Mental Orang Terhukum

Mental Orang Terhukum

Akhir-akhir ini, penjara di mana-mana semakin penuh, baik terisi oleh orang-orang yang sudah diputus perkaranya, maupun oleh orang-orang yang masih menjadi terdakwa. Keterbatasan fasilitas hunian di dalam penjara itu, menjadikan sebatas untuk tidur saja, sebagaimana informasi yang saya dapatkan, harus bergantian. Benar-benar sumpek, itulah bayangan ketika ruangan penjara penuh. Untuk mengatasi keadaan itu, pihak-pihak yang berwenang merasa berkewajiban harus segera membangun fasilitas baru, supaya bisa menampung banyak orang lagi. Sudah barang tentu, itu semua memerlukan dana besar. Belum lagi setelah fasilitas tersebut selesai dibangun, harus disediakan biaya perawatan, dan anggaran bagi orang-orang yang dipenjara itu. Semakin banyak orang dipenjara, anggaran harus semakin ditambah. Penjara tempat orang dihukum itu selama ini dipercaya bisa memperbaiki keadaan. Orang salah harus dihukum, agar tidak melakukan kesalahan lagi. Atas hukuman itu, mereka agar jera dan menyadari atas kesalahannya. Selain itu, penjara juga dimaksudkan sebagai upaya preventif, agar supaya orang tidak melakukan kesalahan seenaknya. Orang yang dipenjara harus melewati proses dan prosedur hukum terlebih dahulu secara adil, jujur,dan terbuka. Tidak boleh sembarangan orang dimasukkan ke penjara. Orang yang tidak salah, tidak boleh dimasukkan ke tempat itu. Sehingga dengan demikian, penjara benar-benar bisa dirasakan sebagai pemenuhan rasa keadilan di masyarakat. Jika logika di muka terpenuhi, artinya keadilan, kejujuran, dan keterbukaan dijalankan, maka siapapun, baik yang di pejara, keluarganya, maupun masyarakat pada umumnya akan menerima keputusan itu. Namun, jika rasa keadilan itu terganggu, maka hukuman tersebut akan melahirkan kekecewaan atau sakit hati. Jika hal itu terjadi, kewajiban masuk penjara dijalani, tetapi muncul rasa sakit hati yang mendalam, karena merasa teraniaya atau didholimi Oleh karena itu pertanyaan yang seharusnya selalu direnungkan adalah, apakah mereka yang terhukum itu benar-benar telah merasa diperlakukan secara adil dan jujur. Rasa adil yang dimaksud adalah mulai dari perkara yang didakwakan, proses hukum, kesamaan perlakuan, dan beban hukuman yang diberikan dan lainnya. Jika hal-hal seperti itu tidak memenuhi rasa keadilan, maka penjara justru akan melahirkan rasa sakit hati, dendam, rasa teraniaya atau didholiimi secara berkepanjangan. Sebuah contoh kecil, bahwa misalnya seorang dituduh melakukan korupsi. Memang ia benar-benar melakukan kesalahan itu. Tetapi jika kesalahan yang dilakukan itu dalam rangka menunaikan tugas untuk menyelamatkan keadaan, ——bukan untuk kepentingan pribadi sendiri, maka akan melahirkan rasa teraniaya yang mendalam. Orang menyebutnya sebagai kesalahan prosedur, maka ia dianggap salah, dan harus dihukum. Kesalahan seperti ini menjadikan terhukum merasa teraniaya. Perasaan seperti itu sesungguhnya mudah dipahami, oleh karena tugas-tugas dalam kehidupan ini, tidak selalu semua hal bisa dilakukan sesuai dengan prosedur baku. Untuk menunaikan tugas sehari-hari, orang tidak selalu bisa terkungkung oleh peraturan yang ada. Apalagi dengan peraturan itu, ——dalam kasus-kasus tertentu, ia tahu negara terugikan. Atas dasar kenyataan itu, sesorang yang kreatif justru akan pengambil keputusan yang berbeda dengan prosedur atau aturan yang ada. Orang kreatif selalu akan mengambil prakarsa, kreatifitas, efisiensi, dan bahkan juga penyelamatan. Namun sayangnya ruang kreatifitas itu, dalam keadaan tertentu dibuntu dan dianggap salah, karena dianggap menyalahi prosedur. Celakanya orang yang bersangkutan, jika ditemukan dalam pemeriksaan harus dihukum. Keadaan seperti itu menjadikan banyak orang mengalami nasib sebagai tertuduh. Tidak sedikit lurah, bupati, wali kota, gubernur, menteri, direktur bank, BUMN, KPK, polisi, jaksa, hakim, rector, kepala sekolah, secara merata ada di mana-mana mengalami kasus-kasus seperti itu. Mereka tidak merasa salah, tetapi masih persalahkan dan harus masuk penjara. Orang-orang seperti ini, yang bisa jadi karena kreativitasnya itu, justru menjadi teraniaya. Orang yang mengalami nasib seperti itu akan merasa sangat teraniaya, dan bahkan perasaan itu tidak saja dialami oleh yang bersangkutan, melainkan juga keluarganya, saudara-saudaranya, dan bahkan juga umatnya. Perasaan teraniaya dan juga diperlakukan secara tidak adil juga muncul jika tuduhan kesalahan itu tidak diberlakukan secara merata. Apa yang dilakukan dan dianggap salah, sebenarnya adalah keputusan bersama. Tetapi kesalahan itu hanya ditimpakan pada sebagian orang. Sedangkan sebagian yang lain, sekalipun lebih dominan kesalahannya, ——karena tidak dalam keadaan sial, selamat. Keadaan seperti itu akan menjadikan perasaan teraniaya secara mendalam. Persoalan kemanusiaan seperti tersebut di muka, seharusnya mendapatkan perhatian secara saksama. Perasaan tidak diperlakukan secara tidak adil, teraniaya, terdholimi dan sejenisnya, seharusnya dijaga, jangan sampai terjadi. Menjadikan sebab orang mengalami penderitaan seperti itu, sesungguhnya adalah sama kadar salahnya dengan orang yang melakukan kesalahan itu sendiri. Semestinya, kesalahan yang dilakukan hanya karena berbeda dengan petunjuk teknis formal yang ada, bisa dipahami dan bahkan justru, dalam hal-hal tertentu, harus mendapatkan penghargaan. Keputusan-keputusan kreatifi untuk menyelamatkan keadaan, sekalipun menyimpang dari prosedur, atau aturan administrasi dan sejenisnya mestinya justru harus dihargai. Dalam Islam, dikenal istilah ijtihad. Seseorang yang berijtihad, lalu ternyata hasil ijtihadnya salah, maka masih mendapatkan satu pahala. Dan jika ijtihadnya benar, maka pahalanya akan dilipatkan. Di negeri ini rupanya tidak demikian, menyimpang dari prosedur saja, sekalipun menguntungkan negara, masih harus dihukum. Keadaan seperti inilah yang kemudian melahirkan suasana batin atau mental terhukum menjadi terganggu dan bahkan teraniaya. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *