SISTEM KOMUNIKASI HEWAN (BURUNG)

SISTEM KOMUNIKASI HEWAN (BURUNG)

 Bagaimana sistem komunikasi hewan itu?

Pernah dilakukan penelitian terhadap proses komunikasi lebah, burung, ikan lumba-lumba, dan simpanse. Secara  singkat, hasil penelitian itu (diangkat dari Fromkin dan Rodman 1974 dan Akmajian dkk. 1979) dapat dipaparkan sebagai berikut (Chaer, 2010).

Penelitian terhadap sistem komunikasi berbagai jenis burung menyimpulkan bahwa dalam sistem komunikasi burung yang berupa komunikasi “bunyi burung” dapat dibedakan adanya dua macam bentuk komunikasi, yaitu (1) panggilan (bird call) dan (2) nyanyian (bird song). Jenis komunikasi burung yang disebut panggilan berupa bunyi yang terdisi atas satu nada pendek atau lebih, yang isinya atau pesannya sudah ditentukan sejak lahir. Isi atau pesan ini berhubungan dengan bahaya, makanan, bersarang, dan berkelompok. Panggilan mempunyai makna, jadi merupakan satu bentuk komunikasi. Namun, hanya terbatas pada keadaan “sekarang” dan “di sini”. Tidak ada panggilan untuk masa lalu dan masa yang akan datang,s erta tempat yang lain. Dengan demikian dapat dikatakan bentuk komuniksai burung yang disebut panggilan ini tidak dapat berubah, disusun kembali untuk hal yang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan tidak ada panggilan burung yang menunjukkan kreativitas seperti pada bahasa manusia. Bentuk komunikasi burung yang disebut nyanyian bunyinya lebih panjang daripada panggilan dan memiliki pola-pola nada yang lebih kompleks daripada panggilan. Nyanyian ini digunakan untuk dua maksud, yaitu (1) untuk menandai penguasaan suatu daerah kekuasaan burung, dan (2) untuk menarik perhatian jenis kelamin lain dengan tujuan biologis. Meskipun nyanyian burung tampaknya kompleks, tetapi tidak dapat diuraikan atau disegmentasikan dalam bagian-bagian yang bermakna seperti bahasa manusia, yang dapat diuraikan menjadi frase, kata, dan fonem.

Burung-burung dari jenis yang sama, tetapi tinggal di daerah yang berlainan ternyata dapat mengungkapkan pesan yang sama dengan bunyi panggilan yang berlainan. Hasil penelitian itu menyimpulkan juga, bahwa kemampuan untuk berkomunikasi dengan panggilan dan nyanyian itu sudah dikuasai sejak lahir, tetapi hanya versi dasarnya saja. Kemampuan dan penguasaan akan panggilan dan nyanyian itu akan diperolehnya kelak dari belajar.

Beberapa jenis burung, termasuk beo dan kakak tua dapat menirukan bunyi burung dan juga suara manusia kalah burung itu dikurung untuk dipelihara. Tetapi kemampuannya hanyalah sampai pada tahap menirukan bunyi (termasuk ujaran) yang pernah didengarnya. Burung-burung itu tidak mempunyau kemampuan untuk membuat kalimat-kalimat baru dari kata-kata yang sudah dapat ditirukannya. Jadi jelas berbeda dengan manusia yang dapat membuat kalimat-kalimat baru dalam jumlah yang tidak terbatas, yang belum pernah didengar atau dibuat orang dari kata-kata yang sudah diketahuinya.

 Sumber: Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *