Konsep dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Konsep dasar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (Depdiknas, 2005). KTSP adalah suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang diletakkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan (Mulyasa, 2006:21). Dengan demikian, KTSP merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan masing-masing.

KTSP dilandasi oleh Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan Nasional (Sisdiknas), Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2005 SNP, Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang SI, Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang SKL, dan Permendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas No. 22, dan 23. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memperhatikan dan berdasarkan standar kompetensi serta kompetensi dasar yang dikembangkan oleh BSNP (BSNP, 2006a).

Tujuan penerapan KTSP secara umum adalah untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum. Adapun tujuan khususnya adalah sebagai berikut: (a) meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia, (b) meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama,  (c) meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai (Mulyasa, 2006:22). Dengan demikian, sekolah akan ikut aktif dalam penyusunan dan pengembangan sekaligus pelaksanaan kurikulum yang dibuat sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi di tingkat satuan pendidikan tersebut.

Secara subtansial, KTSP sama dengan KBK. Hanya saja, KTSP tidak mengatur secara rinci kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas, guru dan sekolah bebas mengembangkan sendiri sesuai kondisi murid dan daerahnya (Zatnika, 2006). Pernyataan ini dipertegas oleh Muslich (2007:17), perbedaan esensial antara KBK dan KTSP tidak ada. Keduanya sama-sama seperangkat rencana pendidikan yang berorientasi pada kompetensi dan hasil belajar peserta didik. Perbedannya menampak pada teknis pelaksanaan. Jika KBK disusun oleh pemerintah pusat, dalam hal ini Depdiknas,  KTSP disusun oleh tingkat satuan pendidikan masing-masing, dalam hal ini sekolah yang bersangkutan, walaupun tetap mengacu pada rambu-rambu nasional Panduan penyusunan KTSP yang disusun oleh badan independen yaitu BSNP. Selanjutnya bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang belum melaksanakan uji coba KBK, ditargetkan sudah menerapkan SI dan SKL secara bertahap dalam waktu paling lama 3 tahun atau sampai tahun ajaran 2009/2010 (BSNP, 2006c:4).

Muslich (2007) berpendapat, dalam rangka pencapaian standar kompetensi perlu upaya-upaya terencana dan konkret berupa kegiatan pembelajaran bagi siswa. Pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual menjadi pilihan utama dalam KTSP karena dua hal. Pertama, kehadiran KTSP dijiwai oleh semangat kompetensi yang hendak dicapai melalui pembelajaran. Kedua, kompetensi akan lebih cepat tercapai apabila dalam pembelajarannya didukung oleh konteks atau kenyataan yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual tersebut mempunyai tujuh prinsip dasar sebagai berikut: (a) konstruktivisme. Prinsip ini menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna, (b) questioning (bertanya) dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong siswa mengetahui sesuatu, mengerahkan siswa untuk memperoleh informasi, membimbing dan mengetahui kemampuan berpikir siswa, (c) inquiri adalah kegiatan yang diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep/fenomena dan dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan, (d) learning community (masyarakat belajar) adalah kegiatan pembelajaran yang difokuskan pada aktivitas berbicara dan berbagi pengalaman dengan orang lain, (e) modelling adalah kegiatan pemberian model dengan tujuan untuk membahasakan gagasan, melakukan apa yang kita inginkan agar siswa melakukannya, (f) reflection adalah kegiatan memikirkan apa yang telah kita pelajari, menelaah dan merespon semua kejadian, aktivitas atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, (g) authentic assessment (penilaian autentik) dilakukan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa secara menyeluruh. Dalam penilaian autentik digunakan berbagai bentuk penilaian yang merefleksikan proses pembelajaran yang dialami siswa, kemampuan siswa, motivasi, dan sikap-sikap yang sesuai dengan tujuan pembelajaran (Priyatni, 2006:5–6).

Jadi KTSP merupakan paradigma baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengolelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Sebagai kurikulum baru, sekolah mungkin mengalami kesulitan dalam penyusunan KTSP. Oleh karena itu, jika diperlukan, sekolah dapat berkonsultasi baik secara vertikal maupun horisontal. Secara vertikal, sekolah dapat berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten/Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Propinsi, dan Depdiknas. Sedangkan secara horisontal, sekolah dapat bermitra dengan stakeholder pendidikan dalam merumuskan KTSP. Misalnya, dunia industri, kerajinan, pariwisata, petani, nelayan, organisasi profesi, dan sebagainya agar kurikulum yang dibuat oleh sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *