AKHLAK ISLAM DAN PERANANNYA DALAM PEMBINAAN MASYARAKAT

 

MAKALAH

TUGAS INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Pendidikan Agama Islam

Yang dibina oleh Bapak Moch. Wahib Dariyadi,M.Pd.

 

Disusun Oleh :

Hanis Milenia Fitri          170331614021

Rizka Ella Amelia           170331614090

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

PRODI S1 PENDIDIKAN KIMIA

Mei2018

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunianya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Akhlak Islam dan Peranannya dalam Pembinaan Masyarakat”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Negeri Malang.

Dalam penulisan makalah ini kami merasa  masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran sangat diharapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak- pihak yang telah membantu proses penyelesaian makalah ini, khusunya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepaada kami.

 

 

 

Malang, 3 Mei2018

 

 

Penulis

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Pada perkembangan zaman ini, perilaku umat manusia sangatlah beragam. Tentunya tidak semua sesuai dengan syariat islam. Terlebih dengan gencarnya istilah Kids Jaman Now sepertinya malah membawa dampak buruk bagi kehidupan sosial. Generasi Millenial cenderung menomorsekiankan syariat dan lebih mengedepankan trend. Mereka cenderung melupakan tentang adanya etika, moral dan akhlak yang seharusnya dikembangkan di masyarakat. Akidah- akidah bukannya dijadikan pedoman, malah dijadikan sekedar bacaan.

Kesadaran akhlak adalah kesadaran manusia tentang diri sendiri, dimana manusia dihadapkan pada situasi baik dan buruk. Disitulah manusia dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang haq dan yang batil, mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Padahal, penanaman nilai akhlak , etika, dan moral sudah ditanamkan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi melalui pembelajaran agama dan kewarganegaraan.

Sebagai generasi harapan bangsa, sudah sepantasnya kita memahami dan mengamalkan perintah Allah dan sunnah Rasul-Nya.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan,berikut ini rumusan masalah dalam makalah

  1. Apa hakikat etika, moral dan akhlak ?
  2. Bagaimana kedudukan dan ruang lingkup akhlak dalam islam ?
  3. Bagimana proses pembentukan akhlak ?
  4. Bagaimana aktualisasi akhlak dalam kehidupan ?

 

  1. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan,berikut ini tujuan penulisan makalah

  1. Untuk memaparkan hakikat etika,moral dan akhlak,
  2. Untuk memaparkan kedudukan dan ruang lingkup akhlak dalamislam,
  3. Untuk memaparkan proses pembentukan akhlak,
  4. Untuk memaparkan aktualisasi akhlak dalam kehidupan manusia.

 

 

BAB II
BAHASAN

 

Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan pada bab I, pada bagian ini disajikantentang (1) hakikat etika, moral dan akhlak; (2) kedudukan dan ruang lingkup akhlak dalam islam; (3) proses pembentukan akhlak; dan (4) aktualisasi akhlak dalam kehidupan.

  1. Pengertian Etika, Moral dan Etika

Etika secara bahasa berasal dari kata ethosyang mengandung arti kebiasaan, cara berpikir (Zubaidi, 2011). Sedangkan secara terminology, dalam Encyclopedia Britanica  etika dinyatakan sebagai filsafat moral, yaitu studi tentang sifat dasar dari konsep baik dan buruk, benar dan salah (Nata, 2002). Sedangkan Ahmad Amin (1983) mengartikan etika sebagai ilmu yang menjelaskan arti baik atau buruk, dan menjelaskan apa tujuan yang harus dicapai, serta cara apa yang seharusnya dilakukan manusia dalam perbuatannya.

Sementara itu, moral dari segi etimologi, menurut Encarta Dictionaries (2008), berasal dari kata mores, yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Moral secara terminologis bisa digunakan untuk menentukan batas-batas dari kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Moral merupakan istilah yang digunakan untuk memberi batasan terhadap aktivitas manusia berdasarkan nilai baik atau buruk.

Jika pengertian etika dan moral dihubungkan satu sama lain, dapat disimpulkan bahwa etika dan moral memiliki obyek yang sama, yaitu membahas perbuatan manusia dari aspek nilainya ; baik atau buruk. Namun demikian dalam beberapa hal, etika dan moral memiliki perbedaan. Etika menentukan nilai baik atau buruk perbuatan manusia dengan menggunakan standar akal pikiran atau rasio. Sedangkan standar moral adalah norma atau aturan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Etika merupakan pemikiran dan pandangan filosofis tentang tingkah laku, sedangkan moral merupakan aturan yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok masyarakat dalam mengatur tingkah lakunya.

Dalam khazanah Islam, ilmu yang mengkaji perbuatan manusia yang bersifat baik atau buruk disebut dengan istilah akhlak. Secara etimologis, akhlak berasal dari bahasa Arab, yang merupakan bentuk plural(jamak) dari al khuluq  yang berarti gambaran batin, peragai, kebiasaan, tabiat atau karakter. Dalam Q.S. Al-Qalam: 4 Allah SWT berfirman :

                                    عَظِيمٍ خُلُقٍ لَعَلَىٰ وَإِنَّكَ

“Sesungguhnya Engkau (Muhammad)berada di ataspekerti yang agung.”

 

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin memberikan pengertian akhlak sebagai berikut: “Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pertimbangan dan pemikiran. Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang berpijak pada kebenaran yang telah digariskan oleh doktrin agama yang bersumber dari Al-Quran dan hadist.

Dengan demikian, anggapan yang mempersamakan arti akhlak dengan etika dan moral sesungguhnya tidak tepat, sebab terdapat sejumlah perbedaan prinsip di antara ketiganya. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain:

Aspek Akhlak Etika dan moral
Sumber Kebenaran wahyu (Al-Quran dan hadist) Kebudayaan yang dilandasi oleh hasil pemikiran manusia
Obyek Benar dan salah, haqdan bathilserta ma’rufdanmunkar Baik dan buruk (tidak selalu sama dengan penafsiran menurut akhlak)
Cakupan Berlaku umum dan universal, tidak terikat waktu dan tempat Terikat oleh waktu dan tempat, serta adat kebiasaan yang berlaku

 

 

  1. Kedudukan Dan Ruang Lingkup Akhlak Dalam Islam
  2. Kedudukan Akhlak Dalam Islam

Akhlak merupakan pondasi dasar karakter diri manusia. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia yang menempatkan posisi akhlak sebagai pemelihara eksistensi manusia. Akhlaklah yang membedakan karakter manusia dengan makhluk lainnya. Manusia tanp akhlak akan kehilangan derajat sebagai hamba Allah yang paling terhormat. Sebagaimana firmannya dalam surat At-Tin:4-6.

 

تَقْوِيمٍ أَحْسَنِ فِي الإنْسَانَ خَلَقْنَا لَقَدْ

“Sesungguhnya kami telah mencipatkan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakanamal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”

Perhatian Islam terhadap pentingnya akhlak, dapat dikaitkan dengan muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam. Ajaran Islam tentang keimanan misalnya, sangat berkaitan erat dengan amal shaleh. Iman yang tidak disertai dengan amal shaleh disebut sebagai kemunafikan. Allah SWT berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah:8-9

وَمَا آمَنُوا وَالَّذِينَ اللَّهَ يُخَادِعُونَ (8)  بِمُؤْمِنِينَ هُمْ وَمَا الآخِرِ وَبِالْيَوْمِ بِاللَّهِ آمَنَّا يَقُولُ مَنْ النَّاسِ وَمِنَ(9)يَشْعُرُونَ وَمَا أَنْفُسَهُمْ إِلا يَخْدَعُونَ

“Dan diantara manusia itu ada orang yang mengatakan: kami beriman kepada Allah dan hari akhir, sedang yangsebenarnya mereka bukan orang yang beriman”

Pentingnya akhlak sebagai manifestasi dari iman juga ditegaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW.

 

 

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya” (H.R. Ahmad)

Akhlak dalam perspektif Islam merupakan mustika kehidupan yang menghantarkan kesuksesan seorang muslim. Sebagaimana kesuksesan para Nabi dan Rasul Allah dalam menjalani kehidupan di dunia, mengemban tugas, fungsi dan risalah-Nya, tidak dapat dilepaskan dari akhlak. Aisyah R A. ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW, ia menjawab :

 

 

 

“Akhlak Rasulullah itu adalah Al-Quran” (H.R. Imam Ahmad)

Tasmara (2001) menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang sangat agung yang terlihat dari ucapan dan tindakannya. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai seorang yang shiddiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathanah(cerdas).

Dari sekian keagungan akhlak yang dimiliki Rasulullah SAW, apabila salah satunya bisa diikuti dan diteladani oleh setiap muslim , niscaya akan mendatangkan kebaikan. Hal ini juga berlaku ketika generasi muda muslim dapat mengikuti semua akhlak dan perilaku Rasulullah akan lebih mendatangkan kebaikan dan kemanfaatan bagi tegaknya syiar Islam.

Akhlak dalam Islam memiliki nilai yang mutlak, karena persepsi antara akhlak baik dan buruk memiliki nilai yang dapat diterapkan dalam kondisi dan situasi apapun (Syafri, 2012). Bahkan akhlak, menjadi modal awal pembangunan masyarakat. Sebagai contoh, kemuliaan akhlak Rasulullah SAW secara historis telah memberikan kontribusi pada kemajuan peradaban masyarakat Arab, dari fanatisme etnis menjadi fanatisme keagamaan secara luas. Melalui pendidikan akhlak Rasulullah, lahirlah manusia-manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia, seperti Abu Bakar yang pemberani, teguh pendirian, penyabar, dan Usman bin Affan yang dermawan.

  1. Ruang Lingkup Akhlak Islam

Al-Quran dan hadits mengandung banyak ajaran tentang akhlak. Bila diklasifikasikan, akhlak Islam dapat dibagi menjadi tiga bagian : akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap lingkungan.

  1. Akhlak kepada Allah SWT

Akhlak kepada Allah pada prinsipnya merupakan penghambaan diri secara total kepada-Nya. Sebagai makhluk yang dianugerahi hati dan akal, seorang muslim wajib menempatkan Allah sebagai Zat Yang Maha Kuasa serta satu-satunya zat yang kita pertuhankan. Beberapa bentuk perbuatan yang merupakan akhlak terpuji kepada Allah SWT, antara lain :

  1. Menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya

Ketaatan dalam melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya bukanlah ketaatan yang berlaku temporer, melaikan berlaku secara konstan dimanapun dan kapanpun serta dalam keadaan bagaimanapun. Ketaatan dalam melaksanakan kewajiban dan meninggalkan segala yang dilarang sesuai dengan tujuan diciptakannya manusia, yakni untuk mengabdi kepada-Nya.

  1. Mensyukuri nikmat-nikmat-Nya

Bersyukur kepada Allah SWt atas segala nikmat adalah sebuah keniscayaan bagi manusia. Perbuatan ini merupakan suatu bentuk akhlak kepada Allah yang harus ditegakkan dalam rangka mengabdikan diri secara total kepada-Nya. Hal ini secara langsung diperintahkan Allah dalam Q.S An Nahl:114

                  تَعْبُدُونَإِيَّاهُكُنْتُمْإِنْاللَّهِنِعْمَتَوَاشْكُرُوا

“Syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya”

 

  1. Tawakal

Tawakal kepada Allah berarti berserah diri dan mempercayakan diri kepada-Nya. Tawakal bukan berarti berserah diri tanpa ikhtiar. Justru sebaliknya, tawakal itu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam hati dan diwujudkan melalui ikhtiar lahiriah dengan seluruh kemampuan yang dimiliki dengan keyakinan Allah akan memberi pertolongan kepadanya. Untuk memperjelas makna tawakal, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyatakan“Jikalau kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki yang diberikan kepada burung, pagi hari perutnya kosong dan sore hari penuh makanan” (HR. Ahmad, Nasa’I, Turmudzi, dan Hakim).

  1. Akhlak kepada Rasulullah SAW

Salah satu pokok akhlak mulia yang harus kita tegakkan dalam rangka penghambaan diri secara total kepada Allah adalah mengikuti jejak Rasulullah SAW. Allah berfirman :

 

لَكُمْوَيَغْفِرْاللَّهُيُحْبِبْكُمُفَاتَّبِعُونِياللَّهَتُحِبُّونَكُنْتُمْإِنْقُلْ

رَحِيمٌغَفُورٌوَاللَّهُۗذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah: jika kamu(benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu! Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Ali Imran:31)

Implementasi dari mengikuti perilaku Rasul Allah Saw berarti menempatkan beliau sebagai manusia pilihan Allah, membenarkan kerasulannya, membenarkan risalah yang dibawanya, dan menjadikan beliau sebagai panutan dan teladan dalam menjalani kehidupan.

  1. Akhlak Kepada Sesama Manusia
  2. Berbakti Kepada Kedua Orangtua

Berbakti kepada kedua orangtua merupakan salah satu amal saleh yang mulia, bahkan perbuatan ini sangat utama di sisi Allah SWT. Begitu tinggi martabat orang tua menurut Islam tergambar dari sabda Nabi SAW berikut ini:

Ibnu Mas’ud berkata :“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, amalan apakah yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab:”mendirikan shalat pada waktunya.”Aku bertanya kembali:”Kemudian apa?”beliau kembali menjawab,”Berbakti kepada kedua orangtua.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” beliau menjawab:”Jihad di jalan Allah”’ (HR. Bukhari)

Orangtua, ayah dan ibu merupakan orang yang sangat berjasa dalam hidup kita karena telah mengasuh ,merawat, mendidik kita mulai dari sebelum lahir, lahir hingga dewasa dengan cinta dan kasih sayang yang tulus. Oleh karena itu, Islam mengecam anak yang durhaka kepada orangtua. Rasulullah SAW menghubungkan perbuatan tercela ini dengan syirik. Dalam hadist riwayat Abi Bakrah, beliau bersabda:

“Maukah kalian aku beritahukan dosa yang paling besar? Para sahabat menjawab, “Tentu.” Nabi bersabda, “(Yaitu) berbuat syirik, dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Bukhari)

Salah satu contoh perilaku durhaka anak terhadap orangtua adalah membuat orangtua menangis. Ibnu Umar menegaskan, “Tangisan kedua orangtua termasuk keduharkaanyang besar“ (HR. Bukhari). Allah bahkan menegaskan dalam Q.S. Al Isra’ bahwa perkataan “uh”atau“ah”terhadap orangtua saja dilarang, apalagi yang lebih dari itu.

  1. Menghormati yang Tua, Menyayangi yang Muda

 

“Tidak termasuk golongan kita orang yang tidak menyayangi kaum muda dan tidak menghormati kaum tua” (HR. Ahmad danTurmudzi).

Hadits di atas secara tegas menunjukkan bahwa Islam mengajarkan agar kaum tua senantiasa menyayangi dan memberikan pendidikan yang positif terhadap kaum muda. Sebaliknya kaum muda seharusnya bersikap hormat pada kaum tua.

  1. Menghormati Tetangga

Islam juga mengajarkan akhlak yang perlu dibina dalam lingkungan tetangga. Tetangga merupakan lingkungan yang terdekat dengan tempat tinggal dimana kita berada, yang merupakan pihak yang lebih cepat dapat memberikan pertolongan apabila terjadi kesulitan. Allah berfirman dalam Q.S. an Nisa :36

 

إِحْسَانًا وَبِالْوَالِدَيْنِۖشَيْئًا بِهِ تُشْرِكُوا وَلَا اللَّهَ وَاعْبُدُوا

الْقُرْبَىٰ ذِي وَالْجَارِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْيَتَامَىٰ الْقُرْبَىٰ وَبِذِي

السَّبِيلِ  وَابْنِ بِالْجَنْبِ وَالصَّاحِبِ الْجُنُبِ وَالْجَارِ

 

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Berbuat baiklah kepada ibu-bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang menjadi kerabat, tetangga yang bukan kerabat dan teman dalam perjalanan.” (Q.S. An-Nisa:36)

 

  1. Akhlak Terhadap Lingkungan

Akhlak terhadap lingkungan mencakup bagaimana memperlakukan hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa yang juga merupakan makhluk ciptaan Allah. Di dalam Alquran ditegaskan bahwa untuk mencegah terjadinya dampak negative berpa kerusakan lingkungan (fisik maupun non fisik), maka manusia dalam berpikir dan berbuat hendaknya berpegang kepada prinsip “ihsan” yaitu selalu berorientasi kepada yang paling baik, benar, dengan senantiasa mengharap keridhaan dari Allah SWT.

  1. Proses Pembentukan Akhlak

Dalam perspektif psikologi kepribadian, kecenderungan psikologis dan biologis manusia adalah mengarah pada kebaikan bukan keburukan, namun mudah menerima rangsangan negatif dari luar dirinya (Hasyim, 2002). Untuk itu, perlu adanya pengendalian terhadap kecenderungan tersebut agar manusia tidak mudah menerima rangsangan yang mengarahkan pada keburukan sehingga terwujud akhlak yang baik.

Secara umum, akhlak yang baik dapat dibentuk dalam diri setiap individu. Akhlak dapat dibentuk berdasarkan asumsi bahwa akhlak adalah hasil dari usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya. Potensi ruhaniah yang ada dalam diri manusia sebagaimana dikemukakam Nata (2001) termasuk di dalamnya akal, nafsu amarah, nafsu syahwat, dapat dibina dengan pendekatan yang tepat. Proses pembentukan akhlak dapat dilakukan antara lain melalui cara-cara berikut.

  1. Pembiasaan

Al Ghazali (dalam Nata, 2002) menyatakan bahwa kepribadian manusia pada dasarnya dapat menerima segala upaya pembentukan melalui pembiasaan. Pembiasaan untuk membentuk akhlak yang baik, dapat dilakukan dengan cara melatih jiwa kepada tingkah laku yang baik, dan mengendalikan jiwa untuk menghindari tingkah laku yang tidak baik.

Secara spesifik, pembiasan sebagai strategi untuk membentuk akhlak yang baik dapat dilakukan secara sistematis. Lickona (dalam El-Mubarak, 2008) menegaskan bahwa untuk membentuk karakter dan nilai-nilai yang baik diperlukan pengembangan terpadu yang meliputi pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Untuk itu, agar setiap individu memiliki kemauan dan kompetensi dalam pembentukan nilai-nilai yang baik, maka diperlukan pembiasan. Hal ini diperlukan agar individu mampu memahami, merasakan dan sekaligus mengerjakan nilai-nilai kebaikan.

Pembiasaan dapat menumbuhkan kekuatan pada diri untuk melakukan aktivitas tanpa paksaan. Namun demikian, pada situasi tertentu strategi pembiasaan melalui cara “paksaan” dapat dibenarkan. Hal ini karena, suatu perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus, lama kelamaan tidak terasa sebagai paksaan. Selanjutnya akan menjadi kebiasaan yang mengakar dalam jiwa, sehingga menjadi sifat baik yang mendorong lahirnya akhlak yang baik.

  1. Keteladanan

Prinsip keteladanan efektif dilakukan karena fitrah manusia adalah lebih kuat dipengaruhi dari melihat contoh di sekitarnya (Syafri, 2012). Demikian pula ditegaskan Muhaimin (1993) bahwa setiap individu mempunyai kecenderungan untuk belajar melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orang di sekitarnya. Akhlak yang baik tidak dapat dibentuk hanya melaluiinstruksi setelah anjuran, tetapi diperlukan langkah pemberian contoh teladan yang baik dan nyata dari diri dan lingkungan sekitar. Keteladanan ini dapat diambil dari meneladani perjalanan hidup para Nabi, sahabat, serta sejarah hidup orang-orang yang memiliki keutamaan akhlak, sehingga sakan memacu diri untuk berakhlak yang baik.

  1. Refleksi Diri

Strategi refleksi diri dapat dilakukan dengan cara senantiasa melakukan perenungan atas segala perbuatan baik ataupun buruk yang telah diperbuat dalam setiap rentang waktu tertentu baik menit, jam ataupun selama kehidupan ini dalam hubungannya dengan Allah dan sesame. Perenungan ini, hendaknya ditindaklanjuti dengan kesadaran dan tekad untuk memperbaiki diri, karena tanpa kesadran dan tekad akan sulit terbentuk akhlak baik yang bersifat konstan (ajeg). Hal ini, karena dalam perspektif psikologi kepribadian terdapat satu dimensi kepribadian individu yang disebut watak. Purwanto (1999) menyatakan, bahwa watak itu sulit dirubah.

Oleh karena itu, refleksi diri perlu disertai dengan kesadaran menganggap diri sebagai individu yang banyak kekurangan daripada kelebihan. Ibnu Sina (dalam nata, 2002) mengatakan bahwa apabila seseorang mengharapkan dirinya menjadi pribadi yang berakhlak baik, hendaknya terlebih dahulu mengetahui kekurangan yang ada dalam dirinya dan membatasi diri semaksimal mungkin untuk tidak berbuat kesalahan, sehingga diri senantiasa terkontrol untuk melakukan perbuatan baik dan tercegah dari melakukan perbuatan buruk.

  1. Aktualisasi Akhlak dalam Kehidupan

Beberapa bentuk aktualisasi akhlak dalam kehidupan adalah sebagai berikut.

  1. Menutup Aurat

Secara etimologis, kata “aurat” berasal dari kata ‘awarayang bermakna hilangnya salah satu indra penglihatan. Sedangkan aurat adalah anggota badan yang harus ditutup dan dijaga.

Batas aurat perempuan berbeda-beda, tergantung dengan siapa perempuan tersebut berhadapan (Tahido:2010). Secara umum perbedaan itu dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Aurat perempuan ketikan berhadapan dengan Allah ketika shalat adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangan.
  2. Aurat perempuan saat berhadapan dengan mahramnya, para ulama berbeda pendapat.
  • Ulama’ Syafi’ah berpendapat bahawa aurat perempuan ketika bersama mahramnya adalah antara pusat dan lutut, sama dengan aurat kaum laki-laki atau aurat perempuan ketika berhadapan dengan perempuan. Dalam halini berkaitan dengan tingkatan mahram.
  • Ulama’ Malikiah dan Hanabilah berpendapat bahwa aurat perempuan ketika berhadapan dengan mahramnya yang laki-laki adalah seluruh badannya kecuali muka, kepala, leher dan kedua kakinya.

Masalah mahram ini dijelaskan dalam firman Allah Q.S An Nur:31 :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“…dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah suami mereka,atau putra putra mereka atau putra putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan perempuan Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laik-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang tidak mengerti aurat perempuan. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”(Q.S An Nur:31).

 

  1. Aurat Perempuan dengan Orang yang Bukan Mahramnya.

Ulama telah sepakat bahwa selain wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki, seluruh badan perempuan adalah aurat, tidak halal dibuka apabila berhadapan dengan laki-laki lain (bukan mahram). Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalm Q.S Al-Ahzab:59.

 

 

 

 

 

“Wahai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin :”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Namun demikian, para ulama memiliki perbedaan pendapat terkait aurat perempuan, sebagai berikut.

  • Wajah dan kedua telapak tangan bukan aurat. Ini adalah pendapat jumhur ulama’ antara lain Imam Malik, Ibn Hazm dari golongan Zahiriah dan sebagian Syi’ah Zaidiah, Imam Syafi’i dan Ahmad dalam riwayat yang masyhur dari keduanya, Hanafiah dan Syi’ah Imamiah dalam satu riwayat, para sahabat Nabi dan Tabi’in, antara lain Ali, Ibnu Abbas, Aisyah, ‘Atha’, Mujahid, al-Hasandan lain-lain.
  • Wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kaki tidak termasuk aurat, ini adalah pendapat Ats-Tauri dan Al-Muzani, Al-Hanafiah, dan Syi’ah Imamiah menurut riwayat yang shahih.
  • Seluruh badan perempuan adalah aurat, ini adalah pendapat Imam Ahmad dalam salah satu riwayat, pendapat Abu Bakar dan Abd Rahman dari kalangan tabi’in.
  • Hanya wajah saja yang tidak termasuk aurat, ini adalah pendapat Imam Ahmad, Daud Al-Zhahiri serta sebagian Syi’ah Zaidiah.

Adapun batasan aurat laki-laki adalah sebagai berikut.

  • Mazhab Hanafi: aurat laki-laki mulai dari bawah pusar sampai di bawah lutut.
  • Mazhab Maliki: aurat berat lelaki adalah kemaluan dan dubur, sedangkan aurat ringanadalah selain kemaluan dan dubur.
  • Mazhab Syafi’i: aurat laki-laki terletak diantara pusat dan lutut, baik dalam shalat, thawaf, dengan sesama jenis atau kepada wanita yang bukan mahramnya.
  • Mazhab Hambali: aurat laki-laki terletak diantara pusat dan lutut. Dalil mazhab ini sama dengan uang digunakan oleh mazhab Hanafi dan mazhab Syafi’i.
  • Jumhur fuqaha’ telah bersepakat bahwa aurat laki-laki adalah anatara pusar sampai dengan lutut.

Apabila batasan aurat diatas dicermati secara mendalam, hal itu mengandung perintah dari Allah SWT kepada setiap perempuan dan laki-laki muslim untuk menutup aurat demi kemaslahatan manusia sebagai berikut.

  • Menutup aurat merupakan faktor penunjang dari kewajiban menahan pandangan sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam al-Quran:

 

 

 

 

 

 

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman:” Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak padanya..”. (Q.S An Nur. 31-32).

  • Menutup aurat adalah faktor pnunjang dari larangan berzina yang sangat terkutuk. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-Isra’:32.

 

 

 

 

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.

  • Menutup aurat hukumnya wajib karena alasanSaddusDzara’i,yaitu menutup pintu/peluang kepada dosa yang lebih besar.

 

  1. Menolak Pornografi dan Pornoaksi

Istilah pornografi dalam Ensiklopedi Hukum Islam (1997) berasal dari bahasa Yunani porne dan graphien . Porne artinyaperempuan jalang, sedangkan graphienartinya menulis. Jadi pornografi berarti bahan baik tulisan maupun gambaran yang dirancang dengan sengaja semata-mata untuk tujuan untuk emmbangkitkan nafsu syahwat.

Hawari (2010) menyatakan bahwa pornografi mengandung arti:

  1. Penggambaran tingkah laku secara erotis dengan perbuatan atau usaha untuk memberikan simulasi erotis, misalnya melalui pakaian.
  2. Perbuatan atau sikap yang memicu timbulnnya nafsu syahwat, misalnya melalui pemakaian pakaian mini, pakaian yang ketat yang melekat pada bentuk tubuh.

Pornografi dan pornoakasi merupakan pemicu terjadinya zina, karena dua hal tersebut mendekatkan seseorang pada perbuatan zina. Selain itu, pornografi dan pornoaksi dapat memicu munculnya tindakan-tindakan agresif seksual. Penelitian Hilton pada tahun 2009 (dalam Hawari,2010) menemukan bahwa kecanduan pada pronografi bermuara ke perubahan sirkuit otak. Seseorang yang kecanduan pornografi,hormonnya akan terpakai terus menerus dan pada akhirnya jumlahnya menjadi sangat sedikit. Sel otak yang memproduksi dopamin menjadi mengecil, sehingga sel tersebut mengerut dan tidak berfungsi normal.

Gangguan tersebut membuat neurotransmitter (sinyal penghantar saraf) atau pengirim pesan kimiawi pada otak terganggu, sehingga mempengaruhi kekuatan daya belajar dan memori. Remaja atau mahasiswa yang terobsesi dengan pornografi akan sulit mengkonsentrasikan pikirannya pada belajar, mengingat kemampuan daya ingatnya telah tercemari nafsu syahwat (Al-Ghifari,2005).

Terkait dengan pornografidan pornoaksi, Majelis Ulama’Indonesia (dalam Hawari,2012) telah menetapkan fatwa no.287 tentang hukum pornografi dan pornoaksi, menyatakan bahwa:

  1. Menggambarkan secara langsung atau tidak langsung, tingkah laku secara erotis, baik dengan tulisan, gambar, lisan, suara, reklame, iklan maupun ucapan baik melalui media cetak maupun elektrnik yang dapat membangkitkan nafsu hukumnya haram.
  2. Membiarkan aurat terbuka atau memakai pakaian ketat dengan maksud untuk diambil gambarnya, baik untuk dicetak maupun divisualisasikan adalah haram.
  3. Memperbanyak, mengedarkan, menjual, membeli, dan melihat atau memperlihatkan gambar orang, baik cetak atau visual yang terbuka auratnya atau berpakaian ketat yang dapat membangkitkan nafsu syahwat adalah haram.

Adapun larangan pornografi dan pornoaksi dalam al-Qur’an terdapat pada surat an-Nur:30-31 sebagai berikut.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan katakanlah  kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya..”(Q.S An-Nur:30-31).

 

 

 

 

  1. Menjauhi Pergaulan Bebas

Pergaulan bebas adalah pola pergaulan yang lepas kontrol dan tidak mengindahkan norma agama, dan hal ini terbukti telah membawa dampak negatif seperti HIV/AIDS. Perilaku bebas,khususnya di kalangan muda-mudi, menurut Hawari (2010) mengakibatkan mereka menjadi generasi muda yang memasuki ambang kehancuran. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW bersabda yang artinya,

 

 

 

 

 

“Barang siapa yang percaya kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia bersama di  tempat dengan perempuan yang tidak ada bersamanya seorang muhrimnya karena yang ketiganya di waktu itu adalah setan” (H.R Ahmad).

 

  1. Menghindari Penyalahgunaan Narkoba

Narkoba merupakan singkatan dari kata narkotika dan obat berbahaya. Narkotika secara etimologi berasal dari bahasa Yunani narkoumyang berarti membuat lumpuh atau membuat mati rasa. Secara terminologi narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang menyebabkan pengaruh bagi penggunanya berupa hilangnya rasa sakit, rangsangan semangat, halusinasi atau timbulnya efek ketergantungan bagi pemakainya (Lisa, 2013).

Jenis-jenis narkoba antara lain: heroin, ganja, opium (candu), morfin, kokain, amfetanin, alkohol (Lisa,2013). Dari sejumlah jenis narkoba tersebut, sebagian digunakan dalam dunia kedokteran untuk mengobati penyakit pasien-pasien tertentu, bukan untuk dikonsumsi secara bebas oleh masyarakat. Oleh karena itu, narkoba yang disalahgunakan dapatt menimbulkan berbagai dampak negatif.

  1. Dampak penyalahgunaan narkoba bagi tubuh :
  • Gangguan pada sistem syaraf, seperti: kejang-kejang, halusinasi serta gangguan kesadaran.
  • Gangguan pada jantung dan pembuluh darah, seperti: infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.
  • Gangguan pada paru-paru, seperti : penurunan fungsi pernafasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru.
  • Penggunaan narkoba over dosis, yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh dapat menyebabkan kematian,
  1. Dampak penyalahgunaan narkoba bagi psikis atau jiwa
  • Hilang kepercayaan diri, apatis, penghayal dan penuh curiga.
  • Agitatif, yakni menjadi ganas dan bertingkah laku brutal.
  • Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.
  • Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, dan memicu keinginan untuk melakukan bunuh diri.
  • Sering tegang dan gelisah.

Para ulama sepakat menegaskan status haramnya mengonsumsi narkoba ketika bukan dalam keadaan darurat. Ibnu Taimiyah berkata: “Narkoba sama halnya dengan zat yang memabukkan, diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama. Bahkan setiap zat yang dapat menghilangkan akal haram untuk dikonsumsi walau tidak memabukkan”. (Majmu’ Al-Fatawa:204).

Dalam Q.S Al-Baqarah :195 Allah SWT berfirman :

 

“Dan janganlah kamu menjathkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”.(Q.S Al-Baqarah:195).

Aktualisasi akhlak dalam bentuk menghindari perbuatan negatif menjadikan seorang muslim terjaga dari maksiat dan dosa kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan pendapat Nasution (2000) bahwa tujuan dari semua ajaran Islam adalah untuk mencegah manusia dari perbuatan buruk dan selanjutnya mendorong manusia pada perbuatan yang baik sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang baik.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Simpulan

Berdasarkan paparan bahasan pada Bab II, berikut ini disajikan bebrapa simpulan yang linier mengenai hakikat etika, moral dan akhlak, kedudukan dan ruang lingkup akhlak dalam Islam, proses pembentukan akhlak dan aktualisasi akhlak dalam kehidupan.

  1. Etika, moral dan akhlak pada dasarnya adalah suatu hal yang membahas perbuatan manusia dari aspek nilainya; baik atau buruk.
  2. Kedudukan akhlak dalam Islam sangat penting, sebagai fondasi dasara karakter manusia. Ruang lingkup akhlak diklasifikasikan menjadiakhlak kepada Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan.
  3. Proses pembentukan akhlak dapat dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan, dan refleksi diri.
  4. Dalam kehidupan manusia, aktualisasi akhlak dapat dilakukan dengan menutup aurat, menolak pornografi, menjauhi pergaulan bebas dan menghindari penyalahgunaan narkoba. Sehingga, kehidupan kita akan menjadi kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Pendidikan Agama Islam UM. 2015.Pendidikan Islam Transformatif : Membentuk Pribadi Berkarakter.Malang. Dream Litera

Al-Quran dan Terjemahannya. Departemen Agama RI

Purwadarwinto,.J.S. Kamus Besar Bahasa Indonesia

Nasution, Harun. 2000. Islam Rasional. Jakarta: Mizan

Lisa, Julianan,dkk. 2013. Narkoba Psikotropika dan Gangguan Jiwa Tinjauan Kesehatan dan Hukum. Yogyakarta: Nuha Medika

Tahido Yanggo, Huzaemah. 2010. Fikih Perempuan Kontemporer. Jakarta : Ghalia Indonesia

Tasmara, Toto. 2001. Kecerdasan Ruhaniah (Transendental Intelligence): Membentuk Kepribadian yang Bertanggung jawab, Profesional, dan Berakhlak. Jakarta: Gema Insani Press

Lmsafitri.blogspot.com. 2014. Akhlak Manusia dan Peranannya dalam Pembinaan Masyarakat. (Online) (lmsafitri.blogspot.com). Diakses 1 Maret 2018.

 

 

LAMPIRAN

 

Pertanyaan

  1. Nur Indah

Bagaimana hukum sesama jenis melihat auratnya?

  1. Dea Ayu

Bagaimana cara menggunakan jilbab dan syarat berjilbab yang benar?

  1. Airin Eka D

Apakah kewajiban berjilbab sama dengan kewajiban sholat?

  1. Astri Izzatul Jannah

Bagaimana pendapat anda mengenai terbukanya aurat (tersingkap) pada waktu sholat? Dan bagaimana hukum berniqab?

  1. Bernada Uni

Bagaimana aurat pada waktu sholat? Apakah dagu bukan aurat?

  1. Elok Amalia

Bagaimana pendapat anda mengenai aksi di Balai Kota yang intinya “Yang porno itu bukangue tapi otak lo!” apakah anda mendukung atau tidak?

 

AKHLAK ISLAM DAN PERANANNYA DALAM PEMBINAAN MASYARAKAT | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *