Artikel, Tutorial, Tips dan Trik

SILABUS BAHASA ARAB BERBASIS KOMPETENSI UNTUK SMA

0

SILABUS BAHASA ARAB BERBASIS KOMPETENSI UNTUK SMA

 

Emzir*

 

 

ملخص: العربية من احدى اللغات الأجنبية المدروسة في المدرسة المتوسطة العامة. ويتوقف تدريسها على المنهج الدراسي المبنى على الكفاءة. إنه بلا شك أن تغير المنهج تؤثر تطوير خطة الدراسة. والأمور التي يهتم بها المدرس في تطويرها هي: مفهوم الكفاءة والكفاء الاتصالية المتطورة والأسس في تدريس العربية ونوع خطة الدراسة المتطورة.

الكلمات الرئيسة: خطة دراسة العربية، الكفاءة الاتصالية، تدريس اللغة العربية.

 

15

 

Pengajaran bahasa Arab di SMA telah dimulai pada tahun 60-an tepatnya pada tahun 1966 kurikulum SMA Gaya Baru dilanjutkan pada Kurikulum SMA 1968, pada Kurikulum SMA 1975 tidak secara spesifik disebut mata pelajaran bahasa Arab, tetapi sebagai mata pelajaran bahasa asing lainnya selain bahasa Inggris, pada Kurikulum SMA 1984 dan 1994 dan sekarang Kurikulum SMA 2004 bahasa bahasa Arab secara spesifik diajarkan sebagai salah satu bahasa asing pilihan. Perkembangan pengajaran bahasa Arab di SMA, terutama bila dilihat dari pendekatan yang digunakan dalam penyusunan silabusnya, dapat dikatakan mulai dengan penerapan pendekatan tata bahasa (1966/1968), pendekatan audiolingual (1975), pendekatan komunikatif (1984 dan 1994), dan sekarang silabus berbasis kompetensi (2004).

Penerapan Kurikulum 2004, yang disebut dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menuntut perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian oleh guru. Agar guru memiliki kemampuan dalam mengembangkan silabus dan sistem penilian yang sesuai dengan mata pelajaran yang dibinanya, sesuai dengan tema seminar ini, maka pembahasan dalam makalah ini akan mencakup (1) Kurikulum Berbasis Kompetensi, (2) Kompetensi Bahasa, (3) Macam-Macam Silabus dalam Pengajaran Bahasa, (4) Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Arab, dan (5) Pengembangan Silabus dan Sistem Penilaian.

 

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak yang konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi Kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar intuk melakukan sesuatu.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Pusat Kurikulum Diknas, 2002).

Kurikulum Berbasis kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Menekankan pada pencapaian kompetensi siswa baik secara individu maupun secara klasikal.
  2. Beorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.

14

 

Penyampaiannya menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

16

 

Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

  1. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Pengembangan kurikuium berbasis kompetensi mempertimbangkan prinsip-prinsip berikut:

  1. Keimanan, nilai, dan budi pekerti luhur, yang berimplikasi pada keyakinan yang dianut masyarakat yang berpengaruh pada sikap dan arti kehiodupan. Keimanan, nilai-nilai dan budi pekerti perlu digali dan dipahami, dan diamalkan oleh siswa.
  2. Penguatan integritas nasional, yang berimplikasi pada, pencapaian pendidikan yang memberikan pernahaman tentang masyarakat Indonesia yang majemuk dan kemajuan peradabari bangsa Indonesia dalam tatanan peradaban dunia yang multikultur dan multibahasa.
  3. Keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinesfika, yang berimplikasi pada keseimbangan pengalaman belajar siswa yang meliputi etika, logika, estetika, dan kinestika sangat dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum dan hasil beiajar.
  4. Kesamaan memperoleh kesempatan, yang berimplikasi pada penyediaan tempat yang memberdayakan semua siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap sangat diutamakan. Seluruh siswa dari berbagai kelompok (seperti kurang mampu, berbakat, dan unggul) berhak menerima pendidikan yang tepat sesuai dengan kemampuannya.
  5. Abad pengetahuan dan teknologi informasi, yang berimplikasi pada kemampuan berpikir dan belajar dengan mengakses, memilih dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang cepat berubah dan penuh ketidakpastian merupakan kompetensi penting dalam menghadapi abad ilmu pengetahuan dan teknologi informasi.

17

 

Pengembangan keterampilan hidup, yang berimplikasi pada keterampilan hidup agar siswa memiliki keterampilan, sikap, dan prilaku adaptif, kooperatif dan kompetitif dalam menghadapi tanttang dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara efektif. Kurikulum perlu mengintegrasikan unsur-unsur penting yang menunjang kemampuan untuk bertahan hidup.

  1. Belajar sepanjang hayat, yang berimplikasi pada pendidikan berlanjut sepanjang hidup manusia untuk mengembangkan, menambah kesadaran, dan selalu belajar memahami dunia yang selalu berubah dalam berbagai bidang. Kemampuan belajar sepanjang hayat dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan nonformal, serta pendidikan alternatif yang diselenggarakan baik oieh pemerintah maupun oleh masyarakat.
  2. Berpusat pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komprehensif, yang berimplikasi pada upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerja sama, dan menilai sendiri sangat perlu diutamakan agar siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya. Penilaian berkelanjutan dan komprehensif menjadi sangat penting dalam rangka pencapaian upaya tersebut.
  3. Pendekatan menyeluruh dan kemitraan, yang berimpiikasi pada semua pengalaman belajar dirancang secara berkesinambungan mulai dari TK dan RA sampai dengan kelas XII. Pendekatan yang digunakan dalam mengorganisasikan pengalaman belajar berfokus pada kebutuhan siswa yang bervariasi dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. Keberhasilan pencapaian pengalaman belajar menuntut kemitraan dan tanggung jawab bersama dari siswa, guru, sekolah, orang tua, perguruan tinggi, dunia usaha dan industri, serta masyarakat.

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan kerangka inti yang memiliki empat komponen, yaitu (1) kurikulum dan hasil belajar, (2) penilaian berbasis kelas, (3) kegiatan belajar mengajar, dan (4) pengelolaan kurikulum berbasis sekolah.

18

 

 

Gambar 1. Komponen Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum dan Hasil Belajar memuat perencanaan pengembangan kompetensi peserta didik yang perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun. Kurikulum dam Hasil Belajar ini memuat kompetensi, hasil belajar, dan indikator dari TK sampa dengan kelas XII.

Penilaian Berbasis Kelas memuat prinsip, sasaran dan pelaksanaan penilaian berkelanjutan yang lebih akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik melalui identifikasi kompetensi/hasil belajar yang telah dicapai, pernyataan yang jelas tentang standar yang h3rus dan telah dicapai serta peta kemajuan siswa dan pelaporan.

Kegiatan Belajar Mengajar memuat gagasan-gagasan pokok tentang pembelajaran dan pengajaran yang untuk mencapai kompetensi yang ditetapkan serta gagasan-gagasan pedagogis dan andragogis yang mengelola pembelajaran agar tidak mekanistik.

19

 

Pengelolaan Kurikulum Berbasis Sekolah memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikari dan sumber daya lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar. Pola ini dilengkapi pula dengan gagasan pembentukan jaringan kurikulum (a.l. silabus), pembinaan profesional tenaga kependidikan, dan pengembangan sistem informasi kurikulum.

 

KOMPETENSI BAHASA

Istilah kompetensi (competence) dan kinerja (performace) dipergunakan beberapa abad oleh para ahli filsafat dan ilmuan untuk menandai semua jenis pengetahuan, istilah yang secara fundamental, mengacu pada teori tata bahasa transformasional generatif Chomsky (1965). Dalam teori ini Chomsky membedakan antara kompetensi sebagai pengetahuan implisit atau eksplisit seseorang penutur tentang sistem suatu bahasa dan performansi sebagai produksi dan pemahaman aktual seseorang tentang bahasa dalam contoh-contoh spesifik penggunaan bahasa (Hadley, 1993: 2-3).

Pembedaan      kompetersi-performansi oleh Chomsky telah berfungsi sebagai dasar bagi karya banyak peneliti lain yang tertarik pada hakikat pemerolehan bahasa. Michael Canale dan Merrill Swain (1980) telah melakukan tinjauan dan evaluasi terhadap berbagai perspektif teoretis tentang kompetensi dan performansi yang telah diungkapkan sebagai reaksi terhadap karya Chomsky. Menurut tinjauan mereka dua di antara perluasan yang paling terkemuka terhadap teori Chomsky datang dari Campbell dan Wales (1970) dan Hymes (1972). Campbell dan Wales menerima pembedaan metodologis Chomsky antara kompetensi dan performansi aktual, tetapi mereka mencatat bahwa konseptualisasi Chomsky tentang Kedua terminoiogi ini tidak termasuk acuan mana pun bagi kepantasan dari suatu ujaran bagian situasi atau konteks tertentu atau arti sosiokulturalnya. Menurut Campbell dan Wales, derajat kepantasan produksi atau pemahaman bahasa seseorang tergantung pada konteks tempat peristiwa ujaran itu berlangsung, bahkan lebih penting dari kegramatikalannya. Mereka merujuk pada pandangan Chomsky yang sangat terbatas pada kompetensi sebagai “kompetensi gramatikal”, dan menurut mereka pandangan yang lebih dapat diterima adalah “kompetensi komunikatif” (Hadley, 1993: 3).

20

 

Hymes (1972) juga merasakan bahwa ada peraturan tentang penggunaan bahasa yang dilalaikan oleh pandangan bahasa Chomsky. Seperti Campbell dan Wales, Hymes menyertakan banyak pandangan lebih luas, di mana kompetensi gramatikal hanyalah salah satu kornponen dari keseluruhan pengetahuan yang dikuasai penutur asli. Pemikiran tenlang “kompetensi komunikatif” yang lebih luas ini meliputi kompetensi sosiolinguistik atau kompetensi kontekstual di samping kompetensi gramatikal itu sendiri (Hadley, 1993: 4).

Canale dan Swain (1980) membedakan empat macam kompetensi komunikatif, yaitu:

  1. Kompetensi gramatikal (الكفاية اللغوية) merujuk pada apa yang dimaksud oleh Chomsky sebagai “kompetensi inguistik” yaitu pengetahuan sistem bahasa dan kemampuan yang cukup untuk mempergunakannya.
  2. Kompetensi sosiolinguistik (الكفاية اللغوية الاجتماعية) yaitu kemampuan seseorang dalam memahami konteks sosial tempat berlangsungnya komunikasi, dengan hubungan-hubungan yang mengikat antara berbagai perangkat sosial, kemampuan bertukar inforrnasi, dan peran sosial antara individu dari orang lain.
  3. Kompetensi wacana (كفاية تحليل الخطاب) yaitu kemampuan individu dalam menganalisis bentuk ujaran dan percakapan melalui pemahaman struktur ujaran dan pemahaman hubungan diantara berbagai unsurnya dan cara pengungkapan makna dan hubungan teks secara keseluruhan.

21

 

Kompetensi strategis (الكفاية الاستراتيجية), yaitu kemampuan individu dalam memilih teknik dan strategi yang sesuai untuk memulai percakapan dan mengakhirinya, memelihara perhatian orang lain terhadap kita, mengalihkan pembicaraan, dan lain sebagairya untuk kesempurnaan proses komunikasi. (Thu’aimah, 1989: 120 dan HadIey, 1993: 5-6).

Di dalam suatu definisi yang lebih akhir tentang kompetensi komunikatif Savignon (1983), menguraikan secara singkat karakteristiknya sebagai berikut:

  1. Kompetensi komunikatif adalah sesuatu yang dinamis dibandingkan dengan suatu konsep yang statis yang tergantung pada negosiasi makna antara dua atau lebih orang yang berbagi beberapa pengetahuan bahasa. Dalam hal ini kompetensi komunikatif dapat dikatakan menjadi suatu hubungan interpersonal dibandingkan hubungan intrapersonal.
  2. Kompetensi komunikatif bukan hanya merupakan fenomena lisan, tetapi berlaku baik bahasa lisan rnaupun tulisan.
  3. Kompetensi komunikatif bersifat context-specific, karena komunikasi selalu berlangsung pada konteks situasi tertentu. Secara komunikatif pemakai bahasa yang kompeten akan mengetahui bagaimana membuat berbagai pilihan yang sesuai dalam ragam dan gaya yang cocok dengan situasi tertentu di mana komunikasi berlangsung.
  4. Adalah penting untuk diingat perbedaan teoretis antara kompetensi dan performasi. Kompetensi adalah apa yang diketahui seseorang. Performansi adalah apa yang ditakukan seseorang.

Kompetensi komunikatif bersifat relatif tergantung pada kooperasi dari semua yang terlibat. Itu berarti berhicara tentang derjat kompetensi komunikatif (Dalam Hadley, 1593: 4-5).

Bahman (1990) mengusulkan suatu model kerangka kerja kemampuan bahasa komunikatif (communicative language ability) yang memiliki tiga komponen utama, yaitu (1) kornpetensi bahasa (language competence), (2)kompetensi strategis (strategic competence), dan (3) mekanisme psikologis (psychological mechanisms).

23

 

 

22

 

Komponen yang pertama terdiri dari berbagai macam pengetahuan yang kita gunakan dalam berkomunikasi lewat bahasa, sementara komponen kedua dan komponen ketiga meliputi kapasitas mental dan mekanisme fisik yang dengannya pengetahuan itu diterapkan dalam penggunaan bahasa komunikatif. Bahman mengidentifikasi komponen pertama kompetensi bahasa sebagai “pengetahuan bahasa”, dan menghubungkannya dengan kerangka kerja kompetensi komunikatif yang lain seperi yang dideskripsikan oleh Hymes (1972), Munby (1978), Canale dan Swair (1980), dan Canale (1983). Komponen-­komponen kompetensi bahasa dilukiskan dalam Gambar 2. Dalam deskripsi Bahman tentang kompetensi bahasa (language competence) tercakup dua jenis kemampuan utama. Pertama kompetensi organisasional (organizational competence) yang berhubungan dengan pengendalian struktur formal bahasa (grammatical competence), dan pengetahuan bagaimana membangun wacana (textual competence). Kedua kompetensi pragmatik (pragmatik competence), yang berhubungan dengan penggunaan fungsional bahasa (illocutionary competence) dan pengetahuan tentang kepantasannya (appropriateness) dengan konteks tempat bahasa digunakan (sociolinguistic competence). Kornpetensi gramatikal mencakup pengendalian terhadap unsur kosakata, morfologi, sintaksis, fonemik, dan grafemik. Kompetensi tekstual mencakup kohesi dan organisasi retorik. Kompetensi illokusioner mencakup pengendalian fitur-fitur fungsional bahasa, seperti kemampuan untuk mengungkapkan ide dan emosi (ideational functions), untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan (manipulative functions), untuk menggunakan bahasa untuk mengajar, belajar, dan pemecahan masalah (heuristic functions), dan untuk kreativitas (imaginative functions). Terakhir kompetensi sosiolinguistik yang meliputi hal-hal seperti kepekaan terhadap dialek dan ragam, kewajaran (atau penggunaan bahasa seperti asli) dan pemahaman referen budaya dan kata kiasan (Hadley, 1993: 7-8).

Kompetensi bahasa

 

 


Kompetensi organisasional

Kompetensi Pragmatik

 

 

Kompentensi Gramatikal

 

Kosakata

Morfologi

Sintaksis

Fonetik/Grafemik

 

 

Kompetensi Tekstual/Wacana

 


Kohesi

Org. Retorika

 

 

Kompetensi Illokusioner

 


Fungsi Ideasional

Fungsi Manipulasi

Fungsi Heuristik

Fungsi Imajinatif

 

 

Kompetensi sosiolinguistik

 


Peka thd dialek/ragam

Peka thd kewajaran

Peka thd rfrn budaya

Peka thd kata kiasan

       

 

Gambar 2. Komponen Kompetensi Bahasa (Bahman, 1990 dalam Hadley, 1993: 8)

 

MACAM-MACAM SILABUS DALAM PENGAJARAN BAHASA

Dalam pengajaran bahasa terdapat banyak tipe silabus. Menurut Karl Krahnke (1987: 9-12) terdapat enam tipe silabus pengajaran bahasa, yaitu (1) silabus struktural (a structural or formal syllabus), (2) silabus nosional/fungsional (a nosionall/fungsional syllabus), (3) silabus situasional (a situational syllabus), (4)silabus berdasarkan keterampilan (a skill based syllabus), (5)silabus berdasarkan tugas (a task based syllabus), dan (6) silabus berdasarkan isi (a content based syllabus).

Silabus struktural atau formal adalah suatu silabus yang isi pengajaran bahasa merupakan suatu koleksi dari bentuk dan struktur, biasanya struktur gramatikal dari bahasa yang diajarkan. Contoh-contoh struktur mencakup: nomina, verba, ajektif, pernyataan, pertanyaan, kalimat-kalimat kompleks, klausa subordinatif, kala, dan seterusnya, meskipun silabus formal dapat mencakup aspek-aspek lain dart bentuk bahasa seperti pelafalan dan morfologi.

24

 

Silabus nosional/fungsional adalah suatu silabus yang isi pengajaran bahasanya merupakan koleksi dari fungsi-fungsi yang ditampilkan bila bahasa digunakan, atau nosi-nosi (pikiran) yang diungkapkan melalui bahasa. Contoh-contoh fungsi mencakup: penginformasian, persetujuan, dan seterusnya. Sedangkan contoh nosi mencakup ukuran, usia, warna, perbandingan, waktu, dan sebagainya.

Silabus situasional adalah suatu silabus yang isi pengajaran bahasanya merupakan koleksi dari situasi nyata atau imajinasi (khayal) dari penggunaan bahasa. Suatu situasi bahasa biasanya melibatkan beberapa partisipan yang melakukan berbagai aktivitas dalam suatu setting (latar) khusus. Peristiwa bahasa dalam situasi tersebut melibatkan sejumlah fungsi, dikombinasikan ke dalam suatu bagian wacana yang dapat dipercaya. Tujuan utama dari silabus pengajaran bahasa situasional adalah untuk mengajarkan bahasa yang terjadi dalam situasi-situasi tersebut. Kadang-kadang situasi-situasi yang merupakan tujuan relevan dengan kebutuhan sekarang atau yang akan datang dari siswa bahasa, penyiapan mereka untuk menggunakan bahasa baru dalam berbagai macam situasi yang melengkapi silabus. Contoh situasi mencakup: mengunjungi dokter gigi, tuntutan kepada majikan, membeli sebuah buku di toko buku, pertemuan siswa baru, menanyakan jurusan di sebuah kota, dan sebagainya.

25

 

Silabus berdasarkan keterampilan adalah silabus yang isi pengajaran bahasanya merupakan koleksi dari kemampuan spesifik yang dapat memainkan suatu bagian dalam penggunaan bahasa. Keterampilan adalah sesuatu yang harus dapat dilakukan oleh seseorang agar menjadi kompeten dalam suatu bahasa, yang secara relatif bebas dari situasi atau latar penggunaan bahasa dapat terjadi. Sementara silabus situasional mengelompokkan berbagai fungsi satu sama lain ke dalam berbagai latar khusus dari penggunaan bahasa, silabus berdasarkan keterampilan mengelompokkan kompetensi linguistik (pelafalan, kosa kata, tata bahasa, sosiolinguistik, dan wacana) satu sama lain ke dalam berbagai jenis perilaku umum, seperti menymak bahasa lisan untuk ide pokok, menulis paragraf yang baik, pemberian berbagai presentasi oral yang efektif, mengambil berbagai tes bahasa, membaca berbagai teks untuk ide-ide pokok atau detail pendukung, dan sebagainya. Tujuar utama dari silabus berdasarkan keterampilan adalah untuk belajar keterampilan bahasa yang spesifik. Suatu tujuan sekunder yang mungkin adalah untuk mengenrbangkan kompetensi yang lebih umum dalam bahasa, pembelajaran hanya secara insidental suatu informanasi yang dapat tersedia selama penerapan berbaga keterampilan bahasa.

Silabus berdasarkan tugas dan silabus berdasarkan isi adalah sama, karena keduanya tidak mengorganisasikan pengajaran di sekitar ciri-ciri linguistik dari bahasa yang diajarkan tetapi menurut beberapa prinsip pengorganisasian yang lain. Dalam pembelajaran berdasarkan tugas isi pengajaran merupakan suatu serial yang kompleks dan tugas-tugas penuh tujuan yang diinginkan atau dibutuhkan siswa untuk ditampilkan dengan bahasa yang mereka pelajari. Tugas-tugas tersebut didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas dengan satu tujuan lain daripada pembelajaran bahasa, tetapi, sebagaimana dalam silabus berdasarkan isi, penampilan dari tugas-tugas tersebut didekati dalam suatu cara yang intensif untuk pengembangan kemampuan bahasa kedua. Pembelajaran bahasa merupakan subordinat terhadap pelaksanaan tugas-tugas, dan pengajaran bahasa terjadi hanya sebagai kebutuhan yang dihasilkan selama pelaksanaan tugas-tugas yang diberikan. Tugas-tugas mengintegrasikan keterampilan bahasa dalam sering penggunaan bahasa yang spesifik. Tugas-tugas yang dapat digunakan untuk pembelajaran bahasa secara umum merupakan tugas-tugas yang secara aktual dapat dilakukan oleh siswa dalam suatu kasus. Contohnya penerapan untuk suatu pekerjaan, pembicaraan dengan seorang pekerja sosial, memperoleh informasi perumahan melalui telepon, melengkapi formulir administrasi kantor, mengumpulkan informasi tentang sekolah taman kanak-kanak untuk mendaftarkan anak, mempersiapkan suatu makalah untuk pelajaran lain, membaca sobuah buku teks untuk pelajaran lain, dan sebagainya.

26

 

Silabus berdasarkan isi bukanlah suatu silabus pengajaran bahasa yang nyata untuk semua hal. Dalarn pengajaran bahasa berdasarkan isi, tujuan utama dari pembelajaran bahasa adalah untuk mengajarkan sejumlah isi atau informasi yang mempergunakan bahasa yang juga dipelajari siswa. Siswa adalah siswa bahasa secara terus menerus dan siswa dari isi apapun yang diajarkan. Materi pelajaran adalah utama, dan peribelajaran bahasa terjadi secara insidental dengan pembelajaran isi. Pengajaran isi tidak diorganisasikan di sekitar bahasa, tetapi sebaliknya. Pengajaran bahasa berdasarkan isi memberi perhatian pada informasi, sementara pengaJaran bahasa berdasarkan tugas memberi perhatian pada proses komunikatif dan kognitif suatu contoh pengajaran bahasa berdasarkan isi adalah suatu kelas ilmu pengetahuan yang diajarkan dengan bahasa yang diperlukan siswa atau yang ingin dipelajari siswa, mungkin dengan pengaturan bahasa untuk membuat ilmu pengetahuan menjadi lebih dapat dipahami.

 

SILABUS BERBASIS KOMPETENSI

Silabus BK berisikan komponen-komponen yang saling berkaitan untuk memenuhi target pencapaian kompetensi. Ciri-ciri silabus BK antara lain sebagai berikut:

  • Komponen silabus BK terdiri atas: kampetensi dasar, hasil belajar, indikator, langkah pembalajaran, alokasi waktu, sarana dan sumber beiajar, dan penilaian.

27

 

Kompetensi dasar merupakan pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nili-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setel ah siswa menyelesaikan suatu aspek atau subaspek mata pelajaran tertentu.

  • Hasil belajar mencerminkan kemampuan siswa dalam memenuhi satu tahapan pengalaman belajar dalam satu komponen dasar.
  • Indikator merupakan kornpetensi dasar yang lebih spesifik.
  • Langkah-langkah pembelajaran memuat rangkain kegiatan secara berurutan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Rumusan pernyataan dalam langkah pembelajaran minimal mengandung dua unsur, yaitu kegiatan siswa dan materi pelajaran. Pendekatan Pembelajaran Bermakna menjadi acuan dalam proses pembelajaran.

 

KURIKULUM 2004: STANDAR KONIPETENSI MATA PELAJARAN BAHASA ARAB

Kurikulum bahasa Arab berbasis kompetensi untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) yang disusun oleh Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Penedidikan Nasional yang diberi nama “Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Arab untuk SMA dan MA terdiri atas dua bagian, yaitu bagian I pendahuluan yang meliputi (1) rasional, (2) pengertian, (3) fungsi dan tujuan, (4) ruang lingkup, (5) standar kompetensi lintas kurikulum, (6) standar kompetensi bahan kajian, (7) standar kompetensi mata pelajar, dan (8) rambu-rambu dan bagian II kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok untuk kelas XI dan XII serta daftar kosakata dan struktur. Berikut adalah deskripsi ringkas diantara muatan kurikulum ini.

 

Fungsi dan Tujuan

Mata pelajaran bahasa Arab merupakan mata pelajaran pilihan di SMA yang berfungsi sebagai alat pengembangan diri siswa dalam bidang komunikasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya. Dengan demikian mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkepribadian Indonesia serta siap mengambil bagian dalam pembangunan nasional.

28

 

Program pembelajaran bahasa Arab memiliki tujuan agar siswa berkembang dalam hal:

  1. Kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis secara baik.
  2. Berbicara secara sederhana tetapi efektif dalam berbagai konteks untuk menyampaikan informasi, pikiran dan perasaan, serta menjalin hubungan sosial dalam bentuk kegiatan yang beragam, interaktif dan menyenangkan.
  3. Menafsirkan isi berbagai bentuk teks tulis pendek sederhana dan merespon dalam bentuk kegiatan yang beragam, interaktif, dan menyenangkan.
  4. Menulis kreatif meskipun pendek sederhana berbagai bentuk teks untuk menyampaikan informasi, mengungkapkan pikiran dan perasaan.
  5. Menghayati dan menghargai karya sastra.
  6. Kemampuan untuk berdiskusi dan menganalisis teks secara kritis.

 

Ruang Lingkup

Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Arab meliputi:

  1. Keterampilan bahasa Arab, yeitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
  2. Unsur-unsur kebahasaan yang meliputi tata bahasa, kosakata, pelafalan, dan ejaan.
  3. Aspek budaya yang terkandung dalam teks lisan dan tulisan.

 

Standar Kompetensi Bahan Kajian

1. Menyimak

29

 

Siswa mampu menafsirkan berbagai nuansa makna dalam berbagai teks lisan dengan berbagai variasi’ujuan komunikasi dan konteks.

2. Berbicara

Siswa mampu mengungkapl:an berbagai nuansa makna dalam berbagai teks lisan dengan berbagai wiriasi tujuan komunikasi dan konteks.

3. Membaca

Siswa mampu memahami barbagai nuansa makna dalam berbagai teks tertulis dengan berbaga!i variasi tujuan komunikasi, struktur teks dan ciri-ciri bahasanya.

4. Menulis

Siswa mampu mengungkapkan makna secara tertulis sesuai dengan tujuan komunikasinya dengan struk;ur wacana dan fitur-fitur bahasa yang lazaim digunakan dalam budaya bahasa yang digunakan.

 

Standar Kompetensi Mata Pelajaran

  1. Berkomunikasi lisan dan tertulis dengan menggunakan ragam bahasa serta pola kalimat yang tepai: sesraai konteks dalam wacana interaksional dan atau monolog yang informatif.
  2. Berkomunikasi lisan dan tertu lis dengan menggunakan ragam bahasa serta pola kalimat dalam wacana interaksional dan atau monolog yang informatif, naratif, dan deskriptif.

 

Kompetensi Dasar, lndikator, dan Materi Pokok

Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Bahasa Arab memuat kompetensi dasar, indikator, dan materi pokok untuk kelas XI (kelas II SMA) dan kelas XII (kelas III SMA) yang diklasifikasikan menurut pelajaran mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis dengan lampiran daftar kosakata dan struktur kalimat (Depdiknas, 2003, Kurikulum 2004: Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Arab SMA dan MA). Lihat lampiran 1.

30

 

Beberapa catatan yang mungkin dikemukakan setelah membaca kurikulum adalah sebagai berikut:

  1. Yang dianggap kompetensi dasar dalam kurikulum ini adalah menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
  2. Tidak dijabarkan bagaimana kompetensi kebahasaan seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik diajarkan.
  3. Kompetensi apa yang harus dimiliki oleh siswa agar memiliki keterampilan berbahasa menyimak, berbicara, membaca, dan menulis tanpaknya belum diidentifikasi oleh penulis.nya.

 

PENGEMBANGAN SILABUS BERBASIS KOMPETENSI BERORIENTASI KECAKAPAN HIDUP

Penerapan silabus berbasis kompetensi menuntut perlunya pengembangan silabus dan sistem penilaian yang menjadikan peserta didik mampu mendemonstrasikan kecakapan hidup (life skill), yaitu kecakapan yang harus dimiliki seseorang untuk berani menghadapi masalah hidup dan kehidupan lengan wajar tanpa merasa tertekan dan secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi untuk mengatasinya.

Pengembangan silabus berorientasi kecakapan hidup ini meliputi tahap-tahap:

  • Identifikasi mata pelajaran;
  • Perumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar;
  • Penentuan materi pokok:
  • Pemilihan pengalaman belajar;
  • Penentuan indikator;
  • Penentuan penilaian yang meliputi: jenis tagihan, bentuk instrumen, dan contoh instrumen;
  • Perkiraan waktu yang dibutuhkan;
  • Dan pemilihan sumber/bahar /alat.

31

 

Pengembangan silabus BK berorientasi kecakapan hidup menekankan ada bagaimana menyusun pengalaman belajar dalam proses belajar berbasis kompetensi. Pengalaman belajar merupakan kegiatan fisik dan mental yang dilakukan pesrta didik dalarn berinteraksi dengan bahan ajar dalam rangka penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Salah satu ciri penting pembelajaran berbasis kompetensi adalah orientasinya pada kecakapan hidup. Pembelajaran kecakapan hidup memerlukan reorientasi pendidikan dari subject­-matter oriented menjadi life-skill orionted.

Kecakapan hidup dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Kecakapan Umum:

  1. Kecakapan Personal (personal skill):

–       Kesadaran Diri (self-awamess): makhluk Tuhan, eksistensi diri, dan potensi diri

–       Kecakapan Berfikir (thinking-skilo: menggali informasi, mengolah informasi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah

  1. Kecakapan Sosial (social skill: komunikasi lisan, komunikasi tertulis, dan bekerjasama

2. Kecakapan Khusus: Kecakapan Akademik (academic skill): mengidentifikasi, menghubungkan variabel, merumuskan hipotesis, dan melaksanakan.

Dalam memilih pengalamar beiajar perlu dipertimbangkan kecakapan hidup apa yang akan dikembangka pada setiap kompetensi dasar. Untuk perlu analisis kecakapan hidup setiap korripetensi dasar.

 

PENUTUP

Sebagai penutup dapat dikemukakan kesimpulan paparan makalah ini bahwa pengembangan silabus berbasis kompetensi dalam mata pelajaran bahasa Arab di SMA hendaknya memperimbangkan berbagai faktor, diantaranya (1) hakikat kurikulum berbasis kompetensi, (2) hakikat kompetensi bahasa (kompetensi komunikatif), (3) prinsip-prinsip pengajaran kemahiran bahasa, (4) macam-macam silabus, terutama silabus berbasis kompetensi, (5) kompetensi dasar bahasa Arab, dan (6) prinsip-prinsip pengembangan silabus berbasis kompetensi berorientasi kecakapan hidup.

       
     
 

32

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hadley, Alice Ommagio. 1993. Teaching Language in Context. Boston: Heinle & Heinle Publishers.

Depdiknas. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Diknas.

Depdiknas. 2003. Contoh Pengrmbangan Silabus Berbasis Kompetensi Berorientasi Kecakapan Hidup SMA, Mata Pelajaran Bahasa Arab. Jakarta: Bagian Proyek Pengembangar Pendidikan Beroreintasi Kecakapan Hidup – PMU, Dikmennum, Dikdasmen Diknas.

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Arab SMA dan MA. Jakarta: Pusat Kurikulum, Balibang, Depdiknas.

Krahnke, Karl. 9987. Approaches to Syllabus Design for Foreign Language Teaching, New Jersey: Prentice Hall Regents.

Munby, John. 1994. Communicative Syllabus Design. Cambridge: CambridgeUniversity Press.

Thu’aimah, Rusydi Ahmad. 1989. “Ta’liimul `Arabiyah lighayril Naathiqiina biha, Manaahijuhu wa Asaaliibuhu. Rabath: Jaamiah AI Islamiyah lit Tarbiyah wat Ta’allum wa AI Tsaqafah: Isesco.

 

 

 

 

 

 

       
     
 
 

33

 

 

 

 

PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA:

PENTINGNYA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA ARAB

 

Khoirul Adib*

 

 

ملخيص: اللغة عنصر أساسي من عناصر الثقافة، فنحن نعبر عن الثقافة باللغة ولا يمكننا أن نتحدث باللغة بمعزل عن الثقافة. فاللغة وعاء الثقافة وهي الوسيلة الأولى في التعبير عن الثقافة. ومن هنا تظهر لنا العلاقة بين الثقافة واللغة. أما علاقة الثقافة بتعليم اللغة للأجانب فإن فهم ثقافة المجتمع تعد جزءا أساسيا من تعلم اللغة، ولذلك قيل، إن دارس اللغة الأجنبية لابد له – إذا كان يرغب في إتقانها جيدا- من أن يتعرف على حضارة المجتمع الذي يتكلم أفراده تلك اللغة تعرفا كافيا يعصمه من الوقوع في زلل بالغ الخطورة. وذلك ما سمى بالتفاهم الثقافي.  ومن ثم فإن تعلم لغة أجنبية هو تعلم حضارة أصحاب تلك اللغة.

الكلمات الرئيسة: التفاهم الثقافي، التعليم، اللغة العربية.

 

Sepanjang sejarah, pertemuan antara Timur dan Barat lebih berbentuk persaingan, konflik, dan perang daripada saling mengerti, bersahabat, dan kerja sama. Bagi kebanyakan orang Timur, “Barat” selalu dihubungkan dengan kapitalisme, teknologi, dan imperialisme. Bagi



* Emzir adalah Dosen Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta.

* Khoirul Adib adalah Dosen Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Leave A Reply

Your email address will not be published.