Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

Membangun Kepercayaan Diri

0

Jangankan kepada orang lain, terhadap diri sendiri pun kadang orang tidak percaya. Akibatnya, dalam mengambil keputusan orang tersebut tampak ragu. Orang yang tidak percaya diri, dalam bergaul juga kelihatan canggung, takut dianggap ketinggalan atau tidak bisa menyesuaikan dengan keadaan. Orang yang tidak punya kepercayaan diri, maka jika berbicara juga tidak lancar, apalagi tatkala berpidato dan tidak ada teks yang dibaca. Kalimatnya putus-putus, menjadi tidak jelas apa yang akan disampaikan. Ia akan gemetaran, tidak jelas apa sesungguhnya yang mengganggu. Melihat keadaan seperti iti, maka gampang ditebak, bahwa orang yang sedang pidato itu, tidak punya percaya diri. Orang yang tidak percaya pada diri sendiri, menjadikan ia takut salah, khawatir kalau dianggap jelek, keliru, atau tidak hebat. Padahal justru tatkala sedang berperasaan seperti itu, maka kesalahan demi kesalahan akan muncul, atau benar-benar suasana salah yang dikhawatirkan itu datang atau terjadi sungguhan. Jangankan tatkala menunaikan hal-hal yang bersifat psikis, tugas-tugas yang bersifat fisik pun jika dilakukan dengan perasaan tidak percaya diri juga akan gagal. Coba saja perhatikan, tatkala misalnya dalam bermain bola. Ketika seseorang ragu-ragu dalam menendang bola, maka tendangannya juga tidak akan berhasil sempurna. Demikian juga jika seseorang ragu-ragu tatkala akan melompat, maka juga tidak akan berhasil mencapai sasaran. Ragu-ragu atau tidak percaya diri adalah sikap yang merugikan dan atau menjadikan kegagalan. Karena itu maka sikap percaya diri, bagi siapapun menjadi penting. Namun sebaliknya, sikap terlalu percaya diri juga tidak selalu menguntungkan. Orang terlalu percaya diri, dalam kegiatan apa saja, olah raga, ujian, atau menyelesaikan tugas-tugas, juga mengalami kegagalan, karena dengan terlalu percaya diri itu menjadikan tidak punya persiapan yang cukup. Percaya diri dalam kadar yang tepat betapapun menjadi sangat penting dalam menyelesaikan berbagai kegiatan. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari membangun kepercayaan diri, ternyata tidak mudah. Saya pernah menyaksikan seorang guru besar tatkala menyampaikan orasi ilmiahnya di hadapan para undangan, tampak tidak lancar. Saya menduga, ia kehilangan kepercayaan diri. Bayangkan seorang guru besar, yang sehari-hari kegiatannya mengajar, tatkala sedang di mimbar, kepercayaan dirinya hilang. Apalagi orang yang baru berlatih. Sehingga, tidak sedikit orang tatkala ditugasi untuk memberi sambutan dalam sebuah acara, merasa tidak sanggup, karena tidak punya kepercayaan diri itu. Terkait dengan persoalan ini, saya seringkali ditanya, bagaimana membangun kepercayaan diri itu. Mungkin selama ini, saya dianggap berhasil membangun sikap itu. Mereka itu mungkin pernah melihat saya bisa tampil di berbagai forum dalam suasana santai, tidak ragu, dan berhasil meyakinkan orang. Sikap seperti itu sesungguhnya juga tidak saya capai seketika. Dulu waktu masih pada taraf belajaran, tatkala ditugasi tampil di depan orang banyak juga gemetaran. Takut keliru dan kemudian mengecewakan orang. Saya kira siapapun sebetulnya ingin tampil sempurna dan tidak mau mengecewakan orang. Siapapun akan merasa puas jika bisa tampil sempurna dan berhasil menyenangkan orang lain. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana senyatanya membangun kepercayaan diri itu hingga berhasil. Untuk menjawab pertanyaan itu, sebenarnya sudah banyak cara yang ditempuh oleh masing-masing orang dan nyatanya berhasil. Semua orang saya kira telah memiliki pengalaman tentang itu. Pada awalnya, saya sendiri juga mengalami kesulitan. Tetapi, setelah melewati pengalaman panjang, ternyata menemukan beberapa prinsip hidup yang saya dapatkan dari ajaran Islam, yang kemudian saya jadikan bekal untuk membangun kepercayaan diri itu. Beberapa prinsip yang saya maksudkan itu misalnya, pertama, bahwa semua orang, siapapun kecuali rasul, selalu melakukan kesalahan. Manusia tidak maksum, artinya bebas dari kesalahan. Oleh karena itu, kesalahan tidak perlu ditakutkan, asalkan tidak sengaja berniat melakukan kesalahan. Sebagai manusia kekeliruan adalah wajar, dan justru tidak wajar jika seseorang tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali. Jika demikian, siapapun mestinya tidak perlu takut melakukan kesalahan. Kedua, sebisa-bisa selalu menghindari berbuat bohong, termasuk berbohong terhadap diri sendiri. Orang yang melakukan kebohongan ternyata akan menyiksa diri. Sekali berbuat bohong, seseorang akan terbebani hidupnya untuk selalu merahasiakan kebohongannya itu, agar tidak diketahui orang lain. Maka jika kebohongan selalu dilakukan, maka akan menambah beban. Sehari-hari pikiran dan perasaan mereka hanya ditugasi menjaga diri atas kebohongannya itu. Orang yang berbuat bohong hatinya tidak akan tenang dan bebas. Itulah sebabnya, dalam Islam tidak dibolehkan berbuat kebongan kepada siapapun. Seseorang yang berhasil tampil dan melakukan apa adanya, tidak mengada-ada, akan menjadi sehat dan bisa tampil lebih baik. Ketiga, selalu menanamkan keyakinan pada diri sendiri, bahwa di dunia ini tidak ada kekuatan yang lebih selain kekuatan Allah swt. Semua orang memiliki kekurangan dan kelemahan, dan sebaliknya masing-masing memiliki kelebihan. Perasaan selalu salah, kurang, dan cacat harus dihilangkan, setidak-tidaknya jika masih terjadi, tidak perlu disesali. Sebab kesalahan dan kekurangan adalah sifat yang selalu melekat pada setiap orang. Keempat, selalu membangun optimisme, khusnudzan, termasuk khusnudzan pada diri sendiri. Betapapun kecilnya, seseorang pasti telah mendapatkan keberhasilan dalam hidupnya. Keberhasilan itu perlu disyukuri sebagai karunia Allah. Kemampuan menyukuri nikmat inilah menjadikan seseorang sehat dan kemudian percaya pada diri sendiri. Itulah sebabnya, orang yang selalu bersyukur akan ditambah nikmatnya. Sebaliknya, orang yang kufur nikmat merasa berkekurangan, dan selalu mengingat kejelekan dan kerugian pada dirinya, diancam dengan adzab yang pedih. Mengingat-ingat kelemahan dan kekurangan setidak-tidaknya justru akan gagal dalam membangun kepercayaan pada dirinya, dan itulah sesungguhnya pintu kegagalannya. Sudah barang tentu, masih banyak prinsip-prinsip lainnya yang bisa digali dari kitab suci maupun sejarah kehidupan nabi, untuk membangun kepercayaan diri itu. Namun sebagai akhir tulisan ini, perlu kiranya diingatkan atas pentingnya pertanyaan yang seharusnya selalu ditumbuh-kembangkan pada diri untuk menumbuhkan percaya diri, ialah bagaimana orang lain dituntut, sementara dirinya sendiri saja tidak mempercayainya. Rasanya kurang adil. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Leave A Reply

Your email address will not be published.