Pengalaman Memimpin Madrasah

Pengalaman Memimpin Madrasah

Saya merasa beruntung, sekalipun tidak terlalu lama, pernah mendapatkan tugas sebagai kepala madrasah. Lembaga pendidikan Islam swasta yang saya pimpin itu bernama MINU, yaitu singkatan dari Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama,   didirikan oleh orang tua saya sendiri,  di desa. Hanya kemudian,  nama MINU itu diubah menjadi MI GUPPI,  menyesuaikan dengan tuntutan  suasana politik pada awal masa orde baru.  

  Madrasah yang saya pimpin tersebut sampai saat ini masih ada, sekalipun jumlah  muridnya tidak terlalu banyak.  Jumlah lembaga pendidikan tingkat dasar, ——semisal MI,  sebenarnya  di desa tersebut  sudah  melebihi kebutuhan. Namun karena tidak mudah membatasi, apalagi membubarkan yang sudah lama ada, maka sekalipun jumlah muridnya  sudah sangat sedikit, semuanya  tetap dipelihara. Umpama beberapa  madrasah  itu disarankan agar merger, tidak akan  mau. Para pengurus, sekalipun madrasahnya juga tidak terlalu diurus, dibiarkan tetap hidup.   Memimpin madrasah di pedesaan  sebenarnya juga tidak mudah. Banyak problem yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan dana, sarana dan prasarana yang seadanya, dan demikian pula guru yang  mau mengajar. Namun begitu, masyarakat yang sudah terlanjur fanatik terhadap madrasah, mereka tidak mau   berpindahkan ke sekolah lain, sekalipun  lebih maju. Sekali mereka memilih madrasah, maka apapun keadaannya,  tetap ke madrasah.    Pengalaman lama tersebut ternyata penting  untuk menjawab berbagai pertanyaan dari banyak kepala madrasah yang seringkali  datang dan menanyakan tentang bagaimana mengembangkan madrasah. Mereka mengira, saya bisa membantu untuk memecahkan problem madrasah. Nyatanya tidak begitu, karena problem tersebut tidak mudah diselesaikan. Pada suatu kesempatan rapat kerja nasional di kementerian agama, saya pernah usul,  agar madrasah swasta dinegerikan, sehingga dengan statusnya itu semua pendanaan dan lain-lain bisa ditanggung pemerintah. Akan   tetapi  ternyata,  banyak orang yang tidak  menyetujui.   Persoalan pengembangan  madrasah sejak dulu hingga sekarang,  rasanya masih sama, yaitu kesulitan mencari dana yang memadai. Pada umumnya madrasah,  berawal dari keterbatasan dana  yang tersedia,  maka kebutuhan  sarana dan prasarana,   tidak bisa dicukupi, demikian pula guru yang mengajar juga tidak bisa diberi imbalan  yang pantas, sehingga semua berjalan apa adanya. Tidak sedikit  kepala madrasah datang  ingin menanyakan,  bagaimana keluar dari problem pelik itu.    Sebagai bahan menjawab pertanyaan itu, saya selalu menceritakan pengalaman saya,  sewaktu masih  menjadi kepala madrasah ibtidaiyah, kira-kira empat puluhan tahun yang lalu.   Rupanya problem  pengembangan madrasah masih dirasakan sama   antara sekarang dengan  dulu, terutama dalam hal mencari  dana. Saya menganggapnya, persoalan itu  sebenarnya sudah jauh berkurang.  Pada saat sekarang, pemerintah melalui kementerian agama telah banyak memberikan tawaran-tawaran bantuan kepada madrasah, seperti bantuan berupa sarana fisik,  dan bahkan juga BOS. Dulu bantuan dari pemerintah seperti itu tidak pernah ada.  Ketika dulu menjadi kepala madrasah, upaya yang saya lakukan untuk mendapatkan dana  yang selalu dibutuhkan pada setiap saat,  saya  menempuh cara  dengan mengembangkan potensi yang ada di masyarakat. Memang  usaha itu tidak mudah, tetapi saya selalu mencobanya.  Satu alternative tidak berhasil, maka saya mencoba alternative lainnya yang sekiranya memungkinkan saya lakukan.      Pada awalnya, saya  beranggapan bahwa, masyarakat pedesaan pada umumnya,  tidak memiliki banyak uang atau setidaknya tidak mudah dimintai sumbangan berupa uang. Masyarakat petani di pedesaan, lebih mudah dimintai  barang.  Mereka  umumnya memiliki tanaman pohon kelapa.  Oleh karena itu  saya  berinisiatif, para wali murid tidak ditarik  biaya berupa uang, melainkan dimintai sumbangan,  setiap murid, sebatang  pohon kelapa.    Ide  tersebut  disetujui, karena dianggap ringan oleh para wali murid.   Perhitungan saya, kalau setiap wali murid menyetor sebatang kelapa kepada madrasah, —–dengan jumlah murid lebih dari tiga ratus anak, maka akan terkumpul sebanyak lebih dari tiga ratus  batang kelapa. Umpama setiap batang, pada setiap bulan, menghasilkan rata-rata lima butir kelapa, maka madrasah akan  panen kelapa sebanyak kurang lebvih 1.500 butir. Di atas kertas, hitung-hitung jumlah itu, jika diuangkan, sudah  cukup untuk membiayai  kehidupan madrasah.   Pada awalnya hitungan itu tepat, madrasah mendapatkan sejumlah  besar buah kelapa. Akan tetapi, panen kelapa seperti itu tidak berlangsung lama. Kebanyakan sebelum  dipanen, kelapa yang sudah diserahkan kepada madrasah, ternyata sudah banyak yang  dipetik terlebih dahulu oleh pemiliknya semula.   Entah sebab apa,  disengaja ataukah  tidak, tetapi begitulah keadaannya. Atas kejadian seperti itu, saya merasa harus mencari alternative lain yang lebih aman.  Saya menilai  bahwa  strategi itu tidak  feasible, dan bahkan  dalam hal-hal tertentu kurang menguntungkan, yakni melahirkan  kebiasaan tidak jujur.     Kemudian,  dari hasil  perenungan, pengamatan, dan analisis situasi yang ada, saya menemukan alternative sumber dana lain, yaitu dengan cara menggerakkan para murid  menanam pohon papaya. Perhitungan saya,  jika  setiap siswa ditugasi  menanam pohon papaya di kebunnya masing-masing, ——-di pedesaan setiap siswa selalu memiliki kebun, minimal sepuluh batang, maka dalam waktu yang tidak lama, madrasah akan memanen buah  papaya dalam jumlah besar. Agar tanaman itu aman, maka setiap siswa saya tugasi menanam minimal sepuluh batang, lima di antara untuk  madrasah, sedangkan lima lainnya agar dipanen sendiri.   Sama dengan usaha mengkoleksi pohon kelapa, pada awalnya bisa panen besar, akan tetapi pada masa petik selanjutnya,   hasilnya sudah semakin berkurang. Menghadapi kenyataan itu, lagi-lagi saya harus segera mencari alternatif lain. Sebab jika usaha ini diteruskan maka tidak akan mendidik. Para murid madrasah secara tidak langsung, akan belajar dusta, yaitu mengambil sesuatu yang seharusnya  diserahkan kepada madrasah. Akhirnya,  saya menyimpulkan bahwa bertanam pepaya tersebut ternyata juga tidak feasible, yakni  ada sesuatu yang penting tetapi terabaikan, yaitu pendidikan kejujuran tidak  berhasil  dijalankan.   Menghadapi kegagalan  kedua seperti dalam cerita itu, saya tidak  putus asa. Dalam pikiran saya,  masih ada alternatif lain yang lebih tepat, yang sekiranya tidak ada peluang bagi siswa untuk mengembangkan kebiasaan tidak jujur.  Maka  akhirnya,  dari hasil pengamatan dan  lagi-lagi analisis situasi, saya menemukan alternative baru yang lebih aman, yaitu pada setiap pagi, ketika  murid-murid  datang ke madrasah, saya tugasi membawa sebatang kayu atau pelepah kelapa, minimal satu  batang. Alternative  ketiga  ini berjalan lama. Kayu-kayu yang dikumpulkan oleh setiap murid, pada setiap pagi, saya jual ke perusahaan pembakaran gamping (kapur). Hasilnya cukup untuk membiayai kebutuhan madrasah,  tanpa memungut biaya pendidikan dari  wali murid.  Kisah sederhana seperti itu  selalu saya sampaikan kepada  siapa saja  yang sedang mengembangkan  madrasah, terutama madrasah  swasta di pedesaan. Hanya  saja memang  pada saat sekarang,  situasinya sudah berubah, maka usaha-usaha itu harus disesuaikan dengan keadaan zamannya. Namun, sebenarnya  alternatif usaha pengembangan dana itu,  sekarang ini  justru lebih banyak, baik di bidang pertanian, perikanan, peternakan dan lain-lain.  Sebagai contoh sederhana, para murid madrasah bisa diajari  budidaya ternak lele, sekaligus  mengolah hasilnya.  Hasil ternak lele bukan hanya diambil dagingnya, tetapi yang justru lebih mahal harganya adalah diambil minyaknya. Sedangkan dagingnya dijadikan bahan abon yang juga laku dijual.   Contoh lain, misalnya para siswa diajari menanam jamur di kebun sekolah, kemudian  mengolah hasilnya, dan juga menjualnya.  Tentu  masih banyak contoh lain, disesuaikan dengan alam pedesaan. Kepala madrasah bersama para guru, memang dituntut kaya imajinasi dan kemudian  mengembangkannya  bersama-sama dengan para murid-muridnya. Jika cara ini bisa dikembangkan, maka madrasah tidak saja berhasil mengembangkan sumber-sumber pendanaan, lebih dari itu sekaligus juga memberikan bekal ketrampilan,  dan bahkan juga jiwa entrepreneurship kepada murid-murid madrasah. Wallahu a’lam.

Penulis : Prof DR. H. Imam Suprayogo

Rektor  Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *