Shalat Tarawih NU dan MUhammadiyah

Shalat Tarawih NU dan MUhammadiyah

Shalat Tarawih NU dan MUhammadiyah

Shalat tarawih adalah ibadah yang khusus dikerjakan pada bulan Ramadhan, waktunya  adalah setelah  shalat Isya.  Shalat  Tarawih bisa  dikerjakan  berjamaah, maupun  dengan  cara  munfarid  (sendiri).  Shalat  Tarawih  hukumnya  sunnah muakad.  Semua  keterangan  diatas  tidak  terdapat  ikhtilaf  atau  disepakati  oleh jumhur ulama, termasuk dari kalangan NU maupun Muhammadiyah.
Ikhtilaf bab shalat Tarawih terdapat pada cara pelaksanaannya, lebih khusus

lagi pada jumlah raka‘atnya. Di kalangan warga NU shalat  tarawih biasa dikerjakan dengan 20 raka‘at  dan  diakhiri dengan 3 raka‘at  witir.  Sementara di kalangan warga Muhammadiyah tarawih  biasa dilaksanakan 8 raka‘at,  dan  diakhiri dengan 3 raka‘at witir. Pada pelaksanaan shalat witir yang menutup shalat tarawih pun terdapat ikhtilaf.  Kalangan Muhammadiyah melakukan shalat  witir  tiga raka‘at  sekali  salam, dan tidak ada qunut pada separuh terakhir bulan Ramadhan. Sedangkan NU melakukan shalat  witir  3 raka‘at  dengan dua  raka‘at  salam,  dan  satu  raka‘at  salam, juga qunut witir pada separuh terakhir bulan Ramadhan. Apa yang sudah dipraktekkan di kalangan Muhammadiyah tersebut sebenarnya berbeda dengan apa yang diterangkan dalam kitab Putusan Tarjih Muhammadiyah mengenai jumlah raka‘at   shalat   tarawih.  Dalam   HTP   diterangkan  bahwa  jumlah  rakakat  shalat tarawih plus  witir  tidak  harus 11 raka‘at  (sudah termasuk witir),  tetapi  bisa kurang dari itu, asalkan jumlah raka‘atnya gasal.  Demikian pula  untuk shalat  witir,  Tarjih Muhammadiyah memberikan beberapa pilihan, tidak  hanya 3 raka‘at  saja.
Berbeda dengan Muhammadiyah, kalangan NU juga memiliki ciri khas tersendiri dalam mengerjakan shalat tarawih dan witir, khususnya yang dikerjakan berjamaah. Ciri khas, meski tidak dikerjakan oleh semua warga NU, yakni ada pada suratan yang dibaca setelah membaca al-Fatihah, biasanya dimulai dari surat at- Takastur sampai al-Lahab untuk shalat tarawih.
Pada bab ini, penulis hanya akan membahas ikhtilaf shalat tarawih dan witir,

beserta raka‘at   serta  suratan yang  dibaca   pada shalat   tarawih dan  witir.   Untuk
 
pembahasan mengenai qunut witir sudah kami bahas pada bab tersendiri, bersama- sama dengan qunut subuh dan qunut nazilah.

1.   Muhammadiyah

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah pembahasan masalah shalat tarawih dimasukkan pada sub bab tersendiri, disatukan dengan tuntunan mengenai shalat lail. HTP menjelaskan bahwa shalat lail adalah shalat sunat yang biasa dilakukan oleh Nabi saw pada waktu malam hari. Menurut Muhammadiyah shalat lail disebut juga shalat tahajjud, qiyamul-lail dan qiyamu Ramadlan. Di samping itu juga sering disebut dengan shalat witir. Shalat lail hukumnya sunnah, tetapi tarjih lebih senang menggunakan istilah „tathawwu‟ untuk ragam shalat semacam ini.
Dalam tanya jawab masalah agama di Majalah suara Muhammadiyah pernah

disinggung masalah shalat tarawih. Di sana ditulis, bahwa shalat lail disebut shalat tahajjud karena, shalat tersebut dilaksanakan setelah bangun tidur. Disebut shalat witir karena dalam melaksanakan shalat tersebut diakhiri dengan witir (bilangan ganjil). Disebut qiyamul-lail karena, shalat tersebut dilaksanakan hanya pada waktu malam. Disebut qiyamu Ramadlan karena shalat tersebut dilakukan pada bulan Ramadlan dan istilah yang sering digunakan untuk shalat lail di bulan Ramadlan adalah shalat tarawih karena, dalam shalat malam tersebut dilaksanakan dengan bacaan   yang  bagus  dan  lama  dan  setelah  empat raka‘at  pertama dan  kedua   ada istirahat sebentar.
Untuk mempermudah kita memahami pembahasan shalat lail karena dalam

HPT diterangkan dengan panjang lebar, maka alangkah baiknya pembahasannya ini kita pecah menjadi tiga, yakni, shalat tarawih, dan shalat witir.

a.   Shalat Tarawih
 
Jumlah   raka‘at   yang   dituntunkan  Tarjih  dalam  shalat   tarawih  adalah  11 raka‘at,   dikerjakan dengan cara  dua-dua raka‘at  (sebanyak 4 kali)  ditambah tiga raka‘at  witir.
Pendapat tersebut didasarkan pada hadis Rasulullah saw yang artinya:

Beralasan hadis Ibnu Umar yang mengatakan: “Seorang lelaki bangkit berdiri lalu menanyakan: “Bagaimana cara shalat malam, hai Rasulullah?” Jawab Rasulullah: “Shalat malam itu dua raka‟at dua raka‟at. Jika engkau khawatir akan terkejar  shubuh,  hendaklah  negkau  kerjakan  witir  atau  satu  raka‟at  saja.” (HR. Jama‘ah)
Juga berdasar pada hadist Ibnu Abbas, yang artinya:

“Lalu aku berdiri di samping rasulullah; kemudian ia letakkan tangan kanannya pada kepala saya dan digangnya telinga kanan saya  dan ditelitinya, lali ia shalat  dua raka‟at kemudian dua raka‟at lagi, lalu dua raka‟at lagi kemudian dua raka‟at, lalu shalat witir, kemudian ia tiduran menyamping sehingga datang bilal menyerukan adzan. Maka bangunlah ia dan shalat dua raka‟at singkat-singkat, kemudian pergi shalat shubuh. (HR. Muslim)

Juga hadis Rasulullah yang artinya:

“Diriwayatkan dari Zaed bin Khalid al-Juhany ia berkata, sungguh saya mencermati shalat Rasulullah saw. pada suatu  malam, beliau shalat dua raka‟at  yang ringan- ringan,  kemudian  shalat dua raka‟at  yang  panjang (lama) sekali, lalu shalat dua raka‟at yang lebih pendek dari dua raka‟at sebelumnya, lalu shalat dua raka‟at yang lebih pendek dari dua raka‟at sebelumnya, lalu shalat dua raka‟at yang lebih pendek dari dua raka‟at  sebelumnya,  lalu shalat dua raka‟at  yang  lebih pendek dari dua raka‟at sebelumnya, lalu kemudian melakukan witir. Maka demikianlah, shalat tigabelas raka‟at.” [HR Abu Dawud, bab fi Shalat al-Lail]
 
Dalil lain yang digunakan Dewan Tarjih Muhammadiyah adalah hadist dari

Abu Salamah yang artinya sebagai berikut:

“Diriwayatkan dari Abu  Salamah Ibn „Abdul Rahman bahwa, ia bertanya kepada

„Aisyah r.a bagaimana shalat Rasulullah saw di bulan Ramadlan. „Aisyah menjawab: Baik di bulan Ramadlan ataupun bukan bulan Ramadlan Rasulullah saw melakukan shalat (lail) tidak lebih dari sebelas raka‟at. Beliau shalat empat raka‟at; dan jangan ditanyakan  tentang  baik  dan  panjangnya  shalat  yang  beliau  lakukan.  Kemudian shalat  lagi empat  raka‟at;  (demikian  pula)  jangan  ditanyakan  tentang  baik dan panjangnya shalat yang  beliau lakukan. Lalu beliau shalat tiga raka‟at.”  (HR al- Bukhari, Kitab Shalat at-Tarawih, Bab Man Qama Ramadlan)

Mengenai cara  pelaksanaannyanya, tentang berapa raka‘at  lalu  salam,  HPT menyatakan: ―Jika engkau hendak mengerjakan shalat  dengan cara lain, maka yang sebelas  raka‘at  itu boleh engkau kerjakan dua-dua raka‘at,  atau  empat-empat raka‘at seperti di atas,  atau  di enam  raka‘at.‖ Di samping juga  dinyatakan: ―Atau delapan raka‘at  terus  menerus dan  hanya duduk pada penghabisan salam.‖
Dalil yang dijadikan rujukan adalah hadis Abdullah bin Abu Qais dan hadist

Abi Salamah, yang artinya:

Abdullah bin Abu  Qais bertanya kepada Aisyah  “Berapa raka‟at Rasulullah shalat witir?” Ia menjawab: “Ia kerjakan witir  empat lalu tiga atau enam lalu tiga, atau delapan lalu tiga atau sepuluh lalu tiga, ia tak pernah berwitir kurang dari tujuh raka‟at dan tidak lebih dari tiga belas.” (HR. Abu Dawud)

Selain itu juga berdasar pada hadis Abu Salamah, yang artinya:

Pernah  Abu  Salamah  bertanya  kepada  Aisyah  tentang  shalat  Rasulullah, maka  ia  menjawab:  “Ia kerjakan tiga  belas raka‟at.  Ia  shalat  delapan raka‟at kemudian shalat witir lalu shalat dua raka‟at sambil duduk kalau ia hendak ruku‟ ia bangkit lalu ruku‟. Kemudian dari pada itu ia shalat dua raka‟at antara adzan dan iqamah pada shalat shubuh. (HR. Muslim)
 

Diterangkan  riwayat  Abu  Dawud  dari Qatadah, kadanya:  “Nabi shalat delapan raka‟at  dengan tidak duduk  (tahiyat) kecuali pada raka‟at  yang kedelapan. Dalam duduk itu membaca dzikir dan doa kemudian membaca salam dengan salam yang terdengar sampai kepada kami; lalu shalat dua raka‟at sambil duduk setelah ia baca salam, kemudian  ia shalat lagi satu  raka‟at.  Itulah  sebelas raka‟at  semuanya,  hai anakku.” (HR. Abu Dawud)

Mengenai hadis Abdullah bin Qais, Tarjih memberi catatan penjelasan bahwa yang  dimaksud  Shahabat  Abdullan  bin  Abi  Qais  pada  pernyayaannya  ialah bilangan raka‘at  yang dikerjakan oleh Nabi sepanjang malam hari.
Sedangkan mengenai surat yang dibaca setelah al-Fatihah di  setiap  raka‘at shalat lain, Tarjih tidak menentukan nama suratnya, melainkan hanya menyebutnya surat dari Al-Qur‘an.
Dasarnya ialah hadis dari Aisyah, yang artinya:

Aisyah   pernah   ditanya   tentang   shalat   Rasulullah   di   tengah   malam   lalu  ia mengatakan:  “Ia kerjakan  shalat  Isya  dengan  berjamaah  kemudian  ia  kembali  kepada keluarganya, lalu shalat empat raka‟at kemudian ia pergi ke peraduannya lalu tidur, di arah kepalanya terletak tempat air wudhu yang ditutupi dan sikat gigi, sampai ia dibangunkan Allah pada saat ia dibangunkan pada tengah malam, ia lalu menggosok giginya dan berwudhu, dengan sempruna kemudian pergi ke tempat shalat lalu ia shalat delapan raka‟at.
“Dalam raka‟at-raka‟at  itu  ia membaca fatihah dan surat al-Quran dan ayat-ayat lainnya. Ia tidak duduk (untuk tahiyat awal) selama itu kecuali pada raka‟at ke delapan dan tidak menutup  dengan salam. Pada raka‟at ke sembilan ia membaca seperti seblumnya lalu duduk tahiyat akhir membaca doa dengan macam-macam doa dan mohon kepada Allah serta menyatakan keinginannya kemdian ia membaca salam  sesekali dengan suara keras yang hampir membangunkan isi rumah karena nyaringnya. Kemudian ia shalat sambil duduk dengan memabca Fatihah dan ruku‟ sambil duduk lalu ia kerjakan raka‟at kedua serta ruku‟ dan sujud sambil duduk kemudian membaca doa sepuas hatinya dan akhirnya menutup dengan salam dan lalu bangkit pergi.
 
“Demikianlah selalu shalat Rasulullah sampai akhirnya bertambah berat badannya. Maka  lalu  yang  sembilan raka‟at  itu  dikurangi  dua  sehingga menjadi  enam  dan tujuh ditambah dua raka‟at yang dikerjakan sambil duduk. Demikianlah dikerjakan sampai Nabi wafat. (HR Abu Dawud)

Tarjih menerangkan mengenai bilangan enam dan tujuh dalam hadis di atas, yaitu  bahwa Nabi  mengerjakan shalat  enam  raka‘at  lalu duduk untuk tahiyat awwal kemudian berdiri dan  pada raka‘at  ketujuh menutupnya dengan salam  lalu  shalat dua  raka‘at  sambil  duduk‖. Dari  hadis  tersebut di  atas  itulah didapati pengertian mengenai   mudahnya   mengerjakan   shalat   lail,   sehingga   tidak   mengharuskan bilangan raka‘at  sebelas,  tetapi  asalkan gasal.
Abdul Munir Mulkhan menulis, apa yang tercantum di HTP Muhammadiyah

dalam masalah shalat  lail  berbeda dengan praktik  kebiasaan di kalangan  warga Muhammadiyah, khusunya  yang   menyangkut jumlah  raka‘at.   Hal  ini  juga  bisa dilihat pada putusan Tarjih mengnai  jumlah raka‘at  witir.

b.  Shalat witir

Kalau dalam praktik dan kebiasaan warga Muhammadiyah melakukan witir

3 raka‘at,  dalam HTP diterangkan bahwa witir  tidak  harus 3 raka‘at.  Melainkan, bisa

1, 3, 5, atau  9 raka‘at.  Dasar  pelaksanaan witir  3 raka‘at  adalah sebagaimana hadis dari Aisyah tersebut di atas.
Berikut  akan  dikemukakan penjelasan Tarjih mengenai ragam jumlah raka‘at

witir, sebagaimana telah ditulis Abdul Munir Mulkhan (2007):

a.   Satu atau  tiga raka‘at.  Ragam  jumlah raka‘at  witir  satu  atau  tiga demikian berdasarkan dua buah hadis Aisyah yang artinya sebagai berikut:
“Adapun Rasulullah mengerjakan shalat pada waktu antara ia selesai shalat Isya

yaitu yang orang namakan „atamah hingga fajar sebelas raka‟at dengan membaca salam antara dua raka‟at lalu shalat witir satu raka‟at, kemudian apabila muadzin telah selesai seruan shubuhnya, dan terlihat olehnya akan fajar dan Bilal menghampirinya ia lalu shalat dua raka‟at singkat-singkat kemudian berbaring
 
pada lambung kanan sampai muadzin datang kepadanya untuk  seruan iqamah”.

(HR. Bukhari dan Muslim)

Dasar lainnya adalah:

“Asisyah  menerangkan:  “Adapun  Rasulullah  mengerjakan  shalat  witir  tiga raka‟at dengan tidak dipisah-pisahkan (HR. Ahmad, Nasai, Baihaqi, dan Hakim  mengatakan bahwa  hadis  shahih  menurut  persyaratan  Bukhari dan Muslim)

b.  Lima  atau  tujuh  raka‘at.  Penjelasan tarjih  mengenai jumlah raka‘at  witir menyatakan bahwa bilangan raka‘at  witir  dpat terdiri dari  lima atau  tujuh raka‘at  dengan duduk pada penghabisannya. Dasar  dari  ragam jumlah raka‘at  witir di ata ialah hadis Abu Hurairah, Airyah, Ummi salamah dan Ibnu Abbas.

Hadis Abu Hurairah, yang artinya:

Dari Nabi Saw, ia berkata: “Jangan mengerjakan witir tiga raka‟at seperti shalat maghrib (dengan tahiyat awal). Hendaklah kamu kerjakan lima atau tujuh raka‟at”. (HR. Daraquthni, Ibu Hibban, dan Hatim dengan kata-kata yang berbeda. Kata al Iraqi sanadnya shohih)

Hadist Aisyah, yang artinya:

Rasulullah     sering    mengerjakan    shalat    malam    tiga    belas  raka‟at     dengan perhitungan lima daripadanya selaku witir yang ia kerjakan terusan tanpa duduk kecuali pada akhirny” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist Ummi Salamah, yang artinya:

“Rasulullah  selalu  mengerjakan witir  tujuh  atau  lima  raka‟at  tanpa  dipisah antara semuanya dengan bacaan salam atau lainnya.(HR. Nasai dan Ibnu Majah)
 
Dan hadis  Ibnu ‗Abbas, yang  artinya:

“Kemudian Nabi shalat tujuh  atau lima raka‟at dengan pengertian witir,  yang tidak ia memabca salam kecuali pada raka‟at terakhir.” (HR. Abu Dawud)

c.   Tujuh     raka‘at.     Penjelasan     tarjih     mengenai     ragam     bilangan     witir menyatakan bahwa berjumlah tujuh  raka‘at  dengan duduk tasyahud awwal pada raka‘at  keenam dan  diakhiri pada raka‘at  ketujuh dengan duduk untuk salam.  Dasarnya ialah hadis  Sa‘ad bin hisyam, yang  artinya sebagai berikut:

“Maka setelah ia bertambah berat badannya karena usia lanjut, ia kerjakan witir tujuh raka‟at dengan hanya duduk antara yang keenam dan yang ketujuh untuk hanya membaca salam pada raka‟at yang ketujuh.” (HR. Ahmad, Nasai, dan Abu Dawud)

d.  Sembilan  Raka‘at.   Tarjih   menyatakan  bahwa  ragam   jumlah  bilangan raka‘at  witir  ada  yang  mencapai sembilan raka‘at.  Dalam  hal  ini  tarjih menyatakan bahwa jumlah witir  ialah  sembilan raka‘at  dengan duduk tasyahud awwal pada raka‘at  kedelapan dan  diakhiri pada raka‘at kesembilan dengan duduk untuk salam.
Penjelasan mengenai jumlah  raka‘at  sebanyak sembilan raka‘at  tersebut

didasarkan sumber dalil dari hadis Aisyah sebagaimana telah dikutip dalam bahasan mengenai ketentuan membaca fatihah dan surat dari al- Qur‘an  sebagaimana telah tersebut di atas.

Kemudian, mengenai surat-surat yang dibaca dalam shalat witir sebagaimana kebiasaan Rasulllah, dalam HTP dijelaskan bahwa surat yang dibaca ialah surat al- A‘la sesudah membaca al-Fatihah pada raka‘at  pertama. Selanjutnya, membaca surat al-Kafirun pada  raka‘at  kedua, sementara itu surat al-Ikhlas  dibaca   pada raka‘at ketiga.  Cara demikian ini berdasarkan hadis  Ubai Bin Ka‘ab yang  artinya:
 
Bahwasannya, Nabi saw pada shalat witir, ia membaca: “Sabbihisma rabikal a‟la dan “Qul  ya-ayyuhal  kafirun”  pada raka‟at  kedua  dan:  “Qulhuwallahu  ahad‟  pada raka‟at ketiganya.” (HR. Nasai dan Tirmidzi serta Ibnu majah)

Demikianlah pendapat Muhammadiyah berkaitan dengan shalat lail, qiyamu Ramadhan, atau tarawih dan juga shalat witir. Ternyata memang cukup panjang sehingga dimasukkan dalam sub bab khusus, tidak digabung dengan shalat sunnah atau  ‗tathawwu‘ yang lain.

2.   Nahdhatul Ulama (NU)

a.   Shalat tarawih

NU  memiliki  basis massa  tidak  hanya  dipelosok-pelosok  pedesaan,  tetapi juga di pesantren-pesantren. Praktik shalat tarawih di lingkungan pesantren dan luar pesantren yang nota bene masih sama-sama NU ternyata memiliki ciri khas sendiri-sendiri.  Jumlah   raka‘atnya  kalangan  NU   menyepakati  yang   20  raka‘at ditambah dengan 3  raka‘at   witir.   Ciri  khas  tersebut terletak pada  suratan  yang dibaca setelah fatihah.
Sebelum lebih jauh ke sana, barangkali lebih tepat jika kita bahas lebih dulu

mengenai dasar-dasar yang digunakan NU berkaitan dengan shalat tarawih. Bahwa shalat tarawih secara berjamaah adalah mengikuti tuntunan dari shahabat Umar bin Khaththab r.a. dan Sahabat Umar beserta pada shabat yang lain menjalankannya 20 raka‘at  ditambah 3 raka‘at  witir.  Hal  ini  sebagaimana disebutkan dalam kitab  al- Muwaththa‘, juz I, yang artinya sebagai  berikut:
Dari  Yazid  bin  Hushaifah,  “Orang-orang  (kaum  muslimin)  pada  masa  Umar

melakukan shalat tarawih di bulan Ramadhan 23 raka‟at.”

Selain dasar di atas, sebagaimana ditulis KH Munawwir Abdul Fattah dari Pesantren Krapyak Yogyakarta, bahwa Warga Nahdliyyin yang memilih Tarawih 20 raka‘at  ini  berdasar pada  beberapa dalil. Dalam Fiqh as-Sunnah Juz II, disebutkan bahwa mayoritas pakar hukum Islam sepakat dengan riwayat yang menyatakan
 
bahwa  kaum muslimin mengerjakan shalat pada  zaman Umar,  Utsman dan Ali

sebanyak 20 raka‘at.

Juga berdasar dari hadis Ibnu Abbas yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW shalat  Tarawih di bulan  Ramadhan sendirian sebanyak 20 Raka‘at  ditambah Witir. (HR Baihaqi dan Thabrani).
Ibnu   Hajar   juga   menyatakan   bahwa   Rasulullah   shalat   bersama   kaum

muslimin sebanyak 20 raka‘at  di  malam Ramadhan.  Ketika tiba di malam ketiga, orang-orang berkumpul, namun Rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya beliau bersabda:

―Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya.‖

Hadits tersebut di atas disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadits lain  yang  diriwayatkan Aisyah  yang  tidak  menyebutkan raka‘atnya. (Dalam hamîsy Muhibah, Juz II, hlm.466-467)
Hadis lengkapnya adalah sebagai berikut:

“Pada suatu malam Rasulullah saw. keluar dan shalat di masjid, maka ada beberapa bermakmum padanya dan pada pagi harinya orang bicara, bahwa ia telah shalat bersama Rasulullah semalam, maka berkumpullah orang-orang dan ikut shalat bersama Nabi saw. Dan pada pagi hari mereka juga memberitahu kepada kawan- kawannya sehingga banyak orang yang shalat di malam ketiga, dan Rasulullah saw. tetap keluar untuk shalat bersama mereka, kemudian pada malam keempat penuhlah masjid sehingga tidak muat masjid karena banyaknya orang, tetapi Rasulullah saw sengaja  tidak  keluar  kecuali  setelah  adzan  subuh  untuk  shalat  subuh,  kemudian setelah shalat subuh menghadap kepada Shahabat dan membaca dua kalimat syahadat lalu bersabda: Amma ba‟du, sebenarnya keadaanmu semalam telah aku ketahui, tetapi sengaja aku tidak keluar karena kuatir kalau-kalau shalat malam ini diwajibkan atas kalian sehingga kalian mereasa tidak kuat melaksanakannya.” (HR. Bukkhari dan Muslim)
 
Demikianlah dasar shalat tarawih di kalangan NU, meskipun tidak terlalu panjang tetapi sudah dianggap cukup untuk mengambil cara pelaksanaan shalat tarawih yang 20 raka‘at.
Ciri khas  pelaksanaan shalat  tarawih di ―masjid-masjid NU‖ yakni  biasanya ada seorang petugas yang dikenal dengan istilah bilal yang tugasnya adalah akan mengumumkan tibanya shalat tarawih.
Shalat tarawih dikerjakan  dengan cara  dua  raka‘at  salam.  Pada  tiap  raka‘at pertama biasanya setelah al-Fatihah membaca surat-surat pendek, yang diawali dengan   surat   at-Takastur,   demikian   seterusnya   hingga   pada   surat   al-Lahab. Sementara untuk raka‘at  yang kedua suratan yang  dibaca adalah surat al-Ikhlas.
Para  imam  Tarawih  NU  umumnya,  demikian  Munawir  Fattah    memilih

shalat yang tidak perlu bertele-tele. Sebab ada hadits berbunyi: “Di belakang Anda ada orang  tua  yang  punya  kepentingan.‖  Maka,   23  raka‘at   umumnya  shalat   Tarawih lengkap dengan Witirnya selesai dalam 45 menit.
Tetapi  di lingkungan pesantren terkadang berbeda. Ada beberapa ―pesantren

NU‖ yang  mengerjakan tarawih dengan membaca surat-surat  yang panjang. Dalam

20  raka‘at   tarawih ada   yang   sampai  menyelesaikan 2  juz  al-Qur‘an.  Apa   yang dilakukan di pesantren tidak berbeda jauh dengan shalat tarawih di Masjidil Haram, Makkah. Di sana,  23 raka‘at  diselesaikan dalam waktu kira-kira  90-120 menit. Surat yang dibaca imam ialah ayat -ayat suci Al-Qur‘an  dari  awal, terus  berurutan menuju akhir Al-Qur‘an.

b.  Shalat Witir

Shalat witir sebagai penutup shalat tarawih di kalangan NU dikerjakan 3

raka‘at  dengan cara dua  raka‘at  salam dan diteruskan dengan satu raka‘at  salam.

Hal tersebut sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab Shalat al-Tarawih fi Masjid al-Haram bahwa shalat Tarawih di Masjidil Haram sejak masa Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, dan seterusnya sampai  sekarang  selalu dilakukan 20 raka‘at  dan 3 raka‘at  Witir.
 
Untuk suratan yang dibaca setelah al-Fatihah dalam shalat witir,  pada raka‘at pertama dianjurkan surat al-A‘la dan  raka‘at  kedua adalah surat  al-Kafirun. Hal ini senada  dengan  Muhammadiyah  dan  dasar  yang  digunakan  juga  sama.  Yang berbeda adalah raka‘at  witir yang ketiga.
Raka‘at  witir  yang  ketiga  dikerjakan sendiri, atau  dengan 1 raka‘at.  Biasanya surat yang dibaca secalah al-Fatihah adalah surat al-Ikhlas, ditambah al-Falaq, dan an-Nas.  Selain itu pada separuh terakhir bulan  ramadhan, pada raka‘at  yang  ketiga ini, setelah bangun dari rukuk dilakukan pembacaan qunut, biasa disebut dengan qunut witir.

M. Yusuf Amin Nugroho

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *