Pemerintah Berau Dalam Mengurus Dan Mengembangkan Zakat

Pemerintah Berau Dalam Mengurus Dan Mengembangkan Zakat

Gerakan zakat ternyata menjadi hidup dan bahkan berkembang ketika pemerintah daerah, secara aktif  ikut ambil bagian menggerakkannya. Hal itu bisa dilihat secara nyata di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dengan demikian,  zakat tidak saja merupakan bagian kegiatan yang berpusat di tempat ibadah, seperti di masjid atau mushalla, melainkan juga di lingkungan pemerintah. 

  Sudah dua kali saya diundang oleh pemerintah daerah ini untuk berbicara tentang zakat . Dengan mengambil tempat di ruang pertemuan pemerintah daerah, Bupati  bersama para ulama’ setempat, pejabat pemerintah, pengusaha, dan elemen masyarakat lainnya berkumpul  bersama-sama  berbicara tentang pelaksanaan kewajiban bagi umat Islam yang terkait dengan pemungutan zakat. Kegiatan  seperti ini, selalu dilakukan pada setiap tahun, dan ditepatkan  waktunya pada bulan Ramadhan.   Selain itu, pada kesempatan lainnya, Bupati juga mengundang para wajib zakat di kabupaten itu, termasuk para pengusaha, untuk bersama-sama menyerahkan  kewajiban zakatnya masing-masing, termasuk zakat Bupati sendiri.   Sedemikian serius Bupati menggerakkan pembayaran kewajiban zakat, maka jikalau dilihat ada beberapa wajib pembayar zakat tidak hadir, maka pertemuan untuk penyerahan zakat supaya diseleggarakan kembali.   Secara teknis, kegiatan zakat ditangai oleh Badan Amil Zakat. Para pengurus BAZ itu sendiri terdiri atas para ulama, unsur  pemerintah daerah,  serta tokoh masyarakat lainnya. Hasil yang diraih oleh BAZ, sebagaimana yang dilaporkan pada saat diselenggarakan pertemuan  tentang zakat tersebut, selama tahun 2010 berjalan ini,  telah terkumpul dana sekitar  Rp. 1.4 milyard, yang terdiori atas dana zakat sebesar Rp. 781.688.403,- infaq sebesar Rp. 56.916.750,- dan shadaqah sebesar Rp. 89.822.500,-       Dana yang diperoleh sebesar itu, oleh BAZ dialokasikan untuk beberapa program kegiatan yang cukup menarik, yaitu : (1) Program Berau Peduli, (2) Program Berau Cerdas, (3) Program Berau Taqwa, (4) Program Berau Sehat, dan (5) Program Berau Makmur.  Semua program ini telah diimplementasikan dan dilaporkan secara terbuka oleh BAZ kabupaten setempat.   Program Berau Peduli dimaksudkan adalah pemberian bantuan kepada mustahik yang memerlukan bantuan hidup sesaat, seperti bantuan musibah, bencana alam dan  atau kesulitan hidup lainnya yang memerlukan bantuan cepat. Program Berau Cerdas adalah pemberian bantuan kepada mustahik untuk mengatasi kesulitan dalam pembiayaan pendidikan, seperti biaya masuk sekolah, bantuan kelengkapan sekolah mulai pembelian seragam, sepatu hingga buku-buku tulis.   Sedang program Berau Taqwa diberikan kepada mustahik yang memerlukan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sarana ibadah, seperti kelengkapan shalat bagi muallaf, pemberian buku agama, al Qur’an dan juga biaya untuk da’i ke daerah terpencil. Adapun Berau Sehat,  diberikan untuk membantu kepada  orang yang tidak mampu    berobat,  baik ke puskesmas atau rumah sakit. Yang terakhir, Program Berau Makmur dimaksudkan adalah pemberian bantuan modal bagi mustahik yang memelukannya, misalnya untuk mengembangkan pertanian, ternak, nelayan dan lainnya.   Sebagai bentuk kesungguhan lainnya apa yang dilakukan oleh pemerintah daerah dalam mengembangkan zakat ialah  menyediakan  dana operasional BAZ, sehingga lembaga ini tidak perlu mengambil haknya sebagai amil. Hasil pengumpulan dana zakat seluruhnya diperuntukkan bagi upaya pemberdayaan masyarakat setempat yang memang memerlukannya.   Selanjutnya, ada hubungan yang harmonis antara pemerintah daerah, ulama, dan para pengusaha atau orang kaya setempat menjadikan kehidupan keagamaan di Kabupaten Berau ini terasa semarak.  Kedaan seperti itu,  selain karena dukungan para ulama di kabupaten itu,  adalah  juga oleh kekuatan peran Bupatinya. Pada setiap  masuk waktu shalat misalnya, Bupati segera meninggalkan tempat kerjanya,  selanjutnya menuju masjid yang berada di lingkungan kantor kabupaten itu untuk shalat berjama’ah.   Hal terkait dengan kehidupan keagamaan, selain mempelopori shalat berjamaáh dan pembayaran zakat,  yang dilakukan oleh Bupati adalah  selalu berusaha dekat pada masyarakat. Salah satu contohnya, ialah bahwa pada setiap ada kematian, —–dan Bupati mengetahuinya, maka ia selalu  bertakziyah. Menurut informasi yang saya dapatkan, jika misalnya ada tetangga pegawai daerah yang meninggal,——-siapapun orangnya,  dan tidak memberitahukan kepada Bupati, maka staf tersebut akan mendapatkan teguran dari orang nomor satu di daerah ini.   Kehidupan masyarakat yang diliputi oleh suasana keagamaan, apalagi  jika hal itu digerakkan secara langsung oleh pemerintah beserta para ulama’nya, maka  akan menghasilkan suasana kedamaian  yang luar biasa. Hal menarik lainnya, menurut informasi yang saya dapatkan, di awal memimpin daerah ini, untuk menghilangkan salah satu penyakit masyarakat yaitu prostitusi, Bupati mengambil kebijakan,  berupa memberikan uang sejumlah tertentu, ——–sebagai bekal,  kepada  seluruh wanita tuna susila agar pulang ke daerahnya masing-masing. Umumnya, para wanita tuna susila di daerah itu adalah para pendatang.           Agaknya hal itu tampak sederhana, akan tetapi sebenarnya apa yang dilakukan Bupati Berau ini merupakan penyelesaian persoalan kemanusiaan yang amat mendasar. Sehingga, manakala hal seperti ini dilakukan di berbagai tempat lainnya di negeri ini, kiranya apa yang selama ini tampak menyedihkan,  akan berkurang dengan sendirinya.   Memang,  pendekatan agama dalam menyelesaikan problem-problem sosial terasa sangat jelas, yaitu lebih strategis dan manusiawi. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *