Bakteri Semakin Kebal Antibiotik

Tingkat kekebalan bakteri terhadap antibiotik semakin meningkat beberapa tahun terakhir. Berbagai jenis bakteri menjadi kebal karena bisa memproduksi enzim Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) yang melumpuhkan kerja berbagai jenis antibiotik (Bakteri Semakin Kebal Antibiotik
2004-05-26 13:06:06, http://www.glorianet.org/berita/b3495.html)

Demikian terungkap dalam konferensi pers mengenai “Infeksi Dapat Mengancam Jiwa” baru-baru ini di Jakarta. Hadir dalam acara itu Dr dr Amin Soebandrio SpM dari Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, dan Prof Murat Akova dari bagian penyakit infeksi di sekolah kedokteran Universitas Hacettepe, Ankara, Turki.

Amin mengatakan, banyak bakteri patogen yang telah kebal terhadap antibiotik golongan betalaktam. Padahal, obat jenis inilah yang paling sering diresepkan dokter untuk mencegah infeksi. “Meningkatnya kekebalan sejumlah bakteri terhadap antibiotika sangat mengkhawatirkan, terutama dalam menangani infeksi,” ujar Amin.

Bakteri yang meningkat kekebalannya terhadap antibiotik, antara lain Escherichia coli dan Klebsiella pneumonia. Tingkat kekebalan kedua bakteri itu meningkat 2-3 kali lipat sejak tahun 1997. Escherichia coli misalnya, kekebalannya meningkat dari 19 persen pada tahun 1997 menjadi 32 persen.

Di Indonesia, ada sekitar 23 bakteri jenis Escherichia coli dan 33 jenis Klebsiella pneumonia yang kebal terhadap antibiotik. Padahal, kedua jenis bakteri ini yang banyak ditemukan di ruang ICU (intensive care unit) rumah sakit, yang merupakan penyebab infeksi utama. Klebsiella pneumonia misalnya, merupakan penyebab infeksi paru-paru.

Menurut Amin, berbagai jenis bakteri saat ini semakin cerdik dalam melumpuhkan antibiotik. Bakteri itu memproduksi enzim ESBL yang bisa menghancurkan kerja antibiotik. Selanjutnya, bakteri yang kebal itu dengan cepat berkembang biak dan menghasilkan koloni baru. Dengan cara itu, bakteri sulit dilumpuhkan.

Akova mengatakan, sejumlah bakteri menjadi kebal terutama karena penggunaan yang tidak tepat, baik jenis obatnya, dosisnya, dan lama penggunaannya. “Banyak pasien yang tidak menaati aturan penggunaan antibiotika”. Disuruh menggunakan tiga hari, tetapi menggunakannya cuma dua hari karena merasa sudah sehat. Padahal, belum semua bakterinya lumpuh,” ujarnya.

Selain itu, menurut Amin, banyak peternak memberikan antibiotik pada ternaknya. Dengan demikian, jika manusia memakan daging ternak itu maka kandungan antibiotik dalam tubuh manusia meningkat. “Akibatnya, bakteri dalam tubuh manusia bisa kebal,” ujarnya.

Untuk menanggulangi bakteri yang meningkat kekebalannya, para ahli mikrobiologi di beberapa negara melakukan berbagai penelitian untuk menghambat enzim ESBL. Salah satu penelitian yang dilakukan Amin menunjukkan bahwa kombinasi antibiotik jenis Cefoperazon dan Sulbactam lebih peka dalam melumpuhkan bakteri Steptococcus pneumoniae dibandingkan antibiotika jenis amoksilin asam klavulnat.

Namun demikian, jenis antibiotik baru ini belum dapat mematikan 100 persen bakteri. “Masih ada sekitar 10 persen bakteri yang resisten terhadap obat baru ini. Akan tetapi, dengan penggunaan yang benar resistensinya bisa ditekan terus,” katanya. (GCM/*Copyright © 2004 by Pusat Inovasi-LIPI. All rights reserved.detail.htm)

Hati-hati ke dokter, perhatikan apakah obat yang mereka berikan ? Apakah antibiotik ?Antibiotik memang menyenangkan pada awalnya, karena sangat cepat menyembuhkan. Namun, efek sampingnya di kemudian hari bisa cukup mengenaskan, seperti :

  • Kalau sering tidak habis diminum / dosisnya kecil, maka lama-kelamaan kuman-kumannya bisa menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut. Istilahnya adalah superbugs. Dosis kecil – contohnya; ada dokter yang benar, kalau memberi Amoxicillin selalu 30 butir (3×1 sehari, total 10 hari). Tapi ternyata ada juga yang hanya memberikan 10 butir.
  • Kalau sampai kumannya kebal / bermutasi menjadi superbugs, dan menyebar ke orang lain, maka orang lain juga akan sengsara karena antibiotik yang dia minum juga tidak akan mempan.
  • Antibiotik cenderung melemahkan daya tahan alami tubuh. Karena antibiotik yang bekerja membasmi kuman. Awal berusaha melepaskan diri dari ketergantungan antibiotik-infeksi tenggorokan saja sampai menyebabkan sakit 3 minggu di rumah.
    Jika hanya beberapa hari saja, seiring dengan semakin terbiasanya daya tahan tubuh menghadapi kuman tanpa dibantu antibiotik.
  • Ketergantungan antibiotik: Seperti yang saya sebut diatas, dan untuk mengujinya mudah saja. Ketika sakit lagi, coba tidak minum antibiotik. berapa lama sembuh.Kalau luar biasa lama maka kemungkinan besar sudah mengalami ketergantungan antibiotik.

Jadi, hati-hati dan lebih selektif lah dengan penggunaan antibiotik. Biarkan daya tahan tubuh mendapatkan cukup “latihan”, demi kebaikannya sendiri di masa depan menjadi sehat, kuat, dan tidak mudah sakit.

  • Coba terapkan terapi nutrisi melalui makanan, yang masuk ke tubuh, karena memang tubuh dapat dengan sendirinya melawan penyakit yang datang (selama kondisi tubuh terjaga/imunitas), seperti kalau terserang flu makan mangga yang mengandung vitamin C dosis tinggi dan biasanya dalam satu hari kondisi tubuh membaik dan pencernaan pun menjadi lancar karena serat yang terkandung pada buah mangga tersebut. Jika sakit mengkonsumsi suplemen herbal atau makanan yang bergizi tinggi, maka tubuah akan jarang sekali sakit dan perkembangan motoriknya pun diatas rata2. Berhati-hatilah dengan antibiotik, bertahun2 menggunakan antibiotik imunitas tubuh dapat menurun dan kulit mengalami penipisan seperti albino, setelah menghentikan antibiotik dan tidak terlalu tergantung serta memperbaiki pola makan, kondisi kembali menjadi lebih baik dan imunitasnya membaik (harry.sufehmi.com » Blog Archive » Hati-hati antibiotik.htm)

Antibiotik adalah kelas obat-obatan yang digunakan dalam mengubati penyakit berjangkit yang disebabkan oleh kuman bakteria. Antibiotik bertindak dengan cara membunuh bakteria (Bakterisid) atau mengambat pertumbuhan bakteria (Bakteriostatik) membolehkan sistem ketahanan tubuh memusnahkannya.

Penemuan dan penciptaan antibiotik bermula pada tahun 1935 dianggap sebagai obat ajaib karena dapat membunuh bakteria dan seterusnya menyelamat penduduk dunia daripada kesengsaraan. Hasil penemuan ini didapati berupaya mengurangkan kematian manusia akibat jangkitan penyakit yang diperhatikan pada abad 18 hingga 20 apabila seluruh dunia mengalami masalah penyakit berjangkit yang serius seperti penyakit kelamin, penumonia, , meningitis, wabak bubonik, batuk kering, demam kuning, tifus yang telah membunuh jutaan manusia.

Bagaimanapun, pakar perubatan kini menjadi serius menanggapi rintangan bakteri terhadap antibiotik. Fenomena ini amat penting karena apabila bakteria menjadi rintang atau tidak sensitif terhadap antibiotik tertentu. Apabila ini berlaku maka obat tersebut tidak lagi berkesan terhadap penyakit atau kelompok penyakit tertentu yang berlaku dalam sesuatu kawasan. Masalah ini telah menyebabkan banyak pasien gagal disembuhkan oleh antibiotik tersebut.

Hal utama masalah ini adalah disebabkan oleh pengunaan antibiotik secara tidak rasional oleh pegawai medis atau pasien seperti menggunakan pada penyakit yang tidak memerlukannya.

Setengah antibiotik pula diperolehi oleh masyarakat luas dari toko farmasi komuniti atau sumber-sumber lain tanpa preskripsi atau nasihat doktor.

Perbuatan ini adalah menyalahi undang-undang. Kegagalan mengubati penyakit berjangkit menggunakan antibiotik pilihan akan membawa bencana kepada rakyat sesebuah negara. Dalam hal ini, antibiotik memainkan peranan yang amat penting dalam meningkatkan tahap kesehatan rakyat.

Tambahan pula, kebanyakan negara dunia sering diancam oleh penyakit berjangkit menerusi masalah kemiskinan, pemakanan tidak seimbang, sanitasi yang buruk dan keadaan kawasan perumahan yang tidak baik.

Justeru itu adalah disarankan supaya kedua-dua belah pihak iaitu pegawai medis dan orang ramai dapat menggunakan obat antibiotik dengan betul.

c. Panduan

Di bawah ini adalah garis panduan umum untuk orang ramai semasa menggunakan antibiotik, yaitu:

  1. Antibiotik hanya boleh didapati melalui resep yang sah.
  2. Antibiotik yang diresepkan hanya boleh digunakan bagi penyakit berjangkit yang dialami pada masa itu saja.
  3. Makan antibiotik untuk jangka waktu yang disarankan hingga habis. Jangan berhenti mengambil obat walaupun anda telah sehat.
  4. Bagi antibiotik yang perlu diambil semasa perut kosong, ambil ubat 1/2 jam sebelum mengambil makanan atau 1 jam selepas makan. Ini adalah untuk memastikan keampuhan obat tersebut.
  5. Antibiotik dapat mengakibatkan keracunan. Oleh itu, simpanlah semua obat jauh daripada kanak-kanak. Buang semua kandungan obat lama atau yang tidak diperlukan.
  6. Antibiotik hanya berkesan jika diambil seperti yang telah disarankan oleh doktor atau ahli farmasi.

Berkonsultasi dengan doktor atau ahli farmasi segera jika anda mengalami efek sampingan selama mengkonsumsi antibiotik. Dr. Mohd. Izham Mohd. Ibrahim Pusat Racun Negara, USM. Kesan Salah Guna Ubat Antibiotik.html)

Minum antibiotik jangan sembarangan, umumnya dikonsumsi selama 3 hari. Bila tubuh merasa sehat padahal belum habis obatnya, bersiap jika mengalami resistensi, apalagi jika meminum antibiotik yang efeknya diatas antibiotik biasa, maka tubuh tidak dapat mengkonsumsi antibiotik biasanya, karena tubuh telah resisten. Jangan minum antibiotik jika hanya sakit ringan (antibiotik tidak lebih baik dari tidak menggunakannya. Tips buat minum antibiotik:
1. untuk yang di makan 2 kali sehari jarak waktu minum antibiotik 12 jam
2. untuk yang di makan 3 kali sehari jarak waktu minum antibiotik 8 jam
3. untuk yang di makan 4 kali sehari jarak waktu minum antibiotik 6 jam

Bakteri Semakin Kebal Antibiotik | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *