Membangun Penjara Alternatif Yang Produktif

Membangun Penjara Alternatif Yang Produktif

Seumur-umur saya belum pernah dipenjara, dan juga belum pernah datang, apalagi masuk ke lokasi gedungnya. Tetapi saya sering mendengar orang yang berpengalaman masuk dan setidak-tidaknya membesuk teman atau kenalan yang sedang dipenjara. Saya mendapatkan pengetahuan tentang betapa susah dan menderitanya orang yang sedang terkena urusan dengan kepolisian atau kejaksaan hanya dari teman. Apalagi akhir-akhir ini, menurut berbagai informasi yang saya terima, tempat tinggal tawanan itu penuh, sehingga kadang-kadang harus berdesak-desakan di dalamnya. Saya membayangkan, alangkah menderitanya mereka itu. Bukan saja menderita, tetapi juga malu, karena siapapun yang berusrusan dengan tempat itu berkonotasi jelek, nakal, telah melakukan kesalahan, jahat, dan apalagi akhir-akhir ini bagi pejabat, tuduhannya adalah korupsi. Mendengar saja kata korupsi, maka pelakunya sudah terkesan sedemikian buruknya. Rakyat sangat membenci dengan perbuatan itu. Penderitaan itu tentu saja, tidak saja dirasakan oleh yang bersangkutan, melainkan juga oleh keluarga, suami atau isteri, anak, menantu, teman, dan bahkan juga siapapun yang simpatik dengannya. Siapapun tidak suka memiliki keluarga, famili atau teman dekat yang kemudian diketahui telah melakukan kejahatan. Oleh karena itu siapapun tidak mau dituduh hingga dimasukkan ke penjara. Penderitaan di penjara saya bayangkan, secara social melebihi di neraka. Semua relasi tidak ada yang tahu, kalau seseorang lagi masuk neraka, kecuali sama-sama masuk di tempat yang menakutkan itu. Beban sosialnya tidak ada, karena tidak ada yang mengetahunya. Hanya aneh, saya mendengar ternyata banyak orang yang keluar masuk penjara karena kesalahan yang sama. Orang seperti ini mungkin belum bisa merasakan kehidupan yang nista itu. Atau, terlalu sulit merubah watak atau karakternya. Hal itu disebabkan oleh karena mereka terdesak atau terpaksa melakukan kesalahan atau kejahatan. Berbuat jahat merupakan satu-satu pilihan untuk mempertahankan hidupnya. Jawaban yang pasti saya juga belum tahu, karena saya bukan ahli dibidang kriminologi ini. Membayangkan betapa susahnya hidup dipenjara, saya berpikir bagaimana jika penjara itu justru dihilangkan. Atau setidak-tidaknya diubah menjadi lebih manusiawi. Jika penjara itu dimaksudkan sebagimana sebuah sekolah, agar penghuninya tidak saja merasa menderita, tetapi agar berubah watak dan atau karakternya, maka apa tidak perlu dicari bentuk penjara yang produktif. Seseorang jika melakukan kejahatan, setelah diproses hukumnya kemudian dipenjara, tetapi penjaranya tidak membebani pemerintah, dan bahkan justru produktif. Misalnya, penjara itu berupa pulau kecil, lalu di sana disediakan berbagai kegiatan, seperti pertanian, pertukangan, kerajianan, dan lain-lain yang sekiranya bisa dilakukan oleh orang yang lagi dipenjara. Mereka dengan kegiatan semacam itu bisa mandiri, artinya produk mereka selama menjalani hukuman itu tidak membebani pemerintah. Beban pemerintah sama saja dengan beban rakyat. Sehingga rasanya kurang adil manakala seseorang mengkorupsi uang rakyat, lalu dihukum dan ternyata proses itu masih membebani rakyat lagi. Proses itu lebih ironis lagi jika ternyata hukuman itu tidak berhasil mengubah watak, perilaku atau karakter si terhukum. Hukuman hanya sebatas bersifat formalitas, bahwa yang bersangkutan telah menjalani proses hukuman. Jika demikian maka penjara seolah-olah tidak memilkiki makna apa-apa, kecuali menjadikan pelakunya merasa menderita dalam waktu yang terbatas, yaitu selama mereka dihukum. Pemerintah atau para ahli mestinya mencari pemecahan, bagaimana hukuman itu menjadi efektif. Artinya dengan hukuman itu menjadikan yang bersangkutan dan juga masyarakat berusaha menghindari dari kesalahan serupa. Pada kenyataannya, sekalipun hukuman ditegakkan, ternyata penyimpangan masih selalu terjadi. Penjara belum terasa memiliki kekuatan edukatif yang maksimal. Oleh sebab itu perlu dicari alternative, selain kekuataan edukatif itu tampak juga lebih efisien, ekonomis dan bahkan sebisa-bisa produktif. Bentuk kongkritnya bisa berupa lahan luas berhektar-hektar, berada di tengah pulau tanpa penghuni, atau di tengah hutan. Di tempat itu disediakan lahan pertanian, peternakan, pertukangan, kerajian, dan berbagai lapangan kerja lainnya. Selain petugas keamanan, birokrasi penjara, juga disediakan para tenaga pembimbing kerja maupun kehidupan social lainnya. Tidak terkecuali, karena penghuni penjara juga beraneka ragam latar belakang pendidikan dan keahlian, termasuk peneliti atau ilmuwan, maka perlu disediakan sarana untuk menyalurkan bakat dan ilmunya itu, sehingga ativitas mereka berhasil memberi keuntungan bagi negara dan masyarakat, sebaliknya tidak malah membebani sebagaimana yang terjadi selama ini. Dengan cara itu penjara memiliki nilai edukatif, karena selain mereka harus bekerja yang mendapatkan hasil secara ekonomis juga disediakan tempat penyaluran bakat, tempat ibadah, bimbingan kerohanian, dan bahkan juga belajar tentang ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan sebagai bekal hidup mereka setelah selesai menjalani hukuman. Penjara akhirnya menjadi rehabilitasi mental, moral, dan kepribadian. Tatkala keluar dari penjara, sebagimana orang keluar dari rumah sakit, akan menjadi sehat dalam pengertian luas dan sebenarnya. Jika rumah sakit selama ini berfungsi sebagai tempat penjembuhan penyakit fisik, maka penjara difungsikan sebagai wahana untuk menyembuhkan bagi siapa saja yang berpenyakit mental, moral, dan akhlak. Jenis penyakit sebagaimana disebutkan terakhir ini, mental, moral, dan akhlak, ternyata tidak saja merusak dirinya sendiri, melainkan juga merusak atau setidak-tidaknya merugikan masyarakat luas. Oleh karena itu, terhadap penyandang penyakit itu harus ada upaya-upaya penyembuhan yang bisa dipastikan keberhasilannya. Jika Puasa Ramadhan dimaksudkan untuk meraih derajat taqwa, maka perlu diciptakan bentuk penjara yang mampu menyembuhkan bagi siapapun yang menyandang penyakit hati yang kurang terpuji, terbukti melakukan kejahatan, dengan nuansa edukatif yang tinggi, dan tentu bersifat manusiawi. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *