Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup di sekolah

Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup di sekolah

Ada suatu pertanyaan yang kadang kita pikirkan. kapankah pendidikan lingkungan harus kita berikan? Secara rasional ada dua alasan utama mengapa pendidikan lingkungan harus diberikan secara dini: Pertama anak-anak  harus mengembangkan rasa mencintai lingkungan hidup pada usia yang dini, diharapkan dengan pengembangan perasaan tersebut secara dini maka perkembangan rasa tersebut akan tertanam dengan baik. Kedua Interaksi dengan lingkungan hidup merupakan bagian penting dari perkembangan kehidupan anak yang sehat dan interaksi tersebut dapat mendorong kemampuan belajar dan kualitas hidup anak kedepan.

 

Berdasarkan definisi, pendidikan lingkungan merupakan suatu proses yang bertujuan membentuk perilaku, nilai dan kebiasaan untuk menghargai lingkungan hidup. Dengan definisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan lingkungan hidup harus diberikan sejak dini kepada anak-anak kita,  dan yang paling penting pendidikan lingkungan hidup harus berdasarkan pengalaman langsung bersentuhan dengan lingkungan hidup sehingga diharapkan pengalaman langsung tersebut dapat membentuk perilaku, nilai dan kebiasaan untuk menghargai lingkungan.

Bila kita potret anak-anak sekarang cenderung memiliki kesempatan yang sangat terbatas bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup, kita bisa lihat anak-anak kita seolah-olah mempunyai dunia sendiri, ketika mereka beristirahat mereka ada di rumah asyik menonton TV, ketika berrekreasi lebih senang berada di mall dengan berbagai macam permainan, ketika pergi kesekolah mereka naik kendara , ketika di sekolah mereka cenderung ada di dalam kelas sehingga anak-anak tersebut terisolasi. Dengan melihat kondisi tersebut anak-anak sangat kritis dalam hal bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup dan hal tersebut dapat menyebabkan pengaruh negative terhadap  perkembangan perilaku dan kebiasaan untuk memandang lingkungan hidup sebagai hal yang perlu dipelihara dan dipertahankan keberadaannya.

Di Indonesia pendidikan lingkungan hidup selama ini belum mendapat tempat yang baik. Pendidikan lingkungan hidup yang dilakukan lebih dominan dalam kegiatan pendidikan non formal sedangkan pada pendidikan formal belum mendapatkan tempat yang layak. Permasalahan yang muncul memasukan pendidikan lingkungan hidup di sekolah adalah belum adanya model yang bisa di terapkan dalam rangka tersebut Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia Mengembangkan model pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

Model pendidikan lingkungan hidup di sekolah yang dikembangkan terdiri dari meknisme manajemen/pengelolaan implementasi pendidikan lingkungan hidup  dan mekanisme implementasi program pendidikan lingkungan hidup.

  1. 1. Sekolah Berwawasan Lingkungan

Sekolah berwawasan lingkungan adalah sebutan bagi sekolah yang menjadikan pendidikan lingkungan merupakan salah satu misi dalam mencapai tujuan sekolah.  Program pendidikan lingkungan ini memberikan atmosfir di sekolah sehingga setiap saat ketika siswa berada dalam lingkungan sekolah, siswa selalu bersentuhan dengan program ini. Jadi pendidikan lingkungan hidup sudah terintegrasi ke dalam program sekolah.

 

Siswa selalu bersentuhan dengan pendidikan lingkungan hidup ketika di kelas, pada kegiatan ekstrakurikuler dan pada saat istirahat. Diharapkan dengan terintegrasinya pendidikan lingkungan hidup ini kedalam program sekolah menjadi proses pembiasaan sehingga  diharapkan adanya pengembangan perilaku, sikap dari siswa untuk menghargai, mencintai dan memelihara lingkungan hidup yang di bawa sikap tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari.

Ketika program pendidikan lingkungan hidup di sekolah akan dimulai maka perlu dikembangkan suatu sistem yang dapat mengatur program ini. Sistem yang di kembangkan diharapkan dapat mengembangkan tingkat kepedulian siswa terhadap lingkungan, oleh karena itu sistem yang dibangun harus dapat melibatkan berbagai unsur sehingga program ini dirasakan menjadi milik seluruh warga sekolah.

Untuk mengembangkan sistem seperti diatas maka diperlukan tahapan dalam pelaksanaan program tersebut, adapu tahapannya seperti pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Tahapan pelaksanaan program pendidikan  lingkungan hidup

Tahapan yang di gambarkan diatas adalah langkah-langkah untuk melaksanakan program pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Pada gambar ) ada 6 (enam) tahapan yang perlu dilaksanakan. Dalam melaksanakan tahapan diatas sangat ideal apabila dilaksanakan secara berurut dan tahap selanjutnya dilaksanakan apabila tahapan sebelumnya sudah berjalan stabil.

  1. Tahap pertama: Pembentukan komite lingkungan sekolah

Salah satu tujuan dari sekolah berwawasan lingkungan adalah meningkatkan kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan. Dalam rangka melibatkan partisipasi aktif dari seluruh warga dan menimbulkan rasa memiliki program pendidikan lingkungan maka untuk mengakomadasi hal tersebut sebagai langkah pertama adalah pembentukan komite sekolah.

Komite lingkungan sekolah mempunyai peranan sebagai: (1) Penjamin semua warga sekolah (termasuk murid) merasa terwakili untuk mebuat keputusan dalam proses implementasi program; (2) Untuk mendorong semua warga sekolah peduli terhadap eksistensi program; (3) menjamin bahwa program di dukung oleh manajemen sekolah; dan (4) sebagai media untuk berhubungan atau melibatkan komunitas di luar sekolah dalam menjalan program ini.

Komite lingkungan sekolah merupakan suatu badan yang mewakili seluruh warga sekolah, oleh karena itu anggota komite lingkungan sekolah yang ideal terdiri dari : Yayasan/dewan sekolah, kepala sekolah, guru, Siswa, Staf bukan guru, dan orang tua. Bentuk komite lingkungan sekolah sangat fleksibel tergantung kondisi sekolah. Komite lingkungan dapat dibagi menjadi beberapa sub komite yang bertanggung jawab terhadap program tertentu.

Keterwakilan siswa dalam komite lingkungan merupakan salah satu faktor penting berhasilnya program pendidikan lingkungan tersebut. Keterwakilan siswa dalam komite lingkungan dapat dilakukan dalam beberapa cara antara memilih perwakilan dari setiap kelas untuk menjadi anggota komite. Pemilhan wakil setiap kelas lebih baik dilakukan dengan cara pemilihan dimana siswa yang bersedia duduk mewakili kelasnya harus memberikan pidato/presentasi mengenai apa yang akan dilakukan sebagai wakil kelas dalam komite lingkungan.

  1. b. Tahap kedua: membuat misi lingkungan sekolah.

Misi lingkungan sekolah adalah suatu pernyataan yang jelas tentang harapan atau komitmen sekolah untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekolah dan terciptanya budaya peduli  terhadap lingkungan. Misi lingkungan bisa dibuat berupa kalimat/pernyataan  atau bisa juga dibuat seperti bait-bait syair sajak.

Dalam pembuatan misi lingkungan sekolah keterwakilan siswa sangat penting kaena dengan melibatkan siswa dalam pembuatan misi lingkungan akan meningkatkan motivasi dan rasa bertanggung jawab untuk mewujudkan apa yang terdapat dalam misi lingkungan sekolah.  Misi lingkungan sekolah harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

(1) Harus realistis

(2) Merupakan kesepakatan semua komponen komite lingkungan sekolah

(3) Dilandasi berdasarkan kondisi lingkungan awal sekolah, isu lingkungan terkini dan cita-cita

(4) Jelas

(5) Dapat dielaborasi menjadi operasional

  1. c. Tahap ketiga : membuat action Plan

Action plan merupakan inti dari program pendidikan lingkungan. Action plan harus dibuat mengacu kepada review kondisi lingkungan awal sekolah. Dari hasil review lingkungan awal sekolah kita mendapatkan aspek-aspek apa saja yang perlu ditingkatkan dan kemudian dibuat target apa saja yang harus di capai. Penentuan target harus realistic, berarti target tersebut bisa di capai karena dengan menargetkan yang sulit atau terlalu ambisius sehingga tidak tercapai dapat mengakibatkan demotivasi siswa dalam melaksanakan program tersebut. Didalam action plan perlu juga ditetapkan targetakan untuk jangka pendek, medium dan panjang.

Gambar 2. Tahapan pembuatan action plan

Pembuatan action plan dapat dilakukan melalui tahapan seperti pada Gambar 2. Tahapan diatas tersebut merupakan tahapan untuk membuat rencana pengembangan sekolah (RPS). Program pendidikan lingkungan hidup di sekolah merupakan bagian dari program sekolah sehingga dalam pembuatan action plan pendidikan lingkungan merupakan satu kesatuan dengan pengembangan sekolah. Adapun tahapan diatas adalah sebagai berikut:

(1)     Penentuan visi dan misi sekolah

Visi sekolah adalah kondisi ideal sekolah yang dicita citakan, sedangkan misi sekolah adalah penerjemahan visi yang sifatnya lebih operasional dan lebih rinci. Salah satu misi tersebut adalah misi lingkungan sekolah yang telah dirumuskan oleh komite lingkungan sekolah.

(2). Tujuan Sekolah

Tujuan sekolah adalah harapan yang ingin dicapai dalam waktu 1 (satu) tahun yang merupakan elaborasi dari misi yang telah dibuat. Tujuan sekolah relative lebih operasional dibandingkan dengan misi.

(3) Tantangan nyata

Tantangan nyata adalah selisih antara tujuan yang ingin dicapai dengan kondisi awal sekolah. Action plan program pendidikan lingkungan adalah yang menjembatani kondisi lingkungan awal dan kondisi yang dicita-citakan dalam tujuan.

(4) Sasaran

Dari hasil pemetaan kesenjangan kondisi awal lingkungan dengan apa yang dicita-citakan (tantangan nyata) maka untuk mencapai kondisi tersebut perlu ditetapkan sasaran yang perlu dicapai.

(5) Identifikasi fungsi

Setelah sasaran di tentukan,maka perlu di identifikasi sumber daya yang di perlukan untuk pencapaian tersebut apa bila sumber daya tersebut ada merupakan dampak positif akan tetapi apa bila belum ada /belum terpenuhi maka perlu di cari bagaimana cara memenuhinya. Sumber daya yang dimaksud adalah semua komponen (manusia, sarana prasarana, dll) yang mendukung pencapaian sasaran.

(6)      Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah suatu analisis untuk melihat kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman (Strengh, Weakness, Opportunity, and Threat)  untuk pencapaian sasaran yang telah di tetapkan. Dengan analisis ini dapat diidentifikasi ke empat komponen tadi.

(7)      Alternatif Pemecahan masalah

Dari hasil analisis SWOT didapatkan hasil identifikasi kempat komponen yaitu kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman. Dari hasil identifikasi tersebut maka dibuat alternatif pemecahan masalah untuk setiap sasaran.

(8)      Rencana program dan anggaran

Daftar alternatif setiap sasaran yang dihasilkan pada tahap 7 (tujuh) merupakan bahan untuk pembuatan rencana program/action plan program pendidikan lingkungan. Dari daftar alternatif tersebut dicari alternatif pemecahan masalah yang mana yang paling optimum untuk dilakukan. Alternatif pemecahan yang paling optimumlah yang digunakans ebagai action plan program pendidikan lingkungan. Setelah mendapatkan program-program pendidikan lingkungan kemudian diterjemahkan lagi secara detail menjadi rencana program. Rencana program adalah langkah-langkah pelaksanaan program. Langkah pelaksanaan program kemudian digunakan untuk membuat anggaran pelaksanaan action plan.

  1. Tahap ke empat: Monitoring program dan evaluasi kemajuan.

Untuk mengetahui apakah program yang dilaksanakan sudah berhasil atau sudah mencpai target yang telah ditetapkan dalam action plan, maka harus dilakukan monitoring program dan evaluasi kemajuan. Kegiatan monitoring dan evaluasi selain untuk melihat kemajuan juga dapat untuk mendeteksi perlu tidaknya perubahan pelaksanaan. Kegiatan monitoring yang berkelanjutan akan memasikan program berjalan dengan baik.

Metode monitoring yang digunakan tergantung dari area yang akan dilihat dan kemampuan siswa untuk melaksanakan  monitoring.  Sebagai contoh memeriksa meteran air atau listrik, menghitung tagihan air atau listrik, dll. Metode yang lebih komplek misalnya dengan membuat kuesioner, wawancara, dll.

Dalam kegiatan monitoring sangat penting siswa diberikan peranan. Dengan memberikan peranan kepada siswa diharapkan mereka berlatih bertanggung jawab dan secara tindak langsung dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap program yang sedang dilaksanakan.

  1. Tahap kelima: Integrasi program kedalam kurikulum

Integrasi pendidikan kedalam kurikulum dapat meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup kedalam kurikulum sifatnya fleksibel. Pengintegrasian bukan bersifat menyeluruh akan tetapi bisa dilakukan secara parsial atau dijadikan topik saja tanpa mengurangi makna dari tujuan proses pembelajaran setiap mata pelajaran.

Sebagai contoh bagaimana mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup kedalam beberap mata pelajaran adalah sebagai berikut:

(1)     Mata pelajaran Bahasa Inggris:

  • Presentasi pada audien seperti teman sekelas, orang tua mengenai topik lingkungan.
  • Diskusi membahas topik lingkungan, yang diharapkan mengugah opini, dan perubahan perilaku terhadap lingkungan.
  • Membuat tulisan berupa karangan, laporan liputan atau postertentang lingkungan hidup.

(2)     Mata Pelajaran Matematika

  • Mendesain kuesioner untuk survey lingkungan
  • Mempelajaran angka ketika membaca meteran listrik atau air

(3)     Mata pelajaran Ilmu pengetahuan Alam

  • Melakukan observasi dan pengukuran lingkungan
  • Mempelajari habitat dan distibusi organisme di lingkungan
  • Membuat produk dengan barang daur ulang
  • Belajar mengenai sumber daya yang terperbaharui dan yang tidak terperbaharui.
  • Belajar mengenai transfer dan konversi energi

(4)     Mata Pelajaran Pendidikan Teknologi Dasar

  • Mendesain dan membuat produk dari bahan daur ulang
  • Mendesain tempat bermain ideal
  • Mempelajari pencemaran yang diakibatkan teknologi

(5)     Mata pelajaran Komputer

  • Membuat spreadsheet dan menggunakanya untuk menghitung data hasil survey program lingkungan sekolah
  • Membuat grafik dan mempublikasikan hasil survey program lingkungan sekolah.

(6)     Mata pelajaran sejarah

  • Mempertimbangkan dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan berdasarkan waktu peride sejarah yang berbeda
  • Menggunakan foto, dokumen atau presntasi mengenai bagaimana perugahan lingkungan sekolah dari waktu ke waktu.

(7)     Mata pelajaran geograpi

  • Mempertimbangkan bagaimana  isu pembangunan yang berkelanjutan dapat digunakan pada perencanaan sekolah.
  • Mempelajari dampak aktivitas manusia  terhadap lingkungan

(8)     Mata pelajaran Keterampilan

  • Membuat patung dari bahan kertas bekas
  • Membuat poster atau leaflet untuk kampanye lingkungan

(9)     Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan

  • Partisipasi dalam aktivitas program pendidikan lingkungan dan keuntungannya bagi sekolah dan masyarakat
  • Mengunakan isu lingkungan sebagai bahan untuk kegiatan debat
  • Belajar demokrasi pada saat pemilihan wakil kelas di komite lingkungan sekolah

(10) Mata pelajaran  pendidikan jasmani

  • Belajar mengenai cara hidup sehat
  • Peningkatan kemampuan kerja sama
  1. Tahap ke enam : kemitraan dengan komunitas luar

Salah satu tujuan dari pendidikan lingkungan hidup adalah meningkatankan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk tidak hanya komunitas sekolah juga komunitas di luar sekolah  yang berhubungan langsung dengan sekolah. Kegiatan  dalam rangka melibatkan komunitas lain adalah bisa dengan cara mengadakan aksi hari lingkungan yang diselenggarakan di sekolah atau diluar sekolah dengan melibatkan komunitas sekolah dan diluar sekolah yang ada hubungan langsung  misalnya orang tua, dinas pendidikan setempat, pengamat lingkungan, kalangan industri, dll. Pada kegiatan tersebut dapat dijadikan ajang sosialisasi program sekolah berwawasan lingkungan dan membuat kemitraan dengan komunitas di luar sekolah.

  1. Program Pendidikan Lingkungan disekolah.

Misi dari pendidikan lingkungan yaitu meningkatan  rasa kepedulian, memberikan prespektif baru, nilai, pengetahuan, keterampilan dan proses yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku dan kebiasaan yang mendukung pelestarian lingkungan hidup. Sesuai dengan misi diatas maka pelaksanaan program pendidikan lingkungan hidup di sekolah harus memberikan atmosfir kepada siswa, sehingga ketika siswa berada di sekolah siswa selalu bersentuhan dengan pendidikan lingkungan hidup.

Untuk mencapai kondisi seperti diatas maka pendidikan lingkungan harus berada atau bersama-sama dengan progam-program yang diikuti oleh siswa. Bila kita lihat kegiatan siswa disekolah, maka kegiatan siswa terdiri dari kegiatan di kelas, Kegiatan istirahat dan kegiatan ekstrakurikuler. Oleh karena itu pendidikan lingkungan pun harus berada dalam program-program pada tiga kegiatan siswa.

  1. Pendidikan lingkungan terintegrasi pada kegiatan intrakurikuler

Kegiatan intrakurikuler  adalah kegiatan belajar siswa di kelas yang mengacu kepada kurikulum. Sebagai strategi mengembangkan atmosfir lingkungan hidup maka perlu mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup dalam kegiatan intra kurikuler. Integrasi pendidikan lingkungan hidup pada kegiatan intra kurikuler adalah integrasi pendidikan lingkungan kepada kurikulum. Mekanismenya telah dijelaskan pada bagian tahapan integrasi pendidikan lingkungan kedalam kurikulum.

Integrasi pendidikan lingkungan hidup kepada kurikulum merupakan penyisipan area, topik atau isu yang dibahas dalam mata pelajaran. Selain diintegrasikan pada mata pelajaran yang sudah ada bisa saja pendidikan lingkungan hidup ini dijadikan salah satu mata pelajaran muatan lokal( adapun materinya bisa dikembangkan atau mengacu pada domain pendidikan lingkungan hidup pada lampiran).

  1. Pendidikan lingkungan terintergasi pada program sekolah

program sekolah disini adalah program, kegiatan atau aturan yang dibuat sekolah selain kegiatan intra dan ekstra kurikuler. Misalnya peraturan kelas bersih, kegiatan operasi semut setiap hari jumat, Penghematan air dan listrik, Penghijauan sekolah dll.  Program sekolah ini dibuat untuk memelihara lingkungan sekolah dan sekaligus sebagai

 

pendidikan praktis bagi anak untuk meningkatakan kepedualian terhadap lingkungan. Diharapkan dengan pelaksanaan program secara konsisten  ada proses pembiasaan bagi siswa dan diharapkan bersamaan dengan proses tesebut dapat meningkatkan dan terjadi akselerasi perubahan sikap kepedulian siswa terhdap lingkungan.

  1. Pendidikan lingkungan sebagai kegiatan ekstrakurikuler

Pendidikan lingkungan hidup dapat juga dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa berupa Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Pencinta Alam (PA), Pramuka, atau kegiatan ekstrakurikule yang khusus seperti out bound, Pelatihan penelitian lapangan dll.

 

  1. Piloting Sekolah Berwawasan lingkungan

Sebagai tindak lanjut dalam pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah maka perlu dikembangakan sekolah uji coba sebagai model sekolah berwawasan lingkungan. Adapun langkah-langkah pelaksanan piloting adalah sebagai berikut:

  1. Sosialisasi Konsep pendidikan Lingkungan hidup

Kegiatan ini berupa kegiatan seminar atau workshop dengan sekolah dan dinas pendidikan kab/kota atau propinsi. Tujuan dari kegiatan sosialisasi adalah menybarluaskan informasi mengenai konsep pendidikan lingkungan hidup. Maksud lain dari kegiatan sosialisasi adalah mencari masukan untuk program implementasi sekolah berwawasan lingkungan di daeran serta mengidentifikasi sekolah yang berpotensial untuk dijadikan sekolah uji coba.

b. Pemilihan sekolah uji coba

Sekolah uji coba adalah sekolah yang bepotensi untuk melaksanakan program pendidikan lingkungan hidup. Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk meseleksi sekolah yang akan dijadikan uji coba sekolah berwawasan lingkungan, akan tetapi yang paling utama adalah stake holders sekolah mendukung pelaksanaan program pendidikan lingkungan.

  1. Pelatihan Guru dan kepala sekolah

Dalam rangka membekali pelaksana program dilapangan, perlu sekali dilaksanakan pelatihan bagi kepala sekolah dan guru untuk membekali pengetahuan dan keterampilan impelemntasi pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Pelatihan guru dan kepala sekolah dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu tahun pertama memberikan pelatihan tentang konsep pendidikan lingkungan hidup, sekolah berwawasan lingkungan dan program kegiatan yang harus dilaksanakan. Pada tahun pertama kegiatan yang harus dilaksanakan adalah tahap 1 sampai dengan tahap 4 pada gambar ). Pada tahun kedua pelatihan mengenai pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup kedalam kurikulum, dan tahun ketiga pelatihan tentang kemitraan dengan komunitas diluar sekolah.

  1. Pemberian grant bagi sekolah model

Grant diberikan kepada sekolah model bertujuan sebagai subsidi bagi pelaksanaan uji coba sekolah berwawasan lingkungan. Grant ini diperuntukan untuk subsidi pembiayaan program.

  1. Supervisi klinis

Supervisi klinis adalah kegiatan monitoring yang bertujuan melihat progress program dan memberikan asistensi apabila ada permasalahan pelaksanaan program dilapangan. Supervisi klinis minimal dilaksanakan 3 (tiga) kali dalam satu tahun yaitu pada tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi akhir tahun.

  1. Pelaporan Hasil uji coba sekolah model

Pelaksanaan pelaporan hasil uji coba di buat setiap akhir tahun pelaksanaan program.laporan ini sebagai bentuk pertanggung jawaban dan progress report kemajuan pelaksanaan program. Pada tahun ketiga akan dibuat pelaporan akhir sekaligus evaluasi dampak pelaksanaan program terhadap tujuan pendidikan lingkungan hidup yaitu perubahan pengetahuan, nilai, pandangan dan perilaku yang peduli terhadap lingkungan.Laporan akhir dapat digunakan sebagai bahan kebijakan apakah sekolah model ini diperluas atau tidak.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *