MEMPERINDAH BANGUNAN KEISLAMAN

MEMPERINDAH BANGUNAN KEISLAMAN

Dr. H. Uril Bahruddin, MA

 

Bertolak dari sabda nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa: “Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat, bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadhan”, maka kita semua telah memahami bahwa lima hal yang biasanya dikenal dengan rukun Islam sebagaimana disebutkan dalam hadis di atas, adalah merupakan pondasi dari bangunan ke-Islam-an seorang muslim.
Syahadat yang dielaborasi lebih rinci lagi dengan rukun Iman yang enam adalah merupakan pondasi utama. Dengan demikian, maka Iman itu adalah pijakan dari empat pondasi yang lain. Karena itulah empat pondasi yang lain, yaitu; shalat, zakat, puasa dan haji sangat tergantung dengan Iman. Keempatnya bisa menjadi syah dan bernilai di sisi Allah apabila pondasi utamanya telah kokoh terlebih dahulu.
Mengapa emapat hal tersebut di atas dikategorikan sebagai pondasi juga dalam membangun bangunan ke-Islam-an dalam diri setiap muslim? Selain karena Rasulullah saw. telah menyebutkannya secara jelas dalam hadisnya dengan menggunakan kata buniya ‘ala yang artinya dibangun di atas, apabila kita cermati keempat jenis ibadah itu semuanya menuntut adanya tindak lanjut dan tidak hanya berhenti pada pelaksanaan ibadah ritual itu saja. Shalat misalnya, diharapkan dengan melaksanakannya, seorang muslim dapat menampilkan sejumlah perilaku dan akhlak yang baik dan dengan perilaku itu dapat berdampak baik pula pada orang lain. Demikian pula zakat, puasa dan haji.
Dampak kebaikan dari ibadah-ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim itu harus nampak dalam seluruh aspek kehidupannya, baik sosial, politik, budaya, pendidikan, hukum maupun aspek-aspek kehidupan yang lain. Seluruh aspek kehidupan seorang muslim yang dilandasi dengan nilai-nilai kebaikan dari ibadahnya itu adalah merupakan wujud dari bangunan ke-Islam-an seseorang. Kita tidak hanya melihat bangunan ke-Islam-an itu pada saat seorang muslim melaksanakan ibadah, namun seharusnya dampaknya dapat terlihat jelas pada perilaku sosial, budaya, politik dan seterusnya.
Seorang muslim yang telah membangun ke-Islam-annya dengan baik seharusnya memiliki perilaku sosial yang baik, peduli dengan sesama, suka membantu meringankan beban saudaranya dan kehadirannya membawa manfaat untuk orang lain. Bukankah dengan shalat seorang muslim diajarkan untuk berperilaku tertib dalam hidupnya, dan dengan tertib itu berarti dapat memudahkan urusan orang lain. Bukankan dengan zakat seorang muslim diajarkan untuk memiliki sikap peduli terhadap sesama, meringankan penderitaan saudaranya. Bukankah dengan berpuasa seorang muslim dituntut untuk dapat memiliki rasa empati kepada orang lain. Begitu pula dengan haji ke baitullah.
Secara naluri, manusia tidak bisa hidup dengan sendirinya. Sifat sosial sesungguhnya adalah anugerah Allah swt. kepada manusia agar dapat menjalani hidupnya dengan baik. Pada kenyataannya, disampaing sejumlah persamaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, terdapat sejumlah perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya. Nilai-nilai kebaikan yang yang muncul dari sejumlah ibadah yang dilakukan oleh setiap muslim itulah yang diharapkan dapat menyelesaikan sejumlah permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat akibat adanya perbedaan antar individu.
Dalam perilaku politik seharusnya setiap muslim dapat menjatuhkan pilihan-pilihan politiknya pada kemaslahatan sesama dan bukan pada kemaslahatan pribadi sementara. Pilihan politik yang dapat berdampak pada kemaslahatan bersama harus didasari dengan prinsip-prinsip berpolitik yang sudah digariskan oleh al Quran. Diantaranya dan yang paling utama adalah prinsip mengambil keputusan politik dengan cara musyawarah. Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran ayat 159:
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.
Demikian pula jika kita mau membangun bangunan ke-Islam-an kita dalam konteks budaya. Salah satu contoh dalam membangun budaya berdasarkan nilai-nilai kebaikan Islam, misalnya dalam budaya kerja. Kerja pada hakekatnya adalah perwujudan dari amal kebaikan. Karena itu, niat dalam menjalankan suatu pekerjaan akan menentukan nilai dari pekerjaan itu. Baginda Rasulullah saw. telah bersabda dalam sebuah hadis: “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya”. Dari hadis tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk menumbuhkan budaya kerja yang baik dalam Islam harus diawali dengan perbaikan niat terlebih dahulu.
Lebih dari itu, untuk menumbuhkan budaya kerja yang baik, kita harus menyadari bahwa kerja adalah perintah suci dari Allah kepada manusia. Begitulah ayat al Quran menjelaskan hakekat kerja. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi” (Surat al Qashash: 77).
Meskipun pada hahekatnya akhirat lebih kekal daripada dunia, namun Allah swt. dalam ayat tersebut tidak memerintahkan hamba-Nya untuk meninggalkan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia. Lebih dari itu, untuk membangun budaya dan memotivasi kaum muslimin untuk bekerja, baginda nabi Muhammad saw. menggunakan bahasa yang sangat menggugah hati dan menyadarkan kaum muslimin, beliau bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya. Dan beramallah untuk akhiratmu, seolah-olah kamu akan mati besok”.
Demikianlah, jika kita mau membangun bangunan ke-Islam-an dalam diri kita, maka yang harus dipastikan adalah bagaimana kita bisa membangun seluluh aspek kehidupan kita diwarnai dengan nilai-nilai kebaikan yang dipancarkan dari pondasi bangunan ke-Islam-an kita. Semoga senantiasa kita dapat selalu berusaha untuk membangun bangunan ke-Islam-an kita menuju kesempurnaan, hingga nampak indah dan menawan serta manfaatnya dapat dirasakan. Wallahu a’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *