KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat taufiq, rahmat, dan hidayahNya, buku Pedoman Mendeteksi Potensi Peserta Didik telah selesai disusun. Buku pedoman ini ditujukan kepada para guru serta pengelola pendidikan untuk mengembangkan strategi manajemen pendidikan.

Pembuatan pedoman ini mengunakan pendekatan teoritis dan empiris. Pendekatan teoritis dilakukan melalui kajian sejumlah buku-buku teks dan jurnal-jurnal yang membahas strategi manajemen pendidikan. Pendekatan empiris dilakukan melalui validasi pedoman ini kepada sejumlah guru serta kepala sekolah. Oleh karena  itu  diharapkan buku ini bisa digunakan oleh para guru serta pengelola pendidikan dalam mendeteksi peserta didik.

Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberi masukan demi sempurnanya buku ini. Walaupun demikian, kami yakin buku ini masih belum sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran  demi sempurnanya buku ini sangat kami harapkan.

Yogyakarta, Oktober 2003

Penyusun

 

 

Prof. Djemari Mardapi, Ph.D.

NIP. 130515023


DAFTAR ISI

 

HALAN JUDUL ………………………………………………………………………………………         I

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………….        ii

DAFTAR ISI  …………………………………………………………………………………………..       iii

 

I.      PENDAHULUAN  ……………………………………………………………………………..        1

  1. MEMAHAMI PESERTA DIDIK  …………………………………………………………        2
  2. BAKAT DAN KECERDASAN PESERTA DIDIK  ………………………………        5

A.   Tanda-tanda Bakat Peserta Didik…………………………………………………        7

B.   Kecerdasan  Peserta Didik   ………………………………………………………..        9

  1. IDENTIFIKASI POTENSI PESERTA DIDIK……………………………………….      15

A.   Ciri-ciri Keberbakatan Peserta Didik…………………………………………….      15

B.   Kecenderungan Minat Jabatan  Peserta Didik  …………………………..      18

C.   Proses Identifikasi Potensi Peserta Didik  …………………………………..      19

V.   PERANAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI PESERTA DIDIK       ………………………………………………………………………………………………………….. 21

  1. PENUTUP………………………………………………………………………………………….      22

DAFTAR ACUAN …………………………………………………………………………………….      24

 

Lampiran-lampiran:

1. Skala Nominasi Guru Indikator Kreativitas ………………………………………….      25

2. Format Identifikasi Potensi Peserta Didik…………………………………………….      27

3. Format Hasil Penjaringan Potensi Peserta Didik…………………………………      28

4. Format Kecenderungan Kepribadian Peserta Didik ……………………………      26

5. Format Kecenderungan Minat Jabatan dan Tipe Kepribadian Peserta Didik             29

 

 


I. PENDAHULUAN

Potensi sumber daya manusia merupakan aset nasional sekaligus sebagai modal dasar pembangunan bangsa. Potensi ini hanya dapat digali dan dikembangkan serta dipupuk secara efektif melalui strategi pendidikan dan pembelajaran yang terarah dan terpadu, yang dikelola secara serasi dan seimbang dengan memperhatikan pengembangan potensi peserta didik secara utuh dan optimal. Oleh karena itu, strategi manajemen pendidikan perlu secara khusus memperhatikan pengembangan potensi peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (unggul), yaitu dengan cara penyelenggaraan program pembelajaran yang mampu mengembangkan keunggulan-keunggulan tersebut, baik keunggulan dalam hal potensi intelektual maupun bakat khusus yang bersifat keterampilan (gifted and talented).

Strategi pembelajaran yang dilaksanakan selama ini masih bersifat masal, yang memberikan perlakuan dan layanan pendidikan yang sama kepada semua peserta didik. Padahal, mereka berbeda tingkat kecakapan, kecerdasan, minat, bakat dan kreativitasnya. Strategi pelayanan pendidikan seperti ini memang  tepat dalam konteks pemerataan kesempatan, akan tetapi kurang menunjang usaha mengoptimalisasikan pengembangan potensi peserta didik secara cepat. Hasil beberapa penelitian Depdikbud (1994) menunjukkan sekitar sepertiga peserta didik yang dapat digolongkan sebagai peserta didik berbakat (gifted and talented) mengalami gejala “prestasi kurang” (underachiever). Hal sama dikemukakan oleh Munandar (1992) cukup banyak peserta didik berbakat yang prestasinya di sekolah tidak mencerminkan potensi intelektual mereka yang menonjol. Salah satu penyebabnya adalah kondisi-kondisi ekternal atau lingkungan belajar yang kurang menunjang, kurang menantang kepada mereka untuk mewujudkan kemampuannya secara optimal. Padahal, upaya untuk mencapai keunggulan melalui strategi pelayanan pendidikan massal akan memiliki konsekuensi sumberdaya pendidikan (dana, tenaga dan sarana) yang kurang menguntungkan. Model strategi pelayanan pendidikan alternatif perlu dikembangkan untuk menghasilkan peserta didik yang unggul melalui pemberian perhatian, perlakuan dan layanan pendidikan berdasarkan bakat, minat dan kemampuannya.

Peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan kelompok kecil, data di Balitbang Depdikbud (1994) menunjukkan hanya 2 – 5% dari seluruh peserta didik yang ada. Jumlah ini semakin meningkat pada jenjang yang lebih tinggi, di tingkat SMU jumlah peserta didik berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa mencapai 8%. Lebih lanjut dikemukakan berdasarkan intelegensi Wechsler peserta didik berbakat intelektual tergolong “sangat unggul” (IQ 130 keatas) berjumlah 2,2% dan tergolong “unggul” (IQ 120-129) berjumlah 6,7% dari populasinya. Jumlah ini memang masih tergolong kecil, namun secara potensial mereka unggul dalam salah satu atau beberapa bidang yang meliputi bidang-bidang intelektual umum dan akademis khusus, berpikir kreatif-produktif, psikososial/kepemimpinan, seni/kinestetik dan psikomotorik.

Strategi pelayanan pendidikan alternatif dalam manajemen pendidikan perlu dikembangkan untuk menghasilkan peserta didik yang unggul, melalui pemberian perhatian, perlakuan dan layanan pendidikan berdasarkan bakat minat dan kemampuannya. Agar pelayanan pendidikan yang selama ini diberikan kepada peserta didik mencapai sasaran yang optimal, maka pembelajaran harus diselaraskan dengan potensi peserta didik. Oleh karena itu guru perlu melakukan pelacakan potensi peserta didik.

II. MEMAHAMI PESERTA DIDIK

Mengajar atau “teaching” adalah membantu peserta didik memperoleh  informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekpresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar (Joyce dan Well, 1996). Sedangkan pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan peserta didik. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan. Pemilihan, penetapan, dan pengembangan metode  didasarkan pada kondisi pembelajaran yang ada. Kegiatan-kegiatan tersebut pada dasarnya merupakan inti dari perencanaan pembelajaran. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekat perencanaan atau perancangan (disain) sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik. Itulah sebabnya dalam belajar peserta didik tidak hanya berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar, tetapi berinteraksi juga dengan keseluruhan sumber belajar yang lain. Oleh karena itu pembelajaran menaruh perhatian pada “bagaimana membelajarkan peserta didik”, dan bukan pada “apa yang dipelajari peserta didik”. Dengan demikian pembelajaran menempatkan peserta didik sebagai subyek bukan sebagai obyek. Oleh karena itu agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal guru perlu memahami karakteristik peserta didik.

Menurut Piaget sejak lahir peserta didik mengalami tahap-tahap perkembangan kognitif. Setiap tahapan perkembangan kognitif tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda.

A.  Tahap-tahap Perkembangan Peserta Didik

1.    Tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun). Pada tahap ini kemampuan skema kognitifnya masih terbatas. Peserta didik suka meniru perilaku orang lain. Perilaku yang ditiru terutama perilaku orang lain (khususnya orang tua dan guru) yang pernah ia lihat ketika orang itu merespons terhadap perilaku orang, keadaan, dan kejadian yang dihadapi pada masa lampau. Peserta didik mulai mampu menggunakan kata-kata yang benar dan mampu pula mengekspresikan kalimat-kalimat pendek secara efektif.

2.    Tahap operasional-konkret (usia 7-11 tahun). Pada tahap ini peserta didik sudah mulai memahami aspek-aspek kumulatif materi, misalnya volume dan jumlah; mempunyai kemampuan  memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang bervariasi tingkatannya. Selain itu peserta didik sudah mampu berpikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.

3.    Tahap operasional-formal (usia 11-15 tahun), pada tahap ini peserta didik sudah menginjak usia remaja, perkembangan kognitif peserta didik pada tahap ini telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif baik secara simultan (serentak) maupun berurutan. Misalnya kapasitas merumuskan hipotesis, dan menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas merumuskan hipotesis (anggapan dasar) peserta didik mampu berpikir untuk memecahkan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons. Sedangkan dengan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak, peserta didik akan mampu mempelajari materi pelajaran yang abstrak, seperti agama, matematika, dan lainnya.

Peserta didik SMU berada pada tahap perkembangan usia masa remaja yang pada umumnya berusia antara 15 sampai 18  tahun. Setiap tugas perkembangan individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan dalam hidupnya. Tugas perkembangan yang berhasil adalah yang dapat direalisasikan dalam hidupnya sesuai dengan situasi dan kondisinya.

B. Tugas-tugas Perkembangan Peserta Didik

Tugas-tugas perkembangan peserta didik SMU pada dasarnya adalah sebagai berikut :

1.    mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2.    mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri.

3.    mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya sebagai pria dan wanita.

4.    mengarahkan diri pada peranan sosial sebagai pria atau wanita.

5.    memantapkan cara-cara bertingkah laku yang dapat diterima lingkungan sosialnya.

6.    mengenal kemampuan, bakat, minat serta arah perkembangan karir.

7.    mengembangan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan kebutuhannya untuk melanjutkan pelajaran dan atau berperan serta dalam kehidupan masyarakat.

8.    mengenal gambaran dan mengembangan sikap tentang kehidupan mandiri, baik secara emosional maupun sosial ekonomis.

9.    mengenal seperangkat sistem etika dan nilai-nilai untuk pedoman hidup sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara, dan sebagai makhluk Tuhan.

Peserta didik SMU pada masa ini memiliki ciri-ciri yang oleh para ahli sering digolongkan sebagai ciri-ciri individu yang kreatif. Indikator individu yang kreatif antara lain  memiliki rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang tinggi, minat yang luas, tidak takut salah, berani menghadapi risiko, bebas dalam berpikir, senang akan hal-hal yang baru, dan sebagainya.

Pemahaman terhadap peserta didik diperlukan dalam rangka membantu peserta didik menjalani tugas-tugas perkembangan tersebut secara optimal, sehingga peserta didik memiliki kecakapan hidup dan mampu menjalani realita dalam kehidupannya sesuai potensi yang ada pada dirinya.

 

III. BAKAT DAN KECERDASAN PESERTA DIDIK

Bakat dan kecerdasan merupakan dua hal yang berbeda, namun saling terkait. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang melekat (inherent) dalam diri seseorang. Bakat peserta didik dibawa sejak lahir dan terkait dengan struktur otaknya. Secara genetik struktur otak telah terbentuk sejak lahir, tetapi berfungsinya otak sangat ditentukan oleh caran peserta didik berinteraksi dengan lingkungannya. Biasanya kemampuan itu dikaitkan dengan intelegensi atau kecerdasan, dimana kecerdasan atau intelegensi (Intelligence Quotient) merupakan modal awal untuk bakat tertentu.

Potensi bawaan peserta didik sampai  menjadi bakat berkaitan dengan kecerdasan intelektual (IQ) peserta didik. Tingkat intelektualitas peserta didik berbakat biasanya cenderung di atas rata-rata. Namun peserta didik yang intelektualitasnya tinggi tidak selalu menunjukkan  peserta didik berbakat. Bakat seni dan olahraga misalnya, keduanya memerlukan strategi, taktik, dan logika yang berhubungan dengan kecerdasan. Dengan demikian, umumnya peserta didik berbakat memang memiliki tingkat intelegensi di atas rata-rata.

Peserta didik berbakat adalah peserta didik yang mampu mencapai prestasi yang tinggi karena mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul. Kemampuan-kemampuan tersebut meliputi :

1.    kemampuan intelektual umum (kecerdasaaan atau intelegensi)

2.    kemampuan akademik khusus

3.    kemampuan berpikir kreatif-produktif

4.    kemampuan memimpin

5.    kemampuan dalam salah satu bidang seni

  1. kemampuan psikomotor (seperti dalam olah raga)

Selain itu masih ada faktor lain yang juga turut menentukan perkembangan potensi peserta didik menjadi bakat, yakni kecerdasan emosi (Emotional Quetient). Peserta didik yang kontrol emosinya bagus akan lebih baik dalam mengembangkan bakat yang ia miliki. Misalnya, ketika ia memiliki bakat menyanyi, maka saat harus naik pentas ia akan menyanyi dengan penuh percaya diri. Artinya baik IQ dan EQ berperan menunjang keberhasilan peserta didik dalam mengembangkan potensinya menjadi bakat. Namun demikian  selama ini orang tua lebih terpaku pada upaya peningkatan intelektualitas semata. Sehingga peserta didik hanya diberikan konsumsi untuk daya pikirnya, EQ-nya tidak dikembangkan.

Bakat yang dimiliki peserta didik tidak terbatas pada satu keahlian. Jika bakat tersebut dikembangkan bisa menjadi lebih dari dua keahlian yang saling berkaitan. Misalnya jika peserta didik suka menyanyi tak jarang pula ia akan berbakat menari. Jika peserta didik suka baca puisi biasanya peserta didik akan punya bakat seni peran, dsb.

Bakat peserta didik juga berkaitan dengan bakat orangtua. Sekitar 60% bakat peserta didik diturunkan dari orangtua, selebihnya dipengaruhi faktor lingkungan. Bakat turunan bisa dideteksi dengan cara membandingkan peserta didik dengan peserta didik lain. Peserta didik berbakat lebih cepat berkembang ketimbang peserta didik lain seusianya, misalnya mereka lebih cepat dalam hal berhitung soal matematik, menari, atau menghafal lagu jika dibandingkan dengan peserta didik lainnya.

A. Tanda-tanda Bakat Peserta Didik

Berikut ini tanda-tanda bakat yang bisa tampak sejak dini pada peserta didik.

1.    Mempunyai ingatan yang kuat. Contoh: sanggup mengingat letak benda-benda, tempat-tempat penyimpanan, lokasi-lokasi, dsb.

2.    Mempunyai logika dan keterampilan analitis yang kuat. Contoh: sanggup menyimpulkan, menghubung-hubungkan satu kejadian dengan kejadian lain

3.    Mampu berpikir abstrak. Contoh: membayangkan sesuatu yang tidak tampak, kemampuan berimajinasi dan asosiasi. Misal, membayangkan keadaan di bulan, di luar angkasa, atau tempat lain yang belum pernah dikunjunginya.

4.    Mampu membaca tata letak (ruang). Contoh: menguasai rute jalan, ke mana harus berbelok, menyebutkan bentuk ruang.

5.    Mempunyai keterampilan mekanis. Contoh: pintar bongkar pasang benda yang rumit.

6.    Mempunyai bakat musik dan seni

7.    Luwes dalam atletik dan menari

8.    Pintar bersosialisasi. Contoh: mudah bergaul, mudah beradaptasi

9.    Mampu memahami perasaan manusia. Contoh: pandai berempati, baik dan peduli pada orang lain.

10. Mampu memikat dan merayu. Contoh: penampilannya selalu  membuat orang tertarik, mampu membuat orang mengikuti kemauannya, dsb.

 

Selain memiliki tanda-tanda keunggulan diatas peserta didik berbakat mempunyai karakteristik negatif diantaranya :

1.    Mampu mengaktualisasikan pernyataan secara fisik berdasarkan pemahaman pengetahuan yang sedikit

2.    Dapat mendominasi diskusi

3.    Tidak sabar untuk segera maju ke tingkat berikutnya

4.    Sukaribut

5.    Memilih kegiatan membaca dari pada berpartisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat, atau kegiatan fisik

6.    Suka melawan aturan, petunjuk-petunjuk atau prosedur tertentu

7.    Frustasi disebabkan tidak jalannya aktivitas sehari-hari

8.    Menjadi bosan karena banyak hal yang diulang-ulang

9.    Menggunakan humor untuk memanipulasi sesuatu

10. Melawan jadwal yang (hanya) didasarkan atas pertimbangan waktu saja bukan atas pertimbangan tugas

Peserta didik  yang unggul dalam bidang tertentu belum tentu unggul di bidang yang lain. Misalnya ada peserta didik yang unggul di bidang matematika, namun  ia kurang mampu menyanyi di depan kelas atau menggambar. Sebaliknya peserta didik yang sudah sering tampil menyanyi di layar televisi, mungkin kurang tangkas bila harus memecahkan soal-soal matematika yang rumit di kelas. Kondisi semacam ini harus dipahami oleh guru. Kelebihan dan kelemahan yang ada pada peserta didik hendaknya diperlakukan secara seimbang. Dengan demikian potensi yang dipunyai peserta didik akan tumbuh dan berkembang selaras dengan perkembangan ilmu yang mereka terima melalui pembelajaran di sekolah maupun di lingkungannya.

Keberhasilan pendidikan terkait  dengan kemampuan  orang tua dan guru dalam hal memahami peserta didik sebagai individu yang unik. Peserta didik harus dilihat sebagai individu yang memiliki berbagai potensi yang berbeda satu sama lain, namun saling melengkapi dan berharga. Mungkin dapat diibaratkan sebagai bunga-bunga aneka warna di suatu taman yang indah, mereka akan tumbuh dan merekah dengan keelokannya masing-masing.

B. Kecerdasan  Peserta Didik

Howard Gardner (1993) menegaskan bahwa skala kecerdasan yang selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Secara rinci masing-masing kecerdasaan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

 

1. Kecerdasan matematika-logika

Kecerdasan matematika-logika memuat kemampuan seseorang dalam berpikir secara induktif dan deduktif, berpikir menurut aturan logika, memahami dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir. Peserta didik dengan kecerdasan matematika-logika tinggi cenderung menyenangi kegiatan menganalisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu. Ia menyenangi berpikir secara konseptual, misalnya menyusun hipotesis dan mengadakan kategorisasi dan klasifikasi terhadap apa yang dihadapinya. Peserta didik semacam ini cenderung menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Apabila kurang memahami, mereka akan cenderung berusaha untuk bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya tersebut. Peserta didik ini juga sangat menyukai berbagai permainan yang banyak melibatkan kegiatan berpikir aktif, seperti catur dan bermain teka-teki.

2. Kecerdasan bahasa

Kecerdasan bahasa memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan, dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya. Peserta didik dengan kecerdasan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Peserta didik seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat, misalnya terhadap nama-nama orang, istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, peserta didik ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik lainnya.

3. Kecerdasan musikal

Kecerdasan musikal memuat kemampuan seseorang untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, termasuk dalam hal ini adalah nada dan irama. Peserta didik jenis ini cenderung senang sekali mendengarkan nada dan irama yang indah, entah melalui senandung yang dilagukannya sendiri, mendengarkan tape recorder, radio, pertunjukan orkestra, atau alat musik dimainkannya sendiri. Mereka juga lebih mudah mengingat sesuatu dan mengekspresikan gagasan-gagasan apabila dikaitkan dengan musik.

4. Kecerdasan visual-spasial

Kecerdasan visual-spasial memuat kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang. Peserta didik ini memiliki kemampuan, misalnya, untuk menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya atau kemampuan untuk menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi seperti dijumpai pada orang dewasa yang menjadi pemahat patung atau arsitek suatu bangunan. Kemampuan membayangkan suatu bentuk nyata dan kemudian memecahkan berbagai masalah sehubungan dengan kemampuan ini adalah hal yang menonjol pada jenis kecerdasan visual-spasial ini. Peserta didik demikian akan unggul, misalnya dalam permainan mencari jejak pada suatu kegiatan di kepramukaan.

5. Kecerdasan kinestetik

Kecerdasan kinestetik memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai pada peserta didik yang unggul pada salah satu cabang olahraga, seperti bulu tangkis, sepakbola, tenis, renang, dan sebagainya, atau bisa pula tampil pada peserta didik yang pandai menari, terampil bermain akrobat, atau unggul dalam bermain sulap.

6. Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan semacam ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial, yang selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin, mengorganisir, menangani perselisihan antarteman, memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan sebagainya.

7. Kecerdasan intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Ia cenderung mampu untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri. Peserta didik semacam ini senang melakukan intropeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri. Beberapa diantaranya cenderung menyukai kesunyian dan kesendirian, merenung, dan berdialog dengan dirinya sendiri.

8. Kecerdasan naturalis

Kecerdasan naturalis ialah kemampuan seseorang untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di lingkungan alam yang terbuka seperti pantai, gunung, cagar alam, atau hutan. Peserta didik dengan kecerdasan seperti ini cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, jenis-jenis lapisan tanah, aneka macam flora dan fauna, benda-benda angkasa, dan sebagainya.

Melalui konsepnya mengenai multiple intelligences atau kecerdasan ganda ini  Gardner mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak. Kecerdasan tidak terbatas pada kecerdasan intelektual yang diukur dengan menggunakan beberapa tes inteligensi yang sempit saja. Atau sekadar melihat prestasi yang ditampilkan seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Tetapi  kecerdasan juga menggambarkan kemampuan peserta didik pada bidang seni, spasial, olah-raga, berkomunikasi, dan cinta akan lingkungan.

Teori Gardner ini selanjutnya dikembangkan dan dilengkapi oleh para ahli lain. Diantaranya adalah Daniel Goleman (1995)  melalui bukunya yang terkenal, Emotional Intelligence atau Kecerdasan Emosional.

Dari kedelapan spektrum kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner di atas, Goleman mencoba memberi tekanan pada aspek kecerdasan interpersonal atau antarpribadi. Inti sari kecerdasan ini mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi, dan hasrat keinginan orang lain. Namun menurut Gardner, kecerdasan antarpribadi ini lebih menekankan pada aspek kognisi atau pemahaman, sementara faktor emosi atau perasaan kurang diperhatikan. Menurut Goleman faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna yang kaya dalam kecerdasan antarpribadi ini. Ada lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional. Lima wilayah tersebut adalah kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan. Secara rinci lima wilayah kecerdasan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

1. Kemampuan mengenali emosi diri

Kemampuan mengenali emosi diri adalah kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mengenali emosinya sendiri adalah bila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap, dalam hal ini misalnya sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan seperti memilih sekolah, sahabat, pekerjaan, sampai soal pasangan hidup.

2. Kemampuan mengelola emosi

Kemampuan mengelola emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara salah. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seorang pilot pesawat yang dapat membawa pesawatnya ke suatu kota tujuan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya, seseorang yang sedang marah dapat mengendalikan kemarahannya secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesalinya di kemudian hari.

3. Kemampuan memotivasi diri

Kemampuan memotivasi diri adalah kemampuan memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung unsur harapan dan optimisme yang tinggi sehingga seseorang memiliki kekuatan semangat untuk melakukan aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar, bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya.

4. Kemampuan mengenali emosi orang lain

Kemampuan mengenali emosi orang lain adalah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Kemampuan ini sering pula disebut sebagai kemampuan berempati, mampu menangkap pesan nonverbal dari orang lain. Dengan demikian, peserta didik-peserta didik ini akan cenderung disukai orang.

5. Kemampuan membina hubungan

Kemampuan membina hubungan adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Peserta didik dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul, dan menjadi lebih populer.

Dengan demikian dapat disimpulkan betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri peserta didik. Banyak dijumpai peserta didik yang begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun tidak mampu mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa, atau angkuh dan sombong, sehingga prestasi tersebut tidak banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada peserta didik sejak usia dini karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.

Hal lain dikemukakan oleh Robert Coles (1997) dalam bukunya yang berjudul The Moral Intelligence of Children bahwa di samping IQ (Intelligence Quotient) ada suatu jenis kecerdasan yang disebut sebagai kecerdasan moral yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya. Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang peserta didik untuk bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, dan mengikuti aturan-aturan yang berlaku, yang semuanya ini merupakan kunci keberhasilan bagi seorang peserta didik di masa depan. Sebagai individu, peserta didik  berada dalam komunitas sekolah selalu berkomunikasi dengan sesama teman, guru, dan orang lain. Namun sebagai makhluk Tuhan peserta didik mempunyai kewajiban untuk selalu taat menjalankan perintah agamanya (Emotionally and Spiritual Quotient). Oleh karena itu harus dijaga hubungan yang seimbang antara diri individu (IQ), sosial (EQ), dan hubungan dengan Tuhan (ESQ).

 

 

IV. IDENTIFIKASI POTENSI PESERTA DIDIK

Untuk mengidentifikasi potensi peserta didik dapat dikenali dari ciri-ciri (indikator) keberbakatan peserta didik dan kecenderungan minat jabatan.

 

A. Ciri-Ciri (indikator) Keberbakatan peserta didik

Untuk menyelesaikan pendidikan di SMU, peserta didik diharuskan menempuh sejumlah mata pelajaran yang secara garis besar dapat dikelompokkan dalam empat bidang, yaitu Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa. Selain itu peserta didik juga harus menempuh beberapa mata pelajaran pilihan yang sesuai dengan bakat dan minatnya.

Bakat peserta didik dapat mengarah pada kemampuan numerik, mekanik, berpikir abstrak, relasi ruang (spasial), dan berpikir verbal. Minat seseorang secara vokasional dapat berupa minat profesional, minat komersial, dan minat kegiatan fisik. Minat profesional mencakup minat-minat keilmuan dan sosial. Minat komersial adalah minat yang mengarah pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bisnis. Minat fisik mencakup minat mekanik, minat kegiatan luar, dan minat navigasi (kedirgantaraan/ penerbangan).

Bakat dan minat berpengaruh pada prestasi mata pelajaran tertentu. Dalam satu kelas, bakat dan minat peserta didik yang satu berbeda dengan bakat dan minat peserta didik yang lainnya. Namun setiap peserta didik diharapkan dapat menguasai semua materi pelajaran yang diajarkan oleh guru di sekolah. Dengan bakat dan minat masing-masing, prestasi peserta didik pada mata pelajaran tertentu akan berbeda dengan prestasi belajar peserta didik yang lain pada mata pelajaran yang sama. Selain itu, prestasi peserta didik pada mata pelajaran yang satu bisa berbeda dengan prestasinya pada pelajaran yang lain.

Ada tiga kelompok ciri keberbakatan, yaitu: (1) kemampuan umum yang tergolong di atas rata-rata (above average ability), (2) kreativitas (creativity) tergolong tinggi, (3) komitmen terhadap tugas (task commitment) tergolong tinggi. Lebih lanjut Yaumil (1991) menjelaskan bahwa: (1) Kemampuan umum di atas rata-rata merujuk pada kenyataan antara lain bahwa peserta didik berbakat memiliki perbendaharaan kata-kata yang lebih banyak dan lebih maju dibandingkan peserta didik biasa; cepat menangkap hubungan sebab akibat; cepat memahami prinsip dasar dari suatu konsep; seorang pengamat yang tekun dan waspada; mengingat dengan tepat serta memiliki informasi aktual; selalu bertanya-tanya; cepat sampai pada kesimpulan yang tepat mengenai kejadian, fakta, orang atau benda. (2) Ciri-ciri kreativitas antara lain: menunjukkan rasa ingin tahu yang luar biasa; menciptakan berbagai ragam dan jumlah gagasan guna memecahkan persoalan; sering mengajukan tanggapan yang unik dan pintar; tidak terhambat mengemukakan pendapat; berani mengambil resiko; suka mencoba; peka terhadap keindahan dan segi-segi estetika dari lingkungannya. (3) komitmen terhadap tugas sering dikaitkan dengan motivasi instrinsik untuk berprestasi, ciri-cirinya mudah terbenam dan benar-benar terlibat dalam suatu tugas; sangat tangguh dan ulet menyelesaikan masalah; bosan menghadapi tugas rutin; mendambakan dan mengejar hasil sempurna; lebih suka bekerja secara mandiri; sangat terikat pada nilai-nilai baik dan menjauhi nilai-nilai buruk; bertanggung jawab, berdisiplin; sulit mengubah pendapat yang telah diyakininya. Munandar (1992) mengungkapkan ciri-ciri (indikator) peserta didik berbakat sebagai berikut :

1. Indikator Intelektual/belajar

  1. mudah menangkap pelajaran
  2. mudah mengingat kembali
  3. memiliki perbendaharaan kata yang luas
  4. penalaran tajam (berpikir logis, kritis, memahami hubungan sebab akibat)
  5. daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan)
  6. menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik
  7. senang dan sering membaca
  8. mampu mengungkapkan pikiran, perasaan atau pendapat secara lisan/tertulis dengan lancar dan jelas
  9. mampu mengamati secara cermat
  10. senang mempelajari kamus, peta dan ensiklopedi
  11. cepat memecahkan soal
  12. cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan
  13. cepat menemukan asas dalam suatu uraian
  14. mampu membaca pada usia lebih muda
  15. daya abstraksi cukup tinggi
  16. selalu sibuk menangani berbagai hal

2. Indikator  kreativitas

  1. memiliki rasa ingin tahu yang besar
  2. sering mengajukan pertanyaan yang berbobot
  3. memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah
  4. mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu
  5. mempunyai/menghargai  rasa keindahan

f.     mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah   terpengaruh orang lain

  1. memiliki rasa humor tinggi
  2. mempunyai daya imajinasi yang kuat

i.     mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain (orisinil)

  1. dapat bekerja sendiri
  2. senang mencoba hal-hal baru

l.      mampu mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)

3. Indikator  motivasi

a.    tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai)

  1. ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)
  2. tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi
  3. ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan

e.    selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasinya)

f.     menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah “orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan dan sebagainya)

  1. senang dan rajin belajar, penuh semangat, cepat bosan dengan tugas-tugas rutin dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini tersebut)
  2. mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian)
  3. senang mencari dan memecahkan soal-soal

 

B. Kecenderungan Minat Jabatan peserta didik

Kecenderungan minat jabatan peserta didik dapat dikenali dari tipe kepribadiannya. Holland (1985) mengidentifikasikan tipe kepribadian seseorang berikut ciri-cirinya. Dari identifikasi kepribadian peserta didik menunjukkan bahwa tidak semua jabatan cocok untuk semua orang. Setiap tipe kepribadian  tertentu mempunyai kecenderungan terhadap minat jabatan tertentu pula. Berikut disajikan kecenderungan tipe kepribadian dan ciri-cirinya.

  1. Realistik (realistic), yaitu kecenderungan untuk bersikap apa adanya atau realistik. Ciri-ciri kecenderungan ini adalah : rapi, terus terang, keras kepala, tidak suka berkhayal, tidak suka kerja keras.
  2. Penyelidik (investigative), yaitu kecenderungan sebagai penyelidik. Ciri-ciri kecenderungan ini meliputi : analitis, hati-hati, kritis, suka yang rumit, rasa ingin tahu besar.
  3. Seni (artistic), yaitu kecenderungan suka terhadap seni. Ciri-ciri kecenderungan ini adalah: tidak teratur, emosi, idealis, imajinatif,   terbuka.
  4. Sosial (social), yaitu kecenderungan suka terhadap  kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Ciri-cirinya : melakukan kerjasama, sabar, bersahabat, rendah hati, menolong, dan hangat.
  5. Suka usaha (enterprising), yaitu kecenderungan menyukai bidang usaha. Ciri-cirinya : ambisius, energik, optimis, percaya diri, dan suka bicara.
  6. Tidak mau berubah (conventional), yaitu kecenderungan untuk mempertahankan hal-hal yang sudah ada, enggan terhadap perubahan. Ciri-cirinya : hati-hati, bertahan, kaku, tertutup, patuh konsisten.

(Lihat lampiran 4)

 

 

D. Proses Identifikasi Pontensi Peserta Didik

Potensi peserta didik dapat dideteksi dari keberbakatan intelektual pada peserta didik. Ada dua cara pengumpulan informasi untuk mengidentifikasi anak berbakat, yaitu dengan menggunakan data objektif dan data subjektif. Identifikasi melalui penggunaan data objektif diperoleh melalui antara lain :

1.    skor tes inteligensi individual

2.    skor tes inteligensi kelompok

3.     skor tes prestasi

4.    skor tes akademik

5.    skor tes kreatif

 

Sedangkan identifikasi melalui penggunaan data subjektif diperoleh dari :

1.    ceklis perilaku

2.    nominasi oleh guru  (Lihat lampiran 1)

3.    nominasi oleh orang tua

4.    nominasi oleh teman sebaya dan

5.    nominasi oleh diri sendiri

Untuk melakukan identifikasi dengan menggunakan data objektif seperti tes inteligensi individual, tes inteligensi kelompok dan tes kreativitas, pihak sekolah dapat menghubungi Fakultas Psikologi yang ada di kota masing-masing maupun Kantor Konsultan Psikologi. Sedangkan untuk memperoleh skor tes prestasi dan skor tes akademik, sekolah dapat melakukannya sendiri. Biasanya prestasi akademik yang dilihat dari anak berbakat intelektual adalah dalam bidang studi : Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, IPS, IPA (Fisika, Biologi, dan Kimia). Untuk pengumpulan informasi melalui data subjektif, sekolah dapat mengembangkan sendiri dengan mengacu pada konsepsi dan ciri (indikator) keberbakatan yang terkait.

Laporan hasil penjaringan potensi peserta didik (Lampiran 3) dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling, terutama dalam program pelayanan bimbingan belajar dan bimbingan karir. Program bimbingan belajar terutama diberikan kepada peserta didik yang mempunyai prestasi dibawah rata-rata agar dapat memperoleh prestasi yang lebih tinggi. Program bimbingan karir diberikan kepada semua peserta didik dalam rangka mempersiapkan mereka untuk melanjutkan studi dan menyiapkan karirnya. Secara diagram, pemanfaatan hasil penjaringan  potensi peserta didik ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut :

 

 

Mata Pelajaran/Kelompok Mata Pelajaran

Skala Prestasi

0                      Rata-rata                     10

Matematika

*

 

IPA

 

*

IPS

 

*

Bahasa

*

 

 

 

Bimbingan Belajar

Bimbingan Karir

 

 

Diagram pemanfaatan hasil penjaringan

potensi peserta didik dalam bimbingan karir

 

 

 

V. PERANAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN POTENSI PESERTA DIDIK

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2) menyebutkan pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Sedangkan dalam pasal 32 ayat (1) disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Dalam pembelajaran guru sebagai pendidik berinteraksi dengan peserta didik yang mempunyai potensi beragam. Untuk itu pembelajaran hendaknya lebih diarahkan kepada proses belajar kreatif dengan menggunakan proses berpikir divergen (proses berpikir ke macam-macam arah dan menghasilkan banyak alternatif penyelesaian) maupun proses berpikir konvergen (proses berpikir mencari jawaban tunggal yang paling tepat). Dalam konteks ini guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dari pada pengarah yang menentukan segala-galanya bagi peserta didik. Sebagai fasilitator guru lebih banyak mendorong peserta didik (motivator) untuk mengembangkan inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. Guru harus lebih terbuka menerima gagasan-gagasan peserta didik dan lebih berusaha menghilangkan ketakutan dan kecemasan peserta didik yang menghambat pemikiran dan pemecahan masalah secara kreatif.

Bagaimana hal ini dapat diwujudkan pada suasana pembelajaran yang dapat dinikmati oleh peserta didik? Jawabannya adalah pembelajaran menggunakan pendekatan  kompetensi, antara lain  dalam proses pembelajaran  guru :

1.    memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bermain dan berkreativitas,

2.    memberi suasana aman dan bebas secara psikologis,

3.    disiplin yang tidak kaku, peserta didik boleh mempunyai gagasan sendiri dan dapat berpartisipasi secara aktif

4.    memberi kebebasan berpikir kreatif dan partisipasi secara aktif.

 

Semua ini akan memungkinkan peserta didik mengembangkan seluruh potensi kecerdasannya secara optimal. Suasana kegiatan belajar-mengajar yang menarik, interaktif, merangsang kedua belahan otak peserta didik secara seimbang, memperhatikan keunikan tiap individu, serta melibatkan partisipasi aktif setiap peserta didik akan membuat seluruh potensi peserta didik didik berkembang secara optimal. Selanjutnya tugas guru adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi kemampuan yang maksimal.

 

 

VI. PENUTUP

Berbicara masalah pendidikan peserta didik kiranya tak bisa lepas dari pemahaman tentang perkembangan jiwa peserta didik. Peserta didik bukanlah sekadar robot yang bisa diprogram begitu saja sehingga bisa bergerak atas kemauan guru atau orang tua. Peserta didik adalah individu unik yang mempunyai eksistensi, yang memiliki jiwa sendiri, serta mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing yang khas. Peserta didik bagaikan aneka macam bunga elok di taman sari yang indah. Mereka memiliki pesonanya masing-masing sehingga tidak bisa diseragamkan begitu saja atau dipangkas sama rata. Mereka sungguh memerlukan perlakuan khusus dan individual selain sekadar perlakuan kolektifikasi.

 

DAFTAR  ACUAN

Armstrong, Thomas. (1994). Multiple intelligences in the classroom. Alexandria, Virginia : ASCD.

 

Balitbang Depdikbud. (1994). Kurikulum Peserta didik Yang Memiliki Kemampuan dan Kecerdasan Luar Biasa, pada Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Coles, Robert. (1997). The Moral Intelligence of Children. New York: Random House, Inc.

Gardner, Howard. (1993). Multiple Intelligences. New York: Basic Books Harper Collins Publ. Inc.

Goleman, Daniel. (1995). Emotional Intelligence. New York: Bantam Books.

Holland, John L. (1985). Making Vocational Choices, A theory of vocational personalities and work enviroments. New Jersey: Prentice-Hall, INC.

 

Kamaludin, Laode. (1993). Pengembangan Pendidikan Nilai Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. Makalah Seminar Nasional: Jakarta Hilton Convention Centre.

 

Moeljadi. (1993). Pokok-pokok Pengelolaan Sekolah Menengah. Jakarta: Lincah Store.

 

Munandar, Utami, S. C. (1992). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Peserta didik Sekolah. Jakarta: Gramedia.

 

Renzulli, Joseph S., Reis Selly M., Smith Linda H. (1981). Gifted and Talented Education in Perspective. Virginia: Eric, Clearing House.

Reni Akbar, dkk. (2001). Keberbakatan Intelektual. Jakarta: Grasindo.

Stoltz, Paul G. (1997). Adversity Quotient: Turning Obstacles into opportunities. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Semiawan, Conny, R. (1992). Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi, Jakarta: Grasindo.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Lampiran 1

SKALA NOMINASI GURU

DIMENSI INDIKATOR KREATIVITAS

 

A. Petunjuk

2.    Pilihlah beberapa siswa di kelas saudara yang dianggap paling berbakat intelektual

3.    Berikan penilaian saudara pada beberapa siswa tersebut dalam empat dimensi indikator di bawah ini.

4.    Penilaian dilakukan dengan memberikan tanda cek (V) pada kolom Skor yang sesuai dengan kondisi siswa tersebut menurut pengamatan saudara pada dirinya.

5.    Setiap kolom pada kolom skor memiliki skor nilai sebagai berikut :

  • Kolom 1, skor nilai 1, artinya indokator tersebut tidak pernah terlihat pada siswa
  • Kolom 2, skor nilai 2, artinya indikator tersebut kadang-kadang terlihat pada diri siswa
  • Kolom 3, skor nilai 3, artinya indikator tersebut sering terlihat pada diri siswa
  • Kolom 4, skor nilai 4, artinya indikator tersebut selalu terlihat pada diri siswa.

6.    Lakukan skoring dan penjumlahan nilai untuk masing-masing dimensi indikator. Dan hitunglah jumlah nilai total keempat dimensi indikator secara keseluruhan.

 

 

B. Dimensi Indikator Kreativitas

 

No

Indikator Kreativitas

Skor

1

2

3

4

1.

memiliki rasa ingin tahu yang besar

V

 

 

 

2.

sering mengajukan pertanyaan yang berbobot

V

 

 

 

3.

memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah

 

V

 

 

4.

mampu menyatakan pendapat secara spontan dan tidak malu-malu

 

 

V

 

5.

mempunyai/menghargai  rasa keindahan

 

 

 

V

6.

mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah   terpengaruh orang lain

 

 

 

V

7.

memiliki rasa humor tinggi

 

 

V

 

8.

mempunyai daya imajinasi yang kuat

 

 

V

 

9.

mampu mengajukan pemikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain (orisinil)

 

V

 

 

10.

dapat bekerja sendiri

 

V

 

 

11.

senang mencoba hal-hal baru

 

 

V

 

12.

mampu mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)

 

V

 

 

 

Jumlah Skor :

Kolom 1            = 2 x 1   =  2

Kolom 2            = 4 x 2   =  8

Kolom 3            = 5 x 3   =  15

Kolom 4            = 2 x 4   =  8

———————-

Jumlah                            = 33

 

Untuk selanjutnya dicari skor masing-masing dimensi dan akhirnya dijumlahkan skor ketiga dimensi (indikator intelektual, kreativitas, dan motivasi) tersebut. Hal ini dilakukan untuk setiap siswa yang dinilai oleh guru mempunyai potensi keberbakatan intelektual. Sebaiknya setiap guru yang mengajar siswa pada enam bidang studi tersebut di atas memberikan  skala nominasi pada setiap siswa. Akhirnya skor total masing-masing guru pada siswa tersebut dijumlahkan dan angka yang diperoleh merupakan skor nominasi guru untuk siswa yang bersangkutan.

 

 

 

Lampiran 2

FORMAT IDENTIFIKASI POTENSI PESERTA DIDIK

N0

Kegiatan yang dilakukan

Ya

tidak

1

Suka berhitung

 

 

2.

Suka main catur

 

 

3.

Senang bermain teka-teki

 

 

4.

Senang membaca berbagai artikel

 

 

5.

Suka menulis

 

 

6.

Suka membuat puisi

 

 

7.

Mudah mengingat nama

 

 

8.

Senang mendengarkan radio, kaset

 

 

9.

Senang melihat pertunjukan seni

 

 

10.

Senang berimajinasi

 

 

11.

Senang kegiatan diluar

 

 

12.

Suka olahraga

 

 

13.

Senang berorganisasi

 

 

14.

Suka merenung, atau menyendiri

 

 

15.

Suka pada lingkungan alam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 3.

FORMAT HASIL PENJARINGAN POTENSI PESERTA DIDIK

A.   Identitas Peserta Didik

2.    Nama lengkap              : ……………………………………………………..

3.    Nama Panggilan           : ……………………………………………………..

4.    Kelas                          : ……………………………………………………..

5.    Alamat                        : ……………………………………………………..

B.    Prestai Akademik

1.    Bidang IPA                  : ……………………………………………………..

2.    Biang Matematika         : ……………………………………………………..

3.    Bidang IPS                  : ……………………………………………………..

4.    Bidang Bahasa             : ……………………………………………………..

 

C.     Bakat

1.    Berpikir Verbal             : ……………………………………………………..

2.    Kemampuan Numerik    : ……………………………………………………..

3.    Kemampuan Mekanik    : ……………………………………………………..

4.    Kemampuan Berpikir

Abstrak                       : ……………………………………………………..

5.    Relasi ruang                : ……………………………………………………..

6.    Musikal                       : ……………………………………………………..

7.    Kinestetik                    : ……………………………………………………..

8.    Sosial                         : ……………………………………………………..

 

D.   Minat

1.    Minat Peserta Didik      : ……………………………………………………..

a.    Minat Studi Lanjut   : ……………………………………………………..

b.    Minat Karir             : ……………………………………………………..

2.    Minat Orang Tua/Wali   : ……………………………………………………..

a. Minat Studi Lanjut   : ……………………………………………………..

b. Minat Karir              : ……………………………………………………..

 

E.    Rekomendasi Arah Karir :

…………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………….


Lampiran 4.

FORMAT KECENDERUNGAN KEPRIPRIBADIAN PESERTA DIDIK

No

Kepribadian

Ciri-ciri

Kecenderungan Peseta didik

Ya

Tidak

1.

Realistik

(R)

Terus terang

 

 

Rapi

 

 

Keras kepala

 

 

Tidak suka kerja keras

 

 

Tidak suka berkhayal

 

 

2.

Penyelidik

(I)

Analitis

 

 

Hati-hati

 

 

Kritis

 

 

Suka hal yang rumit

 

 

Selalu ingin tahu

 

 

3.

Menyukai seni

(A)

Edialis

 

 

Imajinatif

 

 

Emosi

 

 

Tidak teratur

 

 

Terbuka

 

 

4.

Sosial

(S)

Kerjasama

 

 

Bersahabat

 

 

Sabar

 

 

Rendah hati

 

 

Suka menolong

 

 

Bertanggungjawab

 

 

5.

Usaha

(E)

Ambisius

 

 

Energik

 

 

Optimis

 

 

Percaya diri

 

 

Banyak bicara

 

 

6.

Tidak mau berubah

( C)

Hati-hati

 

 

Bertahan

 

 

Kaku

 

 

Tertutup

 

 

Patuh

 

 

 

 

Lampiran 5.

FORMAT KECENDERUNGAN MINAT JABATAN DAN

TIPE KEPRIBADIAN PESERTA DIDIK

No

Minat Jabatan

Tipe Kepribadian Peserta didik

R

I

A

S

E

C

1.

Arsitek

*

*

*

 

 

 

2.

Manajer

*

*

 

*

 

 

3.

Guru Ketrampilan

*

*

 

*

 

 

4.

Welder

*

*

 

*

 

 

5.

Mekanik otomotip

*

*

 

 

*

 

6.

Supervisor

*

*

 

 

*

 

7.

Ekonomik

 

*

*

*

 

 

8.

Matematik

 

*

*

*

 

 

9.

Surveyor

*

 

*

 

 

*

10.

Carpenter

*

 

*

 

 

*

11.

Antropolog

*

*

*

 

 

 

12.

Astronom

*

*

*

 

 

 

13.

Guru matematik

 

*

 

*

 

*

14.

Apotiker

 

*

 

*

 

*

15.

Dokter gigi

*

*

 

*

 

 

16.

Aktor

 

 

*

*

*

 

17.

Penari

 

 

*

*

*

 

18.

Pilot

*

*

 

 

 

*

19.

Programer

*

*

 

 

 

*

20.

Humas

 

 

*

*

*

 

 

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) | Moch Wahib Dariyadi | 4.5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *