Munas Golkar

Munas Golkar

Tanpa sengaja tadi malam saya melihat siaran televisi, yang kebetulan anak saya juga sedang melihatnya. Sudah menjadi kebiasaan, ketika saya tahu anak saya melihat televisi, saya ikut-ikutan walaupun sebentar. Biasanya di sela-sela nonton TV, saya menanyakan sesuatu, yang kadang saya rasakan memang perlu untuk berkomunikasi antara anak dan orang tua. Tatkala melihat siaran itu, tampak sekali anak saya kecewa. Kekecewaan itu terlihat dari wajah dan decaan suara yang terdengar dari bibirnya. Segera saya bertanya, apa yang menarik, maka segera dijawab olehnya dengan jawaban yang bernada kurang simpatik dengan tontonan itu. Dia mengatakan bahwa itu banyak orang tua, pemimpin bangsa yang lagi bertengkar. Setelah saya juga mengikuti acara itu, ternyata memang benar, sangat menyedihkan. Televisi itu sedang menyiarkan langsung sidang musyawarah nasional Partai Golongan Karya. Agenda acara yang berlangsung pada hari Rabu sekitar jam 23.00 itu adalah pemilihan ketua umum Golkar perioode 2009 – 2015. Saya ikut melihat acara itu sebentar, dan ternyata memang sangat menyedihkan. Suasana dalam sidang tampak kacau, hiruk pikuk, saling interupsi, protes, teriak-teriak liar dari berbagai arah yang sangat tidak enak dilihat oleh siapapun. Padahal peserta munas sebagian adalah orang-orang yang sudah matang, dalam pengertian setidak-tidaknya dilihat dari wajah para peserta munas sudah berumur, atau tegasnya bahkan sudah tua. Beberapa kali pimpinan sidang meminta dengan suara keras agar peserta tenang dan mempersilahkan mereka untuk duduk. Peringatan itu diberikan berkali-kali, karena suasana gaduh yang luar biasa. Rupanya kesepakatan sulit diraih, sehingga beberapa kali sidang harus diskors. Sekalipun keadaan belum sepenuhnya tenang, agenda pemilihan diberlangsungkan. Pemilihan berjalan, diawali dengan memberi kesempatan perwakilan dari wilayah Aceh untuk memberikan suaranya. Namun tatkala giliran jatuh pada wilayah Sumatera Utara, proses itu berhenti, karena ditengarai ada penyimpangan. Maka, teriak-teriak keras bernada protes pun terjadi. Mereka saling menghujat menunjukkan kekecewaannya. Melihat siaran seperti itu, saya segera meninggalkan tontonan itu, memilih ke kamar tidur untuk istirahat. Saya lihat anak saya masih betah di depan televise sendirian, sekalipun saya lihat raut wajahnya yang kecewa. Tapi beberapa saat kemudian, mungkin karena tidak betah, saya lihat dia juga mematikan siaran televisi itu dan kemudian pergi ke kamar tidur. Sekalipun sudah merebahkan badan, terasa lama sekali saya belum bisa segera tidur. Pikiran saya masih terbayang pada agenda munas Golkar itu. Saya membayangkan apa yang akan terjadi di negeri ini di masa depan, jika para orang yang sudah berumur saja dalam menyelesaikan masalah organisasi, penampilannya seperti itu. Apa yang disebut dengan sopan santun, tatkrama, etika pergaulan dalam sidang ternyata sudah diabaikan. Suasana berebut menang dan saling ingin mengalahkan antar sesama tampak dengan jelas mewarnai sidang itu. Hal seperti itulah yang menggelisahkan saya, sehingga sulit tidur. Sebelum tidur, saya membayangkan betapa dulu orang-orang Golkar bisa tampil santun dalam berbagai kegiatan politik. Entah orang setuju atau tidak, saya melihat Golkar dulu telah mampu dan berhasil menyatukan berbagai elemen bangsa ini. Para birokrat, ulama’, cendekiawan, pengusaha, dan bahkan juga orang-orang yang berbeda latar belakang agama, etnis, paham dan lain sebagainya, berhasil bisa disatukan di organisasi politik itu. Sebagai salah satu dampaknya, suasana keagamaan pun ketika itu menjadi tumbuh dan berkembang. Kegiatan sema’an al Qurán, berbuka dan tarweh bersama di bulan Ramadhan, pengajian, umrah dan haji yang dilakukan bersama-sama antara pejabat, pengusaha, dan ulama atau para kyai menjadikan kegiatan keagamaan semakin hidup. Belum lagi kegiatan mendirikan Masjid Amal Bhakti Muslim Pancasila di mana-mana, yang hal itu menjadikan kehidupan agama lebih semarak. Kemajuan bangsa di berbagai bidang kehidupan itu menjadikan banyak orang tertarik pada Golkar. Orang merasakan bahwa dengan Golkar maka rakyat dari berbagai etnis, kultur, dan bahkan juga agama saling berinteraksi dan menyatu. Golkar menjadi kekuatan pemersatu, yang ketika itu rasanya sulit dilakukan oleh partai politik yang lain. Oleh karena itu, sekalipun Pak Harto jatuh, Golkar masih mendapatkan simpatik dari rakyat, dan berhasil menang dalam pemilihan umum. Pikiran dan kesan indah itu, sekalipun sudah larut malam menjadikan saya sulit tidur. Namun setelah menyaksikan hiruk pikuk pada acara sidang munas yang disiarkan langsung oleh televisi itu, saya tidak saja membayangkan apa yang akan terjadi pada organisasi politik yang dulu pernah jaya itu, tetapi pikiran saya menjadi galau, jangan-jangan sebagian besar para pemimpin bangsa ini secara keseluruhan juga seperti itu keadaannya. Jika benar, maka pantaslah Tuhan berkali-kali memperingatkan, di antaranya dengan beberapa gempa dan musibah di mana-mana itu. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *