tingkat kemampuan manusia pada waktu itu. Oleh karenanya wahyu yang turun pada saat itu bersifat lokal untuk satu atau dua suku bangsa saja, misalnya wahyu yang turun kepada nabi Isa a.s untuk Bani Israil dan sebagainya.

  1. Pengertian Ihsan

Secara etimologi Ihsan berasal dari ahsana, yuhsinu, ihsanan yang berarti berbuat baik. Secara terminologis, Ihsan berarti apabila seseorang beribadah kepada Allah seolah-olah ia melihatnya-Nya. Jika ia tidak mampu melihatnya-Nya, maka ia harus yakin bahwa Allah melihat perbuatannya.

Dalam Al-Quran, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya.

Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)


Tapi mencari, melalui apa yang Allah telah berikan kepada Anda, rumah akhirat; dan [belum], jangan lupa share dari dunia. Dan berbuat baik karena Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan keinginan tidak korupsi di negeri itu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan. “(Q.S. Al-Qashash:77)

Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan….”
(QS An-Nahl: 90)

Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…”(Q.S. Al-Isra’:7)

Dan [ingat] ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, [memerintahkan kepada mereka], “Jangan menyembah selain Allah, dan untuk orang tua yang baik dan kerabat, anak yatim, dan orang miskin dan berbicara kepada orang-orang yang baik [kata. ] dan mendirikan shalat dan memberikan zakat. “Kemudian Anda berpaling, kecuali beberapa dari Anda, dan Anda menolak.(Q.S. Al-Baqarah : 83)

Dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu….” (QS. An-Nisaa`: 36)

Dari sini dapat disimpulkan betapa mulia dan istimewanya ihsan dalam Al-Qur’an.

  1. Proses Terbentuknya Iman Dan Upaya Meningkatkannya.

Iman terbentuknya dalam diri manusia di awali dari tauhid ( mneyembah Allah) yang Allah tanamkan dalam diri manusia sejak dia masi dalam rahim ibunya. Umumnya, fitrah ini akan tumbuh dalam diri manusia manakala lingkungan keluarga/sosialnya adalah Islam. Dalam kondisi semacam inilah Allah kemudian menurunkan hidayah kepada dia untuk beriman. Berikut ini penjelasannya

  1. Fitrah Ilahi

Hati sangat berperan dalam mewujudkan iman dalam diri seseorang. Dalam-dangkalnya, tebal-tipisnya, teguh-tidaknya iman sangat tergantung pada hati manusia yang sifatnya berubah-ubah. Maksud fitrah Allah disini adalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Fitrah ini selamanya ada pada diri setiap manusia dan tidak mengalami perubahan. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka tidak beragama tauhid adalah karena pengaruh lingkungan.

  1. Hidayah

Di antara semua sebab terbentuknya iman, hidayah adalah sebab utama, karena seseorang tidak dapat membuat orang lain beriman tanpa memberikan hidayah dari Allah SWT. Bahkan Rasul Allah SAW tidak dapat memberikan hidayah ini kepada orang yang mencintainya. Hidayah merupakan kehendak (masyi’ah) Allah semata.

Kata hidayah dalam bahasa Arab berarti petunjuk. Ia dipandankan artinya dengan kata hudan, dilalah, atau thariq. Menurut Muhammad Abduh, hidayah adalah “petunjuk halus yang membawa atau menyampaikan kepada apa yang dituju atau diingini”Ada 5 macam hidayah yang dianugerahkan Allah kepada manusia, yaitu:

  1. Hidayah al-wijdan al-fihri (petunjuk insting dan intuisis)
  2. Hidayah al-hawas (petunjuk inderawi)
  3. Hidayah al-‘aql (petunjuk akal)
  4. Hidayah al-din (petunjuk agama)
  5. Hidayah al-taufiq (petunjuk khusus)

Pada binatang, Allah SWT hanya memberikan dua hidayah yang pertama, dan kedua. Sedangkan hidayah yang lain diberikan kepada manusia. Petunjuk akal diberikan kepada semua manusia secara umum, demikian pula dengan hidayah agama yang bersifat umum. Allah menurunkan agama-Nya kepada manusia agar dianut oleh mereka berdasarkan ikhtiar mereka sendiri. Setiap manusia diberi kebebasan memilih agama Islam sebagai agamanya.

Karena diberi kebebasan itulah, kemungkinan bagi setiap manusia untuk menjadi Muslim adalah lima puluh persen, apalagi manusia yang ditakdirkan lahir dan tumbuh di lingkungan non Muslim. Peluang dia untuk untuk menjadi Muslim sangat tipis. Oleh sebab itu, diperlukan hidayah lain dari Allah yang disebut hidayah taufiq.

Terkait dengan terbentuknya iman, dari kelima hidayah yang sudah disebutkan diatas, hidayah taufiq adalah yang terpenting.Dengan hidayah ini, Allah langsung memberi petunjuk kepada hamba-Nya sehingga dia selalu berjalan di atas jalan yang lurus.

  1. Ikhtiar Insani

Iman yang ada dalam diri setiap muslim bersifat tidak tetap, kadang kuat kadang lemah, suatu saat turun, dalam kesempatan lain naik. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya mengetahu cara-cara meningkatkan iman, dan berupaya mempraktekannya, terutama saat imannya sedang turun. Hal ini agar dirinya punya kesempatan besar meninggalkan dunia dalam kedaaan membawa iman atau khusnul khatimah. Cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan iman:

  1. Penciptaan lingkungan sosial yang kondusif

Meskipun setiap manusia sebenarnya mengakui keesaan Allah (tauhid), sebab dalam diri mereka terdapat potensi tauhid tersebut hanya akan menjadi kenyataan bila diiringi dengan penyedian lingkungan yang kondusif guna tumbuh dan berkembang potensi tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan, dalam konteks ini pendidikan, memiliki kekuatan yang luar biasa dalam membentuk keyakinan dan pandangan hidup seseorang, manusia yang dididik dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat Islam, maka fitrah tauhidnya akan tumbuh berkembang sehingga jadilah ia seorang muslim dan begitu juga sebaliknya. Meskipun begitu, hal tersebut tidak berlaku bila Allah setelah tiba mempunyai kehendak lain.Tatkala Allah menurunkan hidayah pada orang tersebut, maka apapun dan bagaimanapun lingkungannya, ia pasti menjadi seorang muslim. Namun karena hidayah merupakan rahasia Allah, maka setiap muslim berkewajiban menyediakan lingkungan yang kondusif demi tumbuh dan berkembang fitrah tauhid, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Sehingga dirinya, keluarga, dan tetangganya tetap menjadi seorang muslim, bahkan orang beragama lainpun akan tertarik dan menjadi muslim pula,

  1. Dzikir, Tafakkur dan Tadabbur

Mengingat nama Allah, menghadirkan asma Allah dalam hati setiap waktu akan membawa efek yang sangat besar terhadap kedalaman dan kemantapan iman, karena orang yang berdzikir akan selalu dekat dengan Tuhan sehingga segala perilaku dan perbuatannya selalu memperoleh pancaran nur dari Tuhan.

Berdzikir dapat dilakukan pula dengan merenung dan memikirkan ciptaan Allah, memikirkan proses kejadian alam dan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya. Imkan dapat terbentuk ketika manusia memikirkan dengan sungguh-sungguh dan mendalalam semua realitas yang ada di alam semesta. Dengan proses ini akan tergambar di hadapannya keagungan dan kehebatan Al-Khaliq yang menciptakan dan mengatur semuanya. Dalam Al-Qur’an Allah SWT menceritakan proses pencarian Nabi Ibrahim AS dalam menemukan Tuhan melalui perenungan terhadap alam sehingga beliau sampai pada taraf keimanan yang mantap.

  1. Ingat Mati

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mati. Mati akan dirasakan oleh manusia setelah tiba saatnya. Tidak peduli apakah ia masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa apa lagi orang tua. Itulah misteri kematian yang sering dilupakan namun juga sangat ditakuti manusia.

Salah satu cara mengingat mati adalah bertakziyah kepada orang yang mati. Cara lainnya bisa dilakukan dengan ziarah kubur. Hal itu sangat dianjurkan dalam Islam, karena dengan melkasanakan aktifitas ini seseorang menjadi sadar bahwa cepat atau lambat diapun akan mati seperti orang yang ada di dalam kubur, yang hanya ditemani oleh amalnya di dunia.

  1. Ibadah: Manifestasi Iman, Islam Dan Ihsan
  1. Hakikat dan Manfaat Ibadah
  1. Hakikat ibadah

Biasanya orang memahami “ibadah” sebagai aktivitas ritual shalat, berdoa, zakat, puasa, haji dan semacamnya. Ibadah difahami sedemikian sempit sehingga terbatas hanya dalam bentuk hablun minallah atau hubungan vertikal antara hamba dalam Allah saja.

Ibadah adalah bentuk penghambaan diri kepada Allah yang bukan hanya berkaitan dengan hubungan manusia (hamba) dengan Tuhan (hablun minallah) tetapi juga hubungan manusia dengan sesamanya (hablun minannas), bahkan juga hubungan manusia dengan semua makhluk (mu’amalah ma’al khalqi)

Cakupan ibadah itu sangat luas sekali, meliputi segala aspek, gerak dan kegiatan hidup manusia. Bahkan di dalam sebuah hadis diterangkan, bahwa membuang duri dari tengah jalan (agar tidak mengganggu orang berjalan) adalah ibadah

  1. Manfaat ibadah

Ibadah berfungsi sebagai pupuk yang dapat menumbuh suburkan benih iman. Allah menghendaki seluruh hamba-Nya secara terus menerus ,sampai datang kematian untuk beribadah kepada-Nya adalah semata-mata untuk kepentingan dan kebaikan hidup hamba sendiri. Fungsi-fungsi pokok ibadah bagi manusia adalah:

  1. Menjaga keselamatan akidah
  2. Menjaga agar hubungan antara manusia dengan Tuhan itu berjalan dengan baik dan abadi
  3. Mendisiplinkan sikap dan perilaku agar etis dan religius
  1. Macam-macam Ibadah

Lazimnya, ibadah dibagi menjadi dua, yaitu ibadah mahdhah (ibadah ritual) dan ibadah hairu mahdhah (ibadah sosial). Ibadah ritual adalah ibadah yang terangkum di dalam rukun Islam yang meliputi shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain. Ibadah sosial adalah perbuatan baik yang dilakukan orang mukallaf dalam rangka melaksanakan perintah Allah, seperti beebakti kepada orang tua, memberi nafkah kepada keluarga, berbuat baik kepada tetangga, menyantuni fakir miskin, dan lain-lain

Sekecil apapun kezaliman yang diperbuat seseorang kepada orang lain akan dimintai pertanggung jawabannya.

Ibadah dengan segala ragamnya merupakan bentuk penghambaan diri kepada Allah, baik yang berdimensi vertikal maupun horisontal, oleh para ulama dikelompokkan menjadi 2 macam:

  1. Ibadah Khusus (Ibadah Mahdhah)

Yaitu ibadah yang pelaksanaannya telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Contoh: sholat, zakat, puasa, haji, adzan, berdoa, merawat jenazah, i’tikaf dan lain-lain. Dalam ibadah ini tidak boleh menambah dan menguri tata caranya agar terhindar dari kesesatan. Melakukan

Dalam ibadah khusus ini, para ulama menetapkan kaidah: .”semua tidak boleh dilakukan, kecuali yang diperintahkan Allah atau dicontohkan rasul-Nya.” Melakukan yang tidak diperintahkan atau dicontohkan dalam ibadah ini disebut dengan bid’ah dhalalah (sesat)

Contoh: shalat subuh dilakukan 4 rakaat, beribadah haji tidak ke Mekah, adzan dan shalat dengan bahasa Indonesia, dll.

Faktor-faktor penyebab seseorang melakukan bid’ah dalam ibadah khusus ini tidak selamanya karena kebodohan atau ketidak tahuan dan kesalahan informasi yang diterimanya, sifat malas dalam melakukan ibadah, pengaruh tradisi dan adat yang ditinggalkan oleh leluhur.

Contoh bid’ah hasanah antara lain:

  1. Dua kali adzan dalam shalat jum’at
  2. Shalat tarawih berjamaah sebulan Ramdhan penuh dengan 20 rakaat dan witir 3 rakaat, sedangkan Nabi SAW shalat tarawih hanya 8 rakaat disertai witir 3 rakaat
  3. Membuka kitab suci Al-Qur’an yang diprakarsai oleh Khalifah Abu Bakar kemudian disempurnakan oleh Khalifah Usman. Padahal Nabi SAW tidak pernah melakukan, palagi memerintahkannya

Ibadah mahdhah dapat dibedakan antara yang bersifat badaniyah (fisik) dan mualiyah (harta):

  1. Bersifat badaniyah: bersuci, istinja’, adzan, iqamah, i’tikaf, doa, shalawat, tasbih, istighfar, umrah, khitan, pengurusan jenazah, dll.
  2. Bersifat maliyah: qurban, aqiqah, al-hadyu, sedekah, wakaf, fidyah, hibah, dll.
  1. Ibadah Umum (Ghair Mahdhah)

Yaitu ibadah yang jenis dan macamnya tidak ditentukan, baik oleh Al-Quran atau Sunnah Nabi SAW, berupa perbuatan apa saja yang dilakukan oleh seseorang yang dibenarkan oleh agama. Dalam ibadah ini berlaku kaidah: “Semua boleh dilakukan, kecuali yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Ibadah umum ini lebih berkaitan dengan semua kegiatan manusia, yang dalam terminologi ilmu fikih dikenal dengan muamalat. Dengan sifat muamalat seperti ini, maka syariat Islam dapat terus menerus memberikan dasar spiritual bagi umat Islam dalam menyongsong setiap perubahan yang terjadi di masyarakat, terutama di bidang ekonomi, politik, budaya dan sejenisnya.

Sebagai ibadah yang bersifat umum, cakupan ibadah ghairu mahdhah cukup luas, antara lain berkaitan dengan:

  1. Hukum Keluarga
  2. Hukum Perdata
  3. Hukum Pidana
  4. Hukum Acara
  5. Hukum Perundang-undangan
  6. Hukum Kenegaraan
  7. Hukum Ekonomi Keuangan
  1. Syarat diterimanya Ibadah

Agar semua ibadah yang ditujukan kepada Allah tersebut benar dan bernilai sebagai amal ibadah yang diterima oleh-Nya, disyaratkan memenuhi 2 hal sebagai berikut:

  1. Dilakukan dengan niat yang ikhlas karena Allah semata.
  2. Dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah dan contoh Rosul-Nya
  1. Shalat: Ibadah Utama dan Istimewanya

Shalat adalah ibadah yang sangat penting bagi umat Islam, sekaligus inti dari semua ibadah. Keistimewaan dan kelebihan shalat adalah:

  1. Shalat adalah ibadah badaniyah yang pertama kali diwajibkan oleh Allah
  2. Perintah shalat (lima waktu) diwahyukan di luar planet bumi, yaitu di hadirat Allah Yang Maha Tinggi, langsung tanpa melalui perantara malaikat Jibril
  3. Shalat adalah tiang agama
  4. Dengan shalat seseorang dapat terhindar dari perbuatan jahat
  5. Shalat adalah ibadah yang paling keras perintahnya
  6. Shalat adalah amal perbuatan manusia yang pertama kali diperhitungkan oleh Allah
  7. Shalat adalah wasiat terakhir semua nabikepada umatnya
  8. Shalat adalah saat yang paling dekat antara hamba dengan Allah
  9. Shalat adalah media untuk memohon pertolongan kepada Allah
  10. Shalat adalah wujud rasa syukur manusia kepada Allah
  11. Shalat menjadi syarat pertama dari kebahagiaan orang-orang beriman

Lampiran

Wella puspita noviani

(140413600037)

Yusnia Ira Pramisdha

(100413606000)

Talitha Islamey Ajining Tyas

(140413600037)

Daftar Pustaka

Depatemen Agama RI. 1994. “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Semarang: PT K.Grafindo.

http://serbamakalah.blogspot.com/2013/02/iman-islam-ihsan.html

Tim Dosen Pendidikan Agama Islam.2014. Pendidikan Agama Islam Transformatif Membentuk Pribadi Berkarakter.Malang : Universitas Negeri Malang.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *