PENGERTIAN, SEJARAH DAN MACAM-MACAM KURIKULUM DI INDONESIA

PENGERTIAN, SEJARAH DAN MACAM-MACAM KURIKULUM DI INDONESIA

 

 

PENGERTIAN, SEJARAH DAN MACAM-MACAM KURIKULUM DI INDONESIA

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Pengembangan Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab yang dibina oleh Bapak Dr. H.Slamet Daroini, M.A.

Oleh:

Mufty Rizky Pony

18720005

Eko Samiaji

18720019

Betric Feriandika

18720028

PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM

PROGRAM MAGISTER FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB

2018

 

 

BAB I PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

 

Kurikulum merupakan salah satu alat yang penting dalam mencapai suatu pendidikan. Tanpa adanya suatu kurikulum yang baik dan tepat, maka akan sulit dalam mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yang baik pula. Dalam setiap lembaga pendidikan, kurikulum merupakan dasar bagi seluruh aktivitas pendidikan, bahkan disebut sebagai jantungnya sebuah lembaga pendidikan. Namun, kualitas kebijakan yang selama ini dibuat belum cukup mampu “mengubah” keadaan pendidikan kita menjadi lebih maju. Sebagai penyelenggara pendidikan semestinya kurikulum   menepati   prioritas   tertinggi   dalam   kebijakan   pendidikan.   Sebab kurikulum merupakan salah satu elemen pendidikan yang terkait langsung dengan dasar pengembangan diri peserta didik agar bisa menjadi manusia yang bermutu dan memiliki kompetensi sebagai mana diharapkan.

  1. B. Rumusan Masalah

 

  1. Apa pengertian kurikulum?

 

  1. Bagaimana sejarah kurikulum di Indonesia?

 

  1. Bagaimana macam-macam kurikulum yang ada di Indonesia?

 

  1. Tujuan Makalah

 

  1. Untuk mengetahui awal mula pengertian kurikulum.

 

  1. Untuk mengetahui sejarah munculnya kurikulum di Indonesia.

 

  1. Untuk mengetahui macam-macam kurikulum yang ada di Indonesia.

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

 

 

 

  1. Pengertian Kurikulum

 

Istilah kurikulum berasal dari bahasa latin, yakni “Curriculae”,  artinya jarak  yang  harus  ditempuh  oleh  seorang  pelari.  Pada  waktu  itu,  pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan memperoleh  ijazah. Dengan menempuh  suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah. Dalam hal ini ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti, bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang merupakan rencana pembelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ke tempat yang lainnya dan akhirnya mencapai finish1. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.

 

Kurikulum  secara literal menurut Eisner berasal dari kata curere  yang berarti “ perencanaan pembelajaran bagi peserta didik” memiliki implikasi bahwa pembelajaran harus dapat memberikan energi, inspirasi, dan mampu memprovokasi pertumbuhan karakter peserta didik. Sejalan dengan pandangan ini, Doll menjelaskan, bahwa “ibarat suatu aliran listrik, kurikulum harus mengalirkan arus yang kuat didalamnya, melalui para pendidik ia diharapkan dapat memberikan dan menghidupkan sumber energi peserta didiknya”.

 

Pengertian kurikulum mempunyai beberapa tafsiran, antara lain;

 

 

  1. Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran. Kurikulum ialah sejumlah mata  ajaran   yang   harus   ditempuh   dan   dipelajari   oleh   siswa   untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Mata ajaran (subject matter) dipandang sebagai pengalaman orang tua atau orang-orang pandai masa lampau, yang telah disusun secara sistematis dan logis. Misalnya berkat pengalaman dan

penemuan masa lampau, maka diadakan pemilihan dan selanjutnya disusun

 

 

1 S. Nasution, Azas-azas Kurikulum (t.tp.: Jermars, 1982), 7.

 

 

 

secara sistematis, artinya menurut urutan tertentu dan logis, dapat diterima oleh akal dan pikiran. Mata ajaran tersebut mengisi materi pelajaran yang disampaikan  kepada  siswa,  sehingga  memperoleh  sejumlah  ilmu pengetahuan yang berguna baginya. Semakin banyak pengalaman dan penemuan-penemuan,  maka semakin banyak pula mata ajaran yang harus dipelajari oleh siswa di sekolah.

  1. Kurikulum sebagai  Rencana  Pembelajaran.  Kurikulum  adalah  suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program  itu  para  siswa  melakukan  berbagai  kegiatan  belajar,  sehingga terjadi  perubahan  dan perkembangan  tingkah  laku siswa,  sesuai  dengan tujuan pendidikan  dan pembelajaran.  Dengan  kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar. Itu sebabnya suatu kurikulum harus disusun sedemikian rupa agar maksud tersebut dapat tercapai. Kurikulum tidak terbatas pada sejumlah mata ajaran saja, melainkan meliputi segala sesuatu yang dapat mempengaruhi perkembangan  siswa,  seperti;  bangunan  sekolah,  alat  pelajaran, perlengkapan,  perpustakaan,  gambar-gambar,  halaman sekolah, dan lain- lain; yang pada gilirannya menyediakan kemungkinan belajar secara efektif. Suatu pendapat sehubungan dengan konsep tersebut, sebagai berikut:

“The curriculum is as broad and vried as the child’s school enviroment. Broadly conceived, the curriculum embraces not only subject matter but also various aspect of the physical and social enviroment. The school bring the  child  with  his  impelling  flow  of  experience  into  an  environment consisting of school facilities, subject matter,other children, and teacher. From interaction or the child with these elements learning results.(Douglass,)

Ini berarti bahwa semua hal dan semua yang terlibat dalam memberikan bantuan kepada siswa termasuk ke dalam kurikulum.

  1. Kurikulum sebagai pengalaman belajar. Perumusan pengertian kurikulum lainnya yang agak berbeda dengan pengertian- pengertian sebelumnya lebih menekankan bahwa kurikulum merupakan serangkaian pengalaman belajar. Salah satu pendukung dari pandangan ini menyatakan sebagai berikut:

 

 

 

Curriculum is interpreted to mean all of the organized courses, activities, and expry which pupil have under direction of the school,whether in the classroom or not (Romine, 1945, h.14)

Pengertian ini menunjukkan,  bahwa kegiatan- kegiatan kurikulum tidak terbatas di dalam ruangan kelas saja, melainkan mencakup juga kegiatan-kegiatan di luar kelas. Tak ada pemisahan  yang tegas antara intra dan extra kurikulum. Semua kegiatan yang memberikan pengalaman belajar/pendidikan bagi siswa pada hakikatnya adalah kurikulum.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta tata cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar. Isi kurikulum merupakan susunan dan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan, dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional.

 

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan  oleh suatu lembaga  penyelenggara  pendidikan  yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut  serta  kebutuhan  lapangan  kerja.  Lama  waktu  dalam  satu  kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan.  Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran  secara menyeluruh.

 

Berikut ini beberapa pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli:

 

 

  1. a. Pengertian Kurikulum Menurut Kerr, J. F (1968): Kurikulum adalah semua pembelajaran  yang  dirancang  dan dilaksanakan  secara  individu  ataupun secara kelompok, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
  2. Pengertian Kurikulum Menurut Inlow (1966): Kurikulum adalah usaha menyeluruh yang dirancang oleh pihak sekolah untuk membimbing murid memperoleh hasil pembelajaran yang sudah ditentukan.

 

 

 

  1. c. Pengertian  Kurikulum  Menurut  Neagley  dan  Evans  (1967):  kurikulum adalah semua pengalaman  yang dirancang  dan dikemukakan  oleh pihak sekolah.
  2. Pengertian Kurikulum Menurut Beauchamp (1968): Kurikulum adalah dokumen tertulis yang mengandung isi mata pelajaran yang diajar kepada peserta didik melalui  berbagai  mata  pelajaran,  pilihan  disiplin  ilmu, rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
  3. e. Pengertian Kurikulum Menurut Good V. Carter (1973): Kurikulum adalah kumpulan kursus ataupun urutan pelajaran yang sistematik.
  4. Pengertian Kurikulum Menurut UU No. 20 Tahun 2003: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

 

Perkembangan lebih lanjut, kurikulum dipakai juga dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan, kurikulum mempunyai arti sebagai berikut:

 

  1. a. Kurikulum dalam arti sempit atau tradisional

 

 

Konsep dan Teori Kurikulum dalam Dunia Pendidikan Dalam arti sempit atau tradisional, kurikulum sebagai a course, as a specific fixed course of study, as in school or college, as one leading to a degree2. Dalam pengertian ini, kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran di sekolah atau di perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mendapatkan ijazah atau naik tingkat.

 

Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang disajikan guru kepada siswa untuk mendapatkan ijazah atau naik tingkat. Pengertian kurikulum ini, saat sekarang, sama dengan “rencana pelajaran   di   sekolah,   yang   disajikan   guru   kepada   murid.”   Arieh   Levy

mengemukakan, kurikulum semacam ini, tidak lebih dari daftar singkat mengenai

 

 

 

 

 

 

 

2 Webster, Webster’s New International Dictionary   (t.tp.: GG Merriam  Company, 1953), 648.

 

 

 

sasaran dan isi pendidikan yang diajarkan di sekolah atau program silabus atau pokok bahasan yang akan diajarkan3.

 

  1. Kurikulum dalam arti luas atau modern

 

 

Kurikulum dalam pengertian ini bukan sekedar sejumlah mata pelajaran,tetapi  mempunyai  cakupan pengertian yang lebih luas. Yakni, sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan.

 

1)  Ronald Doll mengemukakan bahwa kurikulum … all the experiences which are offered to learners under the auspices or direction of the school4. Kurikulum  meliputi semua pengalaman  yang disajikan  kepada  murid di bawah bantuan atau bimbingan sekolah.

2)  William B. Ragan mengartikan kurikulum … all the experiences of children for which the school accepts responsibility5. Kurikulum adalah semua pengalaman murid di bawah tanggung jawab sekolah.

3)  Harold B. Alberty dan Elsie J. Alberty mendefinisikan kurikulum all of the activities that are provided for student by the school constitute, its curriculum6. Kurikulum adalah segala kegiatan yang dilaksanakan sekolah bagi murid-murid.

 

Dari  sejumlah  pendapat  di  atas  dapat  disimpulkan,  kurikulum  adalah semua pengalaman,  kegiatan,  dan pengetahuan  murid di bawah bimbingan  dan tanggung jawab sekolah atau guru. Pengertian kurikulum ini memberikan implikasi pada program sekolah bahwa semua kegiatan yang dilakukan murid dapat memberikan   pengalaman   belajar.   Kegiatan-kegiatan   tersebut   dapat   meliputi kegiatan  di  dalam  kelas.  Misalnya,  kegiatan  dalam  mengikuti  proses belajar•mengajar (tatap muka), praktek keterampilan, dan sejenisnya, atau kegiatan

di luar kelas, seperti kegiatan pramuka, wisata karya, kunjungan ke tempat-tempat

 

 

 

3 Arief Lavy, Planing the School Curriculum (Bandung: Bharata Karya Aksara, 1983), 1-2.

4 Ronald Doll, Curriculum Improment Decision Making and Process (t.tp.: Ally and Bacon, 1974),

22.

5 William B. Ragan, Modern Elementary Curriculum (t.tp.: Holt Rinehart and Winston Inc.,1974), 44.

6 Harold  B Alberty  and Elsie J AlBerty, Reorganizing the High School Curriculum,  3 ed. (t.tp.: The

Macmillan Company, 1952), 125.

 

 

 

wisata/sejarah, peringatan hari-hari besar nasional dan keagamaan, dan sejenisnya. Bahkan, semua kegiatan yang berhubungan dengan pergaulan antara murid dengan guru, murid dengan murid, murid dengan petugas sekolah, dan pengalaman hidup murid sendiri. Tegasnya, pengertian kurikulum ini mengandung cakupan yang luas, karena meliputi semua kegiatan murid, pengalaman murid, dan semua pengaruh, baik fisik maupun non fisik terhadap pertumbuhan dan perkembangan murid.

 

  1. B. Sejarah Kurikulum

 

 

Dalam  perjalanan   sejarah   sejak  tahun  1945,  kurikulum   pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968,

1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan yang sekarang 2013. Perubahan tersebut merupakan  konsekuensi  logis  dari  terjadinya  perubahan  sistem  politik,  sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

 

Perubahan  kurikulum  tersebut  tentu  disertai  dengan  tujuan  pendidikan yang  berbeda-beda,  karena  dalam  setiap  perubahan  tersebut  ada  suatu  tujuan tertentu yang ingin dicapai untuk memajukan pendidikan nasional kita. Dan perlu diketahui bahwa kurikulum pada tahun 1947 saat itu diberi nama dengan rentjana pelajaran karna pada saat itu kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya.

 

Seiring   dengan   tuntututan   zaman   dan   perkembangan   dalam   dunia pendidikan,  bahasa  merupakan  hal yang  penting  dalam  bermasyarakat.  Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi antar individu dengan individu lain. Dalam dunia pendidikan, bahasa Arab cenderung lebih difahami di lembaga yang berbasis pondok pesantren untuk memahami kitab-kitab yang yang menggunakkan bahasa Arab.

 

 

 

Perkembangan    kurikulum   bahasa   Arab   di   masa   lalu   sangat   erat hubungannya dengan masalah peribadatan. Selain menjadi bahasa kitab suci bahasa Arab   memenuhi   kebutuhan   bagi   umat   muslim   dalam   menunaikan   ibadah. Kurikulum bahasa Arab di masa lalu hanya mengarahkan peserta didik agar pandai dalam hukum Islam dan Tauhid, dalam pengajarannyapun   masih mengikuti pengajaran di zaman Hindu.

 

Dengan demikian kurikulum yang ada di madrasah atau pesantren perlu adanya perubahan agar tidak tertinggal dengan sekolah-sekolah  yang bernuansa Islam lainya. Dalam hal ini, maka perlu diketahui sejarah perkembangan kurikulum khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab masa lalu hingga sekarang.

 

Sejarah Pengembangan Pengajaran Bahasa Arab erat sekali hubungannya dengan kurikulum. Sebab tanpa kurikulum yang memadai pengajaran akan mengalami kegagalan minimal kurang berhasil. Kurikulum dan pengajaran sangat erat yang keduanya bagaikan jiwa dengan jasmani.(2) Agama Islam masuk di Indonesia sejak tahun 1416 khususnya di tanah Jawa. Untuk penyebaran agama Islam didirikanlah lembaga-lembaga  pendidikan berupa pondok pesantren. Ilmu- ilmu umum pada mulanya jarang diajarkan walaupun telah diajarkan bahasa Arab sebagai kunci ilmu pengetahuan agama kala itu. Pada masa lalu mempelajari bahasa Arab kurikulum hanya berisi mengeja dan membaca Al-Qur’an, taraf selanjutnya menggunakan  alat-alat  bantu  misalnya  papan  tulis,  bangku  dan  sebagainya, sekarang ditambah alat-alat modern. Pada tingkat rendah pelajaran diberikan secara perseorangan. Caranya santri maju ke hadapan guru seorang demi seorang, ia membaca  salah satu kalimat  lalu diterjemahkan.(3)  Berikut  ini Sejarah Perkembangan bahasa Arab di Madrasah :

 

  1. Sejarah Perkembangan Kurikulum Pendidikan Bahasa Arab di Madrasah (1984-

 

2006)

 

 

Kurikulum madrasah perlu dikembangkan secara terpadu, dengan menjadikan ajaran dan nilai-nilai Islam sebagai petunjuk dan sumber konsultasi bagi perkembangan berbagai mata pelajaran. Dalam konteks pendidikan madrasah, maka kurikulum atau program pendidikannya  perlu dirancang dan

 

 

 

diarahkan untuk membantu, membimbing dan melatih serta mengajar dan atau menciptakan suasana agar para peserta didik dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas.(4)

 

  1. Sejarah Perkembangan Kurikulum Bahasa Arab Madrasah Aliyah (MA) 1984

 

 

Pelajaran bahasa Arab merupakan program inti pada kurikulum 1984 di antara dua program yang ada, di samping itu, pelajaran bahasa Arab diberikan mulai kelas I sampai kelas III. Mengingat GBPP MA disesuaikan dengan mata pelajaran umum di SMA pada bidang mata pelajaran umum, maka pelajaran bahasa Arab diajarkan sesuai dengan kebutuhan.

 

Dalam  buku  kurikulum  MA,  disebutkan  bahwa  program  pengajaran bahasa Arab di MA berfungsi ganda, sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan alat komunikasi. Adapun tujuan yang dijadikan target dalam pengajaran bahasa Arab untuk MA tahun 1984 adalah untuk mengembalikan  pengajaran bahasa Arab kepada fungsi komunikasi yaitu murid mampu mengunakan bahasa yang telah dipelajarinya sebagai alat komunikasi. (5)

 

  1. Sejarah Perkembangan Kurikulum Bahasa Arab Madrasah Aliyah (MA) 1994.

 

 

Pelajaran  bahasa  Arab yang diajarkan  di MA berfungsi  ganda,  yakni sebagai bahasa ilmu pengetahuan  dan alat komunikasi   serta sebagai bahasa agama  dan  ibadah  mahdah.  Oleh  karena  itu,  bahasa  Arab  di  MA  tidak terpisahkan dari bidang studi yang mempergunakan bahasa Arab, misalnya al- Qur’an, hadist, tafsir, akhlak dan lain-lain.(6)

 

  1. Sejarah Perkembangan  Kurikulum  Bahasa Arab Madrasah  Aliyah (MA) Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

 

Bahasa Arab merupakan mata pelajaran yang mengembangkan ketrampilan  komunikasi  lisan  dan  tulisan  untuk  memahami  dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, serta mengembangkan ilmu pengetahuan umum,   dan sosial budaya. Bahasa Arab yang diajarkan di madrasah berfungsi sebagai bahasa agama dan ilmu pengetahuan, di samping

 

 

 

alat komunikasi serta alat pengembangan diri peserta didik dalam bidang komunikasi dan ilmu pengetahuan.  Dengan demikian mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil, serta berkepribadian   luhur   dan   siap   mengambil   bagian   dalam   pembangunan nasional.

 

Rumusan kompetensi dalam KBK merupakan tentang apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan oleh sisiwa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah, yang sekaligus yang menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten. Dengan demikian, dapatlah ditegaskan bahwa KBK memiliki ciri-ciri: menekankan pada ketercapaian pada kompetensi siswa, baik secara individual maupun  klasikal;  berorientasi  pada hasil belajar dan keberagaman; penyampaian  pembelajaran  dengan  menggunakan  pendekatan  dan   metode yang bervariasi; sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainya yang memenuhi unsur edukatif; dan penilaian penekanan pada proses dan hasil belajar dalam upaya dalam penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.(7)

 

KBK yang dikembangkan Depdiknas merupakan kerangka inti yang memiliki empat kompenen:(a) Kurikulum dan Hasil Belajar, (b) Penilaian Berbasis Kelas, (c) Kegiatan Belajar Mengajar, (d) Pengelolaan  Kurikulum Berbasis Sekolah. Keempat kompenen KBK ini merupakan satu kesatuan yang utuh karena dalam praktiknya kompenen-kompenen ini saling menunjang.(8)

 

  1. Sejarah Perkembangan  Kurikulum  Bahasa Arab Madrasah  Aliyah (MA) Kurikulum 2006 atau Kurikukum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

 

Bahasa Arab di MA dipersiapkan untuk pencapaian kompetensi dasar berbahasa yang mencakup empat ketrampilan berbahasa yang diajarkan secara integral, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Dengan kata lain, pada   tingkat   pendidikan   menengah   (intermidiate),   keempat   kecakapan berbahasa   diajarkan   secara   seimbang   pada   tingkat   pendidikan   lanjut

 

 

 

(advanced) dikonsentrasikan pada kecakapan membaca dan menulis, sehingga peserta didik mampu mengakses berbagai reverensi bahasa Arab.

 

Titik fokus perkembangkan bahasa Arab pada kurikulum KTSP adalah sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya, gimana kurukulum bahasa   Arab   tersebut   memberikan   penekanan   pada   implementasi   pada kehidupan dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan perkempangan IPTEK. Mengingat penyusunan KTSP diserahkan kepada satuan pendidikan, maka dapat diasumsikan bahwa guru, kepala madrasah, dan komite madrasah harus bekerja sama secara sinergis,  karena mereka terlibat secara langsung dalam proses penyusunannya. Dengan demikian, guru sebagai pelaksana kurukulum dalam pembelajaran dan penilaian di kelas memahami betul apa yang harus dilakukan terkait dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang terjadi di madrasahnya.(9)

 

  1. Sejarah Perkembangan Kurikulum Bahasa Arab pada Kurikulum 2013

 

Perkembangan kurikulum untuk menghadapi sesuai  tantangan zaman maka perlu adanya perubahan-perubahan  dan untuk memiliki visi dan arah yang jelas yaitu perubahan kurikulum 2013. Begitupun dengan kurikulum bahasa  Arab  Sejak  perubahan  dan  pengembangan  kurikulum  2013  telah muncul berbagai tanggapan  dari berbagai kalangan,  baik yang pro maupun yang  kontra.  Mendikbud  mengungkapkan  bahwa  perubahan  dan pengembangan kurikulum merupakan persoalan yang sangat penting, karena kurikulum harus senantiasa disesuaikan dengan tuntutan zaman. Perlunya perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 didorong oleh beberapa hasil studi internasional tentang kemampuan peserta didik Indonesia dalam kancah internasional. Perlunya perubahan kurikulum juga karena adanya beberapa kelemahan yang ditemukan dalam KTSP 2006 antara lain; a. isi dan pesan kurikulum masih terlalu padat, b. kurukulum belum mengembangkan kompetensi  secara  utuh  sesuai  dengan  visi,  misi,  dan  tujuan  pendidikan nasional, c. kurikulum belum peka dan tanggap terhadap berbagai perubahan sosial yang terjadi pada tingkat  lokal, nasional,  maupun  global,  d. Standar pembelajaran belum mengambarkan urutan pelajaran yang rinci, e. penilaian

 

 

 

belum menggunakan standar penilaian berbasis kompetensi, serta belum tegas memberikan layanan remediasi dan pengayaan secara berkala.

 

 

  1. Macam-macam Kurikulum

 

 

Perkembangan kurikulum di Indonesia pasca kemerdekaan telah mengalami beberapa perubahaan. Macam-macam kurikulum di Indonesia tidak lepas  dari sejarah  kurikulum  dari masa  ke masa.  Sehingga  macam-macam kurikulum diklasifikasikan menjadi 3 periode :

 

  1. Masa Orde Lama

 

  1. a. Kurikulum 1947 (Rentjana Pelajaran 1947)

 

Pada masa ini istilah kurikulum mengadopsi dari bahasa Belanda yaitu Leer Plan yang artinya Rencana Pelajaran. Kurikulum pada masa ini masih dipengaruhi oleh sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan oleh Belanda.

Ciri-ciri Kurikulum 1947 :

 

1)  Lebih  menekankan   pada  pendidikan   watak  atau  pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain

2)  Tidak fokus pada pendidikan pikiran

 

3)  Memuat  dua  hal  pokok  yaitu  daftar  mata  pelajaran  serta  jam pengajarannya dan garis-garis besar pengajaran

4)  Materi    pelajaran    dihubungkan    dengan    kejadian    sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani

Kelebihan :

 

 

1)  Lebih  menekankan   pada  pembentukan   karakter  manusia  yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain

Kekurangan :

 

 

1)  Kurikulum masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang

 

 

 

  1. Kurikulum 1952 (Rentjana Pelajaran Terurai)

 

Kurikulum  ini dinamakan  Rentjana Pelajaran Terurai karena merinci setiap mata pelajaran dari Rentjana Pelajaran pada kurikulum sebelumnya. Ciri-ciri kurikulum ini sebagai berikut :

1)  Setiap pelajaran dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari

 

2)  Tujuan pendidikan sudah mengarah pada membentuk manusia yang cakap dan warga negara yang demokratis  serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air (Idi, 2007:19)

  1. c. Kurikulum 1964 (Rentjana Pelajaran 1964)

 

Pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pada 1964 dengan nama Rentjana Pendidikan 1964. Ciri-ciri kurikulum ini :

 

1) Pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistic, keprigelan (ketrampilan), dan jasmani (Hamalik, 2004)

2) Pemerintah   mempunyai   keinginan   agar   rakyat   mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD

3)  Pendidikan Dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional

Kelebihan :

 

 

1)  Program Pancawardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa dan moral

Kekurangan :

 

1) Pendidikan yang sangat erat dikaitkan dengan politik yang mengharuskan   pembantingan   dalam   segala   bidang   khususnya bidang pendidikan

  1. Masa Orde Baru

 

  1. a. Kurikulum 1968

 

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964 yaitu dilakukannya   perubahan   struktur   kurikulum   dari   pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar dan kecakapan khusus.

 

 

 

Ciri-ciri kurikulum ini adalah :

 

1)  Mata pelajaran yang dikorelasikan dengan mata pelajaran yang lain

 

2)  Penjurusan   di  SMA  dilakukan  dikelas  II  dan  disederhanakan menjadi dua jurusan yaitu Sastra ial Budaya dan Ilmu Pasti Pengetahuan Alam

3) Menekankan  pendekatan  organisasi  materi  pelajaran  yaitu kelompok pembinaan Pancasila, Pengetahuan Dasar dan Kecakapan Khusus

Kelebihan :

 

 

1)  Bertujuan pada pembentukan manusia Pancasila Sejati

 

2)  Struktur pendidikan dari pancawardhana menjadi pembinaaan jiwa

 

Pancasila, pengetahuan dasar dan kecakapan khusus

 

Kekurangan :

 

 

1)  Muatan materi masing-masing mata pelajaran masih bersifat teoritis dan belum terikat erta dengan keadaan nyata dalam lingkungan sekitar

  1. Kurikulum 1975

 

Kurikulum ini lahir karena pengaruh konsep di bidang manajemen yaitu agar pendidikan lebih efisien dan efektif dengan ciri-ciri sebagai berikut:

1)  Metode materi rinci pada Prosedur Pengembangan Sistem Instruksi (PPSI) yang dikenal dengan istiah satuan pelajaran, yaitu rencana pelajaran setiap bahasan

2)  Setiap  satuan  dirinci  lagi  menjadi  Tujuan  Instruksional  Umum (TIU),  Tujuan Instruksional  Khusus  (TIK),  materi pelajaran,  alat peljaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi

Kelebihan :

 

 

1)  Menekankan pada tujuan agar pendidikan lebih efisien dan efektif

 

2)  Menekankan  kepada efisiensi dan efektifitas  dalam hal daya dan waktu

 

 

 

3)  Dipengaruhi  psikologi  tingkah  laku  dengan  menekankan  kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill)

Kekurangan :

 

 

1)  Banyak kritikan dari berbagai pihak

 

2)  Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran

  1. c. Kurikulum 1984

 

Kurikulum ini disebut juga sebagai “Kurikulum 1975 disempurnakan” yang mengusung  pendekatan  proses keahlian. Ciri-ciri kurikulum ini sebagai berikut

1)  Cara  Belajar  Siswa  Aktif  (CBSA)  atau  Student  Active  Learning

 

(SAL)

 

2)  Mengutamakan pendekatan proses

 

3)  Posisi siswa ditempatkan  sebagai  subyek belajar dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan hingga melaporkan

Kelebihan :

 

 

1)  Mengusung proses skill approach

 

2)  Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan

 

3)  Untuk menunjang pengertian, alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami

Kekurangan :

 

 

1)  Kurang memperhatikan muatan atau isi pelajaran d.   Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum ini dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakn sesuai dengan Undang-Undang  No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Ciri-cirinya sebagai berikut :

1)  Adanya perubahan dari sistem semester menjadi sistem caturwulan

 

2)  Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat

 

 

 

3)  Strategi  pembelajaran  yang  melibatkan  siswa  aktif  belajar  baik secara mental, fisik dan social

4)  Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak

 

5)  Pengulangan  hal-hal  materi  yang  dianggap  sulit  perlu  dilakuakn untuk pemantapan pemahaman

Kelebihan :

 

 

1)  Guru  menggunakan  strategi  yang  melibatkan  siswa  aktif  dalam belajar, baik secara mental, fisik dan social

2)  Berorientasi kepada isi / mata pelajaran

 

Kekurangan :

 

 

1)  Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran

2)  Materi pelajaran dianggap terlalu sulit karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa

3)  Kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari

Kurikulum di masa orde baru dan orde lama masih bersifat sentralistik. Hal ini dikarenakan sistem pengelolahan pemerintah pada saat itu bersifat  sentralistik yaitu ditetapkan oleh pemerintah pusat dan sekolah hanya mengimplementasikannya saja.

  1. Masa Reformasi

 

  1. a. Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi/KBK)

 

Kurikulum 2004 disebut juga Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang lahir sebagai respon dari tuntutan reformasi. Suatu program pendidikan  berbasis kompetensi  yang mengandung  tiga unsur pokok yaitu pemilihan kompetensi yangs sesuai, spesifikasi indikator evaluasi dan pengembangan pembelajaran. Ciri-ciri Kurikulum 2004 adalah :

1) Menekankan    pada   ketercapaian    kompetensi    siswabaik    secara individual atau klasikal

2) Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes)  dan keberagaman

 

 

 

3) Penyampaian    dalam   pembelajaran    menggunakan    metode   dan pendekatan yang bervariasi

4) Sumber belajar tidak hanya guru, tetapi sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif

5) Penilaian  menekankan  pada  proses  dan  hasil  belajar  dalam  upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi

Kelebihan :

 

 

1)  Guru sebagai fasilitator

 

2)  Mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai sikap dan minat peserta didik

Kekurangan :

 

 

1)  Kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa yakni Ujian Akhir Sekolah dan Ujian Nasional masih berupa pilihan ganda. Bila tujuannya pada pencapaian kompetensi yang diinginkan siswa, tentu alat ukurnya lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur sejauh mana pemahaman kompetensi siswa. Sehingga  hasil  KBK  tidak  memuaskan  dan  guru-guru  pun  tidak paham betul apa yang diinginkan oleh pembuat kurikulum

  1. Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP)

 

Menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2006 Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. Jadi KTSP memberi wewenang kepada sekolah-sekolah untuk mengembangkan KTSP sesuai dengan kondisi, potensi, kebutuhan dan karakteristik daerah serta peserta didik dengan tetap memperhatikan Standar Kompetensi dan Komepetensi Dasar yang disusun oleh Badan Standar nasional Pendidikan (BSNP). Ciri- ciri KTSP adalah :

1) Memberi peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah untuk mengembangkan  kurikulum  sesuai  dengan  kebutuhan  dan karakteristik daerah dan peserta didik

 

 

 

2)  Menekankan   pada   ketercapaian   kompetensi   siswa   baik   secara individual maupun klasikal

3)  Guru   sebagai   pengajar,   pembimbing,   pelatih   dan   pengembang kurikulum

4)  Kurikulum yang sangat humanis

 

Kelebihan :

 

1)  Adanya  komunikasi  dua arah antara  guru  dan siswa  dalma  proses pembelajaran

2)  Pembelajaran berpusat pada siswa

 

3)  Penggunaan pendekatan dan metode yang bervariasi

 

4)  Sumber belajar yang bervariasi

 

5)  Guru digerakkan menjadi manusia yang professional yang menuntut kekreatifitasan

Kekurangan :

 

 

1)  Minimnya sosialisasi dan kesiapan sarana dan prasarana pendukung pendidikan dan terutama kesiapan guru dan sekolah untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum sendiri

  1. c. Kurikulum 2013

 

Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan, modivikasi dan pemutakhiran dari kurikulum sebelumnya. Ciri-ciri kurikulum 2013 adalah :

1)  Pembelajaran berpusat pada siswa

 

2)  Memiliki tiga aspek penilaian yaitu aspek sikap baik sikap spiritual dan sosial, aspek pengetahuan dan aspek ketrampilan

3) Terdapat materi pembelajaran yang dirampingkan dan materi yang ditambahkan

4)  Metode   pembelajaran   yang   lebih   variatif.   Pendekatan   scientific bukanlah  satu-satunya  metode  saat  mengajar  dan apabila  digunakan maka susunannya tidak harus berurutan (Permendikbud  No.22 Tahun

2016)

 

 

 

Kelebihan :

 

 

Siswa  lebih  dituntut  aktif,  kreatif  dan inovatif  dalam  setiap  pemecahan masalah yang mereka hadapi di sekolah

 

1)  Adanya   penilaian   dari   semua   aspek   (sikap,   pengetahuan,   dan ketrampilan) yang sangat rinci

2)  Munculnya pendidikan karakter dan pendidikan budi pekerti yang telah diintegrasikan ke dalam semua program studi

3)  Pembelajaran bersifat kontekstual dengan metode yang variatif

 

Kekurangan :

 

 

1)  Guru  banyak  salah  kaprah  karena  beranggapan  dengan  kurikulum

 

2013 guru tidak perlu menjelaskan materi kepada siswa di kelas

 

2)  Kurangnya ketrampilan guru perangkat pembelajaran yang lebih rinci seperti RPP dll.

3)  Penguasaan   teknologi   dan  informasi   untuk   pembelajaran   masih terbatas

4)  Banyak guru yang belum siap secara mental

 

Kurikulum di masa orde baru dan orde lama bersifat desentralistik. Hal ini dikarenakan sistem pengelolahan pemerintah pada saat itu bersifat desentralistik yaitu sekolah diberi kewenangann untuk mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan sesuai dengan karakter peserta didik dan kondisi sekolahnya masing-masing namun tetap mengacu pada standar nasional pendidikan.

 

Menurut beberapa ahli pendidikan, perubahan kurikulum dari masa ke masa, baik di Indonesia maupun di negara lain, disebabkan karena kebutuhan   masyarakat   yang  setiap  tahunnya   selalu  berkembang   dan tuntutan zaman yang selalu berubah tanpa bisa dicegah. Perkembangan kurikulum  diharapkan  dapat menjadi  penentu  masa  depan anak bangsa. Oleh karena itu, kurikulum yang baik akan sangat diharapkan dapat dilaksanakan di Indonesia sehingga akan menghasilkan masa depan anak bangsa yang cerah yang berimplikasi pada kemajuan bangsa dan negara.

 

 

 

BAB III PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

 

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara  pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan.

Dalam  perjalanan   sejarah   sejak  tahun  1945,  kurikulum   pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968,

1975, 1984, 1994, 2004, 2006 dan yang sekarang Kurikulum 2013. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Perubahan  ini  disebabkan  oleh  tujuan  pendidikan  yang  berbeda-beda,  karena dalam setiap perubahan tersebut ada suatu tujuan tertentu yang ingin dicapai untuk memajukan pendidikan nasional kita.

 

Macam-macam Kurikulum tidak lepas dari catatan sejarah dari masa ke masa. Sehingga macam-macam kurilum dapat diklasifikasikan menjadi 3 periode:

 

  1. Kurikulum masa orde  Lama;  Kurikulum  1947  (Rentjana  Pelajaran  1947), Kurikulum 1952 (Rentjana Pelajaran Terurai), Kurikulum 1964 (Rentjana Pelajaran 1964).
  2. Kurikulum Masa Orde Baru, Kurikulum 1968, kurikulum  1975, kurikulum

 

1984, dan kurikulum 1994 dengan suplemen kurikulum 1999

 

  1. Kurikulum Masa Reformasi;  Kurikulum  2004,  kurikulum  2006,  kurikulum

 

2013 (KTSP), dan Kurikulum 2013

 

Menurut  beberapa  ahli pendidikan,  perubahan  kurikulum  dari masa ke masa di Indonesia, disebabkan karena kebutuhan masyarakat yang setiap tahunnya selalu berkembang dan tuntutan zaman yang selalu berubah tanpa bisa dicegah. Perkembangan kurikulum diharapkan dapat menjadi penentu masa depan generasi penerus demi kemajuan bangsa dan negara.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmadi. Manajemen Kurikulum Pendidikan Kecakapan Hidup. Yogyakarta: Pustaka Ifada, 2013.

 

Doll, Ronald C.  Curriculum Improvement : Decision Making and Process.

 

Boston:  Allyn and Bacon, Inc., 1974.

 

Fachrudin. Teknik Pengembangan Kurikulum Pengajaran Bahasa Arab.

 

Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2006.

 

Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2004. Idi, Abdullah. Pengembangan Kurikulum Teori & Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz

Media, 2007.

 

 

Lavy, Arief. Planing the School Curriculum, ter. Bandung: Bharata Karya

 

Aksara, 1983.

 

Muslich, Masnur.KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi Kontekstual.

 

Jakarta: Bumi Aksara,2009.

Muhammad Zaki,Pengembangan kurikulum. Surabaya: PT Bina Ilmu,1996. Nasution, S.  Azas-azas Kurikulum.  Bandung: Jemmars, 1982.

 

Rosyada, Dede. Paradigma Pendidikan Demokratis. Jakarta: Prenada Media,

 

2007.

 

Permendikbud No.22 Tahun 2016 tentang Standar Proses Kurikulum 2013

 

Undang-undang No.19 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

 

Undang-Undang No. 24 Tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat satuan

 

Pendidikan (KTSP)

 

 

William B. Ragan, Modern Elementary Curriculum Holt Rinehart and Winston

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *