Pesona Keindahan Alun-alun Malang

Pesona Keindahan Alun-alun Malang

Pada zaman sekarang, hampir semua kota di Indonesia memiliki sebuah alun-alun. Alun-alun pada masa sekarang ini lebih berfungsi sebagai pusat keramaian atau tempat berkumpulnya masyarakat dari segala lapisan. Alun-alun Malang yang sudah direnovasi beberapa kali inipun saat ini lebih berfungsi sebagai tempat masyarakat bersantai bersama keluarga sambil menikmati air mancur dan gedung-gedung serta pusat pertokoan yang mengitari alun-alun.

Beberapa pedagang kaki lima juga memanfaatkan alun-alun sebagai ajang untuk mencari nafkah, dan di alun-alun ini kita juga bisa melihat langsung pertunjukan yang sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu, yaitu sebuah tontonan yang menampilkan kepandaian seekor kera kecil mengendarai sepeda pancal, menggendong boneka kecil, memikul keranjang, dan tingkah-tingkah lucu lainnya, si pemilik biasanya mengiringi pertunjukan ini dengan tabuhan ala kadarnya sambil memberikan instruksi pada si kera. Masyarakat biasa menyebut pertunjukan ini dengan istilah “Komidi Bedes.”

Alun-alun Malang

Pada awalnya Alun-alun merupakan tempat berlatih perang (gladi yudha) bagi prajurit kerajaan, tempat penyelenggaraan sayembara dan penyampaian titah (sabda) raja kepada kawula (rakyat), pusat perdagangan rakyat dan juga hiburan.

Dari buku Nagara Krtagama, dapat diketahui bahwa alun-alun telah ada pada zaman Hindu-Budha, ada bukti yang menjelaskan bahwa di Candi Trowulan terdapat alun-alun. Asal-usul alun-alun ini sebenarnya berawal dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, harus mengadakan upacara minta izin kepada “dewi tanah,” yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan “tanah sakral” yang berbentuk “persegi empat” yang selanjutnya dikenal sebagai alun-alun.

Alun-alun Malang Tempoe-Doeloe

Masa kerajaan Mataram, di Alun-alun depan istana secara rutin rakyat Mataram menghadap Penguasa. Alun-alun pada masa ini sudah berfungsi sebagai pusat administratif dan sosial bagi penduduk pribumi. Fungsi administratif: masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat. Fungsi Sosial dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olah raga. Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan.

Alun-alun Malang

Masa masuknya Islam, bangunan Masjid dibangun di sekitar alun-alun. Alun-alun juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Sholat Idul Fitri. Pada saat ini banyak alun-alun yang digunakan sebagai perluasan dari masjid seperti Alun-alun Kota Bandung.

Pada periode berikutnya kehadiran kekuasaan Belanda di Nusantara, ikut memberi warna bentuk baru dalam tata lingkungan alun-alun. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada sisi lain alun-alun, termasuk di Alun-alun Yogyakarta. Pendirian bangunan-bangunan untuk kepentingan Belanda sekaligus mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat (penguasa pribumi).

Periode zaman Kemerdekaan, Banyak alun-alun yang beralih fungsi. Salah satunya Alun-alun Malang. Faktor pendorong perubahan / pertumbuhan ini bermacam-macam, diantaranya Kebijakan Pemerintah, Aktivitas Masyarakat, dan Perdagangan. Agar tidak tertinggal dengan gerak zaman, beberapa alun-alun juga menyediakan fasilitas “Hot-Spot,” seperti di alun-alun Kota Batu.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *