Ketika Pemimpin Melakukan Kesalahan Fatal

Ketika Pemimpin Melakukan Kesalahan Fatal

Sebisa-bisa pemimpin itu tidak melakukan kesalahan. Apalagi kesalahan yang diperbuat itu nyata-nyata disengaja. Pemimpin yang melakukan kesalahan, maka peran kepemimpinannya tidak akan efektif. Sebab  seorang pemimpin seharusnya melakukan peran-peran keteladanan, contoh, atau uswah hasanah.

  Pemimpin yang melakukan kesalahan, maka institusi,  lembaga atau organisasi yang dipimpinnya tidak akan kokoh. Mereka yang dipimpin tidak akan sepenuhnya menganggap kepemimpinannya serius.  Mereka yang dipimpin, bisa jadi  juga akan melakukan kesalahan yang lebih fatal. Selain itu, norma-norma institusi atau kelembagaan yang seharusnya dijadikan pegangan tidak akan dihiraukan lagi.     Selanjutnya, untuk menjaga nilai-nilai dan norma-norma,  maka pemimpin harus berwibawa.  Kewibawaan akan lahir dari orang yang dipandang konsisten berpegang terhadap norma-norma lembaga yang dipimpinnya.  Manakala pemimpin sendiri banyak  melakukan kesalahan, maka di hadapan mereka yang dipimpin, ia tidak akan dihargai lagi.  Orang akan menghargai dan menghormati pemimpinnya, sepanjang mereka mengetahui,   bahwa  ia memang benar-benar patut dicontoh atau ditauladani.   Pemimpin seharusnya  adalah bagaikan peraturan yang tampil dalam perilaku kehidupan seseorang sehari-hari. Atau, pemimpin adalah peraturan dalam bentuknya sebagai sosok manusia yang hidup. Dalam hazanah Islam, dinyatakan bahwa akhlak nabi adalah al Qurán.  Maka,  perilaku sang pemimpin hendaknya menjadi buku yang pada setiap saat  bisa dibaca oleh mereka yang dipimpin. Oleh karena itu, jika seorang pemimpin melakukan kesalahan, maka tidak saja kewibawaannya  hilang, tetapi juga sama halnya peraturan, norma-norma atau nilai-nilai  tidak bisa dipegangi lagi.   Oleh karena itu, manakala pemimpin melakukan kesalahan, maka harus dapat dipertanggung-jawabkan. Kesalahan yang dilakukan harus bisa dicarikan dasar pembenarnya. Diperlukan  reasoning terhadap perilaku yang dipahami salah oleh mereka yang dipimpin itu. Mungkin apa yang  dianggap salah,  sebenarnya hanya karena tindakan itu belum dipahami oleh semuanya. Sebab, pemimpin harus memiliki perspektif yang lebih luas, tidak sebagaimana mereka yang dipimpinnya. Itulah sebabnya, apa yang dilakukan seorang pemimpin, semula seolah-olah salah, namun pada akhirnya dipahami oleh masyarakat yang dipimpinnya.        Orang tua sebagai pemimpin dan sekaligus  pendidik bagi keluarga dan anak-anaknya, tatkala banyak melakukan ikesalahan, maka kewibawaannya akan hilang. Orang tua yang demikian itu menjadikan dirinya tidak akan ditaati dan tidak dijadikan reference lagi oleh  keluarganya. Perintahnya tidak akan diikuti, dan bahkan akan dilawan oleh anggota keluarga dan anak-anaknya. Keluarga itu akan kacau, tidak memiliki norma,  dan nilai-nilai yang seharusnya dipegangi bersama.     Dalam kasus yang lebih luas dan besar, maka seharusnya  para pemimpin bangsa,  tidak boleh melakukan kesalahan, sekecil apapun. Pemimpin harus berpegang pada aturan, norma-norma, nilai-nilai, kepatutan, loyalitas,dan kecintaan sepenuhnya terhadap  lembaga atau institusi  yang dipimpinnya. Ketulusan atau integritas harus berhasil ditunjukkan sepenuhnya kepada siapapun.   Dalam soal kepemimpinan, akhir-akhir ini muncul  fenomena yang sangat pelik dan dilematis yang di hadapi bangsa ini. Banyak para pejabat mulai dari kepala desa atau lurah, camat, bupati atau wali kota, bupati gubernur, dan bahkan menteri atau mantan menteri dipandang melakukan kesalahan, yaitu korupsi dan kemudian diadili dan dihukum.  Fenomena itu menjadikan  masyarakat  sangat kecewa, karena merasa bahwa ternyata selama ini telah dipimpin oleh orang-orang yang sebenarnya tidak patut atau tidak memiliki karakter, integritas, dan ketulusan. Masyarakat  sebagai akibatnya  kehilangan anutan, contoh,  atau uswah hasanah.   Dampak dari kondisi itu cukup luas. Pemimpin menjadi kehilanan kewibawaan. Mereka kemudian oleh rakyat hanya dianggap sebagai pegawai, petugas, atau orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan, ——-ekonomi dan atau kehormatan,   dari jabatannya itu.  Akibatnya, mereka tidak lagi menyandang kewibawaan sebagai  sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Selain itu,  pemimpin sehari-hari  dikritik, diolok-olok, dan bahkan juga dihina.  Seolah-olah pemimpin  menjadi tidak ada benarnya.  Keputusan apa saja yang diambil,  selalu mendapatkan kecaman.   Kritik dan kecaman itu akan terjadi di mana saja, tatkala pemimpin dianggap melakukan kesalahan. Oleh karena itu,  sangat delematis. Pada satu sisi kebenaran harus ditegakkan, sementara   pemimpin tidak boleh melakukan kesalahan, apalagi  kesalahan itu nyata-nyata sengaja dilakukan. Sedemikian pentingnya pemimpin harus tampil benar, maka umpama saja harus melakukan kesalahan, —–untuk menyelamatkan institusi, maka kesalahan itu seharusnya  dirahasiakan atau dicarikan reasoningnya hingga bisa diterima oleh semua pihak. Sebaliknya, bukan justru kesalahan itu diumumkan secara terbuka,  dan bahkan menjadi kebanggaan.     Pemimpin seharusnya memang tidak boleh melakukan kesalahan. Namun pada kenyataannya,  hal itu amat sulit dihindari, karena watak dasar manusia selalu melakukan  kesalahan dan lupa.  Oleh karena itu, kita atau bangsa ini harus arif.  Bangsa ini  sehari-hari dihadapkan pada berbagai masalah dan alternative pemecahannya.  Maka pilihan cerdas, strategis, komprehensif, dan berjangka panjang  harus diutamakan. Sebab apapun, negara dan bangsa ini tidak boleh runtuh, masyaraikat harus hidup tenteram, tidak boleh tumbuh dan berkembang sifat dengki dan dendam. Selain  itu,  sejarah akan menilai dan mencatatnya. Wallahu a’lam       

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *