MODEL DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM

MODEL DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM

MODEL DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM

(Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab)
Dosen Pengampu:
Dr. H. Slamet Daroini M.A

Oleh:
Aidah Mifta Khurrosyidah (18720050)
Ardyansyah (18720054)
Muhammad Iqbal Fairuzi (18720068)

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PASCASARJANA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2018

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin kami tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yakni Nabi muhammad SAW.
Makalah ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “Model Desain Pengembangan Kurikulum”.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab yaitu Bapak Dr. H. Slamet Daroini M.A yang telah membimbing, mengarahkan dan memberi dukungan dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu dengan segala kerendahan hati kami membuka kesempatan kepada semua pihak untuk memberikan kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan bagi penulis khususnya, Aamiin.

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Model Desain Pengembangan Kurikulum 3
BAB III PENUTUP 19
A. Kesimpulan 19
DAFTAR PUSTAKA 20

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan kurikulum menempati posisi yang urgent bahkan dapat dikatakan kurikulum merupakan roh dalam proses pembelajaran karena perannya sebagai alat mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan . Sebagaimana pendidikan yang memiliki komponen-komponen pendidikan, kurikulum juga memiliki komponen-komponen untuk membentuk satu kesatuan yang bernama kurikulum.
Komponen-komponen kurikulum yaitu,1. Tujuan, tujuan digunakan untuk mengarahkan semua kegiatan pembelajaran.2. Bahan Ajar, bahan ajar tersusun atas topik-topik yang diajarkan.3. Strategi mengajar, cara untuk menyajikan bahan ajar.4. Media Mengajar, segala sesuatu yang digunakan guru untuk memberi keterangan, kejelasan, dan gambaran dari isi materi yang disampaikan secara efektif kepada siswa dalam proses pembelajaran.5. Evaluasi pengajaran, ditujukan untuk menilai pencapain-pencapaian tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan.
Dalam menjalankan komponen kurikulum dibutuhkan desain kurikulum untuk mengorganisasikannya sehingga mampu berjalan bersama. Desain akan menggambarkan pola dari kurikulum. Oleh karena itu dirasa perlu mengkaji lebih lanjut tentang desain kurikulum karena posisinya yang penting untuk menyatukan komponen-komponen kurikulum.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana model desain dari pengembangan kurikulum?
C. Tujuan
2. Untuk mendeskripsikan model desain dari pengembangan kurikulum.

BAB II
PEMBAHASAN
A. MODEL DESAIN PENGEMBANGAN KURIKULUM
Dalam kurikulum sering kali digunakan model dengan menggunakan grafik untuk menggambarkan elemen-elemen kurikulum, hubungan antar elemem, serta proses pengembangan dan implementasi kurikulum. Pada prinsipnya, pengembangan kurikulum berkisar pada pengembangan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu diimbangi dengan perkembangan pendidikan.
Kegiatan pengembangan kurikulum sekolah memerlukan suatu model yang dijadian landasan teoritis untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Dalam kegiatan pengembangan kurikulum model merupakan ulasan teoritis tentang proses pengembangan kurikulum secara menyeluruh atau dapat pula hanya merupakan ulasan tentang salah satu komponen kurikulum. Ada suatu model yang memberikan ulasan tentang eseluruhan pross kurikulum, tetapi ada pula yang hanya menekankan pada mekanisme pengembangannya saja, dan itu pun dapat hanya pada uraian tentang pengembangan organisasinya. Ada banyak model pengembangan kurikulum yang telah dipikir dan dikemukakan orang, diantaranya sebagai berikut:
1. Model Pengembangan Kurikulum Rogers
Roger mengemukakan beberspa model yang terutama akan berguna bagi para pengajar di sekolah ataupun di perguruan tinggi, yaitu jumlah dari model yang paling sederhana sampai dengan yang komplit. Model-model tersebut disusun sedemikian rupa sehingga model yang berikutnya sebenarnya merupakan penyempurnaan dari model sebelumnya. Adapun model-model tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut,
a. Model I (model yang paling sederhna) menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri dari kegiatan memberikan informasi (isi pelajaran) dan ujian. Hal itu berdasarkan asumsi bahwa pendidikan adalah evaluasi dan evaluasi adalah pengetahuan serta pengetahuan adalah akumulasi materi dan informasi. Model tersebut merupakan model tradisional yang masih diperunakan orang yang dapat digambarkan sebagai berikut.

Model di atas dapat memberikan dua pertanyaan pokok, yaitu 1) Mengapa saya mengajarkan mata pelajaran ini, dan 2) bagaimana saya dapat mengetahui keberhasilan pengajaran yang saya ajarkan? Dalam menjawab pertanyaan tersebut tentunya kita akan mempertimbangkan ketepatan dan kerelevansian bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan siswa dan masyarakat. model I ini mengabaikan cara-cara (metode) dalam proses belangsungnya kegiatan belajar mengajar dan urutan atau organisasi bahan pelajaran secara sistematis, suatu hal yang seharusnya dipertimbangkan juga. Kedua hal tersebut akan menuntut jawaban pertanyaan-pertanyaan: 3) mengapa saya mengajarkan bahan pelajaran ini dengan metode itu?, dan 4) bagaimana saya harus mengorganisasikan bahan pelajaran.
b. Model II dialkukan dengan menyempurnakan model I di atas dengan menambahkan kedua jawab terhadap pertanyaan 3) dan 4) tersebut, yaitu tentang metode dan organisasi bahan pelajaran. Model II pengembangan kurikulum tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Pengembangan kurikulum pada model II di atas sudah dipikirkan pemilihan metode yangkirang efektif bagi berlangsungnya proses pengajaran. Di samping itum bahan pelajaran juga sudah disusun secara sistematis, dari yang mudah ke yang lebih sukar dan juga memperhatikan luas dan dalamnya suatu bahan pelajaran. Akan tetapi, model II tersebut pun belum memperhatikan masalah teknologi pendidikan yang sangat menunjang keberhasilan kegiatan pengajaran. Teknologi pendidikan yang dimaksud adalah yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan: 5) buku-buku pelajaran apakah yang harus diperguakan dalam sutu mata pelajaran, dan 6) alat atau media pengajaran apa yag dapat dipergunakan dalam mata oelajaran tertentu?.
c. Model III
Modek III pengembangan kurikulum ini merupakan penyempurnaan model II yang belum dapat memberikan jawab terhadap pertanyaan 5( dan 6) di atas, yaitu dengan memasukkan unsur teknologi pendidikan ke dalamnya. Hal itu berdasarkan pertimbangan bahwa teknologi pendidikan merupakan faktor yang sangat amat menujang dalam keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Model III dapat dgambarkan sebagai berikut.

Pengembangan kurikulum yang brorientasi pada bahan pelajaran hanya akan sampai pada model II tersebut.padahal masih ada satu lagi masalah pokok yang harus diperhatikan, yaitu yang berkaitan dengan masalah tujuan. Hal tersebut melahirkan pertanyaan 7) kemmpuan apa yang diharapkan dimiliki para siswa melalui mata pelajaran itu? Yang perlu dicari jawabannya. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut, yaitu yang berkaitan dengan tujuan pengajaran yang dilakukan, akan sangant mempengaruhi dalam menentukan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sebelumnya. Hal itu disebabkan tujuan pengajaran menduduki peranan sentral dalam setiap model pengembangan kurikulum.
d. Model IV
Model IV pengembangan kurikulum merupakan penyempurnaan model III, yaitu dengan memasukkan unsur tujuan ke dalamnya. Tujuan itulah yang bersifat mengikat semua komponen yang lain, yaitu baik metode, organisasi bahan, teknologi pengajaran, isi pelajaran, maupun kegiatan penilaian yang dilakukan. Model IV pengembangan kurikulum dapat digambarkan sebagai berikut.

2. Model Pengembangan Kurikulum Zais
Robert S. Zais (1978) mengemukakan adanya delapan macam model pengembangan kurikulum. Sebagian model tersebut sering ditempuh orang dalam kegiatan pengembangan kurikulum di sekolah, sebagian lagi merupakan ulasan terhadap model yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh tertentu.
a. Model Administratif
Model administratif sering pula disebut sebagai model garis dan staf atau dikatakan pula sebagai model dari atas ke bawah. Kegiatan pengembangan kurikulum dimulai dari pejabat pendidikan yang berwenang yang membentuk panitia pengarah, yang biasanya terdiri dari para pengawas pendidikan, kepala sekolah, dan staf pengajar inti. Panitia pengarah terseut diserahi tugas untuk merencanakan, memberikan pengarahan tentang garis besar kebijaksanaan, menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan umum pendidikan.
Setelah kegatan tersebut selesai, kemudian panitia menunjuk atau membentuk kelompok-kelompok kerja sesuai dengan keperluan yang para anggotanya biasanya terdiri dari staf pengajar dan spesialis kurikulum. Kelompok-kelompok kerja tersebut bertugas untuk menyusun tujuan-tjuan khusus pendidikan, garis besar bahan pengajaran, dan kegiatan belajar. Hasil kerja kelomok tersebut direvisi oleh panitia pengarah, dan kemudian jika dipandang perlu, walau hal ini jarang dilakukan, dilakukan uji coba untuk mengetahui efektivitas dan kelayakan pelaksanaannya. Pelaksana uji coba rancangan kurikulum tersebut adalah sebuah komisi yang ditunjuk oleh panitia pengarah yang para anggotanya sebagian besar terdiri dari kepala sekolah. Setelah penelitian uji coba selesai, panitia pengarah menelaah (mengevaluasi) sekali lagi rancangan kurikulum tersebut, baru kemudian memutuskan pelaksanaannya .
Pengembangan kurikulum model administratif tersebut menekankan kegiatannya pada orang-orang yang terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Berhubung pengarahan kegiatan berasal dari atas ke bawah, pada dasarnya model ini mudah dilaksanakan pada negara yang menganut sistem sentralisasi dan negara yang kemampuan profesional tenaga pengajarnya masih rendah. Kelemahan model ini terletak pada kurang pekanya terhadap adanya perubahan masyarakat, di samping juga karena kurikulum ini biasanya bersifat seragam secara nasional sehingga kadang-kadang melupakan (mengabaikan) adanya kebutuhan dan kekhususan yang ada pada tiap daerah.
b. Model Dari Bawah (Grass – Roots)
Jika pada model administratif kegiatan pengembangan kurikulum berasal dari atas, model yang kedua ini inisiatif justru berasal dari bawah, yaitu dari para pengajar yang merupakan para pelaksana kurikulum di sekolah-sekolah. Model ini mendasarkan diri pada anggapan bahwa penerapan suatu kurikulum akan lebih efektif jika para pelaksananya di sekolah sudah diikutdertakan sejak mula kegiatan pengembangan kurikulum itu.
Pengembangan kurikulum model dari bawah ini menuntut adanya kerja antarguru antar sekolah secara baik, di samping harus ada juga kerja sama di luar pihak sekolah khususnya orang tua murid dan masyarakat. pada pelaksanaannya, para administrator cukup memberikan bimbingan dan dorongan kepada para staf pengajar. Setelah menyelesaikan tahap tertentu, biasanya diadakan lokakarya untuk membahas hasil yang telah diapai, dan sebaliknya merencanakan kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya. Pengikut lokakarya di sampaing para pengajar dan kepala sekolah, juga melibatkan orang tua dan anggota masyarakat lainnya, serta para konsultan dan para sumber yang lain.
Pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum model ini adalah pengembangan kurikulum secara demokratis, yaitu yang berasal dari bawah. Keuntungan model ini adalah proses pengambilan keputusan terletak pada para pelaksana, mengikutsertakan berbagai pihak bawah khususnya para staf pengajar. Kekurangan pengembangan kurikulum ini terutama pada sifat mengabaikan segi teknis dan profesional dari perkurikuluman.
3. Model Beauchamp
G. A. Beauchamp mengemukakan adanya lima langkah penting dalam pengambin keputusan pengembangan kurikulum.
1) Menentukan “arena” pengembangan kurikulum yang dilakukan, yaitu yang berupa kelas, sekolah, sistem persekolahan regional atau nasional.
2) Memilih kemudian mengikutsertakan para pengembang kurikulum yang terdiri dari spesialis kurikulum, wakil kelompok profesional seperti staf pengajar dan penyuluh pendidikan, dan juga orang awam.
3) Mengorganisasikan dan menentukan prosedur perencanaan kurikulum yang meliputi penentuan tujuan, materi pelajaran, dan kegiatan belajar. Kegiatan yang dilakukan adalah penentuan dewan kurikulum sebagai koordinator umum penyusunan kurikulum, penilaian terhadap kurikulum yang sedang dipergunakan, pemilihan alternatif bahan pelajaran baru, penentuan kriteria dan pemilihan alternatif bagian kurikulum, dan penyususnan dan penulisan secara menyeluruh kurikulum yang sedang dikembangkan (kurikulum baru).
4) Menerapkan atau melaksanakan kurikulum secara sistematis di sekolah.
5) Melakukan penilaian kurikulum yang telah dan sedang dilaksanakan tersebut. Penilaian yang dilakukan mencakup hal-hal seperti penggunaan kurikulum oleh staf pengajar, rencana (desain) kurikulum, hasil belajar siswa, dan keseluruhan sistem kurikulum.
Model Beauchamp memandang pengembangan kurikulum tersebut dalam prosesnya secara menyeluruh. Keuntungan model ini adalah adanya penegasan arena yang kiranya aka mempermudah dan memperjelas ruang lingkup kegiatan. Kekurangannya, seperti halnya model administratif, adalah kurang pekanya terhadap perubahan masyarakat dan kurang memperhatikan keadaan daerah yang antara satu dengan lainnya menuntut adanya kekhususan-kekhususan tertentu.
4. Model Terbalik Hilda Taba
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Hilda Taba ini berbeda dengan cara lazim yang banyak ditempuh yang bersifat deduktif karena caranya yang bersifat induktif. Itulah sebabnya model ini disebut “Model Terbalik”. Pengembangan kurikulum model ini diawali dengan melakukan percobaan, penyusunan teori, dan kemudian baru diterapkan. Hal itu dimaksudkan untuk lebih mempertemukan antara teori dan praktik, serta menghilangkan sifat keumuman dan keabstrakan yang terjadi pada kurikulum yang dilakukan tanpa kegiatan percobaan.
Pengembangan kurikulum model ini dilakukan dengan melalui lima tahap yang dapat dikemukakan sebagai berikut.
1) Menyusun unit-unit kurikulum yang akan diujicobakan yang dilakukan oleh staf pengajar. Penyusunan unit-unit tersebut dilakukan dengan cara mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan khusus, memilih dan mengorganisasi isi pelajaran, memilih pengalaman belajar, melakukan penilaian, dan mempertimbangkan keseimbangan antara kedalaman dan keluasan bahan pelajaran.
2) Mengujicobakannya untuk mengetahui keshahihan dan kelayakan kegiatan belajar mengajarnya.
3) Menganalisis dan merevisi hasil uji coba, serta kemudian mengkonsolidasikannya.
4) Menyusun kerangka kerja teoritis. Pertimbangan yang digunakan untuk melakukan kegiatan ini adalah mendasarkan diri pada pertanyaan-pertanyaan: apakah isi unit-unit yang disusun secara berurutan itu telah berimbang kedalaman dan keluasannya, dan apakah pengalaman belajar telah memungkinkan berkembangnya kemampuan intelektuan dan emosional?
5) Menyusun kurikulum yang dikembangkan itu secara menyeluruh dan mengumumkannya (mendiseminasikan).
Pengembangan kurikulum model terbalik berusaha mendekatkan kurikulum dengan realitas pelaksanaannya, yaitu melalui pengujian terlebih dahulu oleh staf pengajar yang profesional. Dengan dmikian, model ini benar-benar memadukan teori dan praktik. Akan tetapi, ini dipandang sebagai kelemahannya, model tersebut sulit diorganisasikan karena menuntut kemampuan teoritis dan profesional yang tinggi dari staf pengajar dan administrator pelaksana.
5. Model Ralph Tyler
Pada tahun 1949, Tyler mengemukakan model ini sebagai analisis atau deskripsi terhadap proses pengembangan kurikulum di dalam kitabnya “Basic Principels of Curriculum andinstruction. Tyler menyebutkan empat unsur kurikulum, yaitu tujuan, materi pelajaran, pengaturan atau organisasi materi kurikulum, dan kemudian mengevaluasi. Model Tyler dapat digambarkan sebagai berikut.
Tujuan

Materi

Organisasi

Evaluasi
Tyler menyatakan bahwa dalam menentukan tujuan pendidikan hendaknya jangan hanya diperhitungkan pendapat para ahli disiplin ilmu melainkan juga kebutuhan dan minat anak dan masyarakat yang sesuai dengan falsafah pendidikan. Dalam proses belajar mengajar harus diperhatikan latar belakang pendidikan dan pengalaman anak serta persepsi Masing-masing agar mereka dapat mengadakan reaksi mental da emosional maupun dalam bentuk kelakuan. Pengalaman atau kegiatan belajar harus mempunyai organisasi atau struktur tertentu agar mempunyai efek kumulatif maksimal. Bahan itu dapat diorganisasi berdasarkan disiplin ilmu atau mata pelajaran. Evaluasi menurut Tyler hendaknya jangan hanya berbentuk tes tertulis, tetapi juga berupa observasi, hasil pekerjaan siswa, kegiatan dan partisipasinya serta menggunakan metode-metode lainnya agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif tentang taraf tercapainya tujuan pendidikan.
6. Model Wheeler
Wheeler mengembangkan model Ralph Tyler untuk menjadikannya ringan, agar setiap evaluasi mempunyai peran dalam setiap langkah dalam pengembangan kurikulum, dan dalam proses kurikulum secara umum. Wheeler berpendapat bahwa proses pengembangan kurikulum mencakup lima langkah-langkah sebagai berikut.
1) Pemilihan tujuan
2) Pemilihan pengalaman belajar, yang diyakini bisa membantu mewujudkan tujuan ini.
3) Pemilihan materi pelajaran yang bisa menyajikan beberapa pola pengalaman.
4) Megorganisasi dan menyempurnakan pengalaman belajar, dan menggabungkannya dengan proses belajar mengajar di dalam sekolah.
5) Mengevaluasi efisiensi semua apek langkah dalam hal mencapai tujuan.

7. Model Harold B. Alberty
Pada masa yang hampir bersamaan dengan Hilda Taba, Harold B. Alberty mengemukakan tentang model pengembangan kurikulum dengan menambahkan beberapa unsur penunjangnya. Yang ditekankan oleh Albertery sebagai unsur penting dalam pengembangan kurikulum adalah unit sumber belajar yan disebutnya ddngan istilah resource unit, yang pengertiannya dapat disamakan dengan pendekatan pembelajaran dalam bentuk unit. Langkah-langkah pengembangan kurikulum dalam model Arberty adalah sebagai berikut.
a) Menentukan falsafah dan tujuan
b) Menentukan ruang lingkup (scope) materi pembelajaran
c) Menentukan kegiatan pembelajaran
d) Menentukan sumbe belajar (bibliografi) dan alat belajar
e) Menentukan evaluasi. Menurut Alberty evaluasi tidak boleh hanya mengutamakan hasil akhir. Evaluasi hendaknya dipandang sebagai proses yang kontinu yang dijlankan sehak awal sampai akhir untuk mengetahui perubahan perilaku peserta didik sesuai dengan tujuan. Alat evaluasi yang dapat digunakan, antara lain tes; catatan tentang observasi kelakuan siswa; catatan, buku harian, hasil penilaian diri oleh siswa; analisis pekerjaan dan proyek yang dilakukan siswa; catatan oleh guru dan staf administrasi sekolah; analisis pekerjaan tertulis dan lisan; laporan tentang observasi oleh orang tua.
f) Menyusun panduan atau petunjuk tentang cara menggunakan unit sumber.
8. Model David Warwick
David Warwick mengemukakan model pengembangan kurikulum yang bersifat deduktif. Langkah-langkah pengembangan kurikulum dalam model ini adalah sebagai berikut.
a) Menyusun suatu kurikulum ideal secara umum tentang apa yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan/sekolah.
b) Mempertimbangkan segala sumber yang tersedia yang dapat medukung berhasilnya program itu pada tingkat nasional, lokal, maupun lembaga pendidikan/sekolah, seperti fasilitas sekolah, staf pengajar, kemampuan dan latar belakang peserta didik, alat-alat pengajaran,dan sumber belajar yang tersedia.
c) Dengan segala keterbatasan yag ada, lembaga pendidikan/sekolah melaksanakan kegiatan pembelajaran, dengan memperhatikan adanya macam-macam hambatan ata kendala sperti sistem ujian, keterbatasan biaya dan fasilitas, kemampuan guru, dan sebagainya agar dapat menghindari dan mengatasinya.
d) Dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mendukung serta membatasi terlaksananya kurikulum yang ideal maka dapat disusun garis-garis umum kurikulum yang lebih rill, dengan mengadakan modifikasi kurikulum yang ideal tadi.
e) Membuat desain kurikulum sambil memperhatikan berbagai aspeknya seperti struktur kurikulum, ruang lingkup (scope), urutan (sequence) serta keseimbangan (balance) bahan pelajaran.
f) Mengadakan perincian lebih lanjut tetang bahan pelajaran yang sudah dipilih dalam berbagai bidang pengetahuan dalam forum pleno sehingga dapat diketahui adanya overlap (tumpang tindih) dan kekosongan di antaranya.
g) Menetukan strategi proses pembelajaran yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran.
h) Menentukan alokasi waktu bagi masing-masing pokok bahasan atau sub-pokok bahasan yang terdapat dalam kurikulum.
Langkah-langkah pengemangan kurikulum dalam model ini prosesnya relatif singkat dibandingkan dengan langkah-langkah dalam model Hilda Taba. Namun, upaya untuk mendapatkan rancangan kurikulum yang betul-betul seuai dengan kondisi setiap lembaga pendidikan di setiap wilayah untuk yang setingkat dan sejenis pun tidak mudah.
9. Model Pengembangan Kurikulum Oliva
Menurut Oliva (1988) suatu model kurikulum harus bersifat sederhana, komprehensif, dan sistematik. Langkah yang dikembangkan dalam kurikulum model ini terdiri atas 12 komponen yang satu sama lain saling berkaitan:
a. Menetapkan dasar filsafat yang digunakan dan pandangan tentang hakikat belajar dengan mempertimbangkan hasil analisis kebutuhan umum siswa dan masyarakat.
b. Menganalisis kebutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada, kebutuhan khusus siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yang harus diajarkan.
c. Merumuskan tujuan umum kurikulum yang didasarkan kebutuhan seperti yang tercantum pada langkah-langkah sebelumnya.
d. Merumuskan tujuan khusus kurikulum yang merupakan penjabaran dari tujuan umum kurikulum.
e. Mengorganisasikan rancangan implementasi kurikulum.
f. Menjabarkan kurikulum dalam bentuk perumusan tujuan umum pembelajaran.
g. Merumuskan tujuan khusus pembelajaran.
h. Menetapkan dan menyeleksi strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan pembelajaran.
i. Menyeleksi dan menyempurnakan teknik penilaian yang akan digunakan.
j. Mengimplementasikian strategi pembelajaran.
k. Mengevaluasi pembelajaran.
l. Mengevaluasi kerikulum.
Menurut Olivia (1988), model pengembangan kurikulum ini dapat digunakan dalam tiga dimensi, yaitu:
a. Bisa digunakan untuk menyempurnakan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus seperti mata pelajaraan tertentu di sekolah atau madrasah, baik dalam tatanan perencanaan kurikulum mauoun dalam proses pembelajarannya.
b. Dapat digunakan untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum.
c. Dapat digunakan dalam mengembangkan program pembelajaran secara lebih khusus.
10. Model Pengembangan Kurikulum Audrey dan Howard Nicholls
Dalam bukunya, Developing Curriculum: A Partical Guide (1978), Audrey dan howard Nicholls mengembangakan suatu pendekatan yang tegas mencakup elemen-elemen kurikulum dengan jelas tapi ringkas. Mereka mendefinisikan kembali metodenya Tyler,Taba, dan Wheeler dengan menekankan pada kurikulum proses yang bersiklus atau berbentuk lingkaran, dan ini dilakukan demi langkah awal, yairu analisis situasi.
Terdapat lima langkah atau tahap (stages) yang diperlukan dalam proses pengembangan secara kontinu (continue curriculum process). Langlah-langkah tersebut menurut Nicholls adalah :
a. Situational analysis (analisis situasi)
b. Selection of objectives (seleksi tujuan)
c. Selection and organization of content (seleksi dan organisasi isi)
d. Selection and organization of methods (seleksi dan organisasi mode)
e. Evaluation (evaluasi)
Masuknya fase analisis situasi merupakan sesuatu yang disengaja untuk memaksa para pengembang kurikulum lebih reponsif terhadap lingkungan dan secara khusus dengan kebutuhan anak didik. Kedua penulis ini menekankan perlunya memakai pendekatan yang lebih komprehensif untuk mendiagnosissemua faktor menyangkut semua situasi dengan didikuti penggunaan pengetahuan dan pengertian yang berasal dari analisis tersebut dalam perencanaan kurikulum.

11. Model Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Kompetensi
Prosedur atau langkah-langkah pengembangan kurikulum berdasarkan kompetensi dapat diurutkan sebagai berikut.
a) Mengidentifikasi kompetensi
b) Merumuskan tujuan pendidikan
c) Menyusun pengalaman belajar
d) Menetapkan topik dan subtopik
e) Menetapkan alokasi waktu yang diperlukan untuk mempelajari tiap topik dan subtopik dengan mengingat apakah suatu topik atau subtopik dipelajari melalui tatap muka, praktikum atau kerja lapangan.
f) Memberi nama mata pelajaran/mata kuliah
g) Menetapkan bobot SKS suatu mata pelajaran/mata kuliah dengan dasar jumlah jam yang diperlukan peserta didik untuk mempelajarisemua topik dan subtopikdari suatu mata pelajaran/mata kuliah.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ada banyak model pengembangan kurikulum yang telah dipikir dan dikemukakan oleh para ahli, diantaranya sebagai berikut:
1. Model Pengembangan Kurikulum Rogers
2. Model Pengembangan Kurikulum Zais
3. Model Pengembangan Kurikulum Baeuchamp
4. Model Pengembangan Kurikulum Hilda Taba
5. Model Ralph Tyler Model
6. Model Wheeler
7. Model Harold B. Alberty
8. Model David Warwick
9. Model Pengembangan Kurikulum Oliva
10. Model Pengembangan Kurikulum Audrey dan Howard Nicholls
11. Model Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Kompetensi

DAFTAR PUSTAKA
ديوي حميدة، منهج اللغة العربية مالانج: مطبعة جامعة مولانا مالك إبراهيم الإسلامية الحكومية مالانج، 2011
Arifin,Zainal 2014. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Idi,Addullah Pengembangan Kurikulum teori dan Praktik, Yogyakarta:Ar-Ruz Media,2007
Hidayat,Sholeh Pengembangan Kurikulum Baru, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2013
Nurgiyantoro,Burhan Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah: Sebuah Pengantar Teoritis dan Pelaksanaan Yogyakarta: BPEF-Yogyakarta, 2008
Sukiman, Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2015

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *