PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MADRASAH ALIYAH SE KABUPATEN MALANG

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MADRASAH ALIYAH  SE KABUPATEN MALANG

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI MADRASAH ALIYAH

SE KABUPATEN MALANG

 

Oleh

Maslichah[1]

 

ملخص: لقد مست الحاجة إلى الكشف عن عملية تدريس اللغة العربية في المدارس الثانوية لما أنها من المواد الإجبارية. لذا، أجري هذا البحث رغبة في اكتساب معلومات تتعلق بتعليم هذه اللغة لهذا المستوى الدارسي بمنطقة مالانج. واكنشفت الباحثة على أن (أ) معظم المدرسين ليسوا مؤهلين بها، و (ب) ان كفاءة الطلبة اللغوية مختلفة، و (ج) وأكثر الكتب المدرسية المستخدمة من إنتاج وزارة الشؤون الدينية، و (د) لا تتنوع الوسائل التعليمية، و (هـ) الاختبارات تتنوع أسلوبا ونوعا.

الكلمات الرئيسة: تعليم اللغة العربية، المدرسة الثانوية، منطقة مالانج.

 

Jurusan Sastra Arab Program Studi Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang bertujuan menghasilkan lulusan yang mempunyai wewenang mengajar Bahasa Arab di SMU (Kurikulum 1999). Akan tetapi, kenyataan yang ada selama ini, para lulusan banyak yang mengajar di Madrasah Aliyah, baik negeri maupun swasta, apalagi semenjak diberlakukannya Kurikulum 1994 SMU yang dinilai “kurang ramah” terhadap program pengajaran bahasa asing pilihan di SMU.

Memang sudah ada langkah yang ditempuh selama ini dalam rangka membekali para lulusan kita menjadi tenaga pengajar Bahasa Arab di Madrasah Aliyah. Akan tetapi itu upaya yang dilakukan itu tidak lebih dari sekedar mengkaji buku teks karangan Dr. Hidayat dan menyusun rancangan pembelajarannya. Hal-hal yang berkaitan dengan kondisi dan situasi di lapangan belum pernah dilihat dan dipertimbangkan. Belum pernah dirancang secara rapi, bagaimana membekali mahasiswa dengan materi dan metodologi yang menjadikan mereka mampu bersejajar dan berkompetisi dengan para lulusan STAIN misalnya, untuk menjadi guru Bahasa Arab yang benar-benar “berterima” di Madrasah Aliyah.

Dalam rangka memanfaatkan DUE-LIKE Batch III (Develompment for Undergraduate Education, Proyek Pengembangan Program Studi) Tahun Pertama 2002 secara optimal. Penelitian ini dilakukan dalam rangka upaya mempelajari bagaimana pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah Aliyah se Kabupaten Malang, dari segi keberwenangan para guru, kualifikasi siswa, materi pengajaran, fasilitas penunjang pembelajaran dan hambatan pengajaran bahasa Arab.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Malang pada tanggal 10 Mei 2002, jumlah Madrasah Aliyah di wilayah Kabupaten Malang ini ada 44 sekolah, dua di antaranya berstatus negeri. Sedangkan di Kota Madya hanya ada 11 sekolah, juga dua di antaranya berstatus negeri. Jadi perbandingannya adalah 44 dan 11, dengan jumlah sekolah berstatus negeri sama (dua). Dengan demikian, penelitian di wilayah kabupaten ini dianggap penting untuk didahulukan sehubungan dengan keterbatasan alokasi dana yang ada.

Secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: (1) kualifikasi guru Bahasa Arab, (2) kualifikasi siswa (latar belakang pendidikan formal) dalam mengikuti proses pembelajaran Bahasa Arab, (3) materi pembelajaran Bahasa Arab, (4) media pembelajaran bahasa Arab, (5) sistem penilaian dalam pembelajaran bahasa Arab, (6) faktor pendukung dan penghmbat pembelajaran Bahasa Arab.

Hasil penelitian ini berupa deskripsi tentang pengajaran bahasa Arab, hambatan dan pendukungnya. Oleh karena itu, hasil ini diharapkan bermanfaatn bagi JSA FS UM, Departemen Agama Kabupaten Malang, guru, kepala sekolah, pengawas dan supervisor dalam rangka pengembangan kurikulum, pengembangan pengajaran, penemuan cara yang efektif dalam mengatasi hambatan, kebutuhuan tenaga pengajar, lahan pengabdian pada masyarkat dan penelitian lanjutan.

 

 

METODE PENELITIAN

 

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Penelitian ini berupaya menggambarkan variabel, sub variabel dan indikatornya seperti apa adanya dalam konteks pengajaran bahasa Arab di MA se-Kabupaten Malang. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Ary, et al., (1979), bahwa penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang berupaya menggambarkan variabel atau kondisi seperti apa adanya dalam suatu situasi. Dalam rancangan deskriptif tercakup suatu usaha pemerian, pencatatan, penganalisaan, dan penginterpretasian kondisi-kondisi yang terjadi (Best, 1977).

Populasi dalam penelitian ini adalah MA yang ada di wilayah Kabupaten Malang. Menurut data yang diperoleh dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Malang pada tanggal 10 Mei 2002, jumlah MA yang ada di wilayah Kabupaten Malang ada 44 sekolah yang terdiri dari 42 MA swasta dan 2 MA Negeri.

Mengingat Jurusan Sastra Arab Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Sastra bermaksud memperoleh informasi (data base) mengenai pelaksanaan pengajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang untuk dijadikan referensi pengembangan pengajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang, maka semua MA yang ada dijadikan sampel penelitian (total sampling). Akan tetapi, karena peneliti mengalami kesulitan untuk menjaring data pada sekolah tertentu, terutama MA yang lokasinya berada di daerah terpencil dan guru bahasa Arabnya juga sulit ditemui, maka dari 44 MA yang ada, peneliti dapat menjangkau 37 MA.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket semi tertutup. Artinya pihak responden selain diberi kesempatan memilih alternatif jawaban yang ada, dengan mengemukakan jawaban lain yang menurutnya dipandang perlu.

Data meliputi (a) kualifikasi guru, (b) latar belakang siswa sebelum di MA, (c) materi pembelajaran, (d) media pembelajaran, (e) sistem penilaian dan (f) faktor yang menghambat dan mendukung pembelajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang.

Pengumpulan data dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut. (1) pengurusan ijin penelitian ke instansi yang berwenang, dalam hal ini Kantor Departemen Agama Kabupaten Malang, (2) penjajagan ke sekolah-sekolah yang telah ditetapkan sebagai sampel dengan membawa rekomendasi dari Kantor Departemen Agama Kabupaten Malang. Dalam penjajagan ini, peneliti bernegosiasi dengan pihak responden (terutama guru dan kepala sekolah) mengenai waktu dan teknis penyebaran angket, wawancara, dan penetapan guru dan siswa sample, (3) penyebaran angket kepada guru dan siswa yang ditetapkan sebagai sampel berdasarkan negosiasi sebelumnya dan melakukan wawancara dengan pihak kepala sekolah, (4) dalam pengumpulan data ini, peneliti dibantu oleh tenaga lapangan yang telah memperoleh penjelasan mengenai tujuan penelitian dan prosedur pengumpulan data, termasuk di dalamnya tata cara (etika) penyebaran angket, baik kepada kepala sekolah, guru maupun siswa.

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis-deskriptif. Dengan langkah-langkah (1) penghitungan jumlah angket yang terkumpul dari setiap sekolah. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan angket, hasil wawancara dengan kepala sekolah, dan dokumen (nilai akhir bahasa Arab siswa). Angket tersebut terdiri atas angket yang disebarkan kepada siswa sampel dan guru bahasa Arab, (2) pengecekan kelengkapan jawaban dari setiap instrumen maupun dokumen, (3) pembuatan transfer sheet berdasarkan variabel yang telah ditetapkan dalam penelitian, (4) identifikasi data yang diperoleh baik melalui angket, hasil wawancara, maupun dokumentasi sesuai dengan variabel dan sub-subnya yang telah ditetapkan dalam penelitian, (5) pengelompokan data yang telah diidentifikasi melalui angket, (6) memasukkan data yang telah diidentifikasi dan dikelompokkan melalui angket, hasil wawancara, dan dokumen ke dalam transfer sheet, (7) mengkuantifikasi data dengan menggunakan teknik statistik deskriptif sederhana (prosentase), (8) memasukkan data yang telah diidentifikasi, dikelompokkan ke dalam tabel, (9) menjelaskan data yang terdapat dalam setiap tabel dan hubungannya dengan tabel yang lain, (10) menyimpulkan hasil penelitian.

 

HASIL PENELITIAN

Kualifikasi Guru Bahasa Arab di MA

(a) Latar Belakang Pendidikan Formal

Latar belakang pendidikan formal tingkat dasar (SD/MI) guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang dapat adalah bahwa sebagian besar guru (56,75%) berlatarbelakang pendidikan non-fornal tingkat dasar MI, 26,62% berlatarbelakang pendidikan SD/SR, 13, 51% berlatarbelakang pendidikan SDI, dan 2,70 % berlatarbelakang pendidikan dasar rangkap (SD dan MI).

Latar belakang pendidikan formal tingkat lanjutan pertama (MTs/SMP) adalah bahwa sebagian besar (67,57%) berlatarbelakang pendidikan formal tingkat lanjutan pertama MTs, 18,92% berlatarbelakang pendidikan SLTP, 8,11%  berlatarbelakang PGAP, dan 5,41 % berlatarbelakang pendidikan Muallimin. Latarbelakang pendidikan formal guru tingkat menengah atas adalah sebagian besar guru (86,49%) berlatarbelakang pendidikan formal Madrasah Aliyah/PGA, 8,11%  berlatarbelakang pendidikan formal SMU, dan 5,41 % berlatarbelakang pendidikan formal SMU Islam.

Sementara itu, latarbelakang pendidikan formal guru untuk tingkat PT adalah sebagian besar (43,24%) berlatarbelakang pendidikan S1 Jurusan Pendidikan Agama Islam, 35,14% berlatar belakang pendidikan S1 Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, 13,51% berlatarbelakang pendidikan sarjana muda/diploma berlatar belakang pendidikan sarjana muda/diploma non-bahasa Arab, 5,41% berlatar belakang pendidikan sarjama muda bahasa Arab, dan 2,70% berlatar belakang pendidikan Sl Jurusan Sastra Arab.

(b) Latar Belakang Pendidikan Non-Formal

Latar belakang pendidikan non-formal meliputi pendidikan pesantren dan keikutsertaan dalam kegiatan lokakarya, penataran, maupun seminar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar  (86,49%) guru bahasa Arab di MA berlatarbelakang pendidikan pesantren, sedangkan 13,51% tidak memiliki latarbelakang pendidikan pesantren. Dari asepk lama waktu pendidikan yang ditempuh di pesantren, sebagian besar guru bahasa Arab (43,75%) menempuh pendidikan di pesantren lebih dari lima tahun, 34,36% menempuh antara tiga sampai lima tahun, sedangkan 21,86% menempuh antara satu sampai 2 tahun.

Sementara itu, dari sisi keikutsertaan guru bahasa Arab dalam mengikuti lokakarya atau seminar, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru (54,05%) pernah mengikuti seminar/kursus/lokakarya/penataran yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Arab, sedangkan 45,95% tidak pernah mengikuti kegiatan tersebut. Dari aspek frekuensi keikutsertaan dalam seminar/lokakarya sebagian guru (40%) pernah mengikuti seminar/kursus/lokakarya/penataran yang berkaitan dengan pengajaran bahasa Arab lebih dari empat kali. 25% pernah mengikuti semi nar/kursus/lokakarya/penataran dua kali, 20% pernah mengikuti seminar/kursusllokakarya/penataran tiga kali, dan 15% pernah mengikuti seminar/kursus/lokakarya/penataran satu kali.

(c) Pengalaman dan Beban Mengajar Guru

Dari sisi pengalaman mengajar, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru (40,54%) mempunyai pengalaman mengajar bahasa Arab kurang dari tiga tahun, 32,43% mempunyai pengalaman mengajar bahasa Arab antara tiga sampai 5 tahun. 13,51% mempunyai pengalaman mengajar bahasa Arab antara 6 sampai delapan tahun, dan 13,51%  mempunyai pengalaman mengajar bahasa Arab lebih dari delapan tahun.

Sementara itu, dari sisi beban tugas mengajar, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru (62,18%) juga mempunyai tugas (beban) mengajar selain bahasa Arab, sedangkan 37,84% tidak mempunyai tugas (beban) mengajar selain bahasa Arab. Dari sisi matapelajaran selain bahasa Arab yang diajar oleh guru, hasil peneltiian menunjukkan bahwa sebagian besar guru (60,87%) mengajar Agama Islam (Fiqih, Alquran-hadits, dan lain-lain), 21,74% mengajar matapelajaran umum, dan 17,39% mengajar matapelajaran bahasa selain bahasa Arab (bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa Jerman, dan lain-lain). Sebagian besar guru bahasa Arab (62,16%) mengajar di sekolah lain, sedangkan 37,84% tidak mengajar di sekolah lain.

(d) Motivasi Guru

Pertimbangan memasukkan indikator motivasi guru sebagai salah satu variabel dalam kualifikasi guru didasarkan pada suatu pandangan bahwa motivasi merupakan salah satu aspek internal yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kualifikasi guru. Motivasi yang dijaring dalam penelitian ini mencakup motivasi integratif dan motivasi instrumental.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar motivasi guru (35,63%) dalam mengajar bahasa Arab disebabkan oleh tanggung jawab moral mereka dalam mengembangkan bahasa Arab di Indonesia. 26,30% menyatakan karena bahasa Arab merupakan bahasa agama Islam, 17,24% menyatakan karena bahasa Arab merupakan bahasa idolanya, 16,09% menyatakan karena bahasa Arab merupakan bahasa internasional, 11,15% menyatakan karena di sekolah tempat dia mengajar tidak ada guru yang bersedia mengajar bahasa Arab.

 

Latar Belakang Pendidikan Siswa Pra MA

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa sebagian besar (54,05%) latarbelakang pendidikan formal input siswa MA adalah lulusan MI dan MTs, 16,22 % responden lulusan SD dan MTs, 16,22%  lulusan SD dan SMP, 8,11% responden lulusan MI dan SMP, 2,70% responden lulusan MI dan MTs, dan 2,70% responden menyatakan bahwa seluruh siswa MA adalah lulusan MI dan SD dan SMP.

 

 

 

Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran dalam penelitian ini meliputi penggunaan buku teks, identitas buku teks yang digunakan, dan kepemilikan siswa terhadap buku teks. Berdasarkan hasil analisis ditemukan, bahwa  sebagian guru bahasa Arab MA (97,30%) di Kabupaten Malang menggunakan buku teks bahasa Arab sebagai buku ajar, sementara itu, 2,70% guru bahasa Arab tidak menggunakan buku teks. Alasan guru yang tidak menggunakan buku teks adalah tingkat kesulitan buku teks yang diterbitkan oleh Departemen Agama bagi siswa tinggi.

Dari sisi buku teks yang digunakan oleh guru, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru bahasa Arab MA (62,16%) di Kabupaten Malang  menggunakan buku teks yang disusun oleh Tim Departemen Agama yang diterbitkan oleh CV Toha Putra pada tahun 2001. Sebagian guru (35,14%) menggunakan buku teks yang disusun oleh D. Hidayat yang diterbitkan oleh PT Hikmah Syahid Indah tahun 1994. Sebagian yang lain (2,70%) menggunakan buku teks yang disusun oleh M. Anwar yang  diterbitkan oleh Sinar Baru.

Dari sisi kepemilikan siswa terhadap buku teks, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru bahasa Arab, yakni 45,95% menyatakan bahwa sebagian besar siswa memiliki buku teks, 35,14% responden menyatakan bahwa sebagian kecil siswa memiliki buku teks, 13,5%  responden menyatakan bahwa seluruh siswa memiliki buku teks, dan 5,41% responden menyatakan bahwa seluruh siswa di tempat responden tidak memiliki buku teks.

 

Media Pembelajaran

Media pembelajaran yang dijaring dalam penelitian ini difokuskan pada ketersediaan media dan jenis media, dan penggunaan media oleh guru (terlepas dari ada tidaknya media di sekolah). Dari sisi ketersediaan media, sebagian besar MA se Kabupaten Malang, yakni 75,68% tidak memiliki media pembelajaran bahasa Arab, sementara itu, sekolah yang memiliki media atau alat bantu pembelajaran bahasa Arab adalah sebesar 24,32%.

Dari sisi jenis alat bantu/media pembelajaran yang dimiliki, hasil penelitian menunjukkan bahwa  sebagian besar jenis media yang dimiliki oleh 9 MA se Kabupaten Malang adalah 30% berupa benda asli, 23,33% berupa gambar/bagan, 16,67% berupa benda tiruan, 10% berupa Radio/Tape recorder, TV/VCD player, 6,67% berupa laboratorium bahasa (2 sekolah) dan 3,33% berupa lain-lain.

Sementara itu, dari sisi pemanfaatan media, hasil penelitian menunjukkan bahwa terlepas dari apakah sekolah menyediakan media pembelajaran bahasa Arab atau tidak, sebagian besar guru, yakni 62,16% tidak menggunakan media pembelajaran bahasa Arab dan 37, 83% menggunakan media dalam proses pembelajaran bahasa Arab di MA.

 

Sistem Penilaian

Sistem penilaian yang dijaring dalam penelitian ini difokuskan pada waktu pelaksanaan penilaian, jenis tes, bentuk tes, dan kesulitan guru dalam menyusun soal.  Dari sisi waktu pelaksanaan, hasil penelitian menggambarkan bahwa sebagian besar guru bahasa Arab MA se Kabupaten Malang, yakni 75% melaksanakan penilaian (tes) setiap akhir unit pelajaran. 10% guru melaksanakan penilaian dua kali dalam satu cawu, 7,5% guru melaksanakan penilaian pada akhir cawu atau sebulan sekali.

Dari sisi jenis tes yang digunakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru bahasa Arab, yakni 31,58% mengguakan tes esai, 30. 53% menggunakan tes mengisi, 24,10% menggunakan tes pilihan ganda, dan 13,68 menggunakan tes salah-benar.

Dari sisi cara mengerjakan tes, hasil penelitian menggambarkan bahwa sebagian besar guru bahasa Arab, yakni 51,35%  menggunakan tes lisan dan tulis secara seimbang, 27,03% lebih sering menggunakan tes lisan. 24,32% lebih sering menggunakan tes tulis. Sementara itu, dari sisi kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam menyusun soal bahasa Arab, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru, yakni 57,89% mengatakan bahwa kesulitan yang dialami dalam menyusun soal adalah kesulitan dalam hal menentukan tingkat kesulitan soal itu sendiri. Artinya apakah soal yang disusun itu terlalu sulit ataukah terlalu mudah bagi siswa. 21,05% mengatakan bahwa kesulitan yang dialami oleh guru bahasa Arab adalah kesulitan dalam hal penggunaan bahasa Arab, dan 21,05% mengatakan bahwa yang paling sulit dalam penyusunan soal adalah pensekoran.

 

Faktor Penghambat dan Pendukung dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Faktor penghambat dalam pembelajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang ini berkaitan dengan permasalahan atau kekurangan yang dialami oleh MA dalam konteks pembelajaran bahasa Arab. Permasalahan atau kekuranagan yang dimaksud adalah  (a) sebagian besar guru bahasa Arab bukan berlatar belakang pendidikan bahasa Arab atau Sastra Arab,  (b) sebagian besar guru bahasa Arab mempunyai beban mengajar ganda, (c) MA tempat mereka mengajar tidak memiliki media pembelajaran yang memadai, (e) heteroginitas kemampuan berbahasa Arab siswa.

Sementara itu, faktor yang mendukung pembelajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang adalah (a) sebagian besar guru bahasa Arab pernah mengikuti pendidikan di pesantren, (b) motivasi mengajar guru tinggi, (c) kepedulian kepala sekolah yang cukup tinggi terhadap pembelajaran bahasa Arab, (d) sikap positif serta kepedulian yang cukup tinggi dari guru non-bahasa Arab terhadap keberadaan dan pembelajaran bahasa Arab di MA.

 

BAHASAN

Kualifikasi Guru

Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan sebagian besar guru bahasa Arab di MA adalah lulusan non pendidikan bahasa Arab. Data ini menggambarkan bahwa profesionalitas sebagian besar guru bahasa Arab baik dari sisi penguasaan materi maupun metodologi perlu mendapatkan perhatian yang serius. Hal ini cukup beralasan karena salah satu faktor keberhasilan pembelajaran bahasa Arab sangat ditentukan oleh sejauhmana guru menguasai materi bahasa Arab dan metode pembelajarannya secara efektif. Guru sebagai salah satu sumber input kebahasaaraban bagi siswa di kelas mempunyai peran yang signifikan dalam pengembangan kompetensi dan performansi bahasa Arab siswa. Pernyataan ini selaras dengan pendapat Krashen (1984), bahwa pembelajar akan dapat berbahasa apabila dia memperoleh input yang terpahami (comprehensible input). Input yang dipajankan akan terpahami melalui metode pemajanan (metode pembelajaran) yang tepat. Apabila guru dalam proses pembelajaran bahasa Arab di kelas tidak banyak memberikan input kebahasaaraban kepada siswa, maka sulit bagi siswa akan mengembangkan kompetensi dan performansi bahasa Arabnya.

Dari aspek beban mengajar, temuan penelitian menunjukkan bahwa beban mengajar guru cukup padat. Sebagian besar guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang (62,18% atau 23 dari 37 guru) mempunyai beban mengajar ganda. Artinya, selain mengajar bahasa Arab, mereka juga mengajar matapelajaran lain. Beban mengajar ganda ini secara teoretis maupun praktis akan mengurangi konsentrasi guru dalam meningkatkan profesionalitasnya dalam pembelajaran bahasa Arab. Implikasinya, kelas bahasa Arab yang dibangun oleh guru kurang kondusif dan akhirnya siswa sebagai subjek didik dalam pembelajaran bahasa Arab tidak banyak memperoleh masukan kebahasaaraban secara proporsional.

Di sisi lain, motivasi guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang ideal, dengan adanya tiga indikator. Pertama, mereka mengajar bahasa Arab karena bahasa Arab itu adalah bahasa agama Islam (motivasi spiritual). Kedua, karena bahasa Arab merupakan bahasa idolanya. Ketiga, mereka mengajar bahasa Arab karena tanggung jawab moral. Ketiga indikator motivasi ini menurut bahasa Dulay dan kawan-kawan (1982) disebut motivasi integratif dan motivasi ini mempunyai pengaruh yang sangat positif terhadap keberhasilan pembelajaran bahasa Arab di MA.

 

Latar Belakang Pendidikan input Siswa MA

Latar belakang pendidikan formal input siswa yang mengikuti pembelajaran bahasa Arab cukup positif. Akan tetapi, di sisi lain temuan penelitian mengenai kondisi objektif mereka di kelas cukup memprihatinkan. Dikatakan sebagai temuan positif karena sebagian besar input siswa MA se Kabupaten Malang berlatar belakang pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Sementara itu, di sisi lain, temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemampuan siswa yang mengikuti pembelajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang cukup heterogen di samping minat mereka terhadap bahasa Arab yang rendah. Heterogenitas dan minat atau motivasi siswa yang rendah merupakan kendala yang sangat berarti bagi pembelajaran bahasa Arab. Dapat dibayangkan betapa sulit bagi seorang guru untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya, apabila ada kesenjangan yang tajam mengenai tingkat kemampuan antarsiswa (heterogen) dan minatnya terhadap bahasa Arab yang rendah. Padahal minat/motivasi merupakan salah satu faktor yang sangat dominan untuk mencapai keberhasilan belajar. Mustahil pembelajaran bahasa Arab akan berhasil secara optimal apabila minat belajar siswa itu sendiri rendah.

Materi Pembelajaran

Temuan penelitian menunjukkan bahwa hampir semua guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang menggunakan buku teks (kecuali satu guru yang menggunakan non­-buku teks) sebagai materi pembelajaran bahasa Arab. Temuan ini mengisyaratkan bahwa pembelajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang menggunakan satu kesatuan (all in one system). Melalui pendekatan ini, bahasa Arab bukan lagi diajarkan secara terpisah, melainkan diajarkan secara terpadu. Implikasi dari sistem ini, siswa bukan saja mengetahui tentang bahasa, tetapi lebih dari itu, mereka diharapkan terampil berbahasa. Keterampilan siswa dalam menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi inilah inti dari tujuan pembelajaran bahasa Arab di MA.

 

Ketersediaan dan Pemanfaatan Media

Data penelitian menunjukkan, bahwa sebagian besar MA se Kabupaten Malang tidak memiliki variasi media pembelajaran bahasa Arab. Pertanyaan yang muncul dari kenyataan ini adalah sejauhmanakah pembelajaran bahasa Arab di kelas dapat berlangsung secara interaktif, komunikatif, dan kondusif tanpa menggunakan media. Media bukanlah satu ­satunya penentu keberhasilan pembelajaran bahasa Arab. Akan tetapi, melalui penggunaan media yang efektif, pembelajaran akan berlangsung lebih kondusif dan atraktif. Apabila pembelajaran bahasa Arab berlangsung secara kondusif, interaktif, komunikatif, variatif, dan atraktif, maka minat belajar siswa semakin meningkat dan kemampuan berbahasa Arab mereka semakin berkembang.

 

Sistem Penilaian

Dari sisi waktu pelaksanaan penilaian, temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang menyelenggarakan tes setiap akhir unit pelajaran. Makna dari temuan ini adalah penilaian yang dilakukan oleh guru bukan hanya untuk mengetahui sejauhmana tingkat kemampuan berbahasa Arab siswa secara keseluruhan (tes sumatif), melainkan juga untuk mengetahui sejauhmana efektifitas pembelajaran bahasa Arab sampai pada tahap tertentu (tes formatit). Informasi ini diperlukan dalam proses pengembangan suatu program pembelajaran bahasa Arab. Melalui tes formatif ini dapat diketahui apakah pembelajaran bahasa Arab dapat diselenggarakan seperti yang telah direncanakan, atau harus diselenggarakan dengan perubahan dan penyesuaian (Djiwandono, 1996). Dengan kata lain, seharusnya penilaian itu diselenggarakan secara terus menerus, bukan hanya sekedar untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa, tetapi juga untuk mengetahui proses pembelajaran bahasa Arab itu sendiri.

Dari sisi cara mengerjakan tes, temuan penelitian menunjukkan bahwa tes bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang diselenggarakan secara lisan dan tertulis. Penggunaan tes lisan dan tes tulis untuk mengukur kemampuan berbahasa Arab siswa memberikan gambaran bahwa substansi tes diasumsikan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi, terutama komunikasi lisan. Permasalahannya adalah apakah prosedur penyelenggaraan maupun substansi tes lisan dan tes tulis itu memang benar-benar mengukur kemampuan siswa untuk menggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi, ataukah mengukur pengetahuan siswa tentang bahasa Arab itu sendiri. Untuk memastikan hal ini diperlukan kajian atau analisis tersendri terhadap prosedur penyelenggaraan dan substansi tes bahasa Arab (soal) di MA.

Dan sisi jenis tesnya, temuan penelitian menunjukkan bahwa guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang menggunakan jenis soal yang bervariasi (pilihan ganda, esai, mengisi, dan salah-benar). Penggunaan jenis soal secara bervariatif ini memang yang seharusnya dilakukan oleh guru. Hal ini karena masing-masing jenis soal memiliki kekurangan dan kelebihan. Dengan penggunaan jenis soal yang bervariasi ini tentunya kelemahan yang terdapat dalam satu jenis soal dapat diatasioleh kelebihan yang dimiliki oleh jenis soal yang lain, demikian pula sebaliknya.

 

Faktor Penghambat dan Pendukung

Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa dalam pembelajaran bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang ditemui berbagai permasalahan atau hambatan. Di antara hambatan/permasalahan yang krusial adalah masalah profesionalitas guru. Artinya, sebagian besar guru bahasa Arab bukan berlatar belakang sarjana pendidikan bahasa Arab/sastra Arab melainkan berlatar belakang sarjana pendidikan agama Islam. Fenomena ini merupakan permasalahan klasik, terutama pada sekolah atau madrasah di daerah terpencil. Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab, terdapat opini publik yang berkembang di masyarakat dan opini ini kurang proporsional. Opini yang dimaksud adalah mengajar agama Islam identik dengan mengajar bahasa Arab. Dengan kata lain, setiap guru agama Islam dipastikan dapat mengajar bahasa Arab secara profesional. Implikasinya, apabila dalam suatu lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) terdapat guru agama Islam, maka lembaga pendidikan tersebut tidak memerlukan guru bahasa Arab yang memang berlatar belakang kependidikan bahasa Arab.

Berkaitan dengan permasalahan di atas, Departemen Agama sebagai institusi negara mempunyai kewajiban moral -fungsional dalam mengantisipasi permasalahan ini.  Mengajar agama Islam tidak identik dengan mengajar bahasa Arab baik dari sisi substansi maupun metodologinya. Ini berarti bahwa Departemen Agama perlu menata ulang tugas dan beban mengajar guru sesuai dengan kewenangannya. Melalui penataan ulang mengenai kewenangan guru mengajar ini, pembelajaran bahasa Arab di MA bukan saja akan semakin berkualitas sesuai dengan yang diharapkan, tetapi para sarjana lulusan pendidikan bahasa Arab akan memperoleh kesempatan untuk mengabdikan dan mengembangkan profesinya sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya, sehingga tidak ada kesan, bahwa guru bahasa Arab di MA, khususnya di MA se Kabupaten Malang sudah melebihi dari yang seharusnya dibutuhkan, padahal kenyataannya di MA masih kekurangan guru bahasa Arab.

Selain adanya hambatan permasalahan, dalam pembelajaran bahasa Arab ditemukan adanya faktor pendukung. Di antara faktor pendukung yang sangat signifikan adalah faktor motivasi guru. Temuan penelitian menunjukkan bahwa motivasi guru dalam pembelajaran bahasa Arab cukup tinggi dan ideal. Dikatakan ideal, karena motivasi mereka sebagai guru bahasa Arab bukanlah bersifat kebendaan yang bersifat sesaat, melainkan bersifat moral-spiritual. Dalam prespektif Dulay dan kawan ­kawan (1982), motivasi ini dikatagorikan sebagai motivasi integratif.

Permasalahannya adalah apakah dengan motivasi yang ideal, tetapi dengan latar belakang pendidikan kesarjanaan yang kurang proporsional ini secara otomatis dapat membuahkan hasil yang optimal. Di sinilah peran Departemen Agama dalam memberdayakan guru-guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang agar potensi dan motivasi mereka dapat dikembangkan dan diwujudkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menyelenggarakan program kelas khusus yang bertujuan menignkatkan wawasan dan keterampilan mereka dalam penguasaan materi dan metodologi.

 

SIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, simpulan yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut. Dari aspek kualifikai guru yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan formal adalah sebagian besar guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang lulusan MI (tingkat dasar), lulusan MTs (tingkat lanjutan pertama), lulusan MAPGA (tingkat menengah), dan lulusan S1 pendidikan agama Islam (tingkat perguruan tinggi). Aspek kualifikasi guru yang berkaitan dengan latar belakang pendidikan non-formal adalah sebagian besar guru bahasa Arab di MA berlatarbelakang pendidikan pesantren dan pernah mengikuti kegiatan penataran/seminar/lokakarya yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Arab. Selain itu, sebagian besar guru mempunyai tugas ganda (selain mengajar bahasa Arab juga mengajar mata pelajaran lain) dan mempunyai pengalaman mengajar lebih dari tiga tahun dan mereka mempunyai motivasi ideal (integratif).

Sebagian besar input siswa MA berlatar belakang pendidikan formal MI dan MTs. Akan tetapi, tingkat kemampuan siswa kelas bahasa Arab heterogin. Dari aspek materi pembelajaran, sebagian besar guru bahasa Arab menggunakan buku teks bahasa Arab, baik karangan Drs. D. Hidayat maupun Tim Depag. Hanya satu guru yang menggunakan buku/kitab klasik dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu kitab Matan Jurumiyah.

Dari aspek media pembelajaran bahasa Arab, sebagian besar MA di Kabupaten Malang tidak memiliki media, baik media eletronika maupun non-elektronika. Di antara 37 MA yang ada, ada satu MA yang memiliki laboratorium bahasa. Dari aspek sistem penilaian, sebagian besar guru bahasa Arab menyelenggarakan tes setelah satu unit pelajaran. Penyelenggaraan tes dilakukan secara lisan dan tulis, dan jenis tes yang digunakan cukup bervariasi (pilihan ganda, esai, mengisi, dan salah-benar).

Beberapa faktor yang menghambat (yang menjadi ganjalan) dalam pembelajaran bahasa Arab adalah bahwa sebagian besar guru bahasa Arab berlatar belakang kesarjanaan pendidikan agama Islam, mereka mempunyai beban mengajar ganda, siswa yang heterogin, ketidaktersediaan media, dan kesulitan mempredeksi tingkat kesulitan soal. Sementara itu, faktor pendukungnya adalah pendidikan non-formal guru, motivasi guru yang ideal, sikap kepala sekolah dan guru non-bahasa Arab yang positif terhadap pembelajaran bahasa Arab di MA.

 

SARAN

Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru bahasa Arab di MA se Kabupaten Malang berlatar belakang kesarjanaan pendidikan agama Islam, tetapi memiliki motivasi mengajar yang ideal. Berkaitan dengan hat ini, pihak Departemen Agama sebagai lembaga yang secara moral-institusional dapat memberdayakan potensi mereka baik yang berkaitan dengan materi maupun metodologi melalui kegiatan program pendidikan khusus. Upaya ini dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan pihak perguruan tinggi, misalnya Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

Berkaitan dengan tugas ganda, pihak kepala sekolah sedapat mungkin mengurangi beban mereka agar mereka dapat berkonsentrasi pada pembelajaran bahasa Arab. Hal ini tentunya dengan diimbangi oleh kesejahteraan finansialnya.

Tentang kemampuan heterogen, pihak kepala sekolah maupun pihak guru dapat melakukan pembelajaran remedi bagi siswa yang dipandang masih lemah kemampuan bahasa Arabnya. Selain itu, pihak guru memberikan motivasi secara kontinyus kepada mereka dan menggunakan media pembelajaran yang menarik agar tidak terjadi penyakit pesimis yang berakibat pada munculnya sikap antipati terhadap bahasa Arab.

Berkaitan dengan media ini, pihak sekolah (MA) maupun Departemen Agama seyogyanya memberikan  perhatian khusus terhadap hal ini. Artinya pihak MA dan Departmen Agama mengupayakan pengadaan media baik media elektronik maupun non-elektronik. Upaya pengadaan media ini dapat dilakukan dengan pihak lain, misalnya dengan perguruan tinggi terkait, yakni Program Pendidikan Bahasa Arab. Melalui upaya ini diharapkan ada suatu solusi mengenai bentuk media yang efektif dan praktis (tidak terbebani oleh biaya tinggi).

Pihak sekolah dan Departemen Agama perlu melakukan suatu upaya dengan menyusun program pelatihan penyusunan soal bahasa Arab secara intensif bagi guru-guru bahasa Arab MA se Kabupaten Malang. Melalui pelatihan ini, guru-guru bahasa Arab diharapkan dapat menyusun soal sesuai dengan standar tes yang baik, yaitu tes yang valid, reliabel, dan ekonomis.

Berpijak pada hasil temuan penelitian ini, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang sebagai suatu lembaga yang memiliki sumber daya manusia di bidang pendidikan bahasa Arab diharapkan menjalin kerja sama dengan lembaga terkait, misalnya dengan pihak Departemen Agama dan Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Malang maupun lembaga pendidikan lainnya. Bentuk kerja sama ini dapat berupa pemberian pelatihan, program penyetaraan, maupun program lain sejenis bagi guru-guru bahasa Arab yang bukan berlatar belakang pendidikan kesarjanaan pendidikan bahasa Arab.

Meningat penelitian ini baru merupakan tahap eksplorasi awal, maka disarankan adanya penelitian lanjutan yang lebih mendalam dan sistematis terutama yang berkaitan dengan kajian terhadap penerapan metode pembelajaran bahasa Arab di MA.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Ary, Donald, .Iacobs, L. C., dan Razavieh, A. 1979. Introduction to Research in Education. New York: Rinehart and Winston.

 

Best, John W. 1981. Research in Education. (Fourth Edition). London: Prentice-Hall International. Inc.

 

Departemen Agama RI. 1994. Kurikulum Bahasa Arab: (Garis-Guris Besar Program PengajaranArah. Jakarta.

 

Djiwandono, M. Soenardi. 1996. Tes Bahasa dalam Pengajaran. Bandung: TIB.

 

Dulay, Heidi, Burt, Mariana, and Krashen, Stephen D. 1982. Language Two. New York: OxfordUniversity Press.

 

Krashen, Stephen D. 1984. The Input Hypothesis: Issues and Implications. London: Longman.



[1] Penulis adalah dosen Jurusan Sastra Arab FS UM dan artikel tersebut adalah hasil penelitian tahun 2002

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *