Optimalisasi Peran PTAIN Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Optimalisasi Peran PTAIN Dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Pertama kali saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Bapak Rektor IAIN Raden Fatah, yang telah mengundang saya untuk hadir dan sekaligus menyampaikan ceramah pada kesempatan yang mulia, yaitu peringatan Dies Natalis ke 45 IAIN Raden Fatah, Palembang. Saya selaku pribadi dan juga sebagai Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengucapkan selamat berbahagia kepada seluruh keluarga besar kampus ini, yang sedang memperingati hari kelahirannya, pada usianya yang telah genap 45 tahun. Saya melihat dan selalu mengikuti perkembangan perguruan tinggi Islam ini cukup baik, maju, dan dinamis, sebagaimana kita saksikan bersama pada saat ini. Judul ceramah ini saya dapatkan langsung dari Bapak Rektor IAIN Raden Fatah Palembang sendiri. Saya tidak mengubah sedikitpun. Saya menganggap bahwa, saya diundang hadir pada kesempatan ini, agar berbicara tentang optimalisasi Peran PTAIN pada umumnya di masa depan. Saya menangkap bahwa pada saat ini, IAIN Raden Fatah, termasuk salah satu yang membutuhkan pemikiran itu, sebagai bekal kemauannya untuk segera bangkit menyongsong masa depannya. PTAIN di seluruh Indonesia, hingga saat ini jumlahnya sudah mencapai 52 buah. Sejumlah PTAIN itu 6 di antaranya berbentuk universitas atau UIN, 13 berbentuk Institut atau IAIN dan selebihnya 33 buah berbentuk sekolah tinggi atau STAIN. Sejak 10 tahun terakhir, semuanya bersemangat maju. Semuanya berbenah untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan, tenaga pengajar, dan bahkan sebagian berkeinginan untuk menata kembali kelembagaannya. Secara fisik pada umumnya, PTAIN di seluruh Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat. Wajah kampus, beberapa di antaranya tampak kusam, kini sudah berubah, tidak ditemukan lagi yang tampak kurang maju. Gedung-gedung baru telah berhasil dibangun. Demikian pula tenaga pengajar sudah berhasil ditambah dan juga ditingkatkan jenjang pendidikannya. Pada saat ini, di berbagai PTAIN hingga yang berbentuk sekolah tinggi telah memiliki dosen bergelar Doktor dan bahkan juga profesor. Fenomena itu menggambarkan bahwa sesungguhnya perguruan tinggi Islam di tanah air ini, jika mendapatkan peluang, akan mengalami kemajuan yang luar biasa. Saya selalu mengatakan bahwa pada diri orang-orang perguruan tinggi Islam memiliki kekuatan untuk menggerakkan lembaganya. Orang-orang di perguruan tinggi Islam memiliki semangat dan tekad memajukan bangsa dan Negara ini. Semangat itu selain bersumber dari rasa cinta terhadap tanah air, juga muncul dari keinginannya mengembangkan Islam sebagai bagian penting dari cara mereka beribadah, atau mendekatkan diri pada Allah swt. Seringkali perguruan tinggi Islam menghadapi persoalan yang tidak mudah dipecahkan, baik persoalan itu bersifat eksternal atau datang dari luar maupun yang bersifat internal atau datang dari dalam sendiri. Persoalan yang datang dari luar berupa peraturan, kebijakan, dan bahkan juga manajemen yang harus diikuti. Padahal manejemen tersebut jika diacu belum tentu menghasilkan kemajuan. Sedangkan yang datang dari dalam, hambatan itu bisanya bersifat cultural, di antaranya adalah keinginan bertahan, rasa takut berubah, sulit mendapatkan kesepakatan bersama dan bahkan terlalu merasa adanya keharusan mengikuti petunjuk dan peraturan dari atas. Padahal, petunjuk yang dimaksudkan itu belum tentu akan datang. Melalui kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak para hadirin untuk melihat kembali peran PTAIN selama ini yang telah dilakukan. Berangkat dari sana saya ingin mengajak berpikir dan berkhayal tentang bagaimana seharusnya perguruan tinggi Islam ini kita format kembali sehingga mampu melakukan peran-peran optimal dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masa yang akan datang. Dalam ceramah saya, ijinkan saya menggunakan pikiran bebas, agar berhasil menemukan rumusan yang terbaik tentang perguruan tinggi Islam, yang mungkin berbeda dengan apa yang selama ini ada. Sebagian dari pikiran saya ini sudah saya implementasikan selama ini dalam mengembangkan STAIN Malang hingga pada saat ini telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Peran PTAIN : Sebuah Evaluasi Terbatas PTAIN selama ini hanya sebatas mengembangkan fakultas-fakultas yang memiliki tugas pokok mengembangkan ilmu agama, seperti ilmu syari’ah, ushuluddin, dakwah, adab dan tarbiyah. Sekalipun ada beda antara IAIN dan STAIN, tetapi pada kenyataannya hampir sama. Sekolah tinggi dengan kemauan kerasnya membuka program studi yang serupa dengan yang dikembangkan oleh IAIN. Bahkan beberapa STAIN akhir-akhir ini juga sudah membuka program pascasarjana. Selanjutnya, baik IAIN maupun STAIN pada setiap tahun menerima mahasiswa baru, dan begitu juga pada setiap tahun pula dan bahkan ada di antaranya yang setiap semester mewisuda sarjana. Jumlah sarjana yang dihasilkan oleh IAIN, STAIN dan bahkan juga UIN mencapai ribuan. Mereka itu sebagian memasuki lapangan pekerjaan sesuai dengan bidang ilmunya. Sebagian menjadi pegawai negeri sipil (PNS), tetapi jumlah itu tidak terlalu banyak karena kebutuhan pemerintah juga terbatas. Sebagian banyak lainnya terjun sebagai wiraswasta di berbagai bidang kehidupan. Akhir-akhir ini sejalan dengan kehidupan demokrasi, lulusan IAIN/STAIN dan UIN seolah-olah mendapatkan momentumnya. Para lulusan PTAIN dengan berbekalkan pengetahuan agama, tatkala mereka terjun di masyarakat lebih beruntung. Mereka secara cepat berhasil melakukan adaptasi di tengah-tengah masyarakat dengan menggunakan bahasa agama. Dengan demikian di anatara mereka, berhasil mengalami mobilitas vertikal, termasuk di bidang politik, sehingga tidak sedikit yang berhasil menjadi anggota DPRD, DPR, bupati atau wakil bupati, Walikota atau wakil walikota dan bahkan juga Gubernur atau Wakil Gubernur. Akan tetapi, yang beruntung seperti itu tidak banyak. Sebagian besar tetap mengisi peran-peran keagamaan yang tidak sedemikian strategis, seperti menjadi guru ngaji, mubaligh dan sejenisnya. Padahal sebenarnya, peran seperti itu sebagaimana yang sudah berjalan, cukup diisi oleh keluaran pesantren atau Madrasah Aliyah. Prospek lulusan PTAIN yang demikian, berakibat tidak banyak masyarakat kelas menengah ke atas yang berminat masuk ke perguruan tinggi ini. Bahkan putra-putri dosen PTAIN sendiri banyak yang tidak meminatinya. Mereka lebih suka masuk fakultas kedokteran, teknik, ekonomi, dan sejenisnya. Jika bacaan ini betul, maka benar kata sementara orang bahwa PTAIN semakin lama semakin ditinggal peminatnya. Bahkan beberapa jurusan, sudah mengalami nasip seperti itu. Pertanyaannya adalah mengapa perguruan tinggi Islam yang berbasis kuat pada masyarakat, ternyata secara pelan ditinggalkan, termasuk oleh pilar penyangganya sendiri, yakni umat Islam. Apa yang salah dan perlu dibenahi dari perguruan tinggi itu. Secara teoritik, bahwa lembaga atau institusi apapun, asalkan masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, maka akan tetap bertahan. Sebaliknya, jika tidak diperlukan lagi, maka akan ditinggalkan oleh pendukungnya sendiri. Perguruan tinggi Islam yang berada di tengah-tengah masyarakat Islam mustahil dianggap tidak penting. Bilamana sementara ini tidak menjadi pilihan utama, mungkin ada beberapa hal yang menyebabkannya. Di antaranya, bisa jadi bahwa institusi tersebut belum berhasil mengembangkan kualitasnya. Selain itu, jenis produknya sudah tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang, atau bahkan akumulasi dari semua itu. Saya selalu berpendapat, bahwa perguruan tinggi Islam harus tetap eksis, dan bahkan berhasil memposisikan diri pada barisan terdepan dalam pengembangan bangsa dan Negara. Perguruan tinggi Islam menurut hemat saya memiliki kekuatan yang luar biasa. Seharusnya ilmu yang dikembangkan tidak saja bersumber dari hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis, melainkan juga bersumber pada Kitab Suci dan hadits Nabi yang mulia. Perguruan tinggi Islam menyandang nama besar, yakni Islam yang didukung oleh orang-orang yang memiliki komitmen, integritas, semangat, jiwa berjuang sekaligus berkorban, serta spirit yang kuat untuk menegakkan agama yang diyakini kebenarannya. Jika selama ini ada beberapa perguruan tinggi Islam tidak maju, belum berhasil menempati posisi di depan, maka saya berpendapat, bahwa sebenarnya ada sesuatu yang perlu ditinjau kembali, baik dari aspek bangunan keilmuan, kelembagaan, manajemen dan organisasi, kultur dan semacamnya. Terkait dengan bangunan keilmuan, sementara ini orang membagi ada ilmu agama dan ilmu umum. Apa yang disebut sebagai ilmu agama Islam, biasanya hanya sebatas memperbincangkan tentang hal-hal yang bersifat dasar-dasar keimanan, hukum Islam, pendidikan Islam, bahasa Arab, dan dakwah. Dengan pembagian seperti itu, terasa Islam yang sesungguhnya luas dan bersifat universal, tereduksi dalam wilayah sempit, hanya sebatas terkait dengan persoalan ritual dan spiritual. Bukankah pembagian seperti ini, menjadikan institusi pendidikan tinggi Islam kehilangan relevansinya, atau setidak-tidaknya termarginalkan dalam kehidupan modern. Wilayah Kajian Islam Terkait dengan bangunan keilmuan, sudah lama saya merenung. Pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran saya, adalah mengapa telah muncul sebutan ilmu ke-Islaman hanya sebatas meliputi Ilmu syariáh, Ilmu Ushuluddin, Ilmu Tarbiyah, Ilmu Dakwah, dan Ilmu Adab. Sedangkan selain itu dianggap bukan sebagai bagian ilmu ke-Islaman, melainkan ilmu umum. Dengan pembagian itu, pikiran saya merasa terganggu, apalagi jika saya bandingkan dengan isi al Qurán yang selama ini saya pahami. Al Qurán dan juga hadits Nabi, sepengetahuan saya adalah kitab berisi petunjuk dan penjelasan yang menyeluruh, terkait dengan kehidupan ini. Al Qurán berbicara tentang Tuhan, penciptaan, manusia, alam semesta, dan juga keselamatan. Tatkala berbicara tentang Tuhan, al Qurán memberikan penjelasan tentang siapa Tuhan itu sebenarnya, dan dengan berbagai sifat-sifat-Nya yang mulia. Demikian pula al Qur’an berbicara tentang penciptaan, baik penciptaan manusia maupun jagat raya ini. Al Qur’an begitu komprehensif tatkala berbicara tentang manusia, melampaui apa yang diperbincangkan oleh ilmu-ilmu sosial, yang meliputi sosiologi, psikologi, sejarah, dan antropologi. Al Qur’an juga berbicara tentang perilaku manusia secara menyeluruh, yang menyangkut qalb, nafs, aql dan jasad. Al Qur’an berbicara pula tentang alam. Tatkala memperkenalkan alam, al Qur’an berbicara tentang tanah, api, gunung, laut, udara, hujan, air, bulan, matahari, langit, binatang, tumbuh-tumbuhan dan seterusnya. Al Qur’an memberikan penjelasan tentang alam, —-dalam hal-hal tertentu—- melampaui temuan-temuan manusia melalui observasi, eksperimen, dan penalaran logisnya. Selanjutnya, al Qur’an juga berbicara tentang keselamatan, baik keselamatan manusia maupun jagat raya ini. Tatkala berbicara tentang keselamatan, al Qur’an memberikan perspektif yang lebih luas, yakni keselamatan di dunia dan di akherat. Manusia bisa meraih keselamatan manakala beriman, ber-Islam dan ber-Ihsan. Selain itu, agar selamat, manusia dianjurkan untuk beramal sholeh dan berakhlakul karimah. Jika semua itu dijalankan oleh manusia yang hidup di manapun dan kapanpun, maka dijanjikan akan mendapatkan keselamatan, kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Semua isi al Qur’an itu telah dicontohkan dalam kehidupan Nabi secara sempurna, yang selanjutnya disebut sebagai hadits Nabi. Al Qur’an dan hadits Nabi tidak saja berisi pedoman pelaksnaan ritual dan spiritual, melainkan sebagai ajaran yang bersifat universal, menyangkut seluruh aspek kehidupan. Berangkat dari pandangan seperti ini, semestinya al Qur’an dan hadits Nabi selalu dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan atau tempat bertanya bagi siapapun yang ingin mendapatkan penjelasan terkait dengan persoalan kehidupan ini. Al Qur’an sendiri juga menjelaskan bahwa kitab suci ini diturunkan kepada umat manusia untuk menjadi hudan, at-tibyan, al-furqan, ash-shifa’, dan seterusnya. Al Qur’an berhubung sifatnya yang universal, maka tidak akan menjamah hal-hal yang bersifat teknis. Apapun yang bersifat teknis selalu bersifat temporal dan kondisional. Oleh karena itu sedikit saja, al Qur’an menjamah hal yang bersifat teknis ini, tetapi berlaku universal. Misalnya menyangkut tentang siapa yang boleh dan tidak boleh dinikahi, dan tentang pembagian waris. Dua hal ini dijelaskan oleh al Qur’an secara detail, sebab rupanya siapapun yang hidup di mana dan kapan saja diberlakukan hal yang sama. Selanjutnya persoalan yang bersifat teknis, sebagaimana wataknya yang temporal dan kondisional itu, maka lebih tepat dijawab melalui kegiatan observasi, eksperimen, dan penalaran logis. Sehingga, dalam Islam memang ada dua jenis sumber ilmu pengetahuan, yaitu pertama disebut sebagai ayat-ayat quwliyyah, yakni al Qur’an dan hadits. Sedangkan sumber yang kedua adalah ayat-ayat kawniyyah, yakni hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis itu. Pengetahuan yang didapatkan melalui dua sumber pengetahuan secara padu, yakni melalui ayat-ayat qawliyyah dan ayat-ayat kawniyyah sekaligus, maka itulah yang semestinya dijadikan kajian bagi perguruan tinggi Islam, semacam IAIN/STAIN maupun UIN. Menjadikan al Qur’an sebagai Sumber Inspirasi Kadangkala sedemikian sulit tatkala mengajak orang memosisikan al Qur’an sebagai petunjuk, penjelas, dan bahkan sebagai sumber inspirasi dalam memecahkan persoalan kehidupan sehari-hari. Sekalipun saya bukan guru tafsir, dan memang bukan otoritas saya, tetapi saya merasa berhak untuk menangkap pesan-pesan al Qur’an sekalipun hanya untuk kepentingan diri saya sendiri. Saya menangkap al Qur’an sedemikian indahnya, komprehensif, dan sangat kaya dengan sumber-sumber inspirasi. Bagi saya, al Qurán tidak saja menjelaskan tentang hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan oleh manusia, tetapi lebih dari itu menjadi sumber inspirasi dan atau menuntun akal dan pikiran ini agar bergerak dan mencari sesuatu yang bermakna dalam hidup ini. Sayangnya tidak terlalu banyak orang yang berani dan mau menangkap keindahan, kekayaan, samudra ilmu dalam Kitab Suci itu. Betapa inspiratifnya al Qurán itu, saya senantiasa dibuat kagum olehnya. Kitab Suci ini disusun sedemikian sistematisnya. Misalnya, saya pernah melakukan perenungan terhadap isi beberapa surat, bagian awal dari al Qur’an. Sedemikian indah, mengagumkan, dan terasa sistematisnya surat-surat itu disusun. Al Qur’an dimulai dengan surat al-Fatihah. Surat itu hanya berisi tujuh ayat. Surat al-Fatihah harus dibaca oleh kaum Muslimin sebanyak 17 kali dalam sehari semalam. Saya merasa penasaran, ada apa sesungguhnya di balik perintah itu. Ternyata setelah saya mengkajinya secara saksama, memang sekalipun hanya tujuh ayat, namun berisi prinsip-prinsip yang sangat penting sebagai petunjuk kehidupan ini. Dalam surat al-Fatihah, terdapat dua ayat yang mengenalkan tentang sifat Allah yang Maha Mulia, yaitu Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Merenungkan hal itu hati dan pikiran saya, terasa dibimbing agar kehidupan ini selalu dihiasi dengan sifat yang mulia ini, ialah agar selalu menebar kasih sayang terhadap semua makhluk. Melalui surat al-Fatihah, kita diperkenalkan tentang keharusan untuk bersyukur sebagai syarat agar nikmat dari Allah berkelanjutan. Melalui surat al-Fatihah pula, diperkenalkan tentang pemilik segala puji-pujian, kualitas amal yang harus dipertanggung-jawabkan di hari akhir, penyembahan dan pertolongan yang seharusnya dimintakan, permohonan hidayah atau petunjuk kepada Dzat Yang Maha Memberi Petunjuk tanpa henti, terus menerus. Akhirnya, melalui surat al- Fatihah pula kita diingatkan akan pentingnya memperhatikan sejarah kemanusiaan. Saya merasakan sedemikian indah, tatkala memperhatikan urut-urutan beberapa surat dalam al Qur’an selanjutnya. Segera setelah surat al-Fatihah, disusul dengan surat al Baqarah, kemudian diteruskan dengan surat Ali Imran, Surat an-Nisa’, Surat al-Maidah, dan kemudian surat al-An’am. Urutan-urutan beberapa surat tersebut sedemikian sistematisnya. Dimulai dengan surat al- Baqarah, maka jika dibaca secara saksama menjelaskan tentang watak, kharakter, dan perilaku orang atau manusia pada umumnya. Di awal surat itu, manusia dikategorikan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok muttaqin, kafirin, dan munafiqin. Ternyata, justru yang paling menyusahkan adalah kelompok tengah, yakni kelompok yang tidak jelas. Padahal di mana pun dan kapan pun, kelompok ini selalu ada dan mewarnai semua kehidupan. Kategori ini berlaku secara universal, di mana dan kapan pun ketiga kelompok ini selalu ada. Setelah surat al-Baqarah yang artinya adalah sapi betina itu, surat berikutnya adalah surat Ali Imran, atau keluarga Imran. Setelah membaca surat al Baqarah yang berisi perilaku, kharakter, watak, dan perilaku manusia yang sedemikian sulit diatur, maka dengan membaca surat Ali Imran, sebagai seorang pendidik muncul optimisme. Ternyata makhluk manusia ini bisa diharapkan menjadi sosok ideal, dengan contoh keluarga Imran itu. Setelah surat Ali Imran disambung dengan surat an-Nisa’. Terasa sekali, melalui urutan surat itu, seolah-olah pikiran saya sedang dibawa untuk diberi tahu, bahwa kunci membangun keluarga ideal adalah wanita. Saya membayangkan kebenaran atas petunjuk Nabi, bahwa yang seharusnya dimuliakan terlebih dahulu adalah ibu, sebagai sosok wanita. Kata Rasul pula bahwa wanita itu bagaikan madrasah. Jika sebuah madrasah baik, maka muridnya akan baik, dan jika madrasah itu para muridnya baik, maka lulusannya akan baik. Saya juga teringat sejarah, bahwa Firáun yang sedemikian jahat, karena memiliki isteri yang baik, maka Nabi Musa pun dalam sejarahnya bisa terselamatkan. Sebaliknya Nabi Nuh yang sangat saleh, karena memiliki isteri yang tidak baik, maka keluarga dan bahkan ummatnya menjadi rusak. Ini menggambarkan betapa strategisnya posisi wanita dalam membangun keluarga ideal. Masih dalam memperhatikan urut-urutan surat-surat dalam al Qurán, setelah surat an-Nisa’ ternyata disusul dengan surat al-Ma’idah dan selanjutnya adalah al-An’am. Pikiran saya terbawa pada alam imajinasi, bahwa ternyata wanita agar benar-benar mampu melakukan peran strategis sebagai penyangga kehidupan keluarga, masyarakat, dan bahkan Negara, maka harus dicukupi kebutuhan ekonomi dan juga selanjutnya adalah lingkungannya. Setelah surat an-Nisa’ adalah surat al-Maidah dan kemudian surat al-An’am. Surat al Maidah yang artinya adalah hidangan, maka dilanjutkan pula dengan al-An’am, atau binatang ternak. Binatang ternak, bisa dimaknai untuk memenuhi kebutuhan gizi, investasi, dan bahkan juga lingkungan. Imajinasi tersebut tentu bukan dimaksudkan sebagai upaya menafsirkan ayat atau beberapa surat al Qur’an. Maksudnya hanyalah semata-mata ingin menggambarkan bahwa al Qur’an bisa dijadikan sebagai sumber imajinasi untuk mendapatkan nilai-nilai luhur sebagai petunjuk bagi kehidupan ini. Melalui uraian singkat yang bersifat imajinatif ini, sesungguhnya saya hanya akan membawa pada pembaca, bahwa al Qur’an sendiri sesungguhnya tidak saja berisi pesan-pesan dan atau bahkan pedoman tentang tata cara melakukan kegiatan ritual atau spiritual, melainkan juga petunjuk atau hudan, at-tibyan dalam kehidupan yang luas ini. Berangkat dari penjelasan itu pula, sesungguhnya saya ingin mengajak untuk berpikir dan merenungkan kembali, apakah selayaknya kita masih ikut membedakan adanya ilmu umum dan ilmu agama, sebagaimana sementara orang melihatnya seperti itu. Pembagian itu hanya menjadikan Islam dimaknai secara sempit. Sekalipun al Qurán mengingatkan agar kaum Muslimin memperhatikan bagaimana unta diciptakan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan, gunung ditegakkan, ternyata masih luput dari perhatian, karena sementara perguruan tinggi Islam masih sibuk mengkaji bagaimana ritual dan spiritual dijalankan, apakah sesuatu itu halal atau haram dan seterusnya. Bukan berarti hal itu dianggap tidak penting. Tentu sangat perlu diperbincangkan, tetapi kajian Islam semestinya tidak berhenti sebatas itu. Kajian Islam yang bersumber pada al Qur’an dan hadits dan bahkan juga ayat-ayat kawniyyah —–hasil observasi, eksperimen dan penalaran logis, semestinya tidak cukup jika hanya terwadahi dalam lima jenis bidang ilmu, yakni Ilmu Ushuluddin, Ilmu Syari’ah, Ilmu tarbiyah, Ilmu Adab dan Ilmu Dakwah. Kajian Islam, semestinya bersifat universal, dan tidak mengenal pembagian ilmu yang dikotomik sebagaimana adanya seperti sekarang ini. Berangkat dari pandangan itu, semestinya harus ada keberanian untuk melakukan rekonstruksi terhadap bangunan keilmuan dan bahkan juga menyangkut tentang kelembaga sebagai wadah untuk mengembangkannya. Kajian Islam tidak akan cukup hanya terwadahi dalam lembaga sekolah tinggi atau institut, melainkan harus berbentuk universitas. Jika tetap bertahan berupa sekolah tinggi atau institut, maka harus membatasi diri hanya mengkaji bagian dari wilayah yang bersifat universal itu. Mengoptimalkan Peran PTAIN Mengacu pada kandungan al Qur’an sebagaimana sedikit dikemukakan di muka, perguruan tinggi Islam agar perannya lebih optimal maka harus berbentuk universitas. Sebab hanya dengan cara itu maka pengembangan program studi secara leluasa dapat dibuka dan dijalankan. Selain itu dengan berbentuk universitas dan membuka berbagai macam program studi, sekaligus akan menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak sesempit sebagaimana dipahami selama ini. Namun andaikan terpaksa masih harus bertahan, yakni tetap berupa Sekolah tinggi atau institut, maka lembaga itu harus diberi peluang membuka jurusan atau program studi yang lebih luas dan variatif. Seharusnya yang membedakan antara perguruan tinggi yang berada di bawah Departemen Agama dan di bawah Departemen Pendidikan Nasional, bukan terletak pada jenis keilmuan yang dikembangkan, melainkan pada sumber keilmuan yang digunakan. Keilmuan yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan tinggi Islam di lingkungan Departemen Agama didasarkan pada ayat-ayat quwiliyyah dan kauniyyah sekaligus. Sementara pengembangan keilmuan di lembaga pendidikan selain itu, hanya berdasar pada ayat-ayat kawniyyah. Sehingga dengan pembedaan seperti itu, maka tidak lagi ada sebutan ilmu agama dan ilmu umum. Jika PTAIN diberi keleluasaan mengembangkan keilmuan seperti itu, maka tidak akan lahir kesan bahwa seolah-olah Islam hanya berisi tentang pedoman ritual dan spiritual secara sempit sebagaimana yang terjadi selama ini. Selain itu, perguruan tinggi Islam berpeluang untuk mengembangkan berbagai jenis ilmu yang relevan dengan tuntutan masyarakat Islam pada umumnya. Ilmu ke-Islaman tidak lagi hanya dipahami sebatas menyiapkan kehidupan di akhirat sana, melainkan juga membekali siapapun yang mempelajarinya, tentang kehidupan yang lebih utuh, yaitu di dunia dan di akhirat. Islam akan dipandang sebagai ajaran yang utuh dan komprehensif, yaitu menyentuh aspek yang bersifat lahir maupun batin, dunia dan akhirat, material maupun spiritual. Singkatnya, Islam tidak saja dipandang hanya berisi agama, tetapi juga peradaban yang luas. Untuk mengimplementasikan pandangan ini, banyak hal yang perlu dibenahi dan ditingkatkan oleh PTAIN sendiri. Semua pilar-pilar penyangga kampus yang modern dan unggul perlu dilihat lagi dan dikembangkan. Di antara pilar-pilar yang dimaksudkan itu misalnya, sistem pendidikannya, manajerial dan leadership, kultur bagi seluruh warga kampus, dan berbagai hal pendukungnya dan lain-lain. Menyangkut sistem pendidikan, perlu dipikirkan penyempurnaan kampus dengan Ma’had Aly. Sebab jika hanya menerapkan pendidikan dengan sistem kredit semester sebagaimana yang dijalankan selama ini, akan mengalami kesulitan dalam membangun kultur Islam. Demikian pula kesulitan lainnya adalah dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Asing (Bahasa Arab dan Inggris). Para pengkaji Islam harus dibekali kemampuan Bahasa Arab, misalnya secara memadai. Terkait dengan leadership dan managerial, perlu dikembangkan sebuah model yang memungkinkan semua komponen, ——–baik dosen, mahasiswa dan karyawan —— tumbuh sikap dan watak maju, dinamis dan inovatif. Perguruan tinggi Islam di manapun agar berhasil mengejar prestasi unggul maka semua yang terlibat di dalamnya harus menjalankan amanah sepenuh hati dan sebaliknya, tidak boleh bekerja seadanya. Prestasi unggul hanya akan diraih dengan cara-cara atau metode kerja yang unggul. Konsep amal sholeh yang selalu dirangkai dengan kekuatan iman, harus benar-benar berhasil mewarnai semua pihak yang terlibat dalam pengembangan kampus. Demikian pula konsep Ikhsan, yakni selalu memilih yang terbaik, harus terbaca pada seluruh bentuk pengabdian dalam pengembangan perguruan tinggi Islam. Terkait dengan kultur yang seharusnya dibangun, maka harus ditanamkan kepada semua pihak, bahwa pendidikan tinggi Islam agar berhasil meraih kualitas unggul, tidak akan mungkin hanya didekati dengan cara biasa-biasa saja. Kualitas unggul memang memerlukan pendekatan yang unggul pula. Oleh karena itu, jika selama ini penyelenggaraan pendidikan hanya berjalan seadanya, maka kultur itu harus diubah secara total. Kata kuncinya adalah harus ada perubahan secara mendasar, radikal, menyeluruh, cepat, dan serentak. Hal yang bersifat teknis, dalam rangka mengembangkan budaya kampus Islami dan juga dalam rangka meningkatkan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, UIN Maliki Malang sejak 13 tahun terakhir, telah mensintesakan antara tradisi Ma’had Ali dan Universitas. Hasilnya sekalipun belum maksimal, setiap tahunnya meningkat dan mengembirakan. Jika dahulu, banyak keluhan terhadap rendahnya kualitas lulusan dalam penguasaan bahasa asing ——-Arab dan Inggris, dan bahkan kemampuan membaca al Qurán secara benar, maka keprihatinan itu semakin berhasil diatasi. Sebagai bagian dari prestasi, setelah STAIN Malang berubah menjadi UIN Maliki Malang, beberapa lulusannya, bahkan yang berprestasi unggul, selalu diraih oleh para penghafal al Qur’an. Para peraih prestasi unggul itu, ternyata merata dari beberapa fakultas yang ada, misalnya dari fakultas sainstek, fakultas psikologi, fakultas ekonomi dan lainnya. Lebih dari itu, para lulusannya berhasil memasuki posisi-posisi penting di berbagai instansi. Akhir-akhir ini, saya mendapat kabar bahwa alumni UIN Maliki Malang ada yang menjadi dosen di perguruan tinggi besar, seperti di UGM, UI, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Jember, dan lain-lain. Sebelum itu, jika ada di antara mereka yang berhasil menjadi dosen, biasanya hanya sebatas dosen agama. Berbeda dengan dahulu, pada saat sekarang ini lulusan UIN Maliki Malang tidak saja berpeluang mengisi formasi sebagai guru agama, tetapi juga dosen biologi, kimia, psikologi, ekonomi dan lain-lain. Mereka selain memiliki keunggulan di bidang keilmuannya masing-masing juga memiliki kemampuan dalam memahami Kitab Suci al Qur’an dan Hadits secara mandiri. Dengan cara atau strategi sebagaimana dikemukakan di muka, yakni diformat, diperkokoh, dan disempurnakan kembali berbagai aspeknya, maka PTAIN akan berhasil mengoptimalkan perannya dalam ikut membangun kehidupan bangsa dan negara di masa depan. Wallahu a’lam *). Makalah ini disampaikan pada acara Dies Natalis ke-45 IAIN Raden Fatah Palembang, 24 November 2009

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *