Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Makna Kata dan Kebermaknaan Kita

0

Di dekat tembok pintu masuk sebuah sekolah menengah yang kebetulan saya  kunjungi tertulis kalimat “Aku Sekolah untuk Meraih Masa Depan”. Ketika masuk halaman sekolah, saya juga menemukan kalimat itu lagi tepat di depan pintu masuk kantor OSIS (Organisasi Intra Sekolah) dalam ukuran yang jauh lebih besar. Ketika saya bertanya kepada salah seorang Wakil Kepala Sekolah mengapa ada tulisan semacam itu, dia menjawab dengan tegas bahwa tulisan tersebut merupakan slogan untuk menyadarkan betapa pentingnya posisi sekolah sebagai wahana menuntut ilmu pengetahuan.

Sebagaimana iman seseorang yang pasang surut, dalam kehidupan sehari-hari motivasi seseorang untuk bekerja dan berkembang juga mengalami naik turun. Ada kalanya motivasi begitu tinggi sehingga berbagai rintangan berhasil dilewati sehingga keberhasilan bisa diraih. Tetapi ada saat di mana motivasi seseorang untuk berkembang sangat rendah, sehingga yang terjadi malas bekerja dan keberhasilan yang sudah ada di depan mata pun bisa lepas. Di saat motivasi turun, maka peran kata yang mampu  ‘menggerakan’ semangat sangat penting. Mungkin karena itu, sekolah tersebut memasang menulis kalimat sebagai slogan yang wajib dipahami oleh semua siswa. Menurut Wakil Kepala Sekolah itu, slogan itu sangat efektif untuk beberapa tujuan. Pertama, menyadarkan betapa pentingnya bersekolah. Karena dengan bersekolah, manusia memperoleh ilmu, dan karena ilmu manusia menjadi makhluk beradab yang berbeda dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Kedua, untuk menimbulkan rasa bangga dan rasa memiliki terhadap sekolahnya. Istilah menterengnya “cinta almamater’.. Ketiga, untuk menyadarkan bahwa cita-cita masa depan dapat diraih dengan belajar yang sungguh-sungguh. Masih menurut Wakasek itu, tulisan itu ternyata mampu memberi dorongan semangat kapada siswa untuk giat belajar jika ingin sukses. Wal hasil, slogan  itu berhasil menggugah semangat siswa untuk belajar keras dan menjadi inspirasi untuk melangkah lebih jauh. . Apa yang dikatakan Wakasek itu mengingatkan kita betapa besar kekuatan kata. Kata terbentuk melalui rangkaian huruf yang tersusun secara arbitrer. Artinya, tidak ada korelasi antara kata atau tanda dengan makna atau yang ditandai atau yang dibawa. Tetapi di balik kata ada makna yang tidak jarang menyimpan kekuatan dahsyat yang sering mengubah jalan hidup seseorang, sekelompok orang, bahkan sebuah bangsa. Sebuah kata atau frase bisa menjadikan seseorang bersemangat menjalankan kehidupan sehingga mencapai puncak. Jika kita menengok sejarah, kita ingat bagaimana Soekarno membakar semangat masyarakat untuk melawan imperialisme lewat jargon-jargonnya yang sering disampaikan secara menggelegar. Begitu juga Bung Tomo  menggunakan jargon  “Allahu Akbar” untuk melawan tentara Sekutu ketika menyerang Surabaya. Pekikan Bung Tomo terbukti sangat dahsyat untuk menggerakkan masyarakat melawan imperialisme dan berhasil memukul mundur mereka. Saya teringat Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad pernah menggunakan slogan “Don’t Look West. But Look East”. Jangan lihat Barat. Tetapi lihatlah Timur. Maksudnya, Mahatir mengajak masyarakat Malaysia untuk tidak mendewa-dewakan negara Barat sebagai negara maju dan berperdaban tinggi. Sudah waktunya masyarakat Malaysia melihat bangsanya sendiri sebagai bangsa Timur yang bisa maju. Slogan Mahatir berhasil menggerakkan masyarakat Malaysia membangun bangsanya untuk menjadi bangsa maju. Ajakan Mahatir kini telah terbukti. Dalam banyak hal, terutama pendidikan, Malaysia berada beberapa tahap lebih maju daripada Indonesia. Pemimpin lain yang juga menggunakan slogan untuk menggerakkan masyarakatnya ialah Bapak Bangsa Vietnam, Ho Chi Minch. Ketika mengawali pembangunan bangsanya setelah hancur akibat perang saudara, Ho Chi Minch mengajak masyarakat untuk membangun bangsanya melalui penddikan terlebih dahulu. Slogan yang ia gunakan ialah “No teacher no education, no education, no economic and social development”. Bapak Bangsa Vietnam itu sadar betul bahwa pendidikan merupakan prioritas pembangunan bangsanya. Berbagai sarana dan prasarana pendidikan dibangun, tak terkecuali juga membangun sumberdaya para tenaga pendidik (guru). Tak seorang pun mengelak gagasan Ho Chi Minch tersebut bahwa jika sebuah bangsa ingin maju, maka pendidikan harus memperoleh perhatian utama. Tak seorang pun mengelak pula bahwa di antara sekian banyak komponen pendidikan, guru menempati posisi paling sentral. Kebijakan cerdas Ho Chi Minch kini juga terbukti. Vietnam menjadi salah satu negara anggota ASEAN yang disegani karena kecepatan membangun diri dari kehancuran. Tingkat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi yang ditopang dengan sektor pertanian yang sangat maju dengan etos kerja keras rakyatnya. Tak pelak para pengamat menyebut Vietnam sebagai ‘new economi force’ yang  membuat banyak mata terbelalak. Belajar dari Soekarno, Bung Tomo, Mahatir Muhammad, dan Ho Chi Minch, maka betapa besar peran kata-kata yang membentuk slogan sebagai motivator perjuangan mereka. Tentu slogan bukan satu-satunya alat perjuangan. Tetapi slogan merupakan inspirator melakukan gerakan dengan mengajak masyarakat bekerja keras mencapai cita-cita perjuangan. Kata-kata atau slogan-slogan seperti di atas bisa tidak bermakna apa-apa jika diucapkan oleh sembarang orang. Tetapi karena pemilik slogan itu orang besar, maka slogan-slogan  tersebut memiliki kekuatan dahsyat. Saya pun teringat ajaran Bourdieu  (1994) dalam Language and Symbolic Power bahwa  kekuatan kata bukan terletak pada kata itu sendiri, melainkan pada siapa yang mengucapkannya. Dengan demikian, wajar jika slogan-slogan di atas mampu menggetarkan jiwa  warganya karena yang mengucapkannya bukan sembarang orang. Presiden Soekarno bukan sembarang presiden, melainkan seorang proklamator kemerdekaan sebuah  negara besar dengan ribuan pulau di dalamnya. Bung Tomo juga bukan sekadar pemuda pemberani yang melawan penjajah ketika mencoba menduduki tanah kelahirannya. Mahatir Muhammad juga bukan sembarang Perdana Menteri, melainkan arsitek ulung yang mengantarkan Malaysia sebagai negara maju seperti saat ini. Begitu juga Ho Chi Minch bukan sembarang Perdana Menteri biasa, melainkan Bapak Bangsa Vietnam yang sangat disegani sehingga namanya diabadikan sebagai nama sebuah kota ‘Ho Chi Minch City’. Kita pun bisa membuat slogan yang sangat bermakna sebagaimana tokoh-tokoh di atas jika ‘kita’ bukan sembarang ‘kita’. Kita harus menjadi ‘kita’ yang lebih bermakna. Kebermaknaan itu bisa kita peroleh karena kita memiliki ilmu yang bermanfaat bagi orang lain. Semakin banyak orang lain memerlukan kita, maka semakin tinggi tingkat kebermaknaan kita. Begitu juga  sebaliknya. Jika tidak banyak orang lain memerlukan kita, maka kita tidak memiliki nilai kebermaknaan. Atau, kalau pun ada hanya sedikit. Selain ilmu, kebermaknaan kita adalah karena akhlak yang mulia yang tidak menyusahkan dan menyulitkan orang lain. Tetapi justru sebaliknya, orang lain merasa nyaman karena keberadaan dan kehadiran kita.

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Leave A Reply

Your email address will not be published.