Para Koruptor Itu Sebenarnya Siapa ?

Para Koruptor Itu Sebenarnya Siapa ?

Tulisan singkat ini saya buat, dengan maksud mengajak, bersama-sama melihat secara jernih, hati-hati, dan sungguh-sungguh, siapa sebenarnya para koruptor itu. Jawaban ini penting diketahui, agar tidak ada pihak-pihak yang sebenarnya benar tetapi disalahkan dan atau sebaliknya, salah tetapi selalu dibenarkan. Dengan mengetahui latar belakang pelaku koruptor itu, maka tidak terjadi anggapan yang salah, dan begitu pula peta dan pelaku koruptor itu menjadi jelas. Saya sangat sedih mendengar ungkapan yang tidak semestinya, dilontarkan secara sembrono atau gegabah, misalnya, sebagai berikut : “Bangsa ini paling banyak penduduknya yang muslim, tetapi koruptornya juga paling banyak”. Kalimat yang bernada sama dikatakan : “Negeri ini setiap tahun paling banyak penduduknya yang naik haji, tetapi juga paling parah korupsinya”. Ungkapan lainnya, masjidnya banyak tetapi korupnya juga begitu banyak. Kalimat-kalimat senada itu seringkali terdengar dalam berbagai kegiatan, seperti dalam ceramah, diskusi, pembicaraan tidak resmi, dan lain-lain. Seolah-olah kalimat itu benar, atau mungkin juga dengan maksud benar, sebagai peringatan agar yang telah naik haji, rajin ke masjid, sholat lima waktu, dan seterusnya tidak melakukan korupsi lagi. Ungkapan seperti itu, seolah-olah bahwa ibadah haji, sholat lima waktu, dan sejenisnya tidak berdampak apa-apa terhadap perilaku seseorang. Padahal, yang korupsi dan yang mengemplang dan membobol bank itu orangnya berbeda dengan yang naik haji dan juga yang ada di masjid-masjid atau di tempat ibadah lainnya. Ungkapan secara sembrono dan gegabah seperti tersebut di muka, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa keberagamaan, seperti sholat, haji, tidak ada kaitannya dengan perbaiki karakter, watak, dan perilaku seseorang. Memang pada kenyataannya, ada orang-orang yang pernah berhaji tetapi juga melakukan korupsi, rajin sholat, teapi juga masih menyimpang tatkala bekerja di kantor dan seterusnya. Tetapi yang rupanya tidak pernah dilihat adalah siapa sesungguhnya pihak-pihak yang paling banyak melakukan korupsi itu, apalagi dalam ukuran besar, hingga triliyunan rupiah selama ini. Secara lebih jelas, jika terdengar ada bank bangrut, karena sengaja dibangkrutkan oleh pemiliknya, dan uangnya dilarikan ke luar negeri, atau ada pengemplang, dan bahkan ada cukong, dan apalagi terakhir ada markus atau makelar kasus tingkat kakap, sesungguhnya siapa mereka itu. Saya belum pernah mendengar, bahwa kejahatan ekonomi kelas kakap itu dilakukan oleh para jama’ah haji, atau orang yang rajin ke masjid, apalagi seorang takmir masjid. Dalam kasus yang paling hangat, bank centrury misalnya, siapa yang membobol dana sekian triliyun, dan akhirnya pemerintah merasa harus menalangi itu. Pelaku kejahatan keuangan itu, jelas bukan orang yang rajin ke tempat ibadah. Melihat secara jelas pelaku kejahatan itu adalah sangat penting, apalagi di tengah-tengah upaya meperbaiki perilaku, watak, karakter bangsa yang akhir-akhir ini mulai disadari dan dianggap mendesak dilakukan. Perlu dikhawatirkan jangan-jangan, mereka yang sekedar terkena pengaruh budaya jahat itu, justru yang dijadikan kambing hitam, sedangkan sumber utama pelakunya tidak pernah mendapatkan perhatian, apalagi akhirnya dianggap sebagai pahlawan. Saya meyakini, bahwa orang-orang yang melakukan kejahatan korupsi, apalagi korupsi kelas kakap, pembobolan dana bank triliyiunan rupiah, juga mereka yang menjadi cukong termasuk cukong politik di mana-mana, menjadi markus atau makelar kasus, mereka itu adalah bukan orang-orang yang dekat dengan tempat ibadah, dekat dengan kitab suci, dan juga dekat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan —–agama apapun. Saya meyakini bahwa seseorang yang memiliki keimanan yang kokoh, selalu mendekatkan kepada Tuhannya, memegangi kitab suci-Nya secara sungguh-sungguh, mereka tidak akan melakukan korupsi atau kejahatan lainnya. Tidak perlu menutup mata, bahwa memang ada orang yang pernah naik haji, sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan tetapi masih melakukan kesalahan, dan mungkin juga korupsi, yang akhirnya masuk penjara. Tetapi juga tidak selalu demikian, bahwa yang haji itu korup dan jahat. Sama halnya, orang sekolah dan kuliah, tidak selalu berhasil menjadi pintar. Ada pula yang gagal dan tidak lulus. Demikian pula baik orang-orang yang naik haji, sholat, puasa dan lain-lain, tidak semua mabrur atau diterima ibadahnya itu. Secara sederhana, saya tidak yakin bahwa orang yang pernah haji tetapi masih melakukan korupsi , adalah orang-orang yang hatinya benar-benar dekat dengan ka’bah, dekat dengan masjid, atau dekat dengan jenis tempat-tempat ibadah lainnya. Orang-orang yang masih berani mengabaikan ajaran agamanya, pertanda bahwa keberagamaannya tidak sungguh-sungguh. Tetapi saya yakin, agama merupakan instrument strategis untuk menjaga kualitas diri bagi pemeluknya. Para koruptor dan pelaku kejahatan adalah orang-orang yang sesungguhnya jauh dari agama, sehingga hatinya kering, atau hampa dari nilai-nilai luhur itu. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *