Unsur Suprasegmental dan Silabel

Unsur Suprasegmental dan Silabel
  1. Suprasegmantal

Fonem adalah bunyi, dan bunyi, menurut bisa terpisah-tidaknya, terbagi menjadi dua: segmental dan suprasegmental. Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi : b-a-h-a-s-a.

Fonem dapat dibagi manjadi dua bagian besar, yaitu fonem utama dan fonem kedua. fonem utama adalah sebuah unit bunyi terkecil yang merupakan unsur dari sebuah bentuk uncapan yang mempunyai fungsi sendiri. Sedangkan fonem yang kedua adalah sebuah fenomena atau sifat bunyi yang mempunyai fungsi dalam ungkapan ketika diucapkan bersambung dengan kata-kata lain.

Fonem kedua adalah ontonim dari fonem utama, tidak termasuk bagian dari suatu kata, tetapi dapat diketahui apabila suatu kata disambung dengan kata lain, atau sebuah kata yang digunakan dengan penggunaan khusus. Fonem utama disebut dengan segmental, sedangkan fonem kedua disebut dengan bunyi suprasegmantal atau sesuatu yang menyertai fonem tersebut, yaitu berupa tekanan suara (intonation), panjang-pendek (pitch), dan getaran suara yang menunjukkan emosi tertentu. jadi, kesemua yang tercakup ke dalam istilah suprasegmenal itu tidak bisa dipisahkan dari suatu fonem. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa sesuatu yang terdapat dalam fonem itu bisa dipisahkan sedangkan yang mengiringinya tidak bisa dipisahkan. Itulah yang dimaksud dengan segmental dan suprasegmental.

Meskipun dari sini sudah jelas letak perbedaan keduanya, tetapi ada perbedaan yang patut pula kita ketahui, yaitu perbedaan menurut jenis makna yang dihasilkannya. Untuk memahami pembagian tersebut, bisa dilihat pada ilustrasi berikut ; Ketika seseorang mengucapkan nomina, “Ibu”, secara datar tanpa diiringi oleh intonasi dan getaran-getaran tertentu, maka fonem yang mengandung nomina “Ibu” tersebut hanya dapat dipahami maknanya sebagai “Ibu” saja, tidak lebih. Tetapi kalau ia diucapkan dengan intonasi yang kasar misalkan dengan getaran-getaran yang tidak biasa, maka kita bisa tahu bahwa ucapan tersebut mengandung nada yang kasar.

Dari ilustrasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa perbedaan antara segmental dengan suprasegmental adalah kalau yang pertama dia hanya menghasilkan makna tekstual (sesuai makna nomina yang diucapkan), sedangkan yang kedua mampu menghasilkan makna yang kontekstual (karena makna tekstualnya sudah bercampur dengan keadaan dan kondisi si pengucap yang itu diketahui lewat intonasi dan getaraan-getaran yang mengiringi fonem tersebut).

Penggalan kata

Penggalan kata terjadi akibat tekanan udara dari paru-paru dan keluarnya udara dari paru-paru tersebut secara terputus-terputus, yang hanya memungkinkan terjadinya beberapa bunyi. Setiap tekenan yang dilakukan oleh dinding penyekat rongga dada terhadap udara yang terdapat didalam paru-paru, memungkinkan terjadinya sederetan penggalan.

  1. Pengertian Bunyi Suprasegmental

    Bunyi Suprasegmental adalah bunyi yang menyertai bunyi segmental. Dengan beberapa unsur yang menyertainya.Unsur-unsur tersebut sebagai berikut:
    1 Tekanan (Stress)
    Jangka/Rentang waktu/Durasi (Duration)
    3. Nada (Spitch)
    4. Sendi (Juncture) dan Jeda (Pause)
    5. Aksen (Accent)
    6. Intonasi
    7. Ritme

    1.Tekanan (stress)
    Tekanan kata dalam bahasa Indonesia disebut Tonotemporal yaitu sejenis kemenonjolan lebih banyak ditandai oleh tinggi nada (bersifat temporal) dan rentang waktu tempat suku kata bertekanan diucapkan (bersifat temporal).
    Macam-macam tekanan:
    1. Tekanan keras (bertekanan) → […∕ ..]
    2. Tekanan lunak (tak bertekanan) → tanpa tanda diakritik
    Tekanan dalam bahasa Indonesia bersifat Nondistingtif (tidak membedakan makna).
    Contoh dalam bahasa inggris:
    1. R′efuse → tekanan pada suku kata pertama
    Menyatakan kata benda ‘sampah’
    2. Refu′se → tekanan pada suku kata terakhir
    Menyatakan kata kerja ‘menolak’

    2.Jangka/Rentang waktu/Durasi (Duration)
    Adalah panjang/lama waktu yang diperlukan untuk mengujarkan sebuah bunyi bahasa yaitu vocal.
    Jangka dalam bahasa Indonesia bersifat nondistingtif.
    Jangka disimbolkan dengan tanda titik [.] dengan jumlah tertentu yang diletakkan di belakang fonem vocal.
    Tanda ini disebut mora [.] atau [..‾..]
    Tanda titik satu [.] → satu mora
    Tanda titik dua [:] → dua mora
    Tanda titik tiga [:.] → tiga mora
    Contoh dalam bahasa tagalong:
    1. [Kaibi:gan] → teman
    2. [Kai:bigan] → kekasih

    3.Nada (Spitch)
    Adalah tinggi rendahnya bunyi ujaran.Hal ini disebabkan oleh adanya factor ketegangan pita suara,arus udara,dan posisi pita suara ketika bunyi itu diucapkan.Makin tegang pita suara yang disebabkan oleh kenaikan arus udara dari paru-paru,makin tinggi pula nada bunyi tersebut.Begitu juga posisi pita suara.Pita suara yang bergetar lebih cepat akan menentukan tinggi nada suara ketika berfonasi.
    Tanda fonetis untuk menyatakan nada:
    Tanda /v/ menyatakan fonem segmental vokal
    /v1/ → nada rendah
    /v2/ → nada sedang
    /v3/ → nada tinggi
    /v4/ → nada sangat tinggi
    Contoh dalam bahasa Vietnam:
    1. [ma1] → hantu
    2. [ma2] → memeriksa
    3. [ma3] → tetapi
    4. [ma4] → makam

    4.Sendi (Juncture) dan Jeda (Pause)
    4.1 Sendi adalah peralihan dari satu bunyi ke bunyi yang lain dengan terdapat perhentian sejenak.
    Macam-macam sendi:
    1. Sendi tutup (close juncture) yaitu sendi yang ada di dalam kata
    2. Sendi buka (open juncture) yaitu sendi yang mengakhiri kata
    3. Sendi buka dalam (internal open juncture) yaitu sendi buka yang menandai peralihan di dalam kata.
    Contoh:
    1. Kemeja
    Sendi yang terjadi yaitu /ke/ dengan /me/ dan /me/ dengan /ja/.Sendi /ke/ dengan /me/ dan /me/ dengan /ja/ disebut sendi tutup.Sedangkan sendi sebelum /ke/ dan sesudah /ja/ disebut sendi buka.
    2. Beruang → memiliki uang
    Beruang → nama binatang
    Sendi sebelum /u/ lebih panjang untuk kata pertama daripada kata kedua.
    Simbol secara fonetis untuk menandakan sendi:
    1. Sendi tutup → tanda palang (+)
    2. Sendi buka → tanpa symbol
    Misal: ke + meja (ia melempar uang logam ke meja itu)

    Jeda adalah perhentian yang menandai batas terminal intonasi kalimat.
    Macam-macam jeda:
    1. Jeda final yaitu perhentian berada di akhir kalimat dan menandai intonasi berakhir.
    2. Jeda nonfinal yaitu perhentian berada di tengah kalimat yang menandai frase tertentu.
    Notasi yang digunakan:
    1. Jeda final → palang ganda ( # )
    2. Jeda nonfinal → garis miring ( / )
    Contoh:
    # guru / baru datang #
    # guru baru / datang #
    Jadi jeda dalam bahasa indonesia berperan menentukan makna kalimat.

    5.Aksen (Accent)
    Adalah perpaduan antara tekanan dengan nada.Aksen merupakan tekanan dalam kalimat artinya pada aksen,tekanan jatuh pada kata tertentu dalam sebuah kalimat.
    Fungsi aksen yaitu menunjukkan bagian yang terpenting oleh penuturnya.Notasi yang digunakan berupa garis memanjang yang diletakkan di bawah bunyi segmental.
    Contoh:
    1. Bapak sedang bekerja di pasar (bukan saya atau ibu)
    2. Bapak sedang bekerja di pasar (bukan ingin atau telah)

6.Intonasi
Adalah naik atau turunnya nada dalam pelafalan kalimat.Atau perubahan titinada dalam berbicara.Intonasi merupakan perpaduan antara nada,jangka,tekanan,dan jeda dalam suatu perwujudan.Intonasi dapat menentukan ragam kalimat deklaratif (berita),introgatif (tanya),dan imperatif (perintah)
Contoh:
Ellyas Pical menang
Jika diucapkan dengan intonasi menurun/naik maka memberikan arti pertanyaan.Namun jika kata menang mendapat tekanan,maka menyatakan kalimat deklaratif.

7.Ritme
Adalah pola pemberian tekanan pada kata dalam kalimat.Atau ritme merupakan perpaduan antara jangka dan tekanan.
Dalam bahasa Indonesia ritme didasarkan pada jumlah suku kata yang ada dalam kalimat.
Contoh:
1. John disini kini
2. Guru besar itu di Bandung malam ini.
Kedua kalimat diucapkan dalam waktu yang berbeda.Kalimat (1) terdiri atas 6 suku kata yang diucapkan lebih pendek daripada kalimat (2) yang terdii atas 13 suku kata.

Panjang-Pendek (Durasi)

Bunyi-bunyi segmental juga dapat dibedakan dari panjang pendeknya ketika bunyi itu diucapkan. Bunyi panjang untuk vokoid diberi tanda satuan mora, yaitu satuan waktu pengucapan, dengan tanda titik. Tanda titik satu [.] menandakan satu mora, tanda titik dua [:] menandakan dua mora, dan tanda titik tiga [:.] menandakan tiga mora. Sementara itu, bunyi-bunyi untuk kontoid diberi tanda rangkap, dengan istilah geminat. Geminat berbeda debga homorgan. Secara fonetik, gaminat adalah rentetan artikulasi yang sama benar (identik) sehingga menimbulkan pemanjangan kontoid; sedangkan homorgan adalah bunyi-bunyi bahasa yang dibentuk dengan alat atau daerah artikulasi yang sama, tetapi dengan cara kerja agak berbeda. Misalnya, bunyi [t] dan [d] adalah bunyi homorgan karena sama-sama apiko-dental, tetapi terdapat perbedaannya, yaitu tidak bersuara dan bersuara.

Dalam bahasa-bahasa tertentu variasi panjang pendek bunyi ini ternyata bisa membedakan makna (sebagai fonem), bahkan bermakna (sebagai morfem).

Misal:

Bahasa Kata Arti kata Keterangan
Bugis Mapeje Asin Kontoid panjang mempunyai makna atau morfemis
Mappeje Membuat garam
Arab Habibi Kekasih Kontoid panjang mempunyai makna atau morfemis
habibi: kekasihku

Dalam bahasa Indonesia, aspek durasi ini tidak membedakan makna atau tidak  fonemis, juga tidak mempunyai makna atau tidak morfemis.

Chaer (2009) menjelaskan bahwa durasi berkaitan dengan masalah panjang pendeknya atau lama singkatnya suatu bunyi diucapkan. Tanda untuk bunyi panjang adalah titik dua di sebelah kanan bunyi yang diucapkan (…:), atau tanda garis kecil di atas bunyi segmental yang diucapkan (-). Dalam bahasa Indonesia durasi ini tidak bersifat fonemis, tidak dapat membedakan makna kata; tetapi dalam beberapa bahasa lain seperti bahasa arab, unsur durasi bersifat fonemis.

2.4 Kesenyapan (Jeda)

Menurut Muslich (2010) yang dimaksud dengan penghentian adalah pemutusan suatu arus bunyi-bunyi segmental ketika diujarkan oleh penutur. Sebagai akibatnya, akan terjadi kesenyapan di antara bunyi-bunyi yang terputus itu. Kesenyapan itu bisa berapa di posisi awal, tegah, dan akhir ujaran.

Kesenyapan awal terjadi ketika bunyi itu akan diujarkan, misalya ketika akan mengujarkan kalimat Ini buku terjadi kesenyapan yang tak terbatas sebelumnya. Kesenyapan tengah terjadi antara ucapan kata-kata dalam kalimat, misalnya antara ucapan kata ini dan buku pada Ini buku; atau ucapan artarsuku kata, misalnya antara suku kata i dan ni pada kata ini, walaupun kesenyapan itu sangat singkat. Kesenyapan akhir terjadi pada akhir ujaran, misalnya ujaran akhir kalimat Ini buku terjadi kesenyapan yang tak terbatas sesudahnya.

Sedangka Chaer (2009) menjelaskan jeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyi dalam arus ujaran. Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena di tempat perhentian itulah terjandinya persambungan dua segmen ujaran. Jeda ini dapat bersifat penuh atau bersifat sementara. Biasanya dibedakan adanya sendi dalam (internal juncture) dan sendi luar (open juncture).

Sendi dalam menunjukkan batas antara satu silabel dengan silabel yang lain. Sendi dalam ini yang menjadi batas silabel biasanya ditandai dengan tanda (+). Contoh:

[am+bil]

[lak+sa+na]

[ke+le+la+war]

Sendi luar menunjukkan batas yang lebih besar dari silabel. Dalam hal ini biasanya dibedakan adanya:

  1. Jeda antarkata dalam frase, ditandai dengan garis miring tunggal (/)
  2. Jeda antarfrase dalam klausa, ditandai dengan garis miring ganda (//)
  3. Jeda antarkalimat dalam wacana/ paragraf, ditandai dengan garis silang ganda (#)

Tekanan dan jeda dalam bahasa Indonesia sangat penting karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat. Contoh:

# buku // sejarah / baru  #

# buku / sejarah // baru #

Kalimat pertama bermakna ‘buku mengenai sejarah baru’; sedangkan kalimat kedua bermakna ‘buku baru mengenai sejarah’.

Menurut Muslich (2010) dalam penuturan, keempat jenis suprasegmental tersebut selalu menyertai bunyi-bunyi segmental. Kerja sama keempat jenis suprasegmental sejak awal hingga akhir penuturan disebut intonasi. Jadi, intonasi pada dasarnya bercirikan gabungan nada, tekanan, durasi dan kesenyapan (jeda). Tidak hanya nada saja, walaupun nada memang sangat menonjol dalam dalam intonasi ujaran.

  1. Suku Kata (Silabel)

Pengertian

Suku kata adalah satu fonem atau lebih yang ditandai oleh satu puncak kenyaringan fonem yang terletak pada vokal.(Zainuddin, 1994:14)

Suku kata disebut juga silabel adalah satuan ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan bunyi ujaran.Satu silabel biasanya meliputi Satu vokal dan satu konsonan atau lebih.Silabel mempunyai puncak kenyaringan (Sonoritas) yang yang patuh pada vokal.( Chaer, 1994:123).

Pola Suku Kata

Pola suku kata Bahasa Indonesia sebagai berikut :

  1. V : a pada kata adik
  2. VK : an pada kata anda
  3. KV : bu pada kata ibu
  4. KVK : duk pada kata duduk
  5. KKV : tra pada kata putra
  6. KKKV : stra pada kata strata
  7. KKVK : trak pada kata kontrak
  8. KKKVK : struk pada kata struktur
  9. VKK : eks pada kata eksploitasi
  10. KVKK : teks pada kata konteks
  11. KKVKK : pleks pada kata kompleks
  12. VKKK : arts pada kata arts
  13. KVKKK : korps pada kata

Bunyi yang paling banyak menggunakan ruang resonasi itu adalah bunyi vokal, dan bukan bunyi konsonan. Karena itulah, yang dapat disebut bunyi silabis atau puncak silabis adalah bunyi vokal. Umpamanya, kata Indonesia [dan]. Kata itu terjadi dari bunyi [d], bunyi [a], dan bunyi [n]. Bunyi [d] dan [n] adalah bunyi konsonan, sedangkan bunyi [a] adalah bunyi vokal. Bunyi [a] pada kata [dan] itu menjadi puncak silabis dan puncak kenyaringan.

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *