Formulasi Agama di Makkah ; Hanifiyyah; Egaliterisme

Formulasi Agama di Makkah ; Hanifiyyah; Egaliterisme

 

BAB I PENDAHULUAN

 

 

  1. Latar Belakang Masalah

 

Sebelum Islam lahir, kondisi masyarakat Mekkah berada pada masa kegelapan  yang  disebut  masa  Jahiliah.  Istilah  jahiliyah  yang  biasanya diartikan sebagai masa kebodohan, sebenarnya memiiki arti bahwa ketika itu orang-orang Arab tidak memiliki otoritas hukum, nabi, dan kitab suci. Pengertian ini dipilih karena kita tidak dapat mengatakan masyarakat Arab yang berkebudayaan dan bisa baca tulis sebagai masyarakat  yang bodoh. Mereka bukan bodoh pada pengetahuan karena mereka mahir dalam bidang ekonomi perdagangan dan sastra. Meeka melainkan bodoh dalam hal agama dan kebenaran. Sehingga pada masa tersebut kondisi agama, politk, hukum dan sosial sangat rusak.

Pada masa Islam akan lahir, orang Arab mempunyai suatu pearayaan yang dikenal denga istilah Ayyamul Arab. Pada hari ini, sering terjadi permusuhan antar suku akibat persengketaan seputar hewan ternak, padang rumput, atau mata air, sehingga terjadi penyerangan dan perampokan, tanpa penumpahan darah. Pada masa tersebut mereka berperang dengan menggunakan syair yang dilontarkan di depan umum yang mana isi syair tersebut mengecam terhadap suatu kelompok suku tertentu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa gerakan keagamaan baru lahir dari kondisi Mekkah di masa Muhammad. Sebuah agama baru tidak mungkin lahir tanpa adanya motif yang memadai.1 Nabi Muhammad adalah Nabi terakhir yang diutus Allah SWT. Beliau berasal dari nasab yang mulia dari keturunan Nabi Ismail bin Ibrahim. Ibnu AL-Qayyim mengatakan: “Beliau (Nabi Muhammad) adalah orang yang paling baik nasabnya di dunia, diakui oleh lawan-lawannya.” Beliau diutus oleh Allah untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju alam yang terang bederang, menjadi penebar rahmat

bagi  sekalian  alam  dengan  menjadikan  perbaikan  akhlak  di  segla  bidang

 

 

 

 

1 W. Montgomery Watt, Muhammad Sang Negarawan (Jogjakarta: Diglosia, 2007), hlm. 19.

 

 

sebagai program andalan, dan membawa kabar gembira bagi umat yang mau menerima ajarannya serta peringatan bagi yang menolak.

Mengingat tugas beliau yang berat, yaitu memperbaiki wajah dunia yang telah coreng-moreng dengan kejahiliahan, maka Allah SWT memilih Muhammad sebagai manusia yang paling layak untuk menerima amanah ini dan   mempersiapkannya   dengan   berbagai   bekal   tanpa   disadari   oleh Muhammad kecil.2  Demikianlah terhimpun pada diri Muhammad dua kekuatan: kekuatan mental dan kekuatan fisik, dan pada waktu itu juga terhimpun pada dirinya antara berpikir panjang dan keraguan yang menakutkan, sampai beliau tersingkir dari keraguan dan menenangkan pikiran

yang benar yang bersumber dari fitrah  yang sehat dan perencanann  yang matang.3

Perjalanan dakwah Rasulullah SAW tidak berjalan mulus, beliau menghadapi berbagai macam rintangan dan cobaan dalam menghadapi masyarakat jahiliyah. Di samping sifat-sifat negatif yang dimiliki oleh masyarakat jahiliyah, mereka melakukan berbagai cara untuk menghentikan dakwah Rasulullah, mulai dari cara yang halus, setengah kasar sampai yang paling kasar, yaitu rencana sistematis pembunuhan asulullah SAW.

Untuk itu perlu kiranya kita mengetahui formulasi peradaban Islam awal di Mekah yang memfokuskan pembahasan makalah ini pada hanifiiyah.

 

 

  1. B. Rumusan Masalah

 

  1. Bagaimana historitass hanifiyyah?

 

  1. Bagaimana pengaruh Hanifiyyah pada masa awal?

 

 

 

  1. Tujuan Pembahasan

 

  1. Untuk mengetahui historitas Hanifiyyah

 

  1. Untuk mengetahui pengaruh Hanifiyyah pada masa awal

 

 

 

 

 

 

 

2 Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 37-38.

3 Muhammad Mustafa Atha, Sejarah Dakwah Islam (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1982), Hlm. 33.

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

 

  1. Historitas Hanifiyyah

 

Sebelum membahas hanifiyyah, perlu kiranya kita membahas kondisi keagamaan pra Islam. Adapun agama-agama tersebut meliputi:

  1. Kepercayaan Musyrik (Politheisme)

 

Bangsa  Arab  adalah  bangsa  yang  menyembah  berhala, kendatipun bangsa-bangsa yang berada di sekeliling mereka telah memeluk agayma Yahudi dan Nasrani. Dua agam tauhid (monotheisme) dan sangat menentang kepercayaan musyrik. Bangsa Arab memang semenjak dahulu kala telah menyembah berhala, karena sesuai dengan sistem masyarakat yang terdiri dari suku-suku, setiap suku menginginkan agar kepercayaan mereka berbeda dengan kepercayaan suku lain, dan setiap angota suku hidup dan matinya untuk kepentingan sukunya.Suku Auz dan Khajraj menyembah Manath, suku Kuraisyi menyembah „Uza,

suku Tsaqib menyembah Lata dan suku Humaizah menyembah Hubal.4

 

Penyembahan terhadap berhala tersebut disebut juga paganisme.5

 

Kemungkinan besar berhala dan penyembahan berhala ini masuk ke Semenangjung Arabia melalui Yaman atau Syam atau melalui daerah lain, yang mana keyakinan dan kepercayaan yang seperti itu dapat diterima oleh bangsa Arab karena sesuai dengan jiwa, taraf pendidikan

dan kehidupan merekayang nomaden.6

 

Bangsa arab yang hidup ditengah padang pasir, hidup terpencil dari   masyarakat   bangsa  lain,   hidup   bersuku-suku,   merasa  bangga terhadap apa yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Maka sikap inilah yang menyebabkan mereka hidup terpencil dan lama menyembah

berhaladan  tidak  terpengaruhi  oleh  ajaran  agama  yang  lebih  maju,

 

 

 

 

 

 

4 Muhammad Mustafa Atha, Sejarah Dakwah Islam (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1982), Hlm.13

5 Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab (Jakarta: Logos, 1997), hlm. 8.

6 Muhammad Mustafa Atha, Sejarah Dakwah Islam, Hlm 14

 

 

bahkan mereka sangat menetang terhadap ajaran tauhid, baik yang datang dari luar atau dari kalangan mereka sendiri.7

  1. Agama Yahudi

 

Kepercayaan politheisme inilah yang tersebar luas di seluruh Semenanjung Arabia, namun agama lain masih dapat hidup di samping kepercayaan  yang  ada,  ialah  agama  Yahudi  yang dianut  oleh bangsa Yahudi dan ajarannya memang cocok dengan watak bangsa itu.8

Orang    Yahudi    sangat    fanatik    terhadap    bangsanya,    dan

 

menganggap bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan. Karena keyakinan inilah orang Yahudi dapat mempertahankan keturunannya dan agamanya.  Melalui  pergaulan inilah  orang  Arab  membuka mata,  dan lahirlah keinginan untuk mengenal ajaran agama Yahudi, yang mengakibatkan goyahnya kepercayaan mereka terhadap pahala. Dan karena inilah pula sebagai pembuka jalan untuk mempermudah mereka menerima ajaran tauhid dari agama baru.

Ada seagian orang Arab yang langsung bertukar pikiran dengan orang   Yahudi   tentang   ajaran   agama   Yahudi,   mereka   telah   pula mendengar cerita-cerita rakyat Yahudi atau dari kitab suci Taurat. Kendatipun orang Yahudi tidak begitu dalam pengetahuan agamanya, dan pergaulan mereka sangat terbatas dengan bangsa Arab, namun orang Yahudi telah dapat memperkenalkan agama Yahudi yang bersifat monotheisme yang sangat menetang penyembahan berhala, hal ini cukup

menggoyahkan keyakinan orang Arab terhadap sesembahannya.9

 

  1. Agama Nasrani

 

Agama Nasrani adalah agama yang kedua yang berkembang di Semenanjung Arabia sesudah agama Yahudi, agama yang dijadikan agama negara oleh kerajaan Romawi dan Etiopia. Penyebaran agama ini dilakukan dengan kekerasan dan senjata. Suku bangsa Arab yang memeluk agama Nasrani mempunyai peradaban dan kebudayaan yang

lebih   tinggi   dan   lebih   maju   daripada   bangsa   Arab   yang   masih

 

 

7 Ibid, Hlm 17

8 Ibid, Hlm 17

 

 

menyembah berhala. Agama Nasrani tidak hanya dianut oleh bangsa tertentu sebagaimana agama Yahudi, melainkan agama yang bisa dianut oleh siapa saja dan dari bangsa apa saja.10

Peranan sekelompok orang yang menyebarkan agama Nasrani ialah orang asing yang mana mereka memiliki ilmu pengetahuan luas tentang agama Nasrani dan ada pula diantara mereka yang mempunyai kedudukan penting di tengah masyarakat, baik karena pengalaman, kemampuan dan wibawanya sehingga orang Arab mendengar ucapan mereka itu dengan baik. Penyair-penyair Arab juga berperan dalam penyebaran agama Nasrani, seperti „Adi bin Zaid, Qais bin Suadah, dan Umayyah bin Tsalt. Selain itu, ada peran para pendeta (biara) yang mendorong bangsa Arab memeluk agama Nasrani dengan cara menyediakan pelayanan dan perlindungan bagi para musafir sehingga mereka merasa nyaman, tenang, dan dapat istirahat. Dengan begitu, para pendeta   tersebut   bisa   sambil   lalu   menceritakan   tentang   Isa   dan

mukjizatnya.11

 

Agama yang masih bertahan meskipun sudah banyak perubahan- perubahan   adalah   agama   Yahudi   dan   Nasrani.   Yaman   memiliki komunitas Nasrani yang cukup besar, demikian juga daerah Ghassan, Kabilah  Taghlib,  dan  Tha‟i. Sedangkan  Yatsrib  didiami  oleh  Yahudi dalam jumlah yang cukup banyak. Selain wilayah tersebut, keberadaan mereka hanya dalam skala personal.12

  1. Kepercayaan Monotheisme

 

Monotheisme ialah orang yang tetap mengikutijaran nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, mereka mempunyai kepercyaan yang berbeda dengan kepercayan orang Arab yang menyembah berhala. Mereka juga disebut Taibun atau Hanif atau Saibah.

Semenjak abad pertama Masehi bangsa Arab telah berhubungan dengan pemeluk agama Masehi, sewaktu mengadakan perdagangan ke

wilayah kerajaan Romawi dan negeri Habsya. Agama ini berkembang di

 

 

10 Ibid, Hlm. 19.

11 Ibid, Hlm. 19-22.

 

 

kalangan bangsa Arab pada abad ke-enam masehi. Beberapa kabilah menjadi pemeluknya,  yaitu kabilah Taqlib, Ghassasinah dan Qudhaah disebelah utara Jazirah Arabdan Yaman sebelah selatan.

Sebelum islam datang, bangsa Arab telah menganut agama yang mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan mereka. Kepercayaan ini diwarisi secara turun-menurun sejak Nabi Ibrahim dan Ismail. Al-Qur‟an menyebutkan agama itu dengan hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rezeki dan sebagainya.13

Agama  yang dibawa oleh  Nabi  Ibrahim  mempunyai  pengaruh

 

besar dalam kalangan bangsa Arab dan merupakan agama tauhid (monotheisme) yang sangat menentang penyembahan berhala. Bahkan agama Islam pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari agama Nabi Ibrahim, dan ajarannya tidak kita kenal lagi melainkan apa yang diceritakan di dalam Al-Qur‟an.14

هابتجا ومعنلأ اركاش ينكرشلما نم كي لمو افينح    لله اتناق ةمأ ناك ميىاربإ نإ نلم ةرخلأا في  ونإو ةنسح ايندلا في  هانيتأ و .ميقتسلما طارص لىإ هادىو

.ينكرشلما نم ناك امو افينح ميىاربإ ةلم عبتا نأ كيلإ انيحوأ ثم  .ينلحاصلا

Artinya:  “Sesungguhnya  Ibrahim  adalah  seorang  Imam  yang  dapat

 

dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan. (Lagi) yang mensyukuri  nikmat-nikmat  Allah.  Allah  telah  memilihnya  dan memimpinnya kepada jalan yang lurus. Dan kami berikan kepadanya kebaikan di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat termasuk orang-orang yang shaleh. Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Ikutilah agama Ibraim seorang  yang  hanif  dan  bukanlah  dia  termasuk orang- orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Q. S. An-Nahal 120-123).

Kepercayaan  kepada  Allah  tersebut  tetap  diyakini  oleh  bangsa

 

Arab sampai kerasulan Nabi Muhammd saw. Hanya saja keyakinan itu

 

 

13 Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah (Malang: UIN-MALANG PRESS,

2008), Hal 62.

14Muhammad Mustafa Atha, Sejarah Dakwah Islam, Hlm. 22-23.

 

 

dicampur-baurkan  dengan  takhayul  dan  kemusyrikan,  menyekutukan Allah  dengan  sesuatu  dalam  menyembah  kepada-Nya,  seperti  jin,  roh hantu, bukan, matahari, tumbuh-tumbuhan, berhala, dan lain sebagainya. Kepercayaan yang menyimpang dari agama hanif itu disebut agama watsaniyah.

Watsaniyah yaitu agama yang mempersekutukan Allah dengan mengadakan penyembahan kepada : aushab (batu yang dibentuk menjadi patung) dan ashaam (patung yang terbuat dari kayu, emas, perak, logam, dan semua patung yang terbuat dari batu).15

Ketika Nabi  Muhammad  diutus,  Arab  hampir tenggelam  dalam

 

keercayaan jahiliah. Sisa-sisa penganut agama Ibrahim sangat langka dan tidak kedengaran lagi suaranya. Virus kepercayaan jahiliah begitu dahsyat sehingga merambah hampir semua lapisan masyarakat. informasi tentang kepercayaan mereka dapat kita lihat dalam Al-Qur‟an, di antaranya:16

1)  Orang Arab Musyrikin menyembah Tuhan-Tuhan yang mereka yakini sebagai perantara yang dapat memberikan syafaat untuk mereka kepada Allah. Mereka tahu siapa Allah, tetapi mereka meminta syafaat kepada Tuhan-tuhan palsu.

2)  Taklid mereka sangat kuat dengan apa yang dilihat dari orang tua dn nenek moyang mereka.

3)  Kerusakan dalam bidang akidah berimplikasi kepada rusaknya ibadah, tingkah laku, syiar, dan syariat yang mereka lakukan.

4)  Masuknya unsur berhala dalam ritul haji. Mereka meletakkan patung- patung di sekitar Kakbah, mereka thawaf di sekitarnya dan kadang- kadang tanpa mengenakan sehelai kain pun.

5)  Persepsi  mereka  tentang  Allah  sangat  sempit  dan  picik.  Mereka bergeser   dari   kebenaran   tentang   Asma   dan   sifat   Allah,   lalu memasukkan unsur-unsur yang tidak layak dialamatkan kepada Allah, seperti Allah punya anak dan memiliki kebutuhan, para malaikat adalah

anak  perempuan  Allah,  menjadikan  jin  sebagai  sekutu  bagi  Allah,

 

 

15 Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, Hal 62.

16 Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 41-

42.

 

 

mengingkari   qadar,   tidak   percaya   dengan   hari   berbangkit,   dan menuding masa sebagai faktor turunnya musibah.

6)  Menambah dan mengurangi ajaran ibadah sesuai dengan hawa nafsu dan kehendak mereka.  Mereka tidak  wukuf sebagaimana orang lain wukuf. Mereka berpandangan bahwa umrah di bulan haji adalah perbuatan dosa besar. Di antara tambahan ibadah yang mereka lakukan di masjidil haram adalah sembahyang dengan siulan dan tepuk tangan. Hal lain, mempersembahkan sesajen untuk patung-patung sebagai penghormatan buat patung-patung tersebut, bersumpah atas nama Lata, Uzza, dan seterusnya.

7)  Bidang akhlak dan budaya yang ada pada mereka antara lain: Bangga dengan garis keturunan, mencela nasab, meminta hujan dengan pertolongan bintang, berteriak-teriak menghadapi kematian, mencela seseorang dengan membawa-bawa nama orang tua, sombong dengan posisi mereka sebagai penguasa Masjidil Haram, mengagungkan dunia, harta, dan pemiliknya, dan menganggap rendah orang-orang fakir dan lemah. Praktik perdukunan marak di kalangan mereka. Mereka juga meminta perlindungan dengan jin karena takut dengannya.

Di samping kelompok Yahudi dan Nasani, Kelompok beragama lain yang ada (meskipun dalam jumlah kecil) adalah hunafa‟. Mereka tidak menyembah  berhala  dan  hanya  menyembah  Allah  Yang  Maha  Esa. Sebagian mereka berasal dari Ahli Kitab dan yang lain menganggap bahwa mereka menganut agama Ibrahim as. Yang menunggu datangnya Nabi terakhir.17

Agama hanifiyyah adalah  merealisasikan  tauhid  dengan  sebenar-

 

benarnya   dan   memurnikan   kecintaan   kepada   Allah   semata.   Itulah agama hanifiyyah, millah (agama)  Nabi  Ibrahim,  agama  fitrah  yang  di atasnyalah manusia diciptakan oleh Allah. Dengan fitrah ini, naluri setiap manusia senantiasa ingin mengenal Allah, mengesakan-Nya, mengagungkan-Nya, dan mencintai-Nya. Itulah agama hanifiyyah, agama

Nabi Ibrahim „alaihissalam yang Allah memerintah Nabi-Nya dan orang-

 

 

17 Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, hlm. 42-43.

 

 

orang  yang  beriman  agar  mengikuti  beliau „alaihissalam. Itulah  agama Ibrahim, agama yang mengantarkan seseorang kepada hidayah Allah sehingga  dia  berada  di  atas ashshirath al–mustaqim (jalan  yang  lurus). Itulah   agama hanifiyyah,   agama   yang   mudah   dan   penuh   toleransi.

Allah subhanahu wa ta‟ala berfirman:

 

ّ

مَ يىِرَبۡبِإ مكُ يِبَأ َةلَّلمِ

جرَحَ

نمِ

نِ يدِّ لٱ فيِ مكُ يَلعَ

لَ عَ جَ

امَوَ

 

 

Dia (Allah) sekali-kali     tidak     menjadikan     untuk     kalian     dalam agama ini suatu  kesempitan, millah (agama) bapak kalian,Ibrahim.” (Q.S. al-Hajj: 78).18

Seluruh hukum yang terdapat pada agama ini menunjukkan kesempurnaan ilmu dan hikmah.

Ibnu  Kalbi  menerangkan  bahwa  Rabi‟ah dan  Mudar  adalah  dua suku yang tetap melaksanakan ajaran Nabi Ibrahim. Buku-buku sejarah menyebut empat orang muwahiddin di kota Mekkah ialah Waraqah bin Naufal, Khalid bin Sanan, Zaid bin Nufail, dan Umayah bin Abi Salth.19

Waraqah bin Naufal adalah sepupu Khtijah yang meyakinkan Khatijah atas kenabian  Muhammad  SAW  dan  menjadi  pelopor  kelompok  Hanif.20

Tatkala sebagian masayarakat jahiliyah menyembah berhala, Waraqah ibn Naufal  bersama  Usman  ibn  Huwairis  menganut  agama  Masehi.21   Dia adalah seorang tua yang hafal Injil, yang percaya bahwa Muhammad adalah Nabi yang disebut dalam kitab suci itu.22

Seruan dan risalah yang disampaikan oleh Muhammad, putera Arab ini adalah seruan kenabian seperti yang disampaikan oleh nabi-nabi Ibrani lainnya yang disebutkan dalam perjanjian Lama. Inti ajarannya menegaskan bahwa Tuhan itu Esa. Karena mendapat perintah dan dipicu oleh tugas baru yang harus ia laksanakan sebagai seorang utusan (rasul) Allah, Muhammad

menemui   dan   berbaur   di   tengah   masyarakatnya   untuk   mengajar,

 

 

 

 

18 https://qonitah.com/agama-hanifiyyah/ diakses pada tanggal 13 September 2018

19 Muhammad Mustafa Atha, Sejarah Dakwah Islam,, Hlm. 24.

20 Philip K. Hitti, History Of The Arabsi, Terjemahan (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta), hlm. 142.

21   Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, hlm. 9.

22 Syamruddin Nasution, Sejarah Peradaban Islam (Riau: Yayasan Pusaka Riau, 2013), hlm. 17.

 

 

berdakwah,  dan  menyampaikan  risalah  barunya.  Pada  tahap  ini  beliau berperan sebagai nadzir sekaligus nabiy.23

 

 

  1. B. Pengaruh Hanifiyyah Pada Masa Awal

 

Selama fase terakhir periode Pra Islam, yang oleh kaum Muslim disebut periode jahiliyah (masa kebodohan), ketidak puasan dan kekosongan spiritual telah menyebar luas. Orang Arab dikepung dari semua sisi modern mulai menembus masuk ke Arab dari wilayah-wilayah yang berpenghuni; para saudagar yang bepergian ke Suriah atau Irak membawa pulang kisah- kisah mengagumkan tentang kehebatan peradaban.

Meskipun kehidupan keagamaan di kalangan bangsa Arab Jahiliyah beraneka ragam, tetapi menjelang kelahiran Islam, di tengah-tengah masyarakat Arab penyembah berhala terdapat sekelompok kecil orang berusaha mencari dan mengikuti ajaran monotheisme Nabi Ibrahim, hanifiyyah. Mereka dinamakan para hunafa‟ (mufrad: Hanif).24

Setelah ekonomi pasar mulai terbangun, pandangan orang Arab mulai

 

berubah. Banyak yang masih puas dengan aliran kuno memuja berhala, tetapi berkembang kecenderungan untuk menyembah satu Tuhan; dan kekhawatiran makin meningkat terhadap ketidakadilan peradaban baru yang berkembang di Mekkah. Sebagian orang Arab mulai mencari kebenaran, yang tidak puas dengan agama dominan bangsa Arab, yang berada dalam wilayah keyakinan yang lebih tinggi. Orang-orang ini disebut hanif, dan tampaknya percaya pada Tuhan Yang Maha Tinggi. Ini adalah upaya untuk menemukan bentuk monoteisme Yang lebih netral dan tidak ternoda kaitan imperialistik. Sejarahwan  Kristen  Palestina,  Sozomenos,  mengemukakan  kepada  kita bahwa pada awal abad kelima beberapa orang Arab di Suriah telah menemukan kembali apa yang mereka sebut agama asli Ibrahim, yang berkembang sebelum Tuhan menurunkan Taurat atau Injil dan, dengan demikian,   bukan   Yahudi   atau   Kristen.   Sebagian   sarjana   Barat   telah

menyatakan bahwa sekte hanifiyyah yang kecil ini adalah sebuah fiksi agama

 

 

 

23 Philip K. Hitti, History Of The Arabsi, Terjemahan (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta), hlm. 142.

24 Fadil SJ, Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, Hal 66

 

 

yang   menyimbolkan   kegelisahan   spiritual   zaman   jahiliah,   tetapi   pasti memiliki dasar pijakan yang faktual. Ada sebuah kisah bahwa pada suatu hari, sebelum meninggalkan Makkah menuju Suriah dan Irak untuk mencari agama Ibrahim, Zaid berdiri di sisi Ka‟bah, bersandar ke bangunan suci itu dan berkata kepada orang Quraisy yang sedang melakukan ritus mengelilinginya dalam cara yang sudah dilakukan sejak lama: “Wahai Quraisy, demi yang jiwa Zaid berada di tangannya, tak ada seorangpun dari kalian yang mengikuti agama Ibrahim kecuali aku.” Kemudian dengan sedih dia menambahkan, “Ya Tuhan, andaikan aku tahu bagaimana engkau ingin disembah, niscaya aku akan menyembahmu dengan cara itu; namun aku tidak tahu.”12 Kerinduan Zaid terhadap wahyu ilahi akhirnya terpenuhi di Gua Hira  pada  tahun  610  di  malam  ketujuh  belas  bulan  Ramadhan,  dengan

kenabian Muhammad.25

 

Adapun  perubahan-perubahan  yang  dialami  oleh  masyarakat  pra- Islam hingga gerakan hanifiyyah tersebar, ditinjau dari segi bidang perekonomian dan kemasyarakatan, bahwa kekuatan-kekuatan produktif terus berkembang, pekerjaan pemesanan kebutuhan semakin meluas, produksi pertanian bertambah dan produksi perindustrian diikat dengan pasar barter, kota-kota berkembang, perkampungan kecil berubah menjadi kota-kota yang maju, pasar musiman ditata rapi, perdagangan internal dan eksternal semakin menyimpul sehingga orang Arab semakin dekat, aktifitas perdagangan yang semakin giat dan proses tukar menukar barang (barter) dalam menyebarkan pertukaran keuangan yang meluas, mempercepat perubahannya, perubahan

hubungan darah dan keturunan antar generasi suku.26

 

Selain itu, inti hanifiyyah juga mempengaruhi terhadap perkembangan dakwah Rasulullah SAW. Sebagaimana kita ketahu bahwa untuk mencapai tujuan   dakwah,   Rasulullah   melakukan   dakwahnya   dengan   mengambil langkah-langkah   yang   bertahap,   meliputi   dakwah   secara   rahasia   yang

berlangsung  selama  tiga  tahun  dengan  dimulai  dari  keluarga  terdekatna

 

 

 

25 https://kajianfahmilquranhfd.wordpress.com/2013/07/22/millatu-ibrahim-ditanah-arab/

diakses pada taanggal 13 Sepember 2018.

26 http://watawasoubilhaqqi.blogspot.com/2017/11/melacak-akar-formulasi-agama-di- makkah.html diakses pada tanggal 7 September 2018

 

 

sendiri,  dan  dakwah  secara  terang-terangan  mulai  dari  tahun  keempat kenabian sampai akhir tahun kesepuluh kenabian.27 Berdasarkan hukum yang dianut hanifiyyah, dakwah Islam dilaksanakan secara damai, tanpa kekerasan kecuali memang memaksa, karena Islam merupakan agama yang mudah dan penuh toleransi.

Adapun  hanif  tersebut  berubah  dari  fenomena  (zahirah)  menjadi sebuah gerakan (harakah) karena kondisi sosial, ekonomi, politik, budaya dan aqidah yang mungkin atas perkembangan dan tegaknya agama tersebut. Dari sinilah dapat dikatakan bahwa agama hanif telah turut merwarnai perkembangan   masyarakat   Makkah   dengan   segala   kebutuhannya   dan bersama-sama   berkembang   memasuki   fase   baru,   sebuah   fase   yang

membentangkan atas munculnya agama Islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

27 Wahyu Ilahi dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, hlm. 48-49.

 

 

BAB III PENUTUP

 

 

  1. Kesimpulan

 

  1. Agama hanifiyyah adalah  merealisasikan    tauhid    dengan    sebenar- benarnya dan memurnikan kecintaan kepada Allah semata. Agama tersebut   muncul   sebagai   reaksi   penolakan   terhadap   penyembahan berhala. Sebelum islam datang, bangsa Arab telah menganut agama yang mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan mereka. Kepercayaan ini diwarisi secara turun-menurun sejak Nabi Ibrahim dan Ismail. Al-Qur‟an menyebutkan agama itu dengan hanif, yaitu kepercayaan yang mengakui keesaan Allah sebagai pencipta alam, Tuhan menghidupkan dan mematikan, Tuhan yang memberi rezeki dan sebagainya. Sebagian penganut hanifiyyah berasal dari ahli kitab seperti waraqah ibn Naufal, sepupu Khatijah. Bahkan agama Islam pada hakekatnya merupakan kelanjutan dari agama Nabi Ibrahim, dan ajarannya tidak kita kenal lagi melainkan apa yang diceritakan di dalam Al-Qur‟an.
  2. Pengaruh Hanifiyyah pada masa awal bisa dilihat dari segi perekonomian

 

dan kemasyarakat, serta perspektif dakwah Rasulullah SAW.

 

 

 

  1. B. Saran

 

 

Kami menyadari terdapat banyak kekurangan dalam makalah kami,

 

 

untuk itulah kami mengharapkan saran yang konstruktif dari para pembaca terutama dosen pengampu mata kuliah “Studi Peradaban Islam”.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

Atha, Muhammad Mustafa. Sejarah Dakwah  Islam. Surabaya: PT Bina Ilmu,

 

1982.

 

Fadil SJ. Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah. Malang: UIN- MALANG PRESS, 2008.

Hitti, Philip K. History Of The Arabsi, Terjemahan. Jakarta: PT Serambi Ilmu

 

Semesta.

 

Ilahi, Wahyu dan Harjani Hefni. Pengantar Sejarah Dakwah. Jakarta: Kencana,

 

2007.

 

Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos, 1997. Nasution, Syamruddin. Sejarah Peradaban Islam (Riau: Yayasan Pusaka Riau,

2013.

 

Watt, W. Montgomery. Muhammad Sang Negarawan. Jogjakarta: Diglosia, 2007. https://kajianfahmilquranhfd.wordpress.com/2013/07/22/millatu-ibrahim-ditanah- arab/

http://watawasoubilhaqqi.blogspot.com/2017/11/melacak-akar-formulasi-agama- di-makkah.html.

https://qonitah.com/agama-hanifiyyah/

About The Author

Saya adalah Bloger asal Malang yang menyukai kegiatan yang berhubungan dengan perkembangan IT, Design dan juga Pendidikan. Berupaya untuk selalu menebarkan kebermanfaatan bagi sesama.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *