eksistensi bahasa arab dan karakteristik bahasa arab

eksistensi bahasa arab  dan karakteristik bahasa arab
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bahasa Arab merupakan bahasa ilmu pengetahuan yang telah melahirkan karya-karya besar dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, filsafat, sejarah, sastra dan lain-lain, bahkan lebih dari itu dapat dianggap pula sebagai peletak dasar bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan modern yang berkembang cepat pada saat ini. Disamping itu bahasa Arab juga sebagai penerus filsafat dan kebudayaan Yunani kedunia Barat dan sebagai bahasa yang dipakai dalam hubungan internasional yang kedudukannya lebih dimantapkan setelah dinyatakan sebagai bahasa resmi dalam kegiatan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Dalam hal ini pemakalah akan menjelaskan mengenai eksistensi dan karakterisrik bahasa Arab baik sebagai bahasa agama, bahasa ilmu pengetahuan. Memahami Al Qur’an, Al Hadits, kitab-kitab Tafsir, Fiqih, Ilmu Kalam, Tasawuf dan cabang-cabang pengetahuan agama Islam yang lain mutlak memerlukan penguasaan bahasa Arab, bahkan peribadatan di dalam Islam pun sepenuhnya dilakukan dalam bahasa Arab, sehingga dengan demikian bahasa Arab sebagai bahasa yang menjadi kebutuhan utama setiap muslim.
Dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di dunia, bahasa Arab telah memberikan sumbangan besar dan memegang peranan penting. Dikala dunia Barat pada zaman abad pertengahan masih diliputi suasana kegelapan, disaat itu ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani telah disimpan dalam bahasa Arab dalam bentuk terjemahan, sehingga karena hampir semua buku-buku ilmu pengetahuan yang kenamaan diwaktu itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, maka bahasa Arab dalam dunia keilmuan dikenal sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Pada masa kebangkitan (Renaissance) di Barat, bahasa Arab ini berperan sebagai penghubung antara Yunani Kuno dengan Eropa modern dengan jalan menterjemahkan kembali buku-buku ilmu pengetahuan dari bahasa Arab kedalam bahasa bangsa-bangsa Barat.
 
B.    Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah eksistensi bahasa arab ?
2.      Apa sajakah karakteristik bahasa arab ?
 
C.    Tujuan Makalah
1.      Mengetahui eksistensi bahasa arab
2.      Memahami karakteristik bahasa arab
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB II
PEMBAHASAN
 
A.    Eksistensi Bahasa Arab
Bahasa Arab (اللغة العربية) adalah salah satu bahasa Semitik Tengah. Bahasa Arab memiliki lebih banyak penutur daripada bahasa-bahasa lainnya dalam rumpun bahasa Semitik. Ia dituturkan oleh lebih dari 280 juta orang sebagai bahasa pertama, yang mana sebagian besar tinggal di Timur Tengah dan Afrika Utara. Hingga saat ini bahasa Arab merupakan bahasa resmi tidak kurang dari 25 negara di dunia dan salahsatu bahasa internasional yang digunakan secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bahasa arab selama 14 abad lamanya merupakan tempat bagi peradaban islam di belahan dunia Timur dan Barat.[1]
Bahasa arab merupakan bahasa yang istimewa di dunia ini seperti yang kita ketahui bahwasanya bahasa arab tidak hanya merupakan bahasa peradaban, melainkan juga sebagai bahasa persatuan umat islam di dunia. Bahasa arab merupakan bahasa al-Qur’an (firman Allah atau kitab pedoman umat islam) yang memiliki sastra sangat mengagungkan manusia dan manusia tidak mampu menandingi, hal ini berdampak pada kemunculan superioritas sastra dan filsafat bahkan pada sains seperti ilmu matematika, kedokteran, ilmu bumi, serta tata bahasa arab pada masa kejayaan islam setelahnya.[2]
Menurut Abdul Alim Ibrahim bahasa arab adalah bahasa orang arab sekaligus juga merupakan bahasa islam,[3] karena bahasa selain bahasa arab tidak dapat diandalkan untuk memberikan kepastian arti yang tersurat dan tersirat dari makna yang terkandung dalam al-Qur’an, maka kaedah-kaedah yang diperlukan dalam memahami al-qur’an bersendi atas kaedah-kaedah bahasa arab, memahami asas-asasnya, uslub-uslubnya, dan mengetahui rasa-rasanya.[4] Populernya bahasa arab seiring dengan perkembangan Islam. Bahasa Arab dan Islam tidak bisa dipisahkan karena adanya al-Quran. Al-Quran adalah kitab suci Agama Islam, agama terbesar dan paling banyak pengikutnya di dunia ini menggunakan bahasa Arab seperti ditegaskan dalam surat Yusuf ayat 2, yang artinya :
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” ( Q.S Yusuf ayat: 2 ).
Bahasa arab juga sering disebut mempunyai kepustakaan besar di semua bidang ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan filsafat dan matematika Yunani sampai ke barat melalui terjemahan dan tafsiran orang-orang arab. Bahasa arab juga pernah menjadi bahasa internasional dalam sejarah, sampai masa sekarang bahasa arab masih tetap bertahan keinternasionalannya sejajar dengan kedua bahasa internasional modern yakni bahasa inggris dan bahasa perancis, ribuan karya monumental semisal al-qanun fi al-thib (aturan dalam kedokteran), al-madkhal ila ‘ilm al-nujum (observasi pergerakan bintang), maqashid al-falasifah (tujuan para filosof), serta segudang literatur lain yang dijadikan referensi di banyak universitas di Eropa.[5]
Keinternasionalan bahasa Arab tidak terlepas dari keuniversalan Al-Quran dan Islam. Namun bahasa Arab juga punya peran terhadap penyatuan wilayah-wilayah yang sudah “Islamized”. Penyatuan bahasa merupakan faktor dominan dan lebih kuat dari pada kesatuan agama. Karena ada beberapa negara yang mempunyai satu agama harus terpecah keyakinannya hanya karena mempunyai bahasa yang berbeda-beda.
Kontribusi yang paling besar dari bahasa arab kepada dunia adalah hal penulisan angka. Inggris yang mempunyai jajahan terbanyak sehingga disebut sebagai bahasa dunia mengakui menggunakan Bahasa Arab dalam hal penulisan angka “Arabic numeral”. Hal ini juga menggeser dominasi angka romawi yang kurang realistis. Selain itu, bahasa arab juga mampu menggeser dominasi bahasa-bahasa yang lebih dulu eksis di suatu daerah tertentu seperti: bahasa Aramiyah dan bahasa Yunani di Syiria, Iraq, dan sebagian mesir, bahasa Qibti dan bahasa Latin di Mesir, bahasa barbar di utara Afrika, bahasa Persia di Persia.
Keluasan bahasa arab juga bisa dirasakan pada negara-negara yang tercelup dalam kebudayaan yang beridentitas arab atau negara-negara yang berpenduduk muslim seperti Pakistan, Afganistan, Melayu, Indonesia, Mauritania, Nigeria, Somalia dan lain sebagainya. Oleh karena itu tidak berlebihan, jika seharusnya di Indonesia yang mempunyai jumlah muslim terbesar di dunia mampu mencetak koran atau majalah berbahasa arab dari pada koran atau majalah berbaha inggris.
Akhir-akhir ini, bahasa Arab merupakan bahasa yang peminatnya cukup besar di Barat. Di Amerika misalnya, hampir tidak ada satu perguruan tinggi pun yang tidak menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu mata kuliah. Termasuk perguruan tinggi Khatolik atau Kristen, tentu saja dengan berbagai maksud dan tujuan mereka dalam mempelajarinya. Sebagai contoh, Harvard University, sebuah universitas swasta  paling terpandang di dunia yang didirikan oleh para petinggi dan pemuka Protestan. Demikian pula Georgetown University, sebuah universitas swasta Khatolik, keduanya mempunyai pusat Studi Arab yang kurang lebih merupakan Center for Contemporary Arab Studies.
Di masa Daulah Abbasiyyah yang ketika itu peradaban Islam mulai berkembang, bahasa Arab menjadi bahasa internasional. Bahasa Arab menjadi bahasa peradaban yang ditandai dengan diterjemahkannya berbagai buku dari bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab. Dengan bahasa Arab pula, para sarjana Islam menulis berbagai karya dalam bidang kedokteran, teknik, matematika, sains, dan berbagai bidang ilmu yang lain. Bahasa Arab merupakan pengantar ilmu-ilmu tadi  ke wilayah Eropa sehingga menjadi pondasi peradaban Eropa modern.
Setelah masa keemasan itu berlalu, bangsa Arab mulai mengalami masa kemunduran. Mereka mulai menjauh dari agama mereka, meninggalkan bahasa Arab baku, dan beralih pada berbagai dialek. Kemudian, tibalah masa penjajahan, di masa ini penjajah menggerus kebudayaan  Islam dan penggunaan tata bahasa Arab baku. Mereka bersungguh-sungguh menanamkan penggunaan beragam dialek sehingga muncullah dialek Mesir, Maghrib(Afrika Utara), dan Suriah. Demikianlah realita yang terjadi. Inilah sebab terpecahnya bangsa Arab serta menjauhnya mereka satu sama lain, yang tampak apabila seorang Arab berkunjung ke wilayah Arab yang lain, dia akan kesulitan  berkomunikasi dengan penduduk lokal jika mereka berbicara menggunakan dialeknya. Komunikasi tidak bisa berjalan lancar antara kedua belah pihak, kecuali jika digunakan bahasa Arab baku.
Kondisi di masa kini telah berubah, bahasa arab merosot dalam dialek-dialek. Sebagian orientalis heran terhadap penutur bahasa arab, karena mereka mengabaikan bahasanya dan mengabaikan ekspresi dengan bahasanya serta mengabaikan kaidah-kaidah nahwunya (sintaksis), sharaf (morfologi), tulisan-tulisan hurufnya dan kurangnya perhatian terhadap uslub-uslub bayan dan badi’. Sehingga para penyair arab berkata bahwa :
فسد الأمر كله فاترك الإعراب ان البلاغة اليوم لحن.
Artinya : segala urusan semuanya rusak, maka tinggalkanlah I’rob, sesungguhnya balaghoh pada saat ini lahn (kesalahan dalam I’rob).
Apabila kita bertanya-tanya tentang kemunduran itu dalam tataran pengetahuan tentang bahasa arab pada para penuturnya, hal itu disebabkan karena kurangnya perhatian pengajaran bahasa arab di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga di mesir, serta tidak ada penanganan tehadap kelemahan pengajaran bahasa arab. Menurut Dr. Usman Amin untuk memperbaiki kemunduran bahasa arab tersebut sebaiknya departemen pendidikan dan pengajaran membuat kurikulum pengajaran bahasa arab yang sesuai, memilih guru besar yang berkompeten dan membuat program pengajaran bahasa arab untuk siswa dasar dan menengah. [6]
 
B.     Karakteristik Bahasa Arab
Bahasa arab memiliki struktur tata bahasa yang sangat unik, ia mampu mengungkapkan suatu masalah dengan sangat jelas dan dengan kata-kata yang sangat hemat, pembentukan frasa, kalimat, dan kata-katanya sangat teliti. Kata-katanya disusun berdasarkan konsep kata dasar, kata kerja biasa tersusun dari tiga atau empat konsonan huruf misalnya K-T-B (kataba, dia menulis), kata kerja dasar ini bisa ditashrif (diubah-ubah) sebagaimana kata kerja dalam bahasa lain, kata kerja ini juga bisa digunakan bersama sejumlah tenses, modus, dan infleksi yang tidak kita temukan dalam bahasa lainnya.
Kata dasar, etimologi, makna asli, serta kata jadian merupakan esensi bahasa arab, dengan semua itulah berbagai konsep, obyek, dan pemikiran dapat dilukiskan dengan kata-kata, kata-kata baru tidak harus dipinjam dari bahasa lain, bila para pakar pandai mencari kata-kata baru untuk memperkaya bahasa arab maka seluruh manusia akan mahir berbahasa arab. Dengan demikian bahasa arab sangat cocok untuk menjelaskan berbagai peraturan serta konsep, terutama karena bahasa arab tidak terpengaruh oleh berlalunya waktu, di sinilah pentingnya upaya pelestarian bahasa arab di tengah-tengah umat islam.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas bahasa arab yang merupakan kelebihan dan tidak ada pada bahasa lainnya, diantaranya yaitu:[7]
a.       Jumlah huruf sebanyak 28 huruf dengan makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf) yang tidak ada dalam bahasa lainnya.
b.      I’rab yakni sesuatu yang mewajibkan keberadaan akhir kata pada keadaan tertentu, baik  itu rafa’, nashab, jar, maupun jazm yang terdapat pada isim (kata benda), dan juga pada fi’il (kata kerja).
c.       Ilmu ‘arudi (ilmu notasi syi’ir) yang mana dengan ilmu ini menjadikan syi’ir berkembang dengan perkembangan sempurna.
d.      Bahasa ‘ammiyah dan fush-ha, bahasa ‘ammiyah digunakan dalam berinteraksi jual beli atau berkomunikasi dalam situasi non formal, sedangkan bahasa fush-ha adalah bahasa sastra dan pembelajaran, serta bahasa resmi yang digunakan dalam percetakan.
e.       Adanya huruf dhad yang tidak ada pada bahasa lainnya.
f.       Kata kerja dan gramatikal yang digunakan selalu berubah sesuai dengan subjek yang yang menghubungkan dengan kata kerja tersebut.
g.      Tidak adanya kata yang bersyakal  dengan syakal yang sulit dibaca.
h.      Tidak adanya kata yang mempertemukan dua huruf mati secara langsung.
i.        Sedikit sekali kata-kata yang terdiri dari dua huruf (al-alfadz al-tsuna’iyyah), kebanyakan tiga huruf kemudian ketambahan lagi 1, 2, 3, atau 4 huruf.
j.        Tidak adanya empat huruf yang berharakat secara terus menerus, di samping aspek-aspek lain yang termasuk dalam ranah deep structure (al-bina’, al-dahily) baik segi fonologi, dan kamus.
Predikasi dalam bahasa arab cukup dengan mengadakan hubungan mentalistik, antara musnad dan musnad iaih tanpa memerlukan keterusterangan dengan hubungan ini, baik secara lisan maupun tulisan. Sementara itu, predikasi mentalistik ini tidak cukup dalam bahasa Indo-Eropa, itulah fiil kainunah dalam istilah mereka. Dalam bahasa-bahasa itu mereka menamakannya robithoh (konektor), copule dalam bahasa Perancis, dan kopula dalam bahasa Inggris yang berfungsi menghubungkan musnad dan musnad ilaih baik dalam kalimat positif maupun negatif.[8] Barangkali kegoncangan ini dalam bahasa-bahasa barat modern merupakan salah satu penyebab yang menjadi kebiasaan orang-orang barat, yaitu mereka mencari bukti kesaksian luar indawi bagi setiap masalah mentalistik yang mengandung shidq (kebenaran) atau kidzib (kebohongan) sebagaimana pendapat para ahli mantik bahasa arab.
Bahasa Arab memiliki karakteristik yang unik dan universal. Dikatakan unik karena bahasa Arab memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lainnya, sedangkan universal berarti adanya kesamaan nilai antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Adapun beberapa ciri-ciri khusus bahasa Arab yang dianggap unik dan tidak dimiliki bahasa-bahasa lain di dunia, terutama bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut: [9]
1.      Aspek bunyi
Bahasa pada hakekatnya adanya bunyi, yaitu berupa gelombang udara yang keluar dari paru-paru melalui pipa suara dan melintasi organ-organ speech atau alat bunyi. Bahasa Arab, sebagai salah satu rumpun bahasa Semit, memiliki ciri-ciri khusus dalam aspek bunyi yang tidak dimiliki bahasa lain, terutama bila dibandingkan dengan bahasa Indonesia atau bahasa-bhasa daerah yang banyak digunakan di seluruh pelosok tanah air Indonesia. Ciri-ciri khusus itu adalah:
·         Vokal panjang dianggap sebagai fonem (أُو ، ِي ، أَ ).
·         Bunyi tenggorokan (أصوات الحلق), yaitu ح dan ع
·         Bunyi tebal ( أصوات مطبقة), yaitu ض , ص , ط dan ظ .
·         Tekanan bunyi dalam kata atau stress (النبر )
·         Bunyi bilabial dental (شفوى أسنـانى ), yaitu ف
2.      Aspek  Kalimat
·         I’rob
Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki sistem i’râb terlengkap yang mungkin tidak dimiliki oleh bahasa lain. I’râb adalah perubahan bunyi akhir kata, baik berupa harakat atau pun berupa huruf sesuai dengan jabatan atau kedudukan kata dalam suatu kalimat. I’râb berfungsi untuk membedakan antara jabatan suatu kata dengan kata yang lain yang sekaligus dapat merubah pengertian kalimat tersebut.
Contoh:
ما أحسنَ خالداً  artinya alangkah baiknya si Khalid                                
ما أحسنُ خالدٍ    artinya apa yang baik pada si Khalid?      
ما أحسنَ خالدٌ   apa yang diperbuat baik oleh si Khalid        
·         Jumlah Fi’liyyah dan Jumlah Ismiyyah
Komponen kalimat dalam bahasa apapun pada dasarnya sama, yaitu subyek, predikat dan obyek. Namun, yang berbeda antara satu bahasa dengan bahasa lainnya adalah struktur atau susunan (تركيب) kalimat itu. Pola kalimat sederhana dalam bahasa Arab adalah :
  • اسم + اسم                                  
  • فعل + اسم
·         Muthâbaqah (Kesesuaian)
Ciri yang sangat menonjol dalam susunan kalimat bahasa Arab adalah diharuskannya muthâbaqah atau persesuaian antara beberapa bentuk kalimat. Misalnya harus ada Muthâbaqah antara mubtada’ dan khabar dalam hal ‘adad (mufrad, mutsannâ dan jama’) dan dalam jenis (mudzakkar dan muannats), harus ada Muthâbaqah antara maushûf dan shifat dalam hal ‘adad, jenis, i’râb (rafa’, nashb, jar), dan nakirah serta ma’rifah-nya. Begitu juga harus ada Muthâbaqah antara hâl dan shâhib al-hâl dalam ‘adad dan jenisnya.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
BAB III
PENUTUP
 
A.    Kesimpulan
Bahasa arab merupakan bahasa yang istimewa di dunia ini seperti yang kita ketahui bahwasanya bahasa arab tidak hanya merupakan bahasa peradaban, melainkan juga sebagai bahasa persatuan umat islam di dunia. Bahasa arab merupakan bahasa al-Qur’an (firman Allah atau kitab pedoman umat islam) yang memiliki sastra sangat mengagungkan manusia dan manusia tidak mampu menandingi, hal ini berdampak pada kemunculan superioritas sastra dan filsafat bahkan pada sains seperti ilmu matematika, kedokteran, ilmu bumi, serta tata bahasa arab pada masa kejayaan islam setelahnya.
Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas bahasa arab yang merupakan kelebihan dan tidak ada pada bahasa lainnya, diantaranya yaitu:
a.       Jumlah huruf sebanyak 28 huruf dengan makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf) yang tidak ada dalam bahasa lainnya.
b.      I’rab yakni sesuatu yang mewajibkan keberadaan akhir kata pada keadaan tertentu, baik  itu rafa’, nashab, jar, maupun jazm yang terdapat pada isim (kata benda), dan juga pada fi’il (kata kerja).
c.       Ilmu ‘arudi (ilmu notasi syi’ir) yang mana dengan ilmu ini menjadikan syi’ir berkembang dengan perkembangan sempurna.
d.      Bahasa ‘ammiyah dan fush-ha, bahasa ‘ammiyah digunakan dalam berinteraksi jual beli atau berkomunikasi dalam situasi non formal, sedangkan bahasa fush-ha adalah bahasa sastra dan pembelajaran, serta bahasa resmi yang digunakan dalam percetakan.
e.       Adanya huruf dhad yang tidak ada pada bahasa lainnya.
f.       Kata kerja dan gramatikal yang digunakan selalu berubah sesuai dengan subjek yang yang menghubungkan dengan kata kerja tersebut.
g.      Tidak adanya kata yang bersyakal  dengan syakal yang sulit dibaca.
h.      Tidak adanya kata yang mempertemukan dua huruf mati secara langsung.
i.        Sedikit sekali kata-kata yang terdiri dari dua huruf (al-alfadz al-tsuna’iyyah), kebanyakan tiga huruf kemudian ketambahan lagi 1, 2, 3, atau 4 huruf.
 
DAFTAR PUSTAKA
Al Hasyimiy Ahmad, Al-Qawaa’id al Asasiyyah li Lughoh al-‘Arabiyyah. (Bairut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah,1354 H).
‘Alim Ibrahim Abdul, Al Muwajjih al Fanni li Mudarrisii al Lughoh al ‘Arabiyyah, (Al-Qahirah:Dar al Ma’arif,1978).
Amin Usman, Falsafah Al-Lughoh Al-‘arabiyah, (Bandung: PSIBA Press, 1965).
Ash-Shiddieqy Habsyi, Falsafah Hukum Islam, (Jakarta:Bulan Bintang,1975).
Hermawan Acep, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011).
Machmudah Umi, Abdul Wahab Rosyidi, Active learning dalam pembelajaran bahasa arab, Malang, uin malang press 2008 cet-1.
Matsna Moh, Karakteristik dan Problematika Bahasa Arab, dalam Jurnal Arabia Vol. I Nomor 1/April-September 1998. (Depok: Prodi Arab Fakultas Sastra UI, 1998).
Mutholib Abdul, Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab, (Stain Kudus: 2009).
 
               

 


[1] Abdul Mutholib, Pengembangan Kurikulum Bahasa Arab, (Stain Kudus: 2009). Hal. 1

[2] AhmadAl Hasyimiy, Al-Qawaa’id al Asasiyyah li Lughoh al-‘Arabiyyah. (Bairut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah,1354 H).

[3] Abdul ‘Alim Ibrahim, Al Muwajjih al Fanni li Mudarrisii al Lughoh al ‘Arabiyyah, (Al-Qahirah:Dar al Ma’arif,1978)hal 48.

[4] Hasbi Ash-Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, (Jakarta:Bulan Bintang,1975).

[5] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya,2011), hlm.83.

[6] Usman Amin, Falsafah Al-Lughoh Al-‘arabiyah (Bandung: PSIBA Press, 1965). Hal: 71.

[7] Active learning dalam pembelajaran bahasa arab, Umi machmudah dan Abdul wahab rosyidi malang, uin malang press 2008 cet-1 hal 7

[8] Usman Amin, Falsafah Al-Lughoh Al-‘arabiyah (Bandung: PSIBA Press, 1965). Hal:20.

[9] Moh. Matsna, Karakteristik dan Problematika Bahasa Arab, dalam Jurnal Arabia Vol. I Nomor 1/April-September 1998. (Depok: Prodi Arab Fakultas Sastra UI, 1998). hlm. 3-11

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *