PEGANGLAH TONGKAT PADA BAGIAN TENGAHNYA

PEGANGLAH TONGKAT PADA BAGIAN TENGAHNYA

Dr. H. Uril Bahruddin, MA

 

Diantara kebiasaan dalam kehidupan dakwah Rasulullah saw. adalah mengunjungi kabilah-kabilah Arab dengan tujuan untuk mengajak mereka masuk Islam. Suatu ketika baginda Rasulullah mendatangi kabilah Bani Abdillah. Sesampainya pada kabilah, baginda Rasulullah mengatakan, “Wahai Bani Abdillah, sesungguhnya Allah telah memilihkan nama yang sangat baik buat nenek moyang kalian, yaitu Abdullah, dan bukan Abdul Uzza atau Abdul Lata. Nama orang tua kalian tidak ada unsur syirik di dalamnya, karena itulah masuklah kalian ke dalam Islam”.
Sebelum Khalid bin Walid masuk Islam, sebenarnya Rasulullah saw. telah banyak berharap agar Khalid bisa segera bergabung pada barisan kaum muslimin. Karena itu, beliau pernah mengirim pesan penting melalui saudaranya yaitu Al Walid bin Walid yang terlebih dahulu telah masuk Islam. Rasulullah mengajak dialog saudaranya tentang Khalid bin Walid, yang diantara isinya adalah bahwa Rasulullah sangat mengharapkan masuknya Khalid ke dalam Islam, akan lebih baik jika Khalid berada pada barisan Islam, dan jika Khalid mau datang menghadap Rasulullah, beliau akan memuliakan dan menghormatinya.
Setelah dialog bersama Rasulullah saw., Al Walid pun segera mencari saudaranya untuk menyampaikan besan beliau saw., namun sayangnya tidak dapat menemuinya. Karena itu dia hanya bisa meninggalkan sepucuk surat yang berisi tentang hasil dialognya dengan baginda Rasulullah tersebut. Tidak lama setelah Khalid membaca surat dari saudaranya, dia bersiap-siap untuk memenuhi panggilan Rasulullah di Madinah, karena Khalid merasa bahagia dengan pesan-pesan yang disampaikan dari Rasulullah, ditambah lahi dia telah bermimpi keluar dari sebuah negeri yang kering kerontang menuju negeri yang hijau nan subur, dan akhirnya benar-benar Khalid menyatakan ke-Islam-annya dihadapan Rasulullah saw.
Dari kejauhan ketika Rasulullah saw. melihat Khalid bin Walid datang, beliau saw. menyambutnya dengan senyum dan terus tersenyum sampai benar-benar Khalid berdiri dihadapannya dan menyampaikan salam kemudian Rasulullah menjawab salamnya dan menyambutnya dengan wajah berseri. Langsung Khalid bin Walid menyatakan dua kalimat syahadat dihadapan baginda Rasulullah saw. dan beliau menyambutnya, seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukimu ke dalam Islam, engkau adalah pemuda yang cerdas, semoga engkau mendapatkan kebaikan dengan masuk Islam ini”.
Khalid bin Walid merasa bahwa selama ini dia berada di garis terdepan dalam menentang Islam dan melawan kaum muslimin, maka diapun memohon kepada Rasululullah untuk memintakan ampun kepada Allah atas semua kesalahannya itu. Rasulullah pun menjawab, “Islam telah menutup seluruh kesalahanmu sebelum masuk Islam”. Namun demikian, Khalid bin Walid tetap mendesak baginda Rasulullah untuk memintakan ampun kepada Allah, hingga beliau berdoa, “Ya Allah, ampunilah Khalid bin Walid dan seluruh kesalahanya semasa sebelum Islam”.
Dua kisah di atas adalah diantara sekian banyak kisah banginda nabi Muhammad saw. dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Uslub atau cara yang digunakan oleh Rasulullah dalam berkomunikasi adalah uslub yang paling menyejukkan hingga orang yang diajak bicara merasa senang dan mau menerima nasihat atau ajakan beliau.
Ketika beliau mengajak Bani Abdullah masuk Islam, beliau menunjukkan kebaikan yang dimiliki oleh kabilah tersebut dan tidak langsung memerintahkan untuk memeluk agama Islam. Demikian juga uslub yang digunakan oleh beliau ketika mendakwahkan Islam kepada Khalid bin Walid. Baginda Rasulullah saw. menunjukkan dan terlebih dahulu menyebutkan sejumlah kebaikan dan kelebihan yang dimiliki oleh Khalid bin Walid, baru setelah itu mengajaknya untuk masuk Islam. Oleh karena itu, agar kita dapat sukses berkomunikasi dengan orang lain, hendaknya kita mengakui kebaikan dan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain.
Kecenderungan kebanyakan orang adalah menunjukkan dan menampakkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, padahal tidak ada diantara kita yang berkenan kalau kesalahannya diketahui oleh orang lain atau dibuka dimuka umum. Sehingga, seringkali banyak orang yang gagal berkomunikasi karena tidak seimbang dalam menyebutkan kebaikan dan kesalaha orang yang diajak komunikasi. Setiap orang butuh pengakuan terhadap seluruh prestasi dan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan. Dengan menyebut prestasi kebaikannya, maka berarti kita telah memberikan pengakuan yang diharapkan, dan dengan demikian kita telah membuka pintu komunikasi dengannya.
Dalam aktifitas mengajak kepada kebaikan dan mengingkari kemungkaran juga demikian. Pintu terbaik untuk masuk dan bisa berdialog dengan obyek dakwah kita adalah dengan membuka sejumlah pintu kebaikan yang dimilikinya. Seandainya kita mau mengingatkan seseorang yang menjual barang haram di tokonya, maka hendaknya terlebih dahulu kita mengapresiasi semangatnya untuk berdagang dan mencari nafkah, mungkin kita juga bisa memberi apresiasi karena dia perhatian dengan kebersihan tokonya, baru kemudian sedikit-demi sedikit kita masuk kepada tema jual beli hal-hal yang baik yang tidak dilarang oleh Allah.
Dengan memberikan apresiasi terhadap kebaikan yang dimiliki orang lain, maka berarti kita tidak memandang hanya pada keburukannya saja, namun kita telah memegang tongkat pada bagian tengahnya. Memegang dengan cara seperti itu adalah merupakan cara memegang yang benar dan kokoh. Semoga Allah swt. selalu memudahkan kita untuk dapat berlaku adil, dengan mengakui prestasi yang dimiliki orang lain dan tidak hanya sekedar menyebut kekurangan dan daftar kesalahannya saja. Wallahu A’lam.
===============
cak.uril@gmail.com

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *