Sedekah

Suatu hari saya bertamu ke rumah kawan yang kebetulan ada urusan dengan lembaga pendidikan yang kami kelola. Sebelum saya menyampaikan maksud kedatangan saya, sang kawan itu berceritera dengan penuh semangat tentang pengalaman spiritual yang baru saja dia alami. Begitu semangatnya berceritera hingga dia sampai lupa menanyakan apa maksud kedatangan saya. Kisahnya berawal dari sedekah yang dia berikan ke sebuah panti asuhan. Suatu kali datang ke rumahnya seorang pengurus sebuah panti asuhan anak yatim yang menyodorkan formulir kesediaan menjadi donatur tetap panti tersebut seikhlasnya. Dia tidak memberikan jawaban kesanggupan, karena takut tidak bisa istiqomah. Tetapi kepada petugas tersebut, dia serahkan sejumlah lembaran uang kertas puluhan ribu dengan tulus ikhlas. Sang petugas menerimanya dan membacakan doa khusus kepada sanga kawan tersebut. salah satu isi doanya — katanya — agar dimudahkan rezekinya oleh Allah. Doa itu diamini dengan khusyuk.

  Ketika menyerahkan uang tersebut dalam hatinya terbesit doa mudah-mudahan sedekahnya berupa uang itu menjadi amal sholeh dan diganti oleh Allah dengan pahala dan rezeki yang berlipat ganda, sebagaimana yang dia pahami selama ini lewat pengajian-pengajian yang dia ikuti. Kebetulan sang kawan itu ahli ibadah dan aktif menghadiri pengajian-pengajian atau majelis taklim dari masjid ke masjid.  Sebagai seorang PNS golongan rendah, dia mengelola hidup dengan bersahaja, tetapi tampak penuh kedamaian. Kendati uangnya tidak banyak, saya yakin dia jauh lebih bahagia dibanding Gayus Tambunan yang harus berurusan dengan pihak berwajib karena melakukan praktik mafia pajak. Kisahnya berawal dari keinginan kawan  tersebut untuk menjual tanah di kampungnya warisan  orangtuanya dengan harapan untuk dikembangkan di kota tempat tinggalnya sekarang.  Karena tidak ada yang merawat dan semua adiknya juga sudah tidak ada yang di rumah, tanah tersebut atas mufakat dengan keluarga diputuskan untuk dijual. Sudah lama tanahnya tersebut ditawarkan ke banyak pihak.  Tetapi, karena mungkin kurang strategis dan tidak begitu subur, tidak banyak orang berminat membelinya, walau harga sangat rendah dan mekanisme pembayaran bisa dengan angsuran.  Begitu lamanya proses penjualan tanah tersebut hingga dia bosan menawarkan. Dia malah berpiikiran mungkin tanah itu tidak boleh dijual oleh almarhum orangtuanya yang telah wafat. Akhirnya dia pasrah setelah usahanya tidak berhasil. Kejadian itu sungguh di luar dugaan. Hanya selang dua minggu dari dia bersedekah ke panti asuhan tanah yang sudah sekian lama ditawarkan itu tiba-tiba ada orang yang tertarik untuk membelinya. Tentu saja dia sangat senang. Hebatnya lagi  calon pembeli itu mau saja membeli dengan harga yang ia tawarkan. Hanya untuk membayarnya secara tuntas ia memerlukan waktu beberapa bulan. Ia pun setuju, karena memang uang untuk membeli tanah itu tidak sedikit.  Beberapa kali dia mengucapkan ‘alhamdulillah’ sebagai tanda syukur kepada sang Maha Pemberi rezeki. Sebagai tamu, saya dengarkan saja semua ceritera yang baru saja ia alami. Tetapi ketika tiba saatnya saya berbicara, saya menyempurnakan pengalaman teman itu dari sisi spiritual. Kebetulan saya baru saja diberi hadiah buku dari seseorang yang menjadi pengurus sebuah yayasan pendidikan al Qur’an. Buku itu berjudul “Dahsyatnya Sedekah 2; Kumpulan Testimoni”, terbitan Penerbit PPPA Daarul Qur’an, Tangerang, 2010. Buku dengan tebal 178 halaman itu memang memuat  pengakuan atau testimoni orang-orang yang bersedekah dan kemudahan yang diberikan oleh Allah setelah bersedekah. Buku tersebut beberapa kali saya baca, karena saya tertarik  dengan kisah-kisah ajaib yang dialami oleh orang-orang yang telah ikhlas bersedekah. Sedekah  memang ajaran Islam. Melalui al Qur’an, Allah  memerintahkan umat Islam untuk bersedekah. Lihat  saja surat Al Baqarah, 261 dan surat  At Thalaaq: 2-3. Lewat fiman-Nya Allah menjanjikan siapa saja yang bersedekah tidak akan berkurang hartanya, tetapi justru Allah akan melipatgandakannya. Tidak hanya itu, bagi orang yang bersedia bersedekah, Allah  juga menjanjikan kemudahan berbagai kesulitan hidup, memberikan obat dari berbagai penyakit, mempererat persaudaraan, menambah umur, mengalirkan pahala walaupun pelakunya telah meninggal, menghapuskan dosa, dan Allah pada hari kiamat, dan masih banyak manfaat lainnya. Mencermati banyaknya manfaat sedekah, maka betapa mulianya orang yang bersedia menyedekahkan sebagian hartanya kepada sesama, terutama kepada yang sangat memerlukan. Firman Allah itu pun juga diperkuat oleh hadits Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya bahwa “Sikap rendah hati akan menambah seseorang makin menjadi mulia, maka berlakulah rendah hati kalian, maka nisacaya Allah akan memuliakanmu. Sikap pemaaf akan akan menjadikan seseorang makin muia, oleh karena itu banyak maaflah kalian, niscaya Allah akan memuliakanmu, dan amal sedekah itu akan menjadikan seseorang makin banyak hartanya, maka bersedekahlah kalian, niscaya Allah akan  melimpahkan rahmat-Nya kepada kalian”. Kawan saya itu mendengarkan dengan cermat ayat dan hadits yang saya sampaikan. Matanya menerawang jauh dan  air matanya mulai menetes. Ia panggil istri dan anaknya bahwa dia telah mengalami peristiwa spiritual luar biasa dalam hidupnya. Karena itu, dia mengajak keluarga muda itu untuk memanjatkan rasa sykur yang mendalam kepada Allah SWT atas berbagai nikmat dan karunia, terutama nikmat berupa rezeki yang baru saja ia terima. Di depan saya, kawan itu mengajak  istrinya untuk bersedekah lagi setelah uang pembayaran penjualan tanah tuntas. Seusai pertemuan saya pulang. Dalam perjalanan, saya berpikir, sejatinya tidak saja kawan saya itu yang memperoleh pelajaran spiritual berharga dalam hidupnya, tetapi saya juga. Yang dialami oleh kawan saya itu merupakan bukti bahwa janji Allah tidak perlu menunggu waktu lama untuk dibuktikan.  Itu saja sudah menunjukkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Saya juga berandai-andai jika saja perintah Allah itu benar-benar dilaksanakan oleh semua orang Islam, terutama yang berlebihan harta, nisacaya tidak ada orang miskin di sekitar kita. Sayang belum semua umat Islam sadar tentang perintah bersedekah yang begitu mulia itu. Ayat-ayat dan hadits tentang sedekah masih menjadi bagian ritual untuk dibaca, tetapi belum dipahami, apalagi dijalankan. Karena itu, tulisan pendek ini mengingatkan kita semua, tentu termasuk saya, untuk merenungkan perintah Allah tersebut secara mendalam dan selanjutnya  menjalankannnya sesuai dengan kadar kemampuan kita masing-masing. ____________ Malang, 17 Maret 2011

Penulis : Prof DR. H. Mudjia Rahardjo

Pembantu Rektor I Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Sedekah | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *