Memahami Kehidupan

Memahami Kehidupan

Kehidupan ini alangkah sulitnya kita pahami jika tidak ada sedikitnya dua hal, yaitu orang-orang yang gemar terhadap ilmu pengetahuan, dan kedua adalah kitab suci. Adanya orang-orang yang menggemari ilmu pengetahuan di sepanjang zaman, maka telah melahirkan berbagai informasi yang terdokumentasi dalam bentuk tulisan, rekaman, buku, dan lain-lain. Berbagai jenis Informasi itu merupakan hasil-hasil penelitian, pengalaman, buah pemikiran, dan seterusnya. Melalui para ilmuwan itu maka manusia dari zaman ke zaman bisa mempelajari sejarah kehidupan umat manusia. Sekalipun sejarah itu kadangkala diperdebatkan, tetapi melalui pengetahuan itu, orang menjadi tahu asal muasal, penyebaran, fase-fase pertumbuhan dan berbagai hal terkait dengan itu. Melalui sejarah diketahui perkembangan peradaban umat manusia. Dalam sejarahnya, secara garis besar diketahui bahwa terdapat sekelompok manusia yang mengalami kemajuan terlebih dahulu, dan begitu pula sebaliknya, lambat, dan bahkan tertinggal. Pengetahuan tentang kehidupan manusia yang berhasil diperoleh dan didokumentasikan sedemikian banyak dan luas. Namun masih saja terdapat banyak hal yang tidak akan bisa diketahui, karena keterbatasan manusia itu sendiri. Banyak pertanyaan yang bisa dijawab oleh manusia, tetapi juga banyak hal yang tidak mungkin dijawabnya sendiri. Manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan hanya melalui panca indera. Sedangkan panca indera itu sendiri sangat terbatas. Manusia melalui panca indera dan akalnya hanya bisa melakukan kegiatan observasi, eksperimen, dan penalaran logis untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang terbatas pula jumlahnya. Keterbatasan alat untuk menangkap fenomena alam dan juga social itu menjadikan ilmu pengetahuan yang dihasilkan juga terbatas dan bahkan juga relative sifatnya. Temuan-temuan itu dianggap benar sepanjang masih ditopang oleh data atau informasi serta bisa dijelaskan melalui kekuatan nalarnya. Informasi itu semakin terasa terbatas oleh karena hanya menyangkut hal yang bisa ditangkap oleh penglihatan, pendengaran, peraba, alat perasa, dan hal lain yang dianggap masuk akal. Padahal kehidupan tidak sebatas yang bisa diketahui dan ditangkap melalui berbagai jenis indera dan kekuatan nalar itu. Pengetahuan yang tidak bisa didapatkan melalui indera dan akal, maka sesungguhnya masih bisa diperoleh melalui sumber lain, yaitu berupa kitab suci. Selama ini menurut keyakinan Islam, terdapat empat jenis kitab suci, yaitu kitab taurat, zabur, injil, dan al Qurán. Melalui kitab suci ini, manusia bisa memahami kehidupan secara lebih sempurna. Betapapun manusia bisa memahami fenomena alam dan social, tetapi masih banyak pertanyaan yang tidak akan berhasil dijawab, kecuali melalui kitab suci ini. Manusia melalui kegiatan riset berhasil mendapatkan berbagai jenis pengetahuan yang sedemikian luas dan akhirnya berhasil menciptakan teknologi yang sedemikian maju. Akan tetapi, betapapun ternyata masih tersisa pertanyaan yang tidak akan mungkin dijawabnya. Yakni, hal yang tidak terjamah oleh indera dan kekuatan akal manusia. Pertanyaan itu misalnya adalah menyangkut tentang diri manusia itu sendiri. Sebagai contoh, pertanyaan tentang siapa sesungguhnya manusia itu sebenarnya, dari mana asal muasalnya, akan kemana sebenarnya mereka itu setelah mengakhiri hidupnya di dunia ini. Pertanyaan itu selalu muncul, karena manusia memiliki naluri untuk selalu mencari tahu dan bertanya. Mereka bertanya tentang siapa sesungguhnya yang menciptakan kehidupan semua itu, mengapa sesuatu menjadi hidup dan kemudian mati, siapa penggerak kehidupan ini yang sebenarnya, dan akan kemana setelah itu. Banyak sekali pertanyaan yang direnungkan oleh manusia, sebagiannya bisa dijawab melalui indera dan akalnya, akan tetapi sebagian lainnya tetap menjadi misteri, dan hanya bisa dijawab melalui kitab suci itu. Melalui kitab suci, manusia mendapatkan informasi tentang sejarah hidup yang sebenarnya. Sekalipun manusia dengan berbagai ilmu-ilmu social, seperti sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi berhasil memahami kehidupannya, tetapi tokh juga masih terbatas. Tidak sedikit pengetahuan tentang diri manusia itu sendiri, secara lebih mendalam hanya bisa diketahui melalui kitab suci. Melalui kitab suci ——al Qur’an, berbagai ikhwal manusia secara lebih sempurna bisa diketahui. Misalnya, bahwa manusia terdiri atas jasat, akal, qolb/hati dan ruh. Unsur-unsur itu menyatu hingga disebut manusia. Ada beberapa bagian tentang manusia yang berhasil bisa diketahui melalui indera dan akalnya. Tetapi ada aspek-aspek lain yang tidak mungkin diketahui, misalnya tentang qolb/hati dan ruh. Bahkan dinyatakan bahwa menyangkut ruh, ——–melalui kitab suci itu pula, disebutkan bahwa menyangkut tentang ruh adalah merupakan urusan Tuhan. Manusia tidak akan bisa mengetahui apalagi memahaminya. Siapapun yang ingin memahami kehidupan ini secara sempurna, maka berbagai alat dan atau sumber itu, seharusnya digunakan secara bersama-sama. Selama ini, dengan ilmu pengetahuan berhasil diketahui tentang kehidupan ini. Dengan ilmu pengetahuan telah dihasilkan berbagai macam teknologi yang sangat bermanfaat, misalnya dalam bidang kedokteran, transportasi, informasi dan komunikasi, pertanian, kelautan, kedirgantaraan, dan lain-lain yang sedemikian luas. Namun begitu, terdapat pertanyaan tentang kehidupan yang tidak akan terjawab, kecuali melalui kitab suci yang dikirim langsung oleh Dzat Yang Maha Pencipta lewat utusan-Nya. Insya Allah, melalui sumber-sumber pengetahuan yang lebih sempurna, maka kehidupan ini bisa dipahami secara lebih sempurna pula. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *