Makna Ternak Bagi Pengungsi Letusan Gunung Merapi

Makna Ternak Bagi  Pengungsi Letusan Gunung Merapi

  Sebuah peristiwa sering menyisakan kejadian atau kisah yang unik dan bahkan menakjubkan bagi kebanyakan orang. Dari peristiwa tsunami yang meluluhlantahkan daerah Aceh beberapa tahun lalu, ada seorang bayi yang selamat. Dia ditemukan dalam keadaan sehat  dan tidur di atas kasur yang terbawa ombak beberapa hari. Menurut logika, bayi tersebut hilang tertelan ombak tsunami.  Begitu juga kisah masjid Raya Banda Aceh yang berdiri kokoh, kendati dihantam tsunami. Padahal, seluruh bangunan di sekitar masjid hancur berantakan. Mestinya, menurut logika bangunan masjid itu juga ambruk karena derasnya tsunami. Tetapi nyatanya tidak. Allah benar-benar pengatur segalanya, termasuk keselamatan sang bayi tersebut.

  Dari bencana tsnunami di Kepulauan Mentawai, juga tak luput kisah serupa. Relawan menemukan bayi berumur 10 bulan dalam keadaan selamat. Tidak diketahui bayi itu anak siapa, tetapi diduga kuat kedua orangtua dan semua saudaranya hilang terbawa gelombang tsunami yang menurut penelitian para ahli kecepatannya mencapai 800 km/jam. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kecepatan air tsunami yang menerjang Kepulauan Mentawai. Kini bayi malang itu dirawat di sebuah Rumah Sakit di Mentawai dan kondisinya semakin membaik. Lain tsunami Aceh dan Mentawai, lain pula akibat letusan gunung Merapi di daerah Yogyakarta. Dari para pengungsi ditemukan kisah unik, yakni masyarakat sekitar letusan gunung Merapi enggan mengungsi dan yang sudah berada di pengungsian ingin segera pulang ke rumah masing-masing. Apa alasan mereka? Padahal, pemerintah masih menyatakan daerah  sekitar lereng gunung Merapi masih dalam keadaan bahaya. Sebagaimana kita saksikan lewat tayangan TV dan media cetak, alasan mereka  sangat sederhana, yakni bagaimana nasib ternak (sapi, kambing, ayam, dan kerbau) jika mengungsi dan jika berlama-lama di tempat pengungsian bagi yang terlanjur mengungsi. Bagi sebagian orang, alasan tersebut dianggap tidak masuk akal, dan bahkan dianggap konyol. Mungkin mereka berasumsi nyawa kok dikorbankan  begitu saja hanya demi keselamatan terrnak. Tetapi ada sebagian lain yang  bisa memahami alasan para pengungsi tersebut. Bagi kelompok ini masyarakat desa diartikan sebagai satu kesatuan komunitas dengan keunikan dan kompleksitasnya. Bagi pengkaji sosiologi — terutama sosiologi pedesaan — secara fisik, masyarakat desa digambarkan sebagai masyarakat yang homogen dari sisi profesi, bentuk rumah, cita-cita, tidak banyak akses ke pusat-pusat modernisasi, jauh dari kekuasaan, pola hidup sederhana, dengan sistem kekerabatan yang masih terjaga dan sebagainya. Secara sosial, masyarakat desa juga dipahami sebagai kesatuan komunitas yang anggotanya mengandalkan pertanian dan ternak sebagai sumber ekonomi. Bagi masyarakat desa — yang belum terkena polusi dan pengaruh kehidupan modern —, binatang ternak berupa sapi, dan kambing  tidak saja merupakan andalan dan penopang sumber ekonomi, melainkan juga simbol prestise sosial. Sebagai orang yang berasal dari desa dan lama tinggal di desa, bahkan sangat pelosok, saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para pengungsi gunung Merapi tersebut. Suatu saat ada bencana alam berupa banjir lahar dingin yang dikeluarkan oleh sebuah gunung berapi, kami — seperti masyarakat sekitar gunung Merapi — juga diminta mengungsi oleh aparat desa dibantu oleh petugas keamanan, baik polisi maupun tentara, yang saat itu bernama Babinsa. Kami juga enggan pindah dan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan demi keselamatan ternak. Padahal, bahaya air bah mengancam di depan kami. Karena terus dipaksa, kami akhirnya mengungsi juga asal boleh membawa ternak piaraan yang kami miliki, berupa sapi, kambing, kerbau, dan juga ayam. Dengan membawa ternak, kami merasa nyaman tinggal di tempat pengungsian. Kisah yang kami alami puluhan tahun lalu kini terjadi pada para pengungsi korban letusan gunung Merapi. Sebagai simbol prestise sosial, ternak memiliki makna yang dalam bagi sebagian besar masyarakat desa. Ukuran orang kaya dan berhasil bukan saja yang sawahnya luas dan rumahnya besar, tetapi juga yang punya binatang piaraan, terutama sapi.  Karena binatang ternak tidak saja bernilai ekonomi, tetapi juga sosial, maka tidak mengherankan jika masyarakat desa mempertahankan sekuat tenaga keberadaan binatang piaraan tersebut walau nyawa terancam serangan awan panas. Prestise sosial memang mahal. Saya pun teringat hasil studi saya tentang perubahan sosial beberapa tahun lalu yang mengambil lokasi penelitian di sebuah wilayah pinggiran kota yang memiliki banyak industri rumah tangga, baik yang ukuran besar dan sedang hingga kecil. Anehnya, sebagian besar pekerja di perusahaan-perusahaan tersebut justru berasal dari luar daerah. Semula saya berasumsi warga asli dilarang kerja di perusahaan tersebut, atau setidaknya dibatasi. Tetapi ternyata berdasarkan hasil studi saya ditemukan bahwa warga memang gak mau kerja di perusahaan di dekat rumahnya dengan alasan gengsi. Mereka lebih memilih bekerja di luar daerah walau gajinya tidak begitu besar, karena harus dikurangi dengan beaya transportasi. Pelacakan lebih mendalam diperoleh pemahaman bahwa prestise sosial ternyata memegang peran amat sangat penting. Bekerja di lingkungannya  sendiri —apalagi di perusahaan milik tetangga sendiri— dianggap kurang bergengsi. Mereka mendefinisikan ‘kerja’ bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan untuk menopang kehidupan, melainkan juga untuk memperoleh status terhormat menurut ukuran mereka. Beraktivitas secara regular, berpakaian seragam, bersepatu resmi, pulang dan pergi dalam waktu yang ditentukan merupakan definisi lain dari konsep bekerja. Karena itu, ditemukan beberapa orang warga yang rela menjadi pegawai honorer pemerintah daerah (saat itu) di sebuah kantor pemerintah hingga bertahan selama 12 tahun dengan gaji Rp. 50. 000/bulan. Pelacakan selanjutnya diperoleh informasi pula bahwa dengan berstatus sebagai pegawai pemerintah daerah, mereka dihargai oleh warga sekitar, dijadikan rujukan dan tempat bertanya dalam berbagai hal. Tampaknya, bentuk-bentuk pengakuan dan penghargaan sosial  jauh lebih penting bagi mereka dibanding pendapatan kerja secara material. Tidak ada hubungan antara hasil studi saya dengan perilaku para korban letusan gunung merapi. Tetapi ada benang merah, setidaknya pada aspek prestise sosial dan gengsi. Bekerja di luar daerahnya memiliki nilai prestise tinggi bagi warga tempat studi saya lakukan, dan mempertahankan kepemilikan binatang piaraan pun juga merupakan upaya mempertahankan prestise sosial yang telah mereka nikmati selama ini. Karena itu, walau binatang ternak yang hilang dan mati kabarnya akan diganti oleh pemerintah berupa uang, nilai uang itu tidak akan mampu mengganti rasa cinta mereka terhadap binatang ternak yang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Inilah pernik-pernik kehidupan yang perlu kita pahami bersama ! _________ Malang, 15 November 2010

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *