Menjadi Bangsa Pandai Bersyukur

Menjadi Bangsa Pandai Bersyukur

Islam mengajarkan kepada penganutnya agar pandai bersyukur atas nikmat yang demikian banyak telah diterimanya. Sedemikian banyak nikmat itu, sehingga sebatas menghitungnya tidak akan bisa dilakukan. Perintah bersyukur itu sedemikian jelasnya. Disebutkan dalam al-Qur’an bahwa barang siapa yang bersyukur, maka akan ditambah nikmat itu. Namun barang siapa ingkar atas nikmat yang telah diberikan, maka siksa Allah sedemikian pedihnya. Lebih jauh dari itu dikatakan bahwa memang sedemikian lemahnya manusia itu, sehingga hanya sedikit umat manusia yang tergolong pandai bersyukur. Bangsa Indonesia, telah dikarunia nikmat yang luar biasa besarnya. Apa saja dimiliki oleh bangsa ini. Tanah yang luas dan subur, berbagai macam jenis tambang, lautan dan samudera yang luas, gunung dan hutan, jumlah penduiduk yang banyak, dan bahkan juga sifat-sifat yang lemah lembut dimiliki oleh bangsa Indonesia. Kekayaan itu masih disempurnakan lagi oleh Allah, dengan posisinya di daerah tropis maka udara tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Memiliki dua musim yang sangat tepat untuk pertanian, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Para petani tinggal menyesuaikan jenis tanaman di kedua musim itu. Sekalipun begitu, bangsa ini masih dilanda oleh penderitaan. Rakyatnya sebagian masih miskin, sulit mendapatkan pekerjaan, pendidikannya masih belum mampu mengantarkan lulusannya berhasil mandiri hingga tidak menjadi problem pemerintah atau orang lain. Usaha untuk keluar dari problem itu sesungguhnya telah dilakukan. Mulai dari negeri ini dipimpin oleh presiden pertama, Ir. Soekarno, digantikan oleh Soeharto, Habibie, K.H. Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Putri hingga yang teraklhir Soesilo Bambang Yudhoyono, semua bekerja untuk mengentaskan penderitaan rakyatnya. Usaha-usaha itu sesungguhnya sudah banyak hasilnya. Bagi mereka yang mengikuti perkembangan bangsa ini, kemajuan itu tidak sulit dirasakan. Dua puluh tahun yang lalu, jangan dibayangkan ada listrik, tilpun, jalan-jalan sampai ke desa-desa. Saat ini, penduduk desa bisa menikmati listrik, telpon dan juga jalan beraspal. Sebatas membayangkan saja orang dahulu tidak akan bisa, apalagi menikmati berbagai fasilitas modern sekarang ini. Pada saat ini hampir semua anak muda berhasil merasakan memiliki sepeda motor dan bahkan kendaraan roda empat. Dengan kemajuan yang diraih oleh bangsa ini, anak-anak desa menginjak dewasa, tidak lagi bekerja ke hutan, menggembala ternak, atau menangkap ikan di laut dengan alat sederhana. Akhir-akhir ini, anak desa tidak berbeda dengan anak kota, mereka mengikuti pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Sebagai hasilnya, tidak sedikit anak desa mengalami mobilitas vertikal yang sedemikian cepat. Anak desa ada yang menjadi kepala daerah, pengusaha, politikus, kepala sekolah, pimpinan perguruan tinggi, ulama, dan bahkan juga diplomat dan lain-lain Problem yang muncul akhir-akhir ini, jika jeli melihatnya adalah terjadi kesenjangan yang sedemikian luasnya. Sebagian rakyat sudah mengalami keberhasilan, akan tetapi sebagian lainnya justru tertinggal. Mereka yang beruntung, karena kebetulan berhasil mengakses peluang-peluang yang tersedia. Mereka berhasil membekali diri dengan pendidikan yang cukup, dan bisa menangkap serta mengolah informasi, membangun jaringan secara luas. Begitu juga sebaliknya, dalam jumlah yang besar mereka mengalami ketertinggalan. Mereka yang kurang beruntung, pada umumnya adalah dimulai dari ketertinggalan di bidang pendidikan. Mereka kemudian memasuki lapangan pekerjaan pertanian, peternakan, nelayan, perdagangan, buruh yang kesemuanya itu tidak berdasar pengetahuan dan teknologi sebagaimana dituntut oleh zaman sekarang. Modal mereka terbatas, demikian pula ketrampilannya. Selain itu mereka juga tidak bisa mengakses informasi dan jaringan yang luas. Atas kenyataan itu, mereka ketika terjun di bidang pertanian, maka akan menjadi petani kecil. Demikian pula jika mereka memilih beternak, buruh, atau nelayan. Mereka hanya bisa memasuki peluang-peluang yang berpenghasilan kecil. Kalaupun mereka berhijrah ke kota ataupun hingga ke luar negeri, maka juga hanya akan memasuki lapangan pekerjaan yang berharga murah. Kelompok tertinggal seperti inilah kemudian menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian serius. Namun jika dirunut sebab musababnya, mereka itu sesungguhnya lagi-lagi karena belum berhasil mendapatkan pendidikan yang cukup sebagai bekal hidupnya. Masyarakat yang mengalami ketertinggalan di bidang pendidikan jumlahnya masih banyak. Bahkan di kantong-kantong tertentu, di mana pelayanan pendidikan belum maksimal, angka drop out masih tinggi, maka jumlah pengangguran belum bisa dikurangi. Selanjutnya, untuk meningkatkan taraf kehidupan kelompok ini, mesti memerlukan waktu yang cukup lama. Memang, selain faktor pendidikan, ada persoalan lain yang sesungguhnya menjadi sebab terjadinya kesenjangan. Faktor itu adalah adanya kekuatan-kekuatan ekonomi yang secara leluasa tumbuh dan berkembang, yang kekuatan itu mematikan ekonomi kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak. Jika diumpamakan sebuah kolam, di negeri ini terdapat ikan-ikan besar yang secara bebas memonopoli makanan yang semestinya diperuntukkan bagi ikan-ikan kecil. Bahkan bukan saja memangsa makanan ikan kecil, lebih dari itu ikan kecil saingannya pun ikut dimakannya pula. Inilah sesungguhnya yang sedang terjadi. Kekuatan kecil yang seharusnya dilindungi, malah justru diperlemah oleh kekuatan ekonomi besar yang seolah-olah tanpa kendali penguasa. Penguasa yang semestinya melindungi yang kecil, malah justru membiarkan, sehingga menjadikan pihak ekonomi kecil semakin tidak berdaya. Sebagai contoh sederhana, masuknya toko-toko swalayan, mall, supermarket, ke gang-gang kecil, berakibat matinya usaha rakyat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupannya. Dibangunnya supermarket, secara otomasis membuka lapangan pekerjaan baru. Akan tetapi, sudahkah dikaji secara objektif, berapa usaha kecil yang mati akibat munculnya usaha besar di daerah itu. Proses melemahnya pelaku eknomi kecil itu juga terjadi tatkala rakyat harus berhadapan pemodal besar. Tanah-tanah strategis di pinggir jalan atau di tempat-tempat potensial seperti daerah wisata, pengembang dan sejenisnya ternyata sudah berubah pemilik. Tanah-tanah itu dibeli oleh pemodal, yang kadang harganya tidak masuk akal, sangat murah. Pemilik tanah akhirnya pergi atau berubah status, yaitu jika sebelumnya menjadi pemilik tanah, maka kemudian menjadi satpam dan isterinya menjadi pembantu rumah tangga pemilih tanah baru itu. Gejala seperti inilah yang kemudian terasa sangat mengenaskan. Pembela orang kecil seperti ini tidak mudah ditemukan. Pejabat pemerintah sendiri tidak memiliki nyali atau keberanian jika harus berhadapan dengan kekuatan besar yang telah mendapatkan rekomendasi dari kekuatan yang lebih besar. Inilah sesungguhnya persoalan yang terjadi, ialah proses pemiskinan yang luar biasa. Padahal dengan sifat tamak dan ingin menguasai berbagai potensi tanpa batas tersebut akan berakibat terjadinya ekonomi tidak berjalan semestinya. Padahal jika rakyat terlalu miskin, maka tidak akan menjadi kekuatan pasar yang bisa menggerakkan perekomian. Akibatnya, usaha kelompok pemodal kuat tersebut juga tidak akan berjalan lancar. Semua kegiatan ekonomi tidak berjalan atau stagnan. Hal seperti itu, sebenarnya telah diingatkan oleh al-Qur’an bahwa ekonomi tidak boleh berputar pada kelompok tertentu, yakni orang kaya. Hal ini, secara teoretik akan berakibat terjadinya stagnasi perekonomian masyarakat. Jika asumsi-asumsi tersebut benar, bahwa di negeri ini sesungguhnya terdapat kelompok-kelompok kaya dan kuat yang menjadikan sebab kelompok kecil semakin tidak berdaya, maka sesungguhnya yang terjadi adalah adanya gejala kemiskinan rasa syukur dari mereka yang telah mendapatkan kelebihan itu. Mereka yang berlebih seharusnya mau berbagi, tetapi ternyata justru sebaliknya, ialah melumpuhkan yang kecil. Fenomena seperti ini seharusnya tidak boleh terjadi di negeri yang ber-Pancasila, yang satu silanya adalah keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia . Mereka yang tergolong kelompok kuat, bukan saja yang berada di perkotaan, yaitu para pengusaha besar di berbagai bidang, pengelola berbagai tambang, termasuk pembalak liar, tetapi juga tuan tanah-tuan tanah di desa. Saya pernah mendapatkan informasi, bahwa upah buruh tani yang keberja dari pagi hingga jam 10.00 hanya digaji sebesar Rp.8.000,-; sedangkan jika bekerja hingga jam 15.00 ditingkatkan menjadi 15.00,-. Coba kita bayangkan upah buruh yang hanya lima belas ribu rupiah, kapan mereka bisa bangkit mengembangkan diri. Mereka ini secara fisik, jiwa, pikiran dan harkat martabatnya terlalu tersiksa. Hal ini tidak lain karena tidak adanya kepedulian sosial, sebagai akibat orang-orang yang telah kuat tidak mau bersyukur. Gerakan untuk mendekatkan kedua kelompok —masing-masing berada pada ujung yang berbeda, sesungguhnya sudah amat mendesak. Pemerintah harus berani memprakarsai upaya itu. Jika orang kecil secara terus menerus terpinggirkan, maka kesabaran mereka pada suatu saat akan hilang. Pemerintah yang memiliki keberanian seperti itulah sesungguhnya yang dibutuhkan oleh rakyat yang selama ini menderita. Islam mencegah kesenjangan melalui kewajiban membayar zakat. Selain itu, juga dianjurkan untuk berinfaq, shadaqah, dan hibah. Begitu pentingnya infaq ini dilaksanakan, sehingga dijadikan bagian dari bukti ketaqwaan seseorang. Sayang ajaran itu, di negeri ini, belum dijalankan secara maksimal. Jika zakat, infaq, shadaqah, dan hibah itu dipandang sebagai gambaran rasa syukur, maka artinya, rasa syukur tersebut masih perlu ditingkatkan. Bangsa ini semestinya tidak hanya selalu berharap agar yang miskin bersabar terus-menerus. Sebaliknya, harus mengajak kepada semuanya agar menjadi bangsa yang pandai bersyukur. Wallahu a’lam. Jeddah, 9 Juli 2009

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *