KORUPSI DAN UPAYA PEMBERANTASANNYA DALAM PANDANGAN ISLAM

KORUPSI DAN UPAYA PEMBERANTASANNYA

DALAM PANDANGAN ISLAM

MAKALAH

TUGAS INI DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Pendidikan Agama Islam

Yang dibina oleh Bapak Moch. Wahib Dariyadi, M.Pd

 

 

Disusun Oleh :

Dany Tri Wulandari                      NIM 170331614076

Devy Aprilia Waty                        NIM 170331614068

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

PRODI S1 PENDIDIKAN KIMIA

Maret 2018

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Korupsi merupakan salah satu kasus yang tengah merajalela di negara kita, Indonesia. Kasus korupsi berada pada tingkatan tertinggi dari kasus-kasus yang tengah menghantui negara kita. Dari berbagai golongan, baik masyarakat biasa, para tokoh pemerintah, maupun para petinggi negara dapat dengan mudah terjerumus ke dalam lubang yang salah. Jabatan tinggi yang diperoleh di dunia seakan menjadi perantara syaitan untuk menggoda hawa nafsu manusia. Nikmatnya harta duniawi yang sesungguhnya tak abadi dapat membuat iman jadi goyah. Harta kekayaan jadi tujuan, amanah dilupakan. Para manusia, ketika menginginkan sesuatu, mereka akan berusaha untuk mendapatkannya. Tak peduli bagaimana caranya, menggunakan cara halal atau haram itu adalah pilihan. Harta kekayaan yang menjadi tujuan telah menutup mata hati. Hawa nafsu telah sulit untuk dikendalikan, keimanan semakin kian meluntur.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) korupsi adalah perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan lain sebagainya. Di dalam islam, tidak dikenal istilah korupsi. Bentuk-bentuk korupsi bermacam-macam, mulai dari kecurangan hingga penggelapan uang. Korupsi sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Korupsi seumpama kanker dalam darah, sehingga pemilik badan harus selalu melakukan “cuci darah” terus menerus jika ia menginginkan tetap hidup. Korupsi membaa dampak negatif bagi manusia, ketika korupsi sudah menjaid kebiasaan, maka iman akan semakin luntur, Sebagaui generasi muda marilah kita memperbaiki negara kita dan mari bersama-sama mengobarkan semangat “Anti Korupsi” untuk Indonesia yang lebih baik lagi.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, berikut ini dipaparkan rumusan masalah dalam makalah.

  1. Bagaimana pengertian, ragam, dan hukum korupsi dalam pandangan Islam?
  2. Bagaimana motif-motif korupsi?
  3. Bagaimana bahaya korupsi terhadap individu?
  4. Bagaimana upaya menumbuhkembangkan budaya anti korupsi?

 

  1. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan dalam makalah ini sebagai berrikut.

  1. Memahami pengertian, ragam, dan hukum korupsi dalam pandangan islam.
  2. Memaparkan motif-motif korupsi.
  3. Mengetahui bahaya korupsi terhadap individu.
  4. Menjelaskan upaya menumbuhkembangkan budaya anti korupsi.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian, Ragam, dan Hukum Korupsi Menurut Islam
  2. Pengertian Korupsi

Istilah Korupsi berasal dari bahasa Latin “corrumpere”, “corruptio”, “corruptus”. Dalam bahasa Inggris, kata tersebut diserap menjadi corruptiondari kata kerja corrupt yang berarti “jahat”, “rusak”, atau “curang”. Dalam Bahasa Perancis dikenal kata corruptionyang juga berarti “rusak”. Kata “korupsi” yang dipakai dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari bahasa Belanda korruptieyang berarti “curang” dan “jahat”. Secara istilah, korupsi mempunyai arti yang bermacam-macam. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), korupsi berarti perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan lain sebagainya. Istilah tersebut dikaitkan dengan perilaku jahat, buruk, atau curang dalam hal keuangan dimana individu berbuat curang ketika mengelola uang milik bersama. Oleh karena itu, korupsi diartikan sebagai tindak pemanfaatan dana publik yang seharusnya untuk kepentingan umum namun dipakai secara tidak sah untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Ini merupakan istilah korupsi yang lazim dipakai dalam istilah sehari-hari (Hasibuan, 2012).

UU RI Nomor 31 Tahun 1999 Pasal 2 ayat 1 juncto UU Nomor 20 tahun 2001  tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mengatakan bahwa korupsi secara terminologis adalah setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Terdapat dua unsur pokok dalam korupsi, yaitu penyalahgunaan kewenangan atau kekuasaan melampaui batas kewajaran hukum oleh para penjabat atau aparatur negara dan mengutamakan kepentingan pribadi atau klien di atas kepentingan publik oleh para penjabat atau aparatur negara yang bersangkutan. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diketahui beberapa kecurangan yang kerap sekali terjadi sekaligus termasuk dalam kategori korupsi, antara lain manipulasi, penyuapan, pungutan liar, mark up, dan sebagainya.

Dalam konteks ajaran Islam yang lebih luas, korupsi merupakan tindakan yang bertentangan dengan prinsip keadilan (al-‘adalah),akuntabilitas (al-amanah),dan tanggung jawab. Korupsi dapat dikategorikan sebagai perbuatan fasad, kerusakan dibumi, serta dikutuk oleh Allah SWT. Beberapa dalil-dalil yang dapat dirujuk untuk dijadikan sebagai dasar hukum korupsi adalah QS. Ali ‘Imron [3] ayat 161, hadis riwayat Abu dawud dari ‘Umar bin Khattab, hadis riwayat al-Bukhari dari Abi Hamid al-Sa’idi, dan hadist riwayat al-Turmuzi dari “Abdullah bin ‘Amar. Dalam konsepsi hukum Islam sangat sulit untuk mengkategorikan tindak pidana korupsi sebagai jarimah sirqah (pencurian). Hal ini disebabkan oleh beragamnya praktek korupsi yang umumnya ridak termasuk dalam definisi sirqah. Namun apabila salah satu kasus tindak pidana korupsi telah sesuai dengan ketentuan sirqah, maka tidak diragukan ia terkena ketentuan had sirqah dan pelakunya diberi hukuman potong tangan. Dalam kitab Fiqh al-Sunnah Sayid Sabiq dengan lugas mengkategorikan bahwa jika seseorang mengambil harta yang bukan miliknya secara sembunyi-sembunyi dari tempatnya maka itu dikategorikan sebagai pncurian, jika ia mengambil secara paksa dan terang-terangan, maka dinamakan merampok, dan jika ia mengambil sesuatu yang dipercayakan padanya, maka dinamakan khiynah.

 

  1. Bentuk-bentuk Korupsi

Di dalam pandangan Islma tidak dikenal irtilah korupsi, karena kata “korupsi” tidak berasal dari agama islam. Akan tetapi, dengan melihat arti korupsi yang telah  dijelaskan di atas, terdapat banyak istilah pelanggaran hukum dalam pandangan Islam yang dapat dikategorikan sebagai korupsi.

  1. Ghulul (Penggelapan)

Secara bahasa ghulul adalah “akhdzu syai wa dassuhu fi mata’ihi” yang artinya mengambil sesuatu dan menyembunyikannya dalam hartanya. Pada mulanya, ghulul merupakan istilah untuk penggelapan harta rampasan perang sebelum dibagikan kepada yang berhak. Kata “ghulul” menurut al-Rummani, berasal dari kata ghalal yang artinya masuknya air ke dalam sela-sela pohon. Khianat disebut ghulul karena memasukkan harta yang bukan miliknya secara tersembunyi dan samar dari jalan yang tidak halal (Ridha, 1990:175). Larangan melakukan penggelapan tertera dalam Q.S. Ali Imran : 161

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Risywah (Suap)

Istilah ini berasal dari kata rasyaa, yarsyuu, risywah yang berarti “menyuap” atau “menyogok”.Al-raasyiiadalah sebutan untuk orang yang menyuap, sedangkan al-murtasyiiadalah orang yang mengambil atau menerima suap. Sementara orang yang menjadi perantara antara pemberi dan penerima dengan menambahi di suatu sisi dan mengurangi di sisi lain disebut al-ra’isy. Umar bin Khattab mendefinisikan risywah sebagai sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada orang yang mempunyai kekuasaan (jabatan, wewenang) agar ia memberikan kepada si pemberi sesuatu yang bukan haknya.

Risywah dilarang oleh Al-Qur’an, hadis, dan ijma’ ulama. Larangan tersebut berlaku untuk semua pihak, baik untuk pemberi, penerima, maupun penghubung diantara keduanya. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Dari Abdullah bin Amr bin’Ash, dia berkata : Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima (minta) suap.” (HR. Abu Dawud dan Al Tirmidzi)

 

  1. Hadiyyah (gratifikasi)

Dalam fikih Islam diisebut hibah yang artinya pemberian sesuatu kepada orang lain atas dasar kerelaan dan tanpa mengharap sesuatu apapun selain ridha Allah SWT. Hibah diperbolehkan, bahkan dianjurkan dalam Islam. Rasulullullah SAW bersabda

“Saling memberi hadiahlah kalian, sesungguhnya hadiah itu dapat melunakkan hati yang keras” (HR. Al-Tirmidzi).

Namun hibah dapat menjadi haram hukumnya apabila untuk kepentingan tertentu, seperti memberi hadiah kepada penjabat, atasan, atau penguasa untuk mendapatkan keuntungan. Hadiah tersebut disebut dengan gratifikasi, yaitu uang hadiah kepada pegawai atau penjabat di luar gaji yang telah ditentukan untuk memuluskan proyek dan sebagainya.

“Hadiah bagi para pekerja adalah ghulul (korupsi)” (HR. Ahmad)

Gratifikasi yang diberikan kepada para penjabat atau atasan merupakan salah satu ebntuk korupsi yang banyak dilakukan di Indonesia. Bentuknya bermacam-macam ; tanah luas, perhiasan, rumah, uang tunai, dan sebagainya (Mas’udi, 2004)

 

  1. Sariqah (Pencurian)

Berasal dari bahasa Arab saraqa-yasriqu yang berarti “mencuri”. Merampok, merampas, mencopet, memalak juga termasuk ke dalam kategori mencuri. Dalam hukum islam perbuatan mencuri termasuk dalam kategori dosa besar yang dalam batas tertentu pelaku harus di hukum dengan cara dipotong tangannya.

 

  1. Khiyanah (Khianat/kecurangan)

Khiyanah (khianat) adalah perbuatan tidak jujur, melanggar janji, melanggar sumpah, atau melanggar kesepakatan. Ungkapan khianat  juga digunakan untuk seseorang yang melanggar atau mengambil hak-hak orang lain, dapat dalam bentuk pembatalan sepihak perjanjian yang dibuatnya, khususnya dalam masalah mu’amalah. Khianat juga ditujukan kepada orang-orang yang mengingkari amanat politik, ekonomi, bisnis, sosial, dan pergaulan. Allah SWT sangat membenci dan melarang perbuatan khianat, sebagaimana firmanNya :

 

 

 

 

 

Apabila kita berbuat khianat, maka kita termasuk dalam golongan orang yang munafik.

“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, sekalipun dia puasa, shalat, dan mengaku sebagai Muslim : jika berbicara bohong, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khianat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

  1. Hukum Korupsi dalam Pandangan Islam

Korupsi memiliki bentuk dan tingkatan yang beragam. Semua kejahatan yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi merupakan dosa besar, karena dampak negatifnya bukan hanya bagi pelaku yang bersangkutan tetapi juga menimpa bangsa dan negara.

Dengan demikian, hukuman bagi para koruptor disesuaikan dengan modus kejahatan yang dilakukan. Misal, korupsi dengan modus pencurian atau penggelapan dana negara, maka baginya berlaku hukum potong tangan jika barang atau uang yang digelapkan sudah mencapai satu nisab pencurian, yaitu senilai 94 gram emas. Firman Allah SWT.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hukuman lain bagi koruptor adalah ta’zir, dari mulai yang ringan yaitu dipenjara, pemecatan dari jabatan, dan memasukkannya ke dalam daftar orang yang tercela (tasyhir), penyitaan harta untuk negara, hingga hukuman mati. Hukuman disesuaikan dengan besar kecilnya jumlah uang atau barang yang di korupsi serta dampak tindakan yang telah dilakukan bagi masyarakat.

 

  1. Motif-Motif Korupsi

Korupsi di Indonesia sudah menjadi budaya masyarakat, baik korupsi dari hal kecil maupun besar. Korupsi terjadi disebabkan oleh motif internal dan eksternal.

  1. Motif Internal

Motif yang timbul dari diri seseorang yang melakukan korupsi. Motif internal antara lain sebagai berikut.

  1. Sikap terlalu mencintai harta.

“Jika cinta dunia telah menjangkiti hati manusia, maka Allah mengujinya dengan tigal hal : angan-angan yang tidak pernah tercapai, kefakiran yang tidak pernah tercukupi, dan kesibukan yang selalu melelahkan.” (HR. Al-Dailami)

Dunia yang seharusnya hanya sebagai wasilah (perantara) berubah menjadi ghayah (tujuan akhir) (Mustofa, 2004). Dapat kita lihat saat ini, manusia lebih suka berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan harta benda sebanyak-banyaknya tak peduli dengan cara apapun ia mendapatkannya, baik cara halal maupun haram. Padahal, harta benda yang mereka kumpulkan itu hanya sebatas kenikmatan di dunia. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa cinta di dunia adalah pangkal segala kejahatan (HR. Al-Baihaqi).

 

  1. Sikap tamak dan serakah.

Kedua sikap ini sering mengakibatkan umat manusia di dunia mengalami kehinaan dan kehancuran, dikarenakan kedua sikap ini mengantarkan manusia kepada sikap tidak pernah puas atas apa yang ia miliki dan tidak pernah merasa cukup, meskipun harta yang dimiliki telah berlimpah ruah.

Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah SAW berikut.

“Seandainya anak adam mempunyai satu lembah harta, niscaya dia akan mencari yang kedua, dan seandainya dia telah punya yang kedua, niscaya dia akan cari yang ketiga. Dia tidaklah dapat memenuhi perut anak adam kecuali tanah (kematian). Dan Allah menerima taubat hamba-Nya yang mau bertobat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  1. Sikap konsumtif dan hedonis.

Sikap konsumtif adalah sikap berlebih-lebihan dalam mengkonsumsi atau membelanjakan harta tanpa peduli pada nasib orang lain. Hedonis adalah sikap yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Dengan adanya sikap ini, manusia tidak segan menghalalkan segala cara, bahkan melakukan korupsi, untuk mendapatkan harta yang berlimpah. Harta yang berlimpah yang telah didapatkan tidak memberikan rasa puas, ia selalu emrasa kurang setiap saat. Nabi SAW bersabda.

“Rasulullah SAW bersabda : celakalah hamba dinar dan hamba dirham, hamba permadani, dan hamba baju. Apabila ia diberi maka ia puas dan apabila ia tidak diberi maka ia pun menggerutu kesal.” (HR.Ibnu Majah)

 

  1. Pemahaman ilmu agama yang dangkal.

Sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, mereka menjalankan ajaran agama Islam, salah satunya shalat yang merupakan tiang agama. Menjalankan shalat 5 waktu dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar, termasuk mencegah perbuatan korupsi. Namun, masih banyak kaum-kaum yang rajin ibadah namun masih melakukan korupsi. Hal tersebut disebabkan karena pelaksanaan ajaran agama tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sekaligus tidak mendalami makna yang terkandung di dalam ibadah. Ibadah yang dilaksanakan masih hanya sebatas ibadah ritual seremonial, belum teraktualisasi dalam kehidupan.

 

  1. Hilangnya nilai kejujuran.

Kejujuran adalah aset yang sangat berharga bagi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, sebab kejujuran mampu menjadi benteng bagi seseorang untuk menghindari perbuatan-perbuatan  munkar seperti perbuatan korupsi. Hanya saja nilai-nilai kejujuran telah hilang dari pelaku-pelaku korupsi. Nabi SAW bersabda : “Katakanlah yang benar itu walau pahit sekalipun”. (HR. Ibnu Hibban)

 

  1. Motif eksternal

Berasal dari dorongan-dorongan dari luar diri manusia untuk melakukan korupsi.

  1. Adanya kesempatan dan sistem yang rapuh

Salah satu faktor pendorong manusia melakukan korupsi yaitu adanya kesempatan dan peluang serta didukung oleh sistem yang kondusif untuk berbuat korupsi, antara lain karena tidak adanya pengawasan yang melekat dari atasan, atau terkadang atasan yang mengharuskan seseorang berbuat korupsi. Hal ini dapat terwujud dalam bentuk sistem penganggaran yang memang mengharuskan seseorang ebrbuat korupsi, seperti perlunya uang pelicin agar anggaran kegiatan disetujui, atau diperlukannya  uang setoran kepada atasan di akhir pelaksanaan kegiatan.

 

  1. Faktor Budaya

Telah menjadi kebiasaan bagi orang Indonesia bahwa setiap seseorang penjabat tinggi dalam sebuah lembaga pemerintahan, maka yang bersangkutan akan menjadi sandaran dan tenpat bergantung bagi keluarganya. Akibatnya, dia harus melakukan perbuatan korupsi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya tersebut, apalagi jika permintaan berasal dari orang yang sangat berpengaruh bagi dirinya, seperti orang tua. Selain itu, dalam budaya kita seseorang dianggap bodoh bila dia memiliki jabatan penting tapi tidak mempunyai penghasilan lain selain penghasilan resminya. Akibatnya ia “dipaksa” untuk melakukan korupsi.

 

  1. Faktor Kebiasaan dan Kebersamaan

Fakta menunjukkan bahwa sangat banyak pejabat, kepala daerah, atau wakil rakyat yang diadali di pengadilan karena melakukan tindak pidana korupsi secara berjamaah. Nampaknya korupsi telah menjadi kebiasaan yang tidak perlu diusik dan dipermasalahkan. Akhirnya terjadi pembiasaan terhadap perbuatan yang salah.

 

  1. Penegakkan Hukum yang Lemah

Salah satu penyebab orang tidak takut korupsi adalah kenyataan bahwa tidak adanya sanksi hukum yang jelas bagi pelaku korupsi. Padahal hukuman terhadap pelaku tindak korupsi telah diatur dalam perundang-undangan yang berlaku. Namun, penegakkan hukum lemah, ditambah aparat penegak hukum juga pelaku korupsi.

 

  1. Bahaya Korupsi Bagi Kehidupan

Korupsi sangat berbahaya akibatnya bagi kehidupan manusia. Korupsi seumpama kanker dalam darah, sehingga pemilik badan harus selalu melakukan “cuci darah” terus menerus jika ia menginginkan tetap hidup. Secara rinci, akibat korupsi dijelaskan berikut ini.

  1. Bahaya Korupsi terhadap Individu

Jika budaya korupsi sudah mendarah daging pada seseorang, maka orang tersebut telah berusaha menghancurkan dirinya, merusak ibadahnya, mempermainkan do’anya dan menghancurkan keluarga serta keturunannya. Hal ini dikarenakan orang yang memakan harta hasil korupsi sama dengan orang yang memakan harta haram. Padahal terdapat banyak efek negatif akibat dari memakan harta haram, diantaranya:

  1. Pertama, pelakunya akan masuk neraka.

Dalilnya adalah sebuah hadis Nabi SAW: “Barang siapa yang mengambil hak milik orang Muslim dengan menggunakan sumpah, maka Allah akan mewajibkannya masuk neraka dan diharamkan masuk surga.” Searang bertanya, “Walaupun barang yang kecil, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ”Walaupun sepotong kayu arok.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Darami dari Abu Umamah).

 

  1. Kedua, pemakan harang haram tidak akan mencapai derajat takwa. Dalam hadisriwayat Atiyyah al-Sa’idi, Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang hamba tidak akan mencapai derajat muttaqin sampai la meninggalkan sebagian yang halal karena khawatir terperosok pada yang haram.”

  1. Ketiga, orang yang makan makanan haram kesadaran beragamanya sempit. Maksudnya ia tidak banyak beramal yang bemilai pahala, sehingga ia mudah masuk neraka. Sabda Nabi SAW: “Seorang mukmin akan berada dalam kelapangan agamanya selama tidak makan yang haram.” (HR. Bukhari)
  1. Keempat, pemakan harta haram tidak diterima amalnya dan ditolak doanya. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seorang yang memasukkan sekerat daging haram ke perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari, dan barang siapa yang dagingnya tumbuh dan riba maka neraka lebih utama untuk membakarnya.” (HR. Muslim, al-Tirmidzi, Ahmad dan al-Darimi)

 

 

 

  1. Bahaya Korupsi terhadap Kehidupan Generasl Muda

Salah satu efek negatif yang paling berbahaya dari korupsi dalam jangka panjang adalah rusaknya generasi muda. Dalam masyarakat yang korupsi telah menjadi kebiasaan sehari-hari, anak-anak tumbuh menjadi pribadi antisosial. Selanjutnya generasi muda akan menganggap bahwa korupsi sebagai hal biasa (atau bahkan buchya mereka), sehingga pribadi mereka menjadi terbiasa dengan sifat tidak jujur dan tidak bertanggungiawab (Alatas, 1999:62).

Jika generasi muda suatu bangsa keadaannya seperti ini, maka masa depan bangsa tersebut hampir bisa dipastikan suram. Sebab masa depan suatu bangsa terletak pada generasi muda. Hal ini sehagaimana tertuang dalam kata-kata hikmah:

Pemuda hari ini adalah pemimpin di hari esok, pemudi hari ini adalah pembimbing di hari esok.”.

  1. Bahaya Korupsi terhadap Kehidupan Bermasyarakat

Jika korupsi telah membudaya dan menjadi kebiasaan sehari-hari dalam suatu masyarakat, maka ia akan menjadikan masyarakat tersebut sebagai masyarakat yang kacau. Fakta empiris hasil penelitian di banyak negara dan teori-teori ilmu sosial menunjukkan bahwa korupsi berpengaruh negatif terhadap rasa keadilan sosial dan kesetaraan sosial. Korupsi menyebabkan perbedaan yang tajam di antara kelompok sosial dan individu, baik dalam hal pendapatan, kehonnatan, kekuasaan dan lain-lain.

Korupsi juga membahayakan standar moral dan intelektual masyarakat. Ketika korupsi merajalela, maka tidak ada nilai utama atau kemuliaan dalam masyarakat. Theobald (1990: 112) menyatakan bahwa korupsi menimbulkan iklim ketamakan, egois, dan memandag rendah orang lain.

  1. Bahaya Kornpsi terhadap Sistem Politik

Kekuasaan politik yang dicapai dengan korupsi akan menghasilkan pemerintahan dan pemimpin masyarakat yang tidak legitimate(sah) di hadapan masyarakat. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak akan percaya terhadap pemerintah dan pemimpin tersebut. Akibatnya masyarakat tidak akan akan patuh dan tunduk pada aromas mereka (Alatas, 1999:65). Praktik korupsi yang meluas dalam politik, seperti pemilu yang curang, kekerasan dalam pemilu, money politics(politik uang) dan lain-lain dapat berakibat pada timbulnya kekerasan pada masyarakat oleh penguasa dan tersebarnya korupsi. Di samping itu, hal ini akan memicu terjadinya instabilitas sosial politik dan integrasi sosial. Bahkan dalam banyak kasus, hal ini menyebabkan jatuhnya kekuasaan pemerintahan secara tidak terhormat, seperti yang tetjadi di Indonesia pada rezirn orde baru.

 

 

  1. Bahaya Korupsi terhadap Sistem Birokrasi Administrasi

Korupsi juga menyebabkan tidak eflsiennya birokrasi dan meningkatnya biaya administrasi dalam birokrasi. Jika birokrasi telah dikuasai oleh korupsi dalam berbagai bentuknya, maka prinsip dasar birokrasi yang rasional, eflsien, dan kualiflkasi tidak akan pernah terlaksana. Kualitas layanan jelek dan mengecewakan publik. Hanya orang kaya yang mendapatkan layanan yang baik karena mereka mampu menyuap. Keadaan ini dapat menyebabkan meluasnya keresahan sosial, ketidaksetaraan sosial dan selanjutnya mungkin kemarahan sosial yang menyebabkan “jatuhnya” para birokrat.

  1. Bahaya Korupsi terhadap Sistem Perekonomian

Korupsi juga berdampak merusak perkembangan ekonomi suatu bangsa. Jika sebuah proyek ekonomi sarat dengan korupsi (penyuapan untuk kelulusan proyek, nepotisme dalam penunjukan pelaksana proyek, penggelapan dalam pelaksanaannya, dan bentukbentuk korupsi lain dalam proyek), maka pertumbuhan ekonomi yang diharapkan dari proyek tersebut tidak akan tercapai. Penelitian empirik oleh Transparency Internationalmenunjukkan bahwa korupsi juga mengakibatkan berkurangnya investasi modal dalam negeni maupun luar negeri, karena para investor akan berfikir dua kali untuk membayar biaya yang lebih tinggi dari semestinya dalam berinvestasi (seperti untuk penyuapan pejabat agar mendapat izin, biaya keamanan kepada pihak keamaanan agar investasinya aman dan biaya-biayalain yang tidak perlu). Nur Kholis (2013) mengungkapkan bahwa sejak tahun 1997, investor dari negara-negera maju seperti Amerika dan Inggris cenderung Lebih suka menginvestasikan dana mereka dalam bentuk Foreign Direct Investment(FDI) kepada negara yang tingkat korupsinya kecil.

  1. Budaya Menumbuhkembangkan Budaya Anti Korupsi
  2. Budaya Anti Mencontek, Plaglasi dun Titip Absen

Amanat UU No 20 Tahun 2003 sangat jeias, yaitu mndidikm pada hakekamya adalah mengembangkan potensi diri peserta didik dengan dilandasi oleh kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, aerta keterampiian. Dengan demikian, pendidikan mempunyai peran yang strategis dalam membangun karakter mahasiswa. Tujuan pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik mnhasiawa, tapi juga membentuk mahasiswa yang berbudaya jujur.

Namun pennasalahan yang hingga seat inl menjadi fenomena di kalangan sebagian mahasiswa adalah budaya tidak jujur. misalnya menocontek, plagiasi dan titip absen. Perilaku negative ini mempakan bentuk ketidakjujuran yang kelak rentan memunculkan perilaku korupsi. Banyak orang pintar yang lulus perguruan tinggi, tapi sedikit orang pintar yang jujur. Padahal Islam sangat menyukai sifat jujur dan sangat mengecam sifat dusta. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi SAW dalam sebuah hadist:

“Sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan menunjukkan pada surga. Seseorang yang senanliasa berperilaku jujur, sehingga (Iayak) dia disebut orang yang jujur. Sementara kedustaan itu akan membawa kepada keburukan, dan keburukan akan mengantarkan kepada api neraka. Seseorang yang senanliasa berperilaku dusta, sehingga (pantas) dia di sebut orang yang pendusta“(HR. Bukhari).

Pembentukan dan pembiasan perilaku jujur (berakhlak mulia} secara umum dapat dibentuk dalam diri setiap individu, karena Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak mulia dan menjauhi akhlak tercela. Proses pembentukan perilaku jujur (anti mencontek, anti plagiasi, anti titip absen, dan lain~lain) setidaknya bisa dilakukan melalui dua hal berikut.

  1. Proses pembiasaan, yaitu dengan membiasakan diri untuk berprilaku jujur dan membiasakan diri untuk menjalani proses dengan baik agar dapat memperoleh basil yang maksimal. Sebagai contoh, apabila seorang mahasiswa ingin berhasil dalam suatu ujian. maka dia harus rajin mengikuti perkuliahan, rajin membaca, rajin menela’ah catatan.
  2. Proses keteladanan. Sikap jujur lebih efektif terbentuk pada mahasiswa jika para pendidik (dosen) juga memberikan teladan dengan berprilaku jujur. Sebagai contoh, apabila suatu saat seorang dosen berhalangan hadir. dia seharusnya memberitahukan informasi dan alasannya kepada mahasiswa (melalui ketua kelas atau wakilnya).
  3. Memegang Teguh Amanah

Amanah berasal dari bahasa Arab dalam bentuk mashdar dari (amina-amanatan) yang berarti jujur atau dapat dipercaya (Ma’luf, 1986:18). Menurut KBBI, amanah adalah sesuatu yg dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain. Sedangkan menurut al-Maraghi (1974), amanah adalah sesuatu yang barns dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya. al-Maraghi (1974:70) membagi amanah menjadi tiga macam, yaitu; (1) amanah manusia terhadap Tuhan, (2) amanah manusia kepada orang lain, dan (3) amanah manusia terhadap diri sendiri. Penjelasan ketiga macam amanah tersebut:

Pertama, amanah manusia terhadap Tuhan, yaitu semua aturan Tuhan yang harus dipelihara berupa melaksanakan semua perintah Tuhan dan meninggalkan semua larangan-Nya. Termasuk di dalamnya menggunakan semua potensi dan anggota tubuh untuk hal-hal yang bermanfaat serta mengakui bahwa semua itu berasal dari Tuhan. Sesungguhnya seluruh maksiat adalah perbuatan khianat kepada Allah SWT karena melanggar amanat yang diberikan Allah.

Kedua,amanah manusia kepada orang lain, dj antaranya mengembalikan titipan kepada pemiliknya, tidak menipu dan berlaku curang, menjaga rahasia keluarga, kerabat dan manusia secara kaseluruhan. Termasuk jenis amanah ini adalah pemimpin berlaku adil terhadap masyarakatnya, dan ulama berlaku baik pada masyarakatnya dengan memberi petunjuk dan nasihat yang dapat memperkokoh iman.

Ketiga, amanah manusia terhadap dirinya sendiri, yaitu berbuat sesuatu yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya, baik dalam umsan agama maupun dunia, dan tidak membahayakan dirinya di dunia dan akhirat. Sebagai contoh menjaga kesehatan dengan cukup istirahat, olah raga, dan makan-minum bergizi, dan menggunakan anggota tubuh untuk berbuat baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) korupsi adalah perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan lain sebagainya. Di dalam pandangan Islam tidak dikenal istilah korupsi karena kata ‘korupsi’ tidak berasal dari agama Islam. Namun, melihat arti korupsi yang sudah dijelaskan, terdapat banyak istilah pelanggaran hukum dalam pandangan Islam yang dikategorikan sebagai korupsi. Diantaranya yaitu ghulul (penggelapan), risywah (suap), hadiyyah (gratifikasi), sariqah (pencurian), dan khiyanah (khianat/kecurangan). Tindak pidana korupsi tergolong dalam dosa yang besar. Hukuman bagi para koruptor adalah ta’zir (hukuman) dari yang paling ringan berupa dipenjara, lalu memecatnya dari jabatan, dan memasukkannya dalam daftar orang tercela, penyitaan harta untuk negara, hingga hukuman mati.

Motif-motif korupsi ada dua, yaitu motif internal dan eksternal. Motif internal meliputi sikap terlalu mencintai harta, sikap tamak dan serakah, sikap hidup konsumtif dan hedonis, pemahaman agama yang dangkal, dan hilangnya nilai kejujuran. Motif eksternal yaitu adanya kesempatan dan sistem yang rapuh, faktor budaya, faktor kebiasaan dan kebersamaan, dan penegakan hukum yang lemah. Korupsi sangat berbahaya bagi manusia, baik bagi individu, kehidupan generasi bangasa, kehidupan masyarakat, sistem politik, sistem birokrasi administrasi, maupun sistem perekonomian. Sebagai generasi muda, calon penerus bangsa, serta agent of change, hendaknya kita menumbuhkmbangkan budaya anti korupsi. Hal ini dapat diwujudkan secara perlahan-lahan. Hal yang pertama dapat dilakukan yaitu tolak budaya mencontek, plagiasi, dan titip absen. Tiga hal berikut ini, apabila dilakukan berulang-ulang, akan menjadi kebiasaan, dan ketiga budaya ini merupakan bentuk ketidakjuuran yang kelak rentan memunculkan perilaku korupsi. Upaya yang kedua yaitu memegang teguh amanah. Amanah manusia terhadap Tuhan, amanah terhadap orang lain, amanah terhadap dirinya sendiri.

Saran :

Menjadi manusia yang terlahir dalam agama Islam, merupakan suatu anugerah yang luar biasa. Manusia yang tergolong ke dalam umat yang akan dijamin masuk surga jika ia beriman. Sebagai pemuda-pemudi Islam, agent of the change, sudah selayaknya baik para pembaca maupun penulis berusaha memperbaiki diri, berusaha menjadi sosok manusia yang berakhlakul karimah, menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Korupsi adalah suatu perbuatan yang timbul akibat kebiasaan. Ketidakjujuran adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan timbulnya korupsi. Oleh karena itu, baik penulis maupun para pembaca mari bersama-sama menjauhi perilaku yang bertentangan dengan agama Islam, membiasakan diri berbuat jujur, maka InsyaAllah akan terhindar dari suatu kemungkaran. Kita semua harus berani melawan hafa nafsu, jika tidak maka diri akan mudah terjerumus ke dalam lubang yang salah, dan akan menyesal ketika diri sudah berada pada kondisi yang terpuruk dan tertumpuk oleh banyak permasalahan yang menjadi dampak akan perbuatannya.

Lampiran

Pertanyaan

  1. Apakah hukuman mati dianjurkan untuk koruptor di Indonesia ? (Airin Eka damayanti)
  2. Hukuman lain yang dapat diterpakan di Indonesia agar para koruptor jera? (Dea Ayu)
  3. Bagaimana pendapat pemateri tentang hadiah ulang tahun ? (Nur Indah)
  4. Apa yang mendasari perbedaan kesadaran diri orang Indonesia dan orang di negara lain? (Absawati Fatimatuz Zahro)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Tim Dosen Pendidikan Agama Islam. 2017. Pendidikan islam Transformatif Membentuk Pribadi Berkarakter. Malang : Dream Litera

BPPK Kementerian Keuangan. 2014. Korupsi Menurut Hukum Islam. Online: http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/150-artikel-keuangan-umum/20078-korupsi-menurut-hukum-islam&hl=-id-ID

KORUPSI DAN UPAYA PEMBERANTASANNYA DALAM PANDANGAN ISLAM | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *