Menyatukan Kata Dengan Perbuatan

Merumuskan kalimat yang benar seringkali tidak mudah, tetapi lebih tidak mudah lagi adalah menjalankannya.  Mengatakan sesuatu tentang kebaikan banyak orang bisa, tetapi belum tentu orang yang bersangkutan bisa menjalankannya. Itulah sebabnya orang mengatakan bahwa menjalankan sesuatu kebaikan jauh lebih sulit dari pada sebatas mengatakan sesuatu itu.

  Bangsa Indonesia memiliki dasar negara Pancasila dan undang-undang 1945. Sedemikian baik prinsip-prinsip dan makna yang dikandungnya. Akan tetapi sekalipun prinsip-prinsip tersebut sudah berhasil dirumuskan sejak  65 tahun lalu, orang baru berdebat tentang kapan persisnya nilai-nilai yang amat mulia itu dilahirkan. Seolah-olah mendiskusikan tentang hari lahirnya jauh lebih penting dari mengimplementasikannya.   Akhirnya Pancasila masih baru  berada pada wilayah cita-cita, atau sesuatu yang sifatnya ideal yang tidak pernah mewujud dalam tindakan nyata. Sehari-hari hanya disebut dan dijadikan slogan, doktrin, seruan, tetapi tidak  menjadi gambaran dalam tindakan nyata. Falsafat itu baik dan indah, tetapi belum sepenuhnya menjadi kebaikan dan keindahan. Sementara, baru sebatas  didengar, tetapi masih sulit untuk dilihat. Padahal siapapun,  selain ingin mendengar kata-kata indah juga berharap  bisa menikmati keindahan itu setelah menjadi kenyataan.   Adanya jarak antara kata dan perbuatan ternyata juga dalam soal agama. Banyak orang mengatakan tentang  sesuatu,  datang dari Tuhan  karena tercantum dalam kitab suci. Sehari-hari sesuatu ajaran itu  diceramahkan dan didakwahkan, tetapi ternyata materi dakwah atau ceramah itu tidak selalu  dijalankan. Sebagai contoh yang sangat mudah  dilihat, bahwa orang selalu mengatakan, sholat jamaáh di masjid itu penting.  Akan tetapi tatkala mendengar  suara adzan dan diajak mendatangi suara itu, mereka lebih tertarik berdebat, mempertanyakan apakah seharusnya sholat itu  dilakukan secara berjamaáh. Padahal mereka tahu, bahwa dalam berbagai riwayat, nabi selalu menjalankannya dengan cara berjamaáh dan melaksanakannya di masjid.      Masih terkait dengan sholat, orang meyakini bahwa keberadaan masjid atau mushola, sangat penting. Karena itu harus dibangun sebesar dan seindah mungkin. Akan tetapi belum selang beberapa lama tempat ibadah itu selesai dibangun, ternyata  tidak banyak didatangi jamaáh, kecuali pada saat-saat tertentu. Akibatnya, tempat ibadah itu menjadi sepi jamaáh. Seolah-olah kewajiban itu hanya terkait membuat masjid, dan bukan sekaligus menggunakannya.   Demikian pula tentang jenis ibadah yang lain. Berdebat tentang zakat dilakukan dimana-mana. Seminar tentang zakat, infaq, shodaqoh dan semacamnya tidak pernah berhenti dilakukan. Orang juga tertarik dengan seminar semacam itu. Tetapi tatkala datang waktunya menjalankan ibadah itu tampak sepi. Seorang-olah seminar tentang zakat, infaq,  dan shadaqah lebih penting daripada menjalankannya.   Lagi-lagi menghitung dan juga mengandai-andai tentang hasil zakat gemar dilakukan. Akan tetapi dalam kenyataannya, banyak orang  baru sampai pada menyenangi  kegiatan mengitung dan mengandai-andai itu. Hasil zakat hanya sedikit yang terkumpul. Setiap tahun hasil pengumpulan zakat tidak sebanding antara hitungan di atas kertas dengan hasil yang didapat. Seolah-olah ajaran yang mulia ini baru  sampai pada tingkat hitungan atau  pengandaian. Antara kata dan perbuatan menjadi ada jarak, dan bahkan sayangnya jarak itu terlalu jauh.   Kenyataan yang menyedihkan itu ternyata juga terjadi di dunia pendidikan. Di sekolah diajarkan tentang kebaikan, kejujuran, keadilan, kedisiplinan  dan nilai-nilai luhur lainnya. Tetapi bersamaan dengan itu pula ternyata, kebaikan, keadilan,  dan kejujuran itu belum diwujudkan, baik di kalangan guru maupun murid-muridnya. Hal itu bisa dilihat dengan mudah misalnya, dari pelaksanaan ujian nasional, termasuk  ujian yang baru saja selesai dilaksanakan.   Agar ujian dimaksud bisa  dilaksanakan secara jujur, maka harus disediakan pengawas yang tidak sedikit jumlahnya, bahkan harus  melibatkan dosen perguruan tinggi. Selain itu, pengiriman soal harus dikawal, dan bahkan sebelum pelaksanaan ujian, semua dokumen harus dititipkan di kantor-kantor polisi. Ini semua menggambarkan,  bahwa ternyata di pusat-pusat diajarkannya tentang kejujuran pun,  masih belum dipercaya menjalankan kejujuran itu.   Selain  menyangkut etika, di sekolah juga diajarkan tentang berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti biologi, fisika, kimia, sosiologi, sejarah bahasa Inggris, termasuk juga bekal ketrampilan. Akan tetapi, karena selalu ada jarak antara kata dan perbuatan itu, maka seolah-olah semua yang diajarkan menjadi hilang setelah para siswa yang belajar itu dinyatakan lulus. Belajar hanya agar lulus ujian. Setelah lulus, ilmu yang didapatkan  tidak selalu membekas pada pikiran dan hatinya.   Atas dasar kenyataan itu, maka sementara orang mengatakan bahwa  antara kata-kata yang diajarkan dengan perilaku sehari-hari  masih selalu berjarak,  dan kadang jarak itu sedemikian jauh sehingga hasil  pendidikan tidak tergambar dari pribadi lulusannya. Makanya, orang mengatakan, antara kata dan perbuatan selalu  berjarak. Berkata tidak semudah menjalankannya. Sehingga pantas,  Allah melalui kitab suci-Nya, menegur dengan kata-kata : mengapa sesuatu kamu katakan, sementara tidak engkau jalankan?   Di negeri tercinta ini sudah membanjir  kata-kata bijak, yang datang dari berbagai kalangan, baik orang tua, pemimpin, guru, agamawan, ilmuwan dan sebagainya. Namun  sayangnya, kata bijak itu belum  terlalu banyak yang  menjadi kenyataan. Oleh yang karena itu yang diperlukan untuk membangun negeri ini adalah bagaimana menyatukan kata dengan perbuatan, tidak terkecuali,  di semua lapisan dan  kalangan. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Menyatukan Kata Dengan Perbuatan | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *