ORIENTASI BUKU AJAR BAHASA ARAB

ORIENTASI BUKU AJAR BAHASA ARAB
Dr. H. Uril Bahruddin, MA
 
Melihat perkembangan buku ajar bahasa Arab di lapangan, kita dapat menemukan banyak sekali modelnya. Dasar atau pendekatan dalam menulis buku juga bermacam-macam sesuai dengan tujuan yang diinginkan dari ditulisnya buku-buku itu. Masing-masing penulis punya kecenderungan sendiri-sendiri dan tidak bisa dipaksakan seragam.
Apabila tujuan buku ajar bahasa Arab adalah menguasai bahasa dalam arti yang sempurna, dengan mengajarkan seluruh unsur dan ketrampilan bahasa, maka bisanya pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kesatuan unit (naẓariyyatul wihdah) seperti yang digunakan buku al ‘Arabiyah lin Nasyiīn atau al ‘Arabiyah baina Yadaika. Biasanya buku ajar dengan menggunakan pendekatan naẓariyyatul wihdah dimulai dengan menyajikan hiwar atau dialog, kemudian baru dilanjutkan dengan komponen materi yang lain.
Berbeda dengan buku ajar yang tujuannya adalah untuk menguasai ketrampilan tertentu dalam bahasa Arab, maka secara langsung buku tersebut akan menyajikan konten utama yang menjadi tujuannya. Misalnya, buku ajar yang tujuannya adalah menguasai ketrampilan membaca, maka sejak awal buku itu menyajikan bacaan dilanjutkan dengan struktur dan komponen pendukung lainnya. Buku ajar bahasa Arab dengan model seperti itu contohnya adalah al Qira’ah al ‘Arabiyah lil Muslimin. Demikian halnya dengan buku ajar yang lebih menekankan kepada ketrampilan berbicara, seperti buku Hayya natakallam al ‘Arabiyyah, Al Muhawarah al Hadīṡah bil al luġah al ‘Arabiyah dan lain sebaginya.
Ada juga buku ajar bahasa Arab yang tujuannya mengajarkan bahasa Arab secara komprehensif mencakup semua unsur dan ketrampilan berbahasa, tetapi pendekatan yang dipilih oleh penulisnya adalah pendekatan struktural dengan terlebih dahulu menyajikan struktur bahasa Arab. Karena buku itu tidak terbatas hanya pada pembelajaran struktur dan ketrampilan membaca saja, maka buku itupun dilengkapi dengan teks dialog untuk mengajarkan ketrampilan berbicara dan juga materi ketrampilan menulis lengkap dengan berbagai latihan yang mendukungnya.
Terkait dengan pemberian syakl atau harakat pada tulisan bahasa Arab dalam buku teks, secara umum buku ajar bahasa Arab memiliki tiga tipe, menggunakan harakat dengan lengkap, menggunakan harakat pada sebagian tulisan yang dibutuhkan untuk menghidari kerancuan dan tidak memberikan harakat sama sekali. Sudah barang tentu buku ajar bahasa Arab untuk non Arab sebaiknya menggunakan harakat, utamanya bagi pemula yang sulit untuk membaca kosa kata bahasa Arab kecuali jika diberi harakat. Pemberian harakak bisa dikurangi pada level yang lebih tinggi, karena pada akhirya mereka dituntut untuk dapat membaca tulisan berbahasa Arab tanpa harakat sebagaimana di buku, koran dan majalah.
Perlu diketahui dalam hal ini bahwa tulisan berbahasa Arab pada dasarnya tanpa menggunakan harakat, karena secara umum sebuah kata dalam bahasa Arab sudah mengandung harakat tanpa dituliskan, dan dalam susunan kalimat Arab sendiri sudah dapat difahami melalui konteknya. Itulah yang terjadi pada tulisan al Quran. Bahkan di awal-awal al Quran ditulis dan dibukukan, tulisan ayat-ayatnya tidak dilengkapi dengan titik-titik juga, sehingga bentuk tulisan bā’ sama dengan tā’ dan ṡā’. Untuk menghindari kerancuan, akhirnya kemudian dilengkapi dengan titik dan harakat dengan sempurna.
Pemberian harakat pada tulisan bahasa Arab yang masih diperlukan oleh kebanyakan para pembelajar adalah harakat pada akhir kata. Terdapat perbedaan harakat pada akhir kata Arab ketika disusun dalam sebuah kalimat, sehingga tidak selamanya akhir harakat kata (الباب) adalah dammah (البابُ), bisa jadi fathah (البابَ) dan bisa pula kasrah (البابِ), tergantung konteknya. Karena itu dalam kaidah bahasa Arab ada ilmu khusus untuk menentukan perubahan harakat pada akhir kata yang disebut dengan ilmu i’rab. Untuk menghindari kesalahan bagi pembelajar pemula, harakat-harakat tersebut sebaiknya diberikan dengan sempurna dalam penulisan buku ajar. Lebih-lebih lagi, pembuatan buku ajar hakekatnya adalah untuk murid, sehingga kemaslahatannya harus lebih diprioritaskan.
Dengan demikian, masing-masing buku ajar bahasa Arab memiliki karakter tersendiri sesuai dengan orientasi yang diinginkan oleh penulisnya. Wallahu A’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *