PRESUPPOSISI/PRAANGGAPAN

PRESUPPOSISI/PRAANGGAPAN

 

 
 

 
 

PRESUPPOSISI/PRAANGGAPAN

 
Presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presupposisi adalah penutur, bukan kalimat. Dalam beberapa pembahasan tentang konsep, presupposisi dibicarakan sebagai hubungan antara dua proposisi.

Jika kita mengatakan bahwa kalimat (1) mengandung proposisi p dan kalimat (2) mengandung proposisi q, maka dengan menggunakan simbol >> yang berarti “yang dipraanggapkan”, kita dapat menggambarkan hubungan itu seperti dalam (3)

(1)  Anjing Mary itu cantik                  (=p)
(2) Mary mempunyai seekor anjing     (=q)
(3) p >> q yang artinya kalimat “Anjing Mary itu cantik) dipraanggapkan “Mary mempunyai seekor anjing”.

Apabila kalimat (1) diubah menjadi kalimat negatif seperti pada kalimat (1a), kita akan melihat bahwa hubungan presupposisi tidak berubah. Yaitu diulang seperti (2a), proposisi q yang sama berlanjut dipresupposisikan oleh TIDAK p, sebagaimana ditunjukkan dalam (3a).

(1a) Anjing Mary tidak cantik           (TIDAK p)
(2a) Mary mempunyai seekor anjing (=q)
(3a) TIDAK p >> q yang artinya kalimat “Anjing Mary tidak cantik” dipraanggapkan “mary mempunyai seekor anjing)

Anjing Mary cantik memiliki praanggapan bahwa Mary mempunyai anjing, kalimat Anjing Mary tidak cantik juga memiliki praanggapan bahwa Mary mempunyai anjing

Sifat presupposisi ini biasanya dijelaskan sebagai keajegan di bawah penyangkalan. Pada dasarnya, keajegan di bawah penyangkalan berarti bahwa presupposisi suatu pernyataan akan tetap ajeg (yakni: tetap benar) meskipun kalimat pernyataan itu dijadikan menyangkal.
Contoh lain:
(1b) Setip orang tahu bahwa John itu seorang ‘gay’                (=p)
(2b)  Tidak semua orang tahu bahwa John itu seorang ‘gay’   (=TIDAK p)
(3b) John itu seorang ‘gay’                                                       (=q)
(4b) p >> q dan TIDAK p >> q

Walaupun kedua penutur tidak sepakat tentang validitas p (yang terdapat dalam pernyataan (1b), keduanya mengasumsikan kebenaran q (3b) yaitu bahwa John seorang ‘gay’ pada waktu membuat pernyataan mereka. Proposisi q, seperti ditunjukkan  (4b) dipresupposisikan oleh p dan TIDAK p keduanya, masih ajeg di bawah penyangkalan.

Rujukan: Yule, George. 2006. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baca Juga: Praanggapan dan Entailmen

 

 

 

 

0 komentar:

 

Poskan Komentar

 

 

 
 

 

 

 

 

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *